Adelia tengah membersihkan rumah, rutinitasnya sebelum memasuki hari weekend agar ketika hari weekend itu tiba, ia bersantai dengan suaminya. itu hanya halusinasinya padahal kenyataannya ia tidak pernah menghabiskan waktu dengan laki-laki itu. Yang mereka lakukan hanyalah duduk bersebelahan namun sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Ddrrtt…ddrrrttt…
Ridwan : Nanti jam empat aku jemput!
Adelia melirik jam dinding di ruang tengah, sudah pukul tiga sore. Bibirnya spontan mencebik begitu mendapat pesan singkat dari suaminya yang akan menjemputnya. Adelia tampak berpikir memang ada hal apa sampai Adelia dijemput pada jam itu.
“Mau kemana.” Gumam Adelia masih berfikir keras menebak-nebak kemana Ridwan akan mengajaknya.
Adelia memandang diam jam dinding yang jarum jamnya masih berputar itu, Adelia tersentak kaget ia tidak menyadari jika Ridwan satu jam lagi akan sampai ke rumah sedangkan pekerjaan rumahnya belum selesai.
“ Allahu akbar! Jam empat kan satu jam lagi.” Ucap Adelia kemudian mempercepat pekerjaan rumahnya. Untungnya ia sudah membereskan masalah dapur.
Adelia buka perempuan rempong yang menghabiskan dandan selama berjam-jam untuk terlihat sempurna, sebenarnya bukan itu hanya saja Adelia tidak pandai untuk bersolek. Setelah dirasa sudah selesai acara pengepelan ruang tengah ia segera menenteng alat pelnya menuju ke belakang dekat kamar mandi, dekat dengan penjemurannya.
Adelia menghela nafas dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul setengah empat, ia segera meraih handuknya dan bergegas masuk kamar mandi untuk segera membersihkan badannya yang sudah sangat lengket itu.
Jam belum menunjukkan pukul empat sore tetapi sebuah mobil sudah masuk ke dalam perkarangan rumah. Ridwan turun dengan tas ranselnya dan juga jasnya yang dilampirkan di tangan kirinya. Adelia yang baru saja selesai berpakaian mengeryitkan kening begitu Ridwan sudah duduk di tepi ranjang memainkan jarinya di atas layar ponselnya.
“Kok udah datang?” Tanya Adelia melewati Ridwan menuju meja riasnya.
“Iya, dan kamu baru selesai mandi.” Jawab Ridwan pura-pura ketus, pura-pura menunjukkan kekesalannya yang sengaja dibuat-buat.
“Dih salah sendiri datangnya lebih awal.” Jawab Adelia membela diri tampak tidak terima disalahkan.
Ridwan yang melirik sebentar dan menangkap reaksi wajah Adelia yang justru terlihat lucu hanya mengulum senyum. Bukan apa-apa sebenarnya, ia hanya ingin datang lebih awal agar Adelia tidak menunggu karena setiap berpergian justru perempuan itulah yang menunggu Ridwan, dan perempuan itu juga yang selalu memaklumi jika acara mereka berdua gagal Karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan ataupun ditunda.
“Memang kita mau kemana sih mas?” Tanya Adelia penasaran.
“Beli baju buat kondangan besok ke Maryam.” Jawab Ridwan menatap Adelia yang sedang bersisir.
Adelia menghentikan aktivitas menyisirnya, ia terdiam tidak menyangka hatinya masih saja seperti terasa ada yang mencubit begitu mendengar nama Maryam. Ridwan melihat raut wajah Adelia berubah dari pantulan cermin.
“Kamu datangkan?” Tanya Ridwan melihat Adelia yang mendadak diam dan seperti tidak berselera.
Adelia terdiam, ia bimbang akankah ia datang di pernikahan perempuan yang mungkin sekarang tidak namun dulu pernah menghancurkan rumah tangganya, sebagai topik utama penyebab pertengkarannya dengan Ridwan. Tetap saja satu hal yang masih Adelia tegaskan pada dirinya bahwa hati Ridwan masih utuh milik Maryam, di mata Ridwan mungkin saja Adelia hanya sebagai pengganti untuk sementara sebagai tempat agar ia tidak terlalu sakit hati ditinggalkan Maryam.
“Kalau kamu tidak datang, setidaknya temani aku beli baju.” Ucap Ridwan meralat pertanyaannya agar tidak terlihat memaksa Adelia untuk datang di pernikahan Maryam. Ridwan selama ini bisa melihat tatapan Adelia ada sebesit kebencian pada Maryam namun perempuan itu pandai menata perasaannya agar keadaan tidak semakin memburuk.
Adelia tampak menghela nafas, ia tidak mau memperkeruh suasana yang sedang sedikit tegang, perempuan itu lebih memilih mengoleskan sedikit bedak pada wajahnya pada titik dimana keringat sedikit membuat wajahnya semakin mengkilau.
“Adelia!” Panggil Ridwan menghampiri Adelia yang hanya menatap suaminya dari pantulan cermin.
“Iya aku temenin!” Jawab Adelia dengan sebuah penekanan.
Dari nada bicaranya seolah menegaskan bahwa ia tidak masalah dengan sikap Ridwan yang terlihat sangat antusias di pernikahan Maryam, sampai disempatkan untuk pulang lebih awal demi membeli baju baru di hari bahagia mantan kekasihnya itu.
“Ayok!” Ajak Adelia selesai dengan aktivitasnya make up wajahnya, Ridwan segera meraih kunci mobil di sampingnya.
Meski Adelia tampak biasa saja, Ridwan masih dapat melihat jika perempuan yang kini duduk di kursi penumpang tampak menyembunyikan perasaan cemburunya, hanya saja Adelia masih merasa ia tidak berhak dengan setiap keputusan yang diambil oleh Ridwan. Termasuk hal yang menyangkut dengan Maryam.
Ridwan salah! Perempuan itu melamun bukan karena perihal Ridwan yang menyebut nama Maryam hanya saja, ia masih menimbang-nimbang apakah ia harus datang ke resepsi pernikahan Maryam. Adelia tak enak hati karena Maryam menyempatkan datang ke rumahnya hanya untuk memintanya datang ke pernikahan perempuan itu.
“Del! Mau makan apa?” Tanya Ridwan memecah keheningan, ia sedikit canggung karena sepanjang jalanan Adelia terus terdiam.
“Terserah sih. Mas Ridwan lapar?” Jawab Adelia justru berbalik menanyakan pada Ridwan.
“Enggak terlalu sih, cuman alangkah baiknya kita isi perut dulu!” Ucap Ridwan, laki-laki itu sebenarnya hanya berniat basa-basi saja pada Adelia hanya tidak terlihat saja oleh suaminya.
“Ya udah mampir di café mana gitu.” Ucap Adelia memandang sepanjang jalanan.
“Tumben!” Cibir Ridwan setelah mendengar jawaban Adelia.
“Apanya?” Tanya Adelia belum mengerti maksud sindiran suaminya.
“Biasanya juga minta yang di pinggir jalan. Kalau nggak beli camilan di Indomaret.” Jawab Ridwan menyebutkan kebiasaan istrinya yang selalu menolak jika diajak bersinggah duduk di café sambil mendengarkan sang penyanyi beberapa menyanyikan bait lagu.
“Kasian aja uangmu nggak terpakai!” Jawab Adelia kemudian menjulurkan lidahnya membuat Ridwan langsung menarik hidung Adelia dengan dua jari miliknya.
“Sakit ih!” Bentak Adelia kemudian memanyunkan bibirnya kemudian menggosok hidungnya yang perlahan memerah karena cubitan Ridwan, Ridwan hanya tertawa renyah melihat respon Adelia yang menurutnya menggemaskan begitu Ridwan menarik hidungnya.
Mobil menepi di sebuah kedai coffe, Adelia segera turun dan memilih duduk disamping jendela, spot favorit Adelia setiap berkunjung di berbagai café. Memandang jalanan yang dipenuhi hiruk pikuk suara kota adalah hobinya, mengamati langit yang kadang berubah-ubah cuaca adalah kesenangan baginya.
“Aku beli kentang goreng sama jus alpukat. Udah itu!” Celetuk Adelia begitu Ridwan baru saja membuka menu resep.
“Pernah kesini?” Tanya Ridwan sinis, ia mulai berubah menjadi pria yang posesif.
“Pernah sama Andi kemarin sebelum pulang dari hotel.” Jawab Adelia enteng, Adelia tahu itu akan berakibat dengan suasana Ridwan yang mungkin saja akan kambuh sikap temperamennya disini.
“Sejauh mana sih hubungan kalian? Memangnya hah?” Tanya Ridwan dengan raut wajah dingin, tatapannya tajam menusuk, menggertak Adelia yang mengerdipkan matanya sedikit takut nyalinya melihat raut wajah Ridwan dan suasana sekitarnya menjadi redup.
“Kok gitu sih tanyanya? Aku nggak pernah kan mas tanya-tanya mas Ridwan pergi kemana aja sama Maryam.” Ucap Adelia dengan mata yang dengan berani membalas tatapan Ridwan yang berada di hadapannya itu.
“Pliss! Del nggak usah ngalihin topik.” Mohon Ridwan memejamkan matanya mencoba menahan emosinya agar tidak meledak-ledak di kedai ini, ditambah ini tempat umum dan pelanggan sedang lumayan padat memenuhi ruangan.
“Ya makanya mas Ridwan juga nggak usah mulai mancing dong!’ Tegas Adelia tidak mau hanya dia yang salah. Hanya membahas Andi saja, Ridwan langsung naik pitam bagaimana dengan Adelia yang sejak pernikahannya ditambah kepindahannya ke Bandung benar-benar tidak bisa menghindarkan hidup dan rumah tangganya dari ujian yang berasal dari hubungan gelap suaminya dengan Maryam.
“Ya udah kamu terserah!” Ucap Ridwan mengalah dan segera menuju meja tempat memesan makanan. Ia mengalah dan mengakhiri pertikaian kecil karena rasa cemburunya sendiri.
***
“MAS RIDWAN!” Ucap Adelia dengan nada tinggi begitu matanya menangkap Ridwan menggenggam kuat tangan seorang pengantin yang sudah didandani bak seorang Barbie ataupun ratu entah dari negeri dongeng mana.
Ridwan yang gelapaan dan juga Maryam yang terkejut bukan kepalang segera melepaskan kedua tangan mereka yang saling bertaut tadinya. Adelia memasuki ruangan rias pengantin yang kebetulan hanya tinggal Ridwan dan Maryam di sana. Mata Adelia menatap nanar mata Maryam dan Ridwan yang kini lurus menatap Adelia.
“Apa yang kamu bilang semalam mas Ridwan?” Tanya Adelia dengan air mata yang sudah mengalir menatap pilu pada Ridwan yang masih bungkam.
Lelaki itu dalam kebingungan melihat Adelia yang menangis sejadi-jadinya, Maryam yang melihatnya pun juga ikut cemas dan panic. Lagi dan lagi ia harus menyaksikan Adelia menangis dan terlihat putus asa, betapa terlihat terlukanya perempuan itu.
“Adelia dengarkan aku du..!” Ucap Ridwan.
“Iya mbak Adel! Ini… ini…” Ucap Maryam memotong ucapan Ridwan yang berusaha meraih tangan Adelia, namun perempuan itu segera menghindar dengan tangisan penuh lukanya.
“Aku benci sama kamu Maryam!” Ucap Adelia penuh penekanan di setiap kata yang dilontarkan, matanya nyala menatap nanar mata Maryam yang juga berkaca-kaca rupanya.
“Dan aku!...”
Adelia menghentikan kalimatnya namun jarinya mengancung tepat di wajah Ridwan dengan penuh amarah untuk pertama kalinya dengan tatapan begitu terluka. Ridwan menggeleng pelan menatap Adelia yang nampak sekali jika ia lah yang terluka disini.
“Nggak akan percaya lagi sama kamu, mas Ridwan! Kamu pembohong!” Ucap Adelia dengan air matanya yang kian deras, ia menghapus kasar air matanya dan segera keluar ruangan yang membuatnya semakin tidak kuasa menahan air mata dan amarahnya disana.
TBC