Orang tua Ridwan sengaja untuk berlama-lama di rumah itu, mereka tak kunjung pulang dalam diam mereka mengamati perubahan sikap Ridwan dan Adelia yang begitu tersorot dan tampak berbeda. Rokhim hanya menatap Fatma, istrinya untuk memberikan sinyal apa yang mereka sedang pahami.
“Del! Sini bertukar posisi sama Ayah!” Ucap Rokhim tiba-tiba membuat Adelia hanya diam, Rokhim yang sejak tadi mengobrol dengan Ridwan memang sengaja mengulur waktu agar Ridwan dan Adelia menemukan momen yang pas.
“Adel mau bantuin bunda aja Ya!” Tolak Adelia dengan senyumannya, terlihat begitu sopan meski Rokhim tahu jika Adelia sebenarnya sedang menghindar untuk berdekatan dengan Ridwan.
Adelia masih jengah, lantaran setiap ada masalah selalu saja kasar dan juga temperamen Ridwan yang keluar dan tidak terkendali itu. Bukankah lebih baik jika ia menjaga jarak dari lelaki itu, lelaki yang satu angkata dengan saudara kembarnya, Akbar.
“Biar Ayah aja yang nemenin bunda.” Ucap Rokhim yang rupanya masih bersikeras menyuruh Adelia untuk menemani Ridwan yang duduk santai di halaman belakang. Menatap beberapa pohon yang membuat suasana di bawahnya teduh dan beberapa burung yang saling kejar dengan temannya.
Ridwan menoleh dan menatap Adelia sebentar, tatapannya tampak datar seolah dia tidak mengharapkan Adelia untuk menemani duduk bersantainya, ia pun masih kesal karena ulah Adelia. Setiap pertengkaran langsung menjauh, tak hanya tidur berbeda kamar sampai menginap di hotel pun pernah istrinya lakukan.
Apakah itu saja masalah dari rumah tangganya? Tidak! itu hanya alasan sepele Ridwan untuk tidak mau hanya dirinya saja yang disalahkan. Padahal sejak awal pernikahan, secara sadar Ridwanlah yang menjadi masalahnya. Adelia tidak akan bertindak jauh jika lelaki itu tidak memulainya.
“Udahlah Yah! Biarin Adel nemenin Bunda! Mungkin lebih nyaman sama bunda.” Sela Ridwan yang lelah mendengar percakapan Adelia dan ayahnya yang saling berebut untuk menemani Fatma yang sedang menonton serial televisi favoritnya.
“Tuh! Suami kamu cemburu Del!” Cibir Rokhim yang semakin membuat Ridwan kesal, Rokhim hanya terkekeh dan memanfaatkan kesempatan untuk segera bergabung dengan istrinya begitu Adelia terdiam menatap perubahan raut wajah suaminya yang begitu terlihat.
“Huffhh…”
Adelia menghela nafas, ia kalah dari ayah mertuanya dan mau tidak mau ia harus menemani Ridwan yang sedang merokok di halaman belakang. Pemandangan yang tidak begitu menarik namun tampaknya menjadi salah satu tempat favorit Ridwan untuk bersantai dan melamun panjang.
“Kenapa? Biar keliatan kalau kita lagi bertengkar?” Tanya Ridwan begitu Adelia duduk disampingnya.
“…”
Adelia hanya mendengus kesal dan tidak berniat untuk menjawab ucapan Ridwan kepadanya, baru saja pantatnya menyentuh bangku dan duduk tapi kata-kata yang dilontarkan Ridwan benar-benar menguji kesabarannya.
“Sekalian aja ditunjukin itu kamar yang berantakan di lantai atas!” Tandas Ridwan lagi dan lagi, Ridwan semakin kesal kala Adelia dengan saja hanya diam, membisu dan tidak menanggapi ucapannya sama sekali.
Tangan Ridwan dengan cekatan segera menarik tangan Adelia agar gadis itu terduduk kembali. Sebenarnya Adelia sudah mencoba bertahan, namun ucapan Ridwan kian lama semakin membuat telinganya panas sehingga ia memilih beranjak, meski ia urungkan kala tangan suaminya menariknya untuk duduk.
“Mau kemana?” Tanya Ridwan dengan sorot matanya yang tajam, bukan! Sebenarnya bentuk fisik wajah dari seorang Ridwan sudah menyiratkan karakter lelaki itu, tegas dan dingin juga keras kepala sehingga hanya lirikan matanya saja sudah mampu mengubah suasana menjadi mencekam.
“Mas Ridwan sendiri kan yang nyuruh aku nunjukin kamar kita yang udah kayak kapal pecah gara-gara kamu!”Ungkap Adelia yang akhirnya bersuara meski ucapannya langsung menembak tepat pada sasaran membuat Ridwan tergagap dan merasa bersalah.
Ridwan sendiri tidak menyangka jika ucapan Ridwan yang tadinya hanya bentuk protes karena Adelia mendiamkan dirinya terlalu lama justru dianggap serius oleh istrinya. Ridwan begitu sadar siapa gadis yang ia nikai begitu teguh pendirian juga keras kepala, hanya saja gadis itu bisa merendamnya dengan dalih mencintai Ridwan.
“Lama-lama aku rasanya pengen…” Ucap Ridwan menahan ucapannya, ia terlihat gemas dengan wajah istrinya yang tampak menahan kesal dan cemberut. Memang benar-benar buta, Ridwan justru gemas dan pandangannya tertuju pada bibir tipis Adelia, persetan jika dia disebut suami yang m***m dan tidak tahu tempat. Ia hanya mengikuti nalurinya.
“Mas!”
Pekik Adelia sambil menahan bibir Ridwan dengan kedua jarinya, ia terkejut saat Ridwan mendekatkan wajahnya hingga begitu dekat dan tidak ada jarak diantara mereka. Ridwan justru memasang wajah polos dan seolah tidak terima dengan penolakan yang dilakukan oleh Adelia itu.
“Ada ayah sama bunda!”
Ucap Adelia yang memberikan peringatan dengan wajah cemasnya, ia menoleh ke dalam rumah sebentar berharap mertuanya tidak melihat apa yang dilakukan oleh Ridwan. Ridwan mengulum senyum melihat raut wajah Adelia yang tampak panik, wajah yang sejak tadi menahan amarah entah hilang kemana, lenyap begitu saja.
“Jadi kalau nggak ada ayah sama bunda boleh?” Bisik Ridwan dengan nada bicara yang sengaja menggoda membuat Adelia semakin salah tingkah, hati dan fikirannya semakin tidak karuan kala suara Ridwan yang tertanngkap gendang telinganya terdengar manja dan menggodanya.
“Ah tauk ah! Aku mau ke kamar aja! Beresin kapal pecah!” Ucap Adelia bersungut, ia merasa digoda dengan Ridwan. Marahnya saja justru dijadikan lelucon oleh Ridwan, buktinya Ridwan sama sekali tidak sungkan, atau sekedar canggung karena istrinya yang tampak marah.
“Alah disini aja dulu! Nanti biar mas yang beresin.” Ucap Ridwan lagi dan lagi menarik tangan Adelia untuk tinggal. Adelia menuruti ucapan Ridwan, ia menarik nafasnya dalam agar emosinya tidak meledak.
Ridwan tersenyum melihat Adelia yang meski sedang marah padanya namun tetap menuruti permintaannya. Ridwan menyenderkan kepalanya ke bahu Adelia tentu saja saat kepalanya mendarat di bahu kanan Adelia sedikit ada guncangan, karena gadis itu tidak siap dan tenaganya tidak terlalu kuat.
“Inget ya Mas Ridwan! Adelia diam kayak gini karena ada Ayah dan Bunda. Nanti kalau mereka pulang, aku akan tetap marah sama Mas Ridwan.” Ucap Adelia memberikan peringatan dengan wajah seriusnya, Ridwan tidak buta istrinya itu memang sedang marah tampak dari sorot mata dan juga nafasnya yang terdengar begitu berat, tidak teratur pada umumnya.
“Hm.”
Hanya deheman yang Ridwan lontarkan untuk mendengar ancaman Adelia, ia tahu Adelia tidak main-main namun untuk sekarang apa tidak boleh memanfaatkan waktu yang ada sebelum perang dingin kembali berlanjut.
Diam-diam mereka tidak mengetahui jika Rokhim dan Fatma diam-diam mencuri pandangan untuk melihat gerak-gerik putra dan menantunya, mereka berdua tersenyum malu melihat Ridwan yang kini berani memamerkan kemesraan dengan istrinya. Sebelumnya, Ridwan begitu tertutup masalah percintannya, bahkan Rokhim dan Fatma sebelumnya tidak mengetahui jika Ridwan menjalin hubungan dengan Maryam.