BERDAMAI?

1244 Words
Ridwan dan Adelia segera kembali ke Bandung karena pekerjaan Ridwan tidak bisa ditinggal begitu saja. Meski perusahaan itu milik orang tuanya tetapi Ridwan benar-benar menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai pengelola perusahaan. Ia tidak mau lalai kemudian berantakan. Hari ini, Ridwan berangkat lebih pagi dan tak sempat untuk sarapan di rumah. Bahan-bahan juga habis, membuat Adelia harus berbelanja. Ia mengenakan baju sederhana dan pergi ke warung tempat dimana ia pernah tergores luka oleh ucapan ibu-ibu yang sedang merumpi disana. Lagi dan lagi ia bertemu dengan Maryam, Adelia pun tampak biasa saja seolah tidak menganggap Maryam ada. Ia masih kesal dengan Maryam yang masih saja mengusik rumah tangganya meski Ridwan sudah menikah dan juga Maryam yang sudah siap dengan calon suaminya. Ditambah, dikala ia datang ke rumah Adelia kemudian berpelukan dengan suaminya. kejadian di hotel, dimana Ridwan mengetahui Adelia berbohong kepadanya. Perempuan itu tidak pulang ke Jakarta melainkan kabur dari masalah yang melanda rumah tangganya. Lagi-lagi bersama Maryam, hati perempuan mana yang begitu tegar melihat suaminya lebih sering menghabiskan waktu dengan perempuan lain. Lebih memikirkan perasaan perempuan lain dibandingkan istri sendiri. Jawabannya, tidak ada. Hanya beberapa perempuan tidak bisa menyembunyikan luka dan meluapkan emosi adalah akhir dari pelampiasan. Sedangkan beberapa perempuan lagi pandai menyembunyikan perasaan kecewanya hanya demi semuanya tampak baik-baik saja. Adelia tampak dingin, ia tidak peduli bila nanti ia mendengar lagi ucapan-ucapan yang melukai hatinya. Niatnya, hanya ingin pergi berbelanja tidak lebih dari itu. “Mbak Adelia kok jarang belanja lagi?” Tanya seseorang yang menyapa di sampingnya membuat Adelia menoleh dan tersenyum. “Ah, sering ke pasar sama Bunda jadi jarang kesini, bu.” Jawab Adelia ia berbohong, tidak mungkin ia akan terus terang mengatakan jika ia sedang menghindari seseorang. “Apalagi tambahannya mbak Adel?” Tanya sang penjual begitu Adelia sudah memilih sayur dan memberikannya kepada sang penjual untuk dihitung. “Udah buk!” Jawab Adelia, ia melirik Maryam yang rupanya sejak tadi memperhatikannya. Adelia melengos dan memilih mengabaikannya saja, ia sedang berusaha tidak peduli. Penjual dengan lancar memasukkan belanjaan milik Adelia ke dalam kresek hitam, jari-jarinya terus mengetik di atas kalkulator, seraya memasukkan sayur milik Adelia. Adelia pun diam, ia sebenarnya mulai risih dengan tatapan Maryam yang sejak tadi memandangnya seperti mencari tahu mengapa Adelia tampak bersikap dingin kepadanya. “Semuanya, enampuluh ribu mbak Adelia!” Celetuk sang penjual yang bernama Marni begitu selesai dengan acara mentotal belanjaan milik Adelia. “Ini bu!” Ucap Adelia seraya menyodorkan uang pas, selembar limahpuluh ribu dan sepuluh ribu. “Mari Maryam!” Sapa Adelia pergi terlebih dahulu yang langsung dibalas anggukan Maryam. Adelia, lagi dan lagi tidak kuasa untuk bersikap dingin kepada Maryam. Ia mengalahkan egonya dan membuang jauh-jauh perasaan cemburu dan sakit hatinya. Ia tidak tega melihat wajah Maryam yang menatapnya sendu, bayang-bayang Maryam pernah menolong selalu saja menghantuinya setiap ia ingin bersikap jahat, ah tidak lebih tepatnya dingin. Padahal, itu hal sepele. Maryam menolongnya ketika ia baru sampai di Bandung dan Maryam mengantarkannya ke rumah mertuanya. “Mbak Adel!” Panggil seseorang rupanya Maryam yang mengikuti Adelia dari belakang. “Iya?” Tanya Adelia dengan ramah. “Aku boleh mampir ke rumah mbak Adel?” Tanya Maryam dengan canggung. “Boleh.” Jawab Adelia dengan ramah, ia benar-benar tidak bisa bersikap jahat sekali saja pada perempuan yang berstatus sebagai kekasih gelap suaminya itu. Akhirnya, Adelia pulang dengan Maryam. Perjalanan tidak jauh dari warung sayur menuju rumahnya. Sesampainya disana Adelia segera membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Maryam untuk masuk dan memarkirkan sepeda motornya di rumah Adelia. “Duduk disini aja mbak!” Celetuk Maryam begitu Adelia membuka lebar pintu rumahnya. Maryam memilih duduk di teras depan, nuansa alamnya begitu terasa ada bunga-bunga yang tampak segar dan kolam ikan menambah suasana semakin asri di depan rumah Adelia itu. Semua design milik Ridwan, rumah itu adalah wujud dari mimpi Ridwan jika ia mempunyai rumahnya sendiri. “Maryam mau minum apa?” Tawar Adelia, dia tidak enak hati bila tidak menjamu seorang tamu di rumahnya. “Terserah mbak Adel.” Jawab Maryam dengan senyum. Adelia pun masuk ke dalam rumah sebentar dan meletakkan sayur belanjaannya di atas meja makan. Ia mengambil minuman sirup dan beberapa camilan untuk hidangan Maryam. Ia keluar dan Maryam melihatnya terdiam sejenak. “Banyak banget mbak.” Gumam Maryam melihat yang disuguhkan Adelia padahal ia hanya sebentar bersinggah. “Mbak, besok ke pernikahanku datang ya!” Ucap Maryam menatap pandangan Adelia yang berubah seperti sedikit terkejut. “Iya, aku usahakan ya Maryam!” Jawab Adelia dengan senyuman tulusnya. Maryam menunduk dan tidak berbicara kembali, ia murung membuat Adelia yang berada disampingnya ikut terdiam tidak enak hati untuk menanyakan perihal apa yang tampak mengganggu Maryam. “Mbak Adel, aku iri sama kamu. nggak pernah marah, sama aku. Padahal aku diam-diam dibelakang jalan sama suami kamu. dibelakang kamu juga aku merencanakan sebuah masa depan dengan suami kamu tapi kamu tidak pernah menunjukkan rasa marah kamu meski kamu tahu itu.” Ucap Maryam memandang kosong ke depan. “Aku marah! Aku kecewa! Aku juga sakit hati, Maryam. Tapi aku tidak berhak!” Ucap Adelia memandang Maryam dengan berkaca-kaca. “Iya tapi kamu tetep baik sama aku. Sampai aku menyadari, mas Ridwan tidak menikah dengan seorang manusia melainkan malaikat seperti mbak Adel.” Ucap Maryam dengan senyumannya. “Kamu berlebihan Maryam!” Tolak Adelia, ia tidak suka disanjung seperti itu. Ia merasa dirinya tidak sebaik yang dipikirkan Maryam. “Aku mau jujur, aku masih mencintai mas Ridwan. Tapi kini perasaan aku sudah bertepuk sebelah tangan mbak!” Ucap Maryam membuat Adelia menoleh spontan. Ia memandang Maryam yang memandang kosong di depan, seperti ada yang dipikirkannya begitu memberatkan. Adelia terdiam, ia tidak berani mengatakan apapun pada Maryam dan membiarkan perempuan itu menyelesaikan perang batinnya sendiri. “Mbak Adel, jangan salah paham ya! Waktu datang di hotel itu bersama mas Ridwan, itu aku meminta tolong mas Ridwan untuk ditemani membayar dp booking untuk resepsiku. Dan, disitu mas Ridwan bertemu sama kamu. “ Jelas Maryam, ia tidak mau Adelia salah paham dan mengambil kesimpulan sendiri dengan apa yang dilihat tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi kala itu. Adelia hanya tersenyum, ia tidak bisa memungkiri bahwa rasa cemburu tetap ada disetiap perempuan disampingnya itu membicarakan Ridwan di hadapannya. Namun, Adelia memilih untuk menahan perasaannya agar tidak menyinggung. “Kamu salah, Maryam! Aku hanya pengecut karena tidak berani mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.” Ucap Adelia teringat suatu hal. “Tidak! Mbak Adel itu benar-benar dewasa menyikapi semuanya. Tidak seperti aku yang berfikir kotor demi mendapatkan apa yang aku mau.” Bantah Maryam. “Mbak Adel aku pamit ya, nggak enak nanti sayurnya ditunggu sama ibu aku.” Ucap Maryam pada Adelia yang langsung dibalas anggukan Adelia. Maryam segera menyalakan motornya dan putar balik arah, Adelia hanya berdiri mengamatinya. Adelia tidak menyangka justru ia bisa mengobrol Santai dengan kekasih gelap suaminya, entah sudah selesai atau belum. “Lagipula, kalaupun mas Ridwan tidak menikahi kamu, jalan hubungan kami akan semakin sulit.” Ucap Maryam pada Adelia membuat Adelia mengerutkan keningnya mencoba menelan satu persatu ucapan Maryam. “Kenapa begitu?” Tanya Adelia penasaran dan membutuhkan penjelasan dari Maryam. “Tanya saja mas Ridwan!” Ucap Maryam kemudian melesat pergi tanpa tanggung jawab karena sudah membuat Adelia penasaran pada masa lalu keduanya, padahal awalnya ia ingin bersikap masa bodoh. Namun, karena ucapan Maryam ia berfikir dua kali untuk menanyakan pada Ridwan. Adelia menggelengkan kepalanya ia tidak akan menanyakan kepada Ridwan, laki-laki itu akan marah jika sampai Adelia berani mengusik masa lalunya. Hubungannya perlahan sedang membaik dan Adelia tidak mau merusaknya sekarang. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD