Acara pernikahan yang harusnya berbahagia justru menjadi beban pikiran untuk Maryam, suasana kebahagiaan di malam hari pun tak terlihat darinya karena Maryam sibuk mengingat yang terjadi antara dirinya, Ridwan dan juga Adelia. Maryam merasa bersalah karena membiarkan Ridwan memasuki ruangannya.
Penyesalan selalu berada di akhir sebuah perbuatan, Maryam menyesali karena memperkenankan tangannya untuk digengam oleh Ridwan, ia ceroboh karena tidak sadar apa yang sedang berlangsung ketika Ridwan ada di sisinya. Nasi sudah menjadi bubur seperti hanya Ridwan yang berusaha menyakinkan Adelia pun berakhir nihil.
Perempuan yang kini duduk di ruang tengah menyalakan televise dengan volume cukup keras demi menciptakan suasana bahwa ia sedang sendiri di rumah tidak menganggap keberadaan Ridwan yang sejak tadi duduk di meja makan sambil memperhatikan tingkah laku Adelia. Sejak kepulangan lebih awal mereka dari tempat resepsi pernikahan, Adelia benar-benar membisu. Tak sepatah katapun keluar dari bibir tipisnya, ia diam meski Ridwan berusaha mengajak bicara pun ia tetap diam.
Ridwan benar-benar merasa gusar, pikirannya kalang kabut. Jika dulu situasi seperti ini yang ia inginkan antara dirinya dan Adelia. Kini justru sikap dingin Adelia kepadanya menjadi boomerang tersendiri bagi dirinya. Ia benar-benar dalam gelisah dan resah harus berbuat apa sampai Adelia benar-benar memaafkannya.
Memikirkan berbagai cara justru membuat Ridwan emosi, ia selalu menyelesaikan masalah keresahannya dengan emosi yang meledak entah pada siapa. Ia sendiri tidak tahu siapa yang berhak menerima pelampiasan amarah darinya,
Ridwan menghampiri Adelia, duduk disebelahnya. Adelia tetap diam dengan wajahnya yang dingin tak berkutik sama sekali dengan kedatangan Ridwan disampingnya. Sedangkan Ridwan semakin tersiksa dengan sikap Adelia yang benar-benar diam,bisu bak mayat hidup.
Ridwan sengaja merebut remote control dari tangan Adelia kemudian mematikan televise. Adelia menghela nafas berat menahan agar ia tidak terpancing emosi dengan tindakan Ridwan barusan. Ia memilih beranjak pergi namun dengan cepat tangan Ridwan menahannya.
“Mas udah aku capek!” Ucap Adelia dengan suara yang lirih namun di telinga Ridwan terdengar begitu dingin membekukan gendang telinganya.
Ridwan justru menarik Adelia untuk menuju lantai atas di kamar mereka berdua, Adelia yang berontakpun tidak bisa melepaskan genggaman erat Ridwan di tangannya. Sampai Adelia berpegangan dengan tiang tangga rumahnya dilepaskan Ridwan begitu saja dengan mudahnya. Sekuat tenaga perempuan tetap jauh lebih kuat berkali-kali lipat tenaga lelaki, bahkan tidak ada seperempat persennya.
“Sakit mas!” Teriak Adelia histeris begitu Ridwan menariknya tanpa ampun menaiki tangga.
“Mas Ridwan!” Teriak Adelia begitu air matanya keluar, selain menahan rasa sakit di tangan dan kakinya karena Ridwan benar-benar menyeretnya. Ia juga merasa ketakutan ketika Ridwan marah dengan emosi yang terkendali.
“Kita selesaikan sekarang!” Ucap Ridwan dengan nada dingin.
“Apa yang akan diselesaikan? Semuanya sudah jelas dan aku muak dengan setiap ucapan kamu!” Ucap Adelia begitu Ridwan menghempaskan dirinya ke ranjang dengan kasar.
“Ini yang kamu bilang selesai? Dengan kamu bersikap dingin, diam bisu seperti mayat hidup!” Bentak Ridwan membuat Adelia bungkam, nyalinya selalu menciut setiap laki-laki itu marah kepadanya.
“Ini juga kan yang kamu anggap menyelesaikan masalah! Dengan kabur ninggalin rumah! Hah!” Ucap Ridwan membuka lemari kemudian mengambil semua pakain di lemari dan membuangnya asal. Benar-benar seisi lemari keluar semua, membuat Adelia tercengan melihat Ridwan benar-benar sedang dikelilingi api amarah yang belum juga padam.
“Ini juga kan yang kamu bilang selesai! Meminta cerai dari aku! HAH iya!” Bentak Ridwan mengeluarkan sebuah kalung milik Adelia yang putus karena Ridwan juga. Ridwan membuangnya asal membuat Adelia yang melihatnya benar-benar ketakutan disana.
Ia benar-benar bungkam, tidak bisa berkata melihat seisi kamar yang sudah tak berbentuk, porak poranda seperti kapal pecah. Pakaian yang ia setrika serapi mungkin sudah seperti cucian kotor yang belum dilipat.
Ridwan yang sudah emosi diluar kendalinya mengerjapkan matanya melihat Adelia yang sudah tersungkur di pojok kamar dengan mata memerah, isakan yang ditahan dan tangan yang gemetar. Sekali lagi emosi Ridwan tidak terkontrol, bukan menyelesaikan masalah justru semakin membuat semuanya semakin rumit.
“Kamu tidur di kamar bawah!” Ucap Ridwan mengusir Adelia seraya ia menyalakan satu putung rokok yang dianggapnya bisa menyegarkan kembali otak dan fikirannya.
Adelia tak menjawab sepatah katapun, ia segera bergegas keluar kamar. Ia benar-benar takut pada Ridwan, emosi yang tidak terkontrol hanya karena ia mendiamkan suaminya itu, padahal biasanya juga laki-laki itu merasa risih setiap Adelia menunjukkan perhatiannya pada lelaki itu.
Adelia menyalakan lampu kamar yang biasanya digunakan untuk orang tuanya ketika datang ke Bandung. Adelia masih memikirkan Ridwan yang menurutnya jika hanya karena Adelia mengacuhkannya mengapa sikapnya benar-benar mengerikan seperti takut kehilangan seseorang bukannya dulu ia malah marah juga disetiap Adelia ingin diperhatikan, ingin meminta haknya.
Ia mencuci muka di wastafel, berkaca di depan cermin meneliti setiap wajahnya sampai kembali terfikirkan apa yang sedang difikirkan Ridwan sebenarnya. Atau karena Adelia membuat masalah ketika di pernikahan Maryam.
“Emosi mas Ridwan sampai seperti orang kerasukan!” Gumam Adelia entah pada siapa mengingat mata merah Ridwan, nafas yang naik turun tidak teratur, rahangnya tampak mengeras. Laki-laki itu benar-benar dipenuhi emosi.
Adelia mulai mengganti lampu tidurnya dan lebih memilih tidur saja daripada memikirkan Ridwan yang tidak ada habisnya. Adelia benar-benar seperti tidak mengenal Ridwan jika laki-laki itu sedang dalam naungan emosinya yang selalu saja tidak terkendali.
Semenjak kepindahan ke Bandung, Ridwan banyak menunjukkan sikap temperamennya yang begitu pemarah sama sekali tidak bisa disinggung. Ridwan benar-benar membatasi Adelia, seperti burung dalam sangkar emas. Ridwan tidak ingin Adelia mengenal Andi atau siapapun selama perempuan itu berada di sisinya.
Adelia sudah lelap di kamarnya, sedangkan Ridwan ia tersungkur di balkon kamar. Menatap langit yang rupanya benar-benar gelap seperti suasana hatinya saat ini. Ridwan tersenyum getir bak orang gila. Ia menertawakan dirinya sendiri yang kecanduan apapun yang berkaitan dengan Adelia, seperti narkotika dengan merek khusus untuknya, kurang lebih seperti itulah yang ada dalam gambaran otaknya mengenai Adelia.
Tanpa disangka-sangka, secara tidak langsung ia menyatakan perasaannya bahwa ia tidak mau kehilangan Adelia, diacuhkan Adelia begitu menyiksa dirinya, melihat Adelia tersenyum bahagia bersama Andi merupakan hal yang tidak diinginkan Ridwan dan terakhir kata cerai yang keluar dari mulut Adelia yang pertama bagai belati dan yang kedua bagai busur panah yang menancap tepat dalam hatinya.
“Adelia Aninbagaskara, seperti inikah karma yang ku terima karena telah menyia-nyiakan dirimu selama ini.” Gumam Ridwan entah pada siapa, ia berjalan menuju pagar balkon kamar ia memandang ke balkon kamar bawah lampu redup terpancar dari sela-sela tirai yang tersapu angin malam menandakan sang penghuni sudah terlelap.
***
Ting…tong…
Suara bel membuat tidur seorang perempuan merasa terusik, ia mengucek matanya agar lem yang menempel di matanya bisa membuatnya membuka mata lebar. Adelia memincingkan matanya melihat jam dinding di kamar tamunya, menunjukkan pukul enam pagi. Matahari samar-samar sudah mulai terlihat.
Adelia menoleh ke sampingnya, ia belum sadar sepenuhnya jika semalam ia tidak tidur dengan suaminya. ia menghela nafas pelan, nyawanya mulai terkumpul. Ia sadar Ridwan menyuruhnya tidur disini dan laki-laki itu tidur di kamar mereka berdua.
Adelia kemudian berjalan keluar kamar menuju ruang tamu, ia mengintip siapa gerangan yang datang ke rumahnya di pagi-pagi buta seperti ini. Ia tersenyum begitu ayah dan bundanya sudah berdiri di depan pintu dan tersenyum melihat Adelia yang mengintip dari dalam rumah.
“Baru bangun Del!” Sapa Rokhim begitu Adelia membukakan pintu mereka.
“Iya! Lagian weekend yah!” Jawab Adelia, Fatma segera menuju dapur sambil menenteng sebuah kantong kresek berisikan sayur-sayuran.
“Bunda darimana?” Tanya Adelia melihat Fatma mengeluarkan beberapa sayuran dan ikan segar dari kantong kresek. Sedangkan Rokhim mengitari belakang rumah Adelia yang masih tampak asri banyak bunga-bunga disana.
“Dari pasar jalan-jalan sama ayah. Bunda mau masak disini ya!” Ucap Fatma meminta izin kepada menantunya untuk sudi kiranya meminjamkan dapurnya kepada wanita paruh baya itu.
“Oh boleh kok bunda! Lagian mas Ridwan juga sedang tidur.” Ucap Adelia dengan senyum yang langsung dibalas anggukan senang.
“Mata kamu kenapa begitu Del?” Tanya Rokhim melihat ada yang berbeda dari wajah menantunya, matanya terlihat menghitam dan ada kantung mata dibawah kelopak mata perempuan itu.
“Pasti kebanyakan nonton drama itu!” Sela Fatma, berusaha menutupi. Ia tahu dengan persis sebenarnya jika menantunya itu usai menangis.
Adelia hanya tersenyum canggung ia merutuki dirinya sendiri yang setiap usai menangis matanya selalu yang terkena imbasnya, ada kantung mata di bawah kelopak matanya. Mengapa begitu, Adeliapun juga tidak mengetahuinya. Beruntung ia mempunyai ibu mertuanya yang selalu menjadi tameng untuk ketegaran dan masalah yang dialami Adelia selama berada di Bandung.
“Ridwan dimana! Biar aku bangunkan bocah itu.” Ucap Rokhim yang sudah berjalan menuju tangga rumah.
“Biar Adelia saja yang membangunkan mas Ridwan yah.” Ucap Adelia bergegas mendahului ayah mertuanya yang baru saja akan menaikkan kakinya di pijakan tangga pertama.
Tentu saja Adelia segera mendahului, ia tidak mungkin membiarkan mertuanya mengetahui keadaan kamar Ridwan dan Adelia setelah pertengkaran hebat semalam. Jika saja, Adelia lengah sedikit bukankah masalah akan semakin lebih parah dibandingkan semalam.
Rokhim berbalik badan berjalan menuju Fatma yang mengulum senyum kepadanya. Rokhim sengaja melakukannya, memastikan jika semalam tidak terjadi apa-apa diantara keduanya. Melihat tingkah Adelia, Rokhim yakin bahwa anaknya lagi-lagi bertengkar dengan istrinya. Ridwan dan Adelia sama-sama selalu menyembunyikan masalah keduanya dihadapan orang tua masing-masing, baik Adam maupun Rokhim hanya bisa memantau dari kejauhan.
Adelia membuka knop pintu pelan, menatap seisi ruangan yang mengelilingi sosok laki-laki yang masih terpejam itu. Keadaan masih sama seperti ia meninggalkan kamar semalam, baju dimana-mana, perhiasannya yang dibuang oleh Ridwan masih di tempat yang sama dan juga putung rokok berserakan di bawah.
Adelia yang melihat banyaknya putung rokok yang dihisap lelaki itu semalam membuatnya geleng-geleng beberapa biji lebih dari lima, menandakan Ridwan semalaman tidak tidur. Adelia menggigit bibir bawahnya bimbang apakah ia akan membangunkan Ridwan. Adelia mencoba mengumpulkan nyalinya, mengusir ketakutannya.
“Mas!” Panggil Adelia seraya menepuk pelan lengan lelaki yang masih memejamkan matanya.
“Mas Ridwan!” Panggil Adelia kembali begitu tidak mendapat respon.
“Hm!” Jawab Ridwan dengan deheman tanpa membuka matanya.
“Bangun! Ayah sama bunda ada disini.” Ucap Adelia menggoyangkan lengan Ridwan membuat Ridwan mau tidak mau membuka matanya.
“Pagi-pagi seperti ini?” Tanya Ridwan mencoba membuka matanya.
Ridwan dan Adelia seakan lupa pertengkaran semalam, sebenarnya Adelia tidak lupa ia masih memegang teguh pendiriannya bahwa ia tidak akan mempercayai apapun yang diucapkan Ridwan lagi. Sedangkan Ridwan belum sepenuhnya sadar bahwa perempuan yang ia bangunkan ini adalah perempuan yang meringkuk di pojokan kamar semalam karena melihat kemarahan Ridwan yang meledak-ledak.
“Iya aku turun nanti, aku cuci muka dulu.” Ucap Ridwan memaksa tubuhnya untuk bangun.
Adelia lagi-lagi hanya menghela nafas panjang kamarnya belum sempat ia rapikan tetapi ia harus menemani mertuanya yang sedang berkunjung di rumahnya, agendanya Fatma memasak untuk menantunya sekalian untuk makan siang juga.
Adelia turun menghampiri Fatma yang sedang menggoreng gurame yang berukruan cukup besar menurutnya, sampai dipotong menjadi beberapa agar matangnya merata dan cepat. Rokhim sibuk mengamati design rumah bagian belakang anaknya itu. Tampak lebih asri dan modern dibandingkan dengan rumahnya, ia bangga karena Ridwan mendesign rumahnya sendiri.
“Ini masakan kesukaan Ridwan, dia suka dengan ikan gurame sejak kecil nggak ada bosennya itu anak.” Ucap Fatma membuat Adelia tertawa geli meski dalam hatinya ia sedikit masih menyimpan rasa benci dan takut kepada suaminya itu.
“Iya Adel tahu!” Ucap Adelia dalam hati membenarkan ucapan ibu mertuanya, ia mengetahui apa yang disukai Ridwan sejak ia mulai menyadari menyimpan rasa untuk Ridwan, teman kuliah saudara kembarnya sejak dulu.
“Biasanya kamu nggak sarapan kah Del?” Tanya Fatma sambil mengelupas bwang merah untuk di kumis nanti.
“Sarapan, tergantung bahannya masih ada atau enggak Bunda.” Jawab Adelia kemudian membantu mengelupas bawang putih.
Fatma kemudian mengurusi gurame yang perlu dibalik dan Adelia mengelupas semua bahan-bahan untuk ditumis bersama kangkung nanti. Ridwan turun menyusuri tangga, memandang pemandangan pagi ini di dapurnya, ada ayah dan ibu kemudian Adelia, istrinya.
Adelia yang melihat Ridwan mata mereka saling melirik tajam, rupanya perang diantara keduanya belum juga usai. Akan berlanjut kembali mungkin saja, Adelia yang lebih tahan lama soal marah dan marah namun hebatnya perempuan itu bisa bersikap seolah keadaan baik-baik saja di depan orang banyak.
“Ayah!” Sapa Ridwan pada seseorang yang sejak tadi duduk termangu memandang rumah bagian belakang milik Ridwan.
“Baru bangun kamu!” Ucap Rokhim pada Ridwan yang terlihat masih dengan muka-muka bantal.
“Iya, lagian libur yah!” Jawab Ridwan dengan santainya tersenyum dan dilirik oleh Rokhim kemudian Rokhim tersenyum. Ridwan benar-benar seperti dirinya saat muda, begitu keras kepala dan pekerja keras juga.
“Kemarin datang ke pernikahan Maryam?” Tanya Rokhim dengan wajah datar namun cukup serius.
Ridwan terdiam, dia sudah menduga kalau kedatangan ayah dan ibunya ke rumahnya di pagi buta bukan hanya sekedar untuk sarapan bareng melainkan mengetahui sesuatu tentang Ridwan dan Adelia. Ridwan tetap diam membuat Rokhim tersenyum, rupanya justru ia membuat takut Ridwan.
“Ayah cuman tanya!” Sahut Rokhim membuat Ridwan yang tadinya memandang kosong langsung tersentak.
“Iya, Ridwan datang.” Jawab Ridwan sangat begitu singkat.
“Kamu dan Adelia itu sama-sama bisa menutupi masalah rapat-rapat, mungkin orang lain melihat kalian baik-baik saja tapi tidak dengan ayah.” Ucap Rokhim membuat Ridwan bungkam. Ia tidak bisa menghindar lagi, pasti ayahnya mengetahui apa yang terjadi di resepsi pernikahan Maryam kemarin.
“Jangan berbuat sembrono lagi Wan!” Ucap Rokhim membuat Ridwan mengangguk dengan pasti.
“Mungkin sekarang Adelia masih bisa bertahan dengan sikap kamu yang seperti itu. Tapi besok di masa yang akan datang, tidak ada yang tahu titik habis rasa sabar seseorang dan kamu tinggal menerima penyesalannya saja.” Ucap Rokhim memperingatkan anak semata wayangnya bahwa tidak semua hal dengan penyelesaian yang sama.
“…”
Ridwan mematung, ucapan ayahnya benar-benar menohok dan tepat sasaran. Sesuai dengan apa yang terjadi, kesabaran Adelia benar-benar sangat mendarah daging sampai masalah dan pertengkaran besar semalam tetap membuat perempuan itu bersikap biasa di hadapan mertuanya. Ridwan benar-benar menyesali perbuatannya sekarang tidak perlu menunggu di masa yang akan datang atau kesabaran Adelia di titik penghabisan.
“Kamu harus bersyukur! Adelia tidak memperpanjang masalah di resepsi pernikahan. Bayangkan perempuan lain, belum tentu bisa mengendalikan emosinya dengan baik seperti Adelia!” Ucap Rokhim yang tersenyum bangga pada menantunya, menjadi pengendali Ridwan.
“…”
Lagi lagi Ridwan hanya bungkam, yang dikatakan ayahnya benar-benar sesuai dengan yang terjadi. Adelia lebih memilih untuk menyelesaikannya ketika hanya ada Ridwan dan Adelia di tempat itu. Mencoba menahan emosinya ketika dikerumunan banyak orang.
Rokhim diam melamun, entah apa yang difikirkannya. Sedangkan Ridwan juga sama dengan ayahnya, ia melamun dengan pikiran dipenuhi oleh Adelia. Akhir-akhir ini, otaknya benar-benar tidak beres hanya ada Adelia dan Adelia disana tanpa ada siapapun membuat Ridwan benar-benar seperti orang yang sedang terobsesi dengan satu hal yakni Adelia.
“Ayah! Mas Ridwan! Ayok sarapan!” Ajak Adelia dari ambang pintu melambai pada Rokhim dan Ridwan yang sama-sama memandang kosong hingga keduanya sedikit terkejut dengan panggilan Adelia.
TBC