KENANGAN

1150 Words
Suasana balkon kamar yang sangat dirindukan perempuan yang kini berdiri memandang langit-langit, ia perlahan menarik nafas dalam-dalam menikmati suasana pagi dimana udara masih segar, aroma embun sangat familiar dan sang fajar belum juga menampakkan diri. Adelia benar-benar merindukan sausana kamarnya, terakhir kali ia tidur setelah pesat pernikahannya dengan Ridwan. Ridwan, masih terlelap dalam tidurnya sampai seseorang dalam dekapannya sudah beranjak bangun iapun tidak mengetahuinya. Tapi itu tidak berlangsung lama, Ridwan mulai merasakan tidurnya gusar, perlahan ia membuka matanya, reflek matanya langsung mencari-cari dimana seseorang yang biasa tidur disampingnya. Bak orang yang linglung, Ridwan mengamati ruangan sekitar. Ini bukan lagi di Yogyakarta tapi di Jakarta tepatnya di rumah mertuanya. Ridwan perlahan bangun menemukan seseorang tengah berdiri membelakanginya. Ia pun segera berjalan menghampiri perempuan itu, memeluknya dari belakang adalah hobi terbarunya. Tak lupa meninggalkan kecupan-kecupan manis di bahu perempuan itu. “Kok bisa udah sampai di Jakarta?” Todong Adelia begitu Ridwan sudah bangun tanpa basa basi ia langsung menanyakan hal yang membuatnya sedikit kesal. “Kenapa ih nggak suka?” Tanya Ridwan balik pada Adelia yang membuatnya langsung memanyunkan bibirnya. Cup… Kecupan kilat di bibir Adelia membuat perempuan itu mematung, Ridwan tersenyum geli melihat tingkah Adelia yang langsung membisu setiap laki-laki itu menciumnya. “Jawab dulu!” Ucap Adelia pelan membuat Ridwan menuntun tubuh Adelia untuk menghadap kedepan. Ridwan menempelkan pipinya di pipi kanan Adelia meski tidak sepenuhnya menempel karena Ridwan lebih tinggi dari Adelia. “Meetingnya kan udah selesai dari hari kedua, hari ketiga acaranya jalan-jalan sampai sore baru sorenya pulang. Jadi aku nggak ikut jalan-jalan nikmati Yogyakarta langsung ke Jakarta deh lagian juga kamu udah di dalam kereta kan.” Ucap Ridwan panjang lebar membuat Adelia mengangguk pelan. Kenyataannya, perempuan itu benar-benar tidak bisa menstabilkan detak jantungnya yang berdetak kencang begitu Ridwan sangat dekat dengannya, bahkan tidak ada jarak diantara keduanya. Ridwan sudah sangat sering melakukan kontak fisik kepadanya namun respon tubuhnya tetap sama, selalu gugup. “Yah! Nggak dapat oleh-oleh dong.” Ucap Adelia kemudian menoleh pada Ridwan yang tepat disampingnya juga sedang menatapnya dengan muka datar. “Iya, gara-gara kamu ke Jakarta nggak mau nunggu aku pulang dulu ke Bandung.” Jawab Ridwan dengan santai membuat Adelia mengeryit dan kembali menatap ke depan melihat dengan jelas menit demi menit sang fajar mulai menampakkan diri. “Nanti mau jalan-jalan?” Tanya Ridwan menawarkan Adelia, ini yang pertama kali dia lah yang justru mengajak Adelia keluar. “Iya nanti.” Jawab Adelia singkat. Cup… “Mas Ridwan!” Pekik Adelia begitu Ridwan mencium leher jenjangnya, ia benar-benar terkejut sampai ia menggenggam kuat tangan Ridwan yang melingkar di pinggangnya. “Kenapa?” Tanya Ridwan dengan polos tanpa berdosa. “Udah ah, mau turun bantu mamah masak.” Ucap Adelia berusaha melepaskan pelukan Ridwan, namun Ridwan justru semakin mempererat pelukannya. “Nggak usah.” Jawab Ridwan tersenyum menggoda Adelia yang justru menatapnya galak. “Kok nggak usah ih, buruan!” Rengek Adelia membuat Ridwan tertawa kemudian melepaskan pelukan. Adelia segera berlari keluar kamar, membuat Ridwan yang melihat tingkah Adelia tertawa geli sendiri. Adelia menuruni tangga disambut hangat oleh senyuman  wanita yang sudah melahirkannya bersamaan dengan Akbar. Dea tersenyum melihat Adelia yang menghampirinya. “Udah bangun dek?” Tanya Dea pada Adelia yang langsung memeluknya. “Mamah mau bikin apa?” Tanya Adelia melihat bahan-bahan yang menurutnya cukup banyak. “Lihat aja nanti.” Ucap Dea tidak mau menjawab pertanyaan putri semata wayangnya. Sedangkan di dalam kamar Ridwan menatap sekitar kamar Adelia banyak tumpukan novel dan buku bacaan di raknya. Ridwan terdiam melihat sebuah buku catatan, akankah ia membukanya tetapi ia begitu penasaran lagipula dia adalah suaminya. Baru saja di buka, Ridwan sudah menemukan sebuah foto yang membuatnya terdiam rupanya adalah foto dirinya semasa kuliah dulu. Tidak ada catatan penting disana hanya beberapa resep makanan yang dibuat seunik mungkin, sampai di pertengahan buku Ridwan menemukan foto Adelia dengan Elang, mantan kekasih Adelia yang ia temui di sebuah swalayan dulu. Mereka masih mengenakan baju SMA rupanya. Ridwan cemburu, melihat tangan Elang yang merangkul Adelia yang masih terlihat polos itu dulu. Perasaannya campur aduk, setiap hal yang berkaitan dengan Adelia tidak seperti dirinya yang dulu yang hanya bersikap datar dan tidak peduli. Masa bodoh dengan apa yang terjadi pada Adelia. “Mas Ridwan!” Panggil seseorang yang membuka pintu siapa lagi kalau bukan Adelia. Adelia menutup pintu dan menghampiri Ridwan yang duduk membelakanginya namun tak menjawab panggilannya. Adelia tak menyadari jika buku yang Ridwan letakkan disamping kanan adalah buku miliknya. “Mas Ridwan ayok sarapan!” Ajak Adelia dengan polosnya duduk disamping Ridwan, menatap wajah Ridwan yang entah hanya perasaannya saja atau bagaimana tampak dingin dan merah padam. “Foto sama mantan masih disimpan aja.” Cibir Ridwan sinis membuat Adelia mengerutkan alisnya tidak paham dengan arah pembicaraan Ridwan padanya, padahal tadi sebelum keluar kamar ia tampak baik-baik saja mengapa sekarang jadi seperti orang marah? “Maksud mas Ridwan gimana?” Tanya Adelia yang masih saja tak mengerti. Ridwan menyodorkan buku itu ke Adelia, tanpa mengatakan apa-apa. Adelia hanya mencibikkan bibirnya melihat reaksi Ridwan yang tampak marah. Adelia membuka satu persatu halaman yang justru membuatnya tersenyum geli sampai di sebuah foto dirinya dan Elang waktu kelulusan SMA dulu. “Oh ini, ini kan waktu SMA.” Ucap Adelia membuat Ridwan meliriknya tajam. “Kenapa tidak dibuang saja?” Tanya Ridwan sarkatik membuat Adelia cemberut. “Jangan dong! Kenangan tau.” Tolak Adelia membuat Ridwan memutar bolanya malas mendengar ucapan istrinya yang justru merusak moodnya di pagi hari. Adelia tersenyum begitu menyadari Ridwan tengah cemburu karena masalah sepele, cemburu dengan foto Adelia dengan Elang. Padahal itu terjadi jauh sebelum mengenal Ridwan, Adelia tidak bisa membuangnya sampai sekarang ia bahkan lupa telah menyimpan foto itu. “Mas Ridwan cemburu?” Tanya Adelia dengan wajah menggoda suaminya, Adelia menempelkan wajahnya di bahu Ridwan membuat Ridwan menoleh kesal. “Enggak!” Bantah Ridwan menjauh dari Adelia, Adelia tidak tinggal diam ia memeluk Ridwan dari samping membuat Ridwan terkesiap terkejut dengan pelukan Adelia untuk yang pertama. “Yakin?” Tanya Adelia terus menggodanya. Greeeppp… Sekali hentakan Adelia sudah berbaring dengan Ridwan membuat Adelia juga terkejut rupanya. Adelia menatap Ridwan yang tersenyum menyebalkan padanya. Ridwan menyisir anak rambut yang menghalangi pandangannya pada wajah Adelia. “Surat kemarin dari siapa?” Tanya Ridwan teringat surat yang terselip di buku Adelia. “Oh, Udah lama juga sama dari Elang juga.” Jawab Adelia tanpa ada yang ditutupinya. “Bagus kata-katanya.” Ucap Ridwan kemudian memiringkan tubuhnya dan mendekap Adelia. “Ya bagus! Elang tuh hobi banget nulis begitu.” Ucap Adelia tersenyum lagi dan lagi justru membuat Ridwan cemburu. “Mantan nggak dilupakan sama sekali ya?” Sindir Ridwan membuat Adelia menggeleng cepat. “Sama saja, mencari hal yang baru setelah bosan. Itu Elang! Hubunganku nggak berpisah baik-baik. Elang menjalin hubungan juga dengan teman sekelasku.” Ucap Adelia tersenyum, sekarang itu menjadi kenangan lucu padahal hal itu yang justru membuatnya futrasi setengah mati. Masa remaja yang penuh cerita. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD