Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh Maryam, entah pernyataan itu sesuai atau tidak dengan suasana hati Maryam. Menyiapkan hatinya selapang-lapangnya untuk menikahi lelaki yang tidak ia cintai sebelumnya, sama halnya dengan Ridwan yang dulu menyiapkan hatinya menikahi perempuan yang tak hanya belum ia cintai tetapi juga ia benar-benar sangat membencinya.
Ridwan memakai sebuah kemeja biru muda yang dipadukan dengan tuxedo berwarna biru muda sedikit lebih gelap dibandingkan kemeja yang ia kenakan. Bajunya tampak pas dengan postur tubuh Ridwan, sedangkan Adelia sibuk dengan ponselnya. Setelah menimang-nimang semalaman suntuk, perempuan itu akhirnya memutuskan untuk datang ke resepsi Maryam.
Ia berusaha menghargai Maryam sebagai teman barunya yang meminta untuk datang secara langsung mengesampingkan sebuah fakta bahwa perempuan itulah yang menjadi alasan mengapa Ridwan belum bisa lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Bersikap seolah ia mempunyai rasa terhadap Adelia, tetapi ketika jauh dari istrinya ia justru teringat dengan Maryam, kekasih gelapnya.
Adelia mengenakan dress panjang warnanya senada dengan kemeja Ridwan, padahal Adelia tidak membeli baju baru sama dengan Ridwan. Ini hanya kebetulan Adelia mempunyai dress warna yang senada dengan milik Ridwan.
Adelia memandang suaminya yang sejak tadi menata rambutnya yang ia sisir rapi ke belakang. Ridwan tak menyadari sejak tadi diperhatikan sampai mata mereka saling bertemu di pantulan cermin, Adelia hanya memandangnya datar namun tak juga mengalihkan matanya dari mata elang Ridwan.
“Kamu kenapa?” Tanya Ridwan membalikkan badan dan menghampiri Adelia yang sudah rapi namun sengaja menyandarkan kepalanya di bantal.
“Kenapa? Aku nggak papa.” Jawab Adelia dengan jawaban singkatnya.
“Kalok nggak datang, biar aku sendiri aja yang pergi.” Ucap Ridwan berusaha membaca pikiran Adelia yang sejak tadi sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, tepatnya setelah mereka berdandan mengenakan pakaian rapi.
“Enggak! Aku datang. Kemarin Maryam kesini bilang sama aku kalau aku harus datang.” Ucap Adelia merapikan helai rambut Ridwan.
“Oh ya! Maryam kesini?” Tanya Ridwan begitu terkejut mendengar tuturan istrinya.
Ia terdiam, Maryam datang ke rumahnya disaat ia tidak sedang berada di rumah itu berarti memang perempuan itu datang untuk menemui Adelia.
“Iya ! kemarin waktu aku pulang dari belanja warung di deket rumah bunda.” Jawab Adelia semakin menjelaskan bagaimana bisa Maryam datang kesini awalnya.
“Kamu belanja disana? Bukannya dulu pernah denger omongan nggak enak disana?” Tanya Ridwan tidak yakin jika Adelia pergi ke warung sebelah dimana ia dibanding-bandingkan dengan Maryam. Ridwan tidak pernah lupa tuturan dari Maryam, tentang Adelia. Sampai saat inipun ia tidak mendengar Adelia mengadu padanya bagaimana seorang istri dibandingkan dengan seorang perempuan yang merupakan kekasih gelap itu.
“Ya, masa bodoh sama omongan tetangga disana. Aku niatnya beli kebutuhanku yang mendadak.” Jawab Adelia santai pada Ridwan yang hanya mengangguk kemudian menunjukkan jari jempolnya pada istrinya, seolah mengatakan bahwa langkah yang diambil istrinya menanggapi tetangga yang terkadang ucapannya menyakiti hati adalah terbaik.
Adelia menghela nafas begitu Ridwan memandangnya, jam tangan sudah terpakai di tangan kirinya dan ia meraih kunci mobil menandakan bahwa ia sudah siap untuk pergi. Adelia mengikuti Ridwan dan mengunci rumahnya, ia masuk ke dalam mobil.
“Nggak bakal ada apa-apa disana. Apalagi aku sama Maryam.” Ucap Ridwan seolah membaca kegelisahan yang dirasakan istrinya.
“Bukan masalah itu, aku tidak siap mendengar cibiran para tamu hari ini.” Jawab Adelia jujur.
Tanpa Ridwan katakanpun, Adelia sudah tahu tidak akan ada hal yang terjadi hari ini antar Ridwan dan Maryam. Kisah mereka harusnya sudah berakhir sejak hari ini, sejak Maryam sudah melakukan akad nikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya hari ini.
“Hey! Kemana Adelia yang selalu bersikap masa bodoh dengan ucapan orang sekitar?” Tanya Ridwan mencoba mengubah topik pembicaraan agar Adelia tidak terlalu tegang untuk pergi ke pesta pernikahan Maryam.
Bukankah nanti aneh, jika Adelia tampak pendiam padahal sekitarnya sedang berbahagia karena dua insan yang sudah menjadi satu. Mobil berjalan pelan secara perlahan menandakan sudah sampai di resepsi pernikahan.
Baru saja, turun dari mobil bayangan-bayangan Ridwan mengejarnya ketika mengetahui Adelia tidak pulang ke Jakarta melainkan bersembunyi di hotel langsung terputar dalam ingatan Adelia. Iya benar, ia datang kembali ke hotel dimana ia pernah menenangkan diri disini setelah mendengar ia akan diceraikan oleh Ridwan. Sekarang ia datang kembali sebagai seorang tamu dari sebuah resepsi pernikahan.
“Kenapa diam? Keinget kenangan manis sama Andi.” Sindir Ridwan tanpa basa basi membuat Adelia menahan emosinya.
Mereka tengah berjalan beriringan menuju meja penerima tamu, Adelia diam tidak membalas ia tidak mau memperbesar masalah di situasi yang menurutnya tidak pas. Adelia melihat sekitar, rupanya pengantin tengah berganti pakaian dan sang mempelai pria duduk sendirian di tempatnya.
“Mas, aku ke kamar mandi dulu ya!” ucap Adelia berpamitan untuk membenahi riasannya dan menahan buang air kecil.
“Iya, aku disana lihat hidangan.” Jawab Ridwan mengiyakan dan melihat istrinya yang sudah hilang dari pandangannya.
Adelia sudah hilang, dibalik kerumunan. Betapa ramai tamu undangan yang datang membuat Ridwan untuk menepi sejenak. Ia lebih baik ke balkon atau diluar untuk menyalakan rokoknya. Baru saja berjalan, pandangannya tertuju pada ruangan yang tidak ada tamu disana. Rupanya itu kamar rias pengantin.
Ridwan mengintip, Maryam tengah duduk di depan sebuah meja rias. Tidak ada siapa-siapa disana, termasuk penata riaspun tidak ada. Ridwan memberanikan diri untuk masuk ke dalam, sekedar menyapa Maryam yang tampak dari pantulan wajahnya menyiratkan ada kesedihan yang ia simpan disana.
“Maryam!” Panggil Ridwan dari belakang membuat perempuan yang mengenakan baju pengantin adat sunda itu menoleh terkejut.
“Mas Ridwan! Bagaimana bisa masuk kesini?” Tanya Maryam tiba-tiba sedikit panic.
“Aku hanya melintas sebentar.” Jawab Ridwan canggung namun dengan senyuman tulus.
“Mbak Adel nggak datang?” Tanya Maryam celingak-celinguk mencari teman Ridwan datang kesini.
“Ada, dia sedang di toilet.” Jawab Ridwan dengan senyumannya mencoba meraih tangan Maryam.
“Kisah kita berakhir sampai disini ya Maryam. Semoga kamu bahagia dengan suami kamu. doa yang terbaik, kita berencana tapi Allah yang berkehendak bahwa kita tidak berjodoh.” Ucap Ridwan dengan matanya yang tidak bisa berbohong hampir berkaca-kaca.
“Iya! Mas Ridwan semoga bahagia seumur hidup bersama mbak Adelia. Maryam ikhlas meski sangat susah merelakan.” Ucap Maryam membalas genggaman tangan Ridwan dengan matanya yang juga berkaca-kaca. Ia tidak bisa berbohong, ada sesuatu dalam hatinya yang mengganjal untuk melepaskan tangan Ridwan.
Tangan laki-laki yang selama ini selalu berdiri di sampingnya dalam keadaan apapun, sampai berencana mengakhiri rumah tangganya demi perempuan seperti Maryam. Tetapi, tetap saja sekalipun mereka masih menjalin hubungan tetap saja ada ujian dalam hubungannya mengenai restu dari kedua orang tuanya.
“Mas Ridwan!” Pekik seseorang yang berdiri diambang pintu, dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap nanar dua insan yang tadinya saling menggenggam tangan langsung dengan serentak mereka lepaskan.
“Ini yang kamu bilang tidak ada apa-apa lagi antara kamu dengan Maryam?” Tanya Adelia dengan amarah menggebu-gebu.
“Bukan Adel, bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya… “
“Cukup mas! Aku nggak mau dengar apalagi tentang kalian! Aku nggak butuh penjelasan. Apalagi yang perlu dijelaskan. Sudah didepan mataku kejelasannya.” Ucap Adelia dengan nafas yang naik turun dengan cepat, desiran darahnya benar-benar dnegan hebat mengalir di sekujur tubuhnya membuat emosinya semakin tidak bisa ditahan.
“Aku benci sama kamu, Maryam! “ Ucap Adelia dengan tangisannya yang sudah mengalir dengan deras menatap tajam pada Maryam yang juga gugup dan ia kehilangan kata-kata untuk sekedar membalas ucapan Adelia.
Bagai tersambar petir hari itu, Maryam benar-benar melihat kebencian nyalang di mata Adelia. Maryam bungkam tidak berani mengatakan apa-apa, Adelia menatap tajam kepada Ridwan yang sejak tadi mematung melihat kemarahan Adelia yang pertama kalinya begitu benar-benar dalam bawah kendali emosi yang nyata.
“Mas Ridwan inget satu hal!” Kecam Adelia menodongkan jari telunjuk kepada Ridwan yang menggeleng pelan berusaha mengatakan satu patah kata saja ia tak sanggup.
“Adelia nggak akan pernah percaya lagi sama mas Ridwan!” Tegas Adelia membuat Ridwan membeku di tempatnya.
“Mas Ridwan pembohong!” Umpat Adelia kemudian menghapus air matanya kasar dan berlalu pergi meninggalkan Ridwan dan Maryam yang terdiam di ruangan. Ridwan tersadar ia lalu langsung mengejar Adelia yang hilang entah kemana.
Ridwan benar kalang kabut mencari Adelia ditambah banyak tamu undangan yang terkadang postur tubuhnya sangat mirip dengan Adelia. Ridwan membuka mobilnya dan terkejut melihat ada seseorang di dalam, siapa lagi jika bukan Adelia yang tengah terisak hebat sampai make up yang tadinya mempercantik dirinya justru kini membuat wajahnya menyeramkan.
“Del! Mas mau jelasin.” Ucap Ridwan menghadap Adelia, ia menghapus pelan-pelan air mata Adelia yang masih mengalir. Adelia tidak menolak, ia tetap diam dalam tempatnya.
“Mas Ridwan masuk dulu, Adelia tunggu disini nggak enak udah datang kesini.” Ucap Adelia mengalihkan topik pembicaraan, hatinya benar-benar sakit serasa baru tadi pagi ia diterbangkan dan siangnya dihempaskan begitu saja.
“Gimana bisa aku ke dalam dengan keadaan kamu seperti ini.” Ucap Ridwan lembut mengusap anak rambut yang menempel di wajah Adelia karena basah.
“Terus kenapa mas Ridwan ada di ruangan Maryam genggam tangan, dia pengantin di acara ini mas! Ada aku juga!” Ucap Adelia dengan nada tinggi menoleh pada Ridwan membuat Ridwan terbungkam. Ucapan istrinya benar-benar menohok.
“Mas Ridwan masuk! Kita selesaiin ini nanti di rumah.” Ucap Adelia menyuruh Ridwan untuk tetap mengikuti acara resepsi.
“Nggak! Kita pulang sekarang!”
TBC