“BOHONG!” Desis Adelia begitu mendengar ucapan Ridwan, ia sama sekali tidak mempercayainya perihal perasaan Ridwan yang kepadanya menurutnya tiba-tiba.
Ucapan Ridwan bagaikan sengat listrik yang mampu membuatnya terpaku di tempat, beruntungnya hanya sementara Adelia bukan tipe orang yang gampang terlena akan sesuatu hal terlebih hanya ucapan Ridwan. Bagaimana bisa hati yang telah lama menetap kepada Maryam kemudian beralih ke Adelia begitu saja, omong kosong bukan!
Ridwan meremas rambutnya frustrasi, ia sudah menduga jawaban istrinya akan seperti itu bila mendengar perasaan yang membingungkan dirinya akhir-akhir ini. Ridwan sangat mengenal, perempuan yang tipikal sama sekali tidak gampang terlena dengan ucapan lelaki. Ridwan terus menatap Adelia yang juga menatapnya dengan tatapan sama-sama tajam.
“Harus bagaimana mas buktikan?” Tanya Ridwan menantang Adelia yang langsung menunduk begitu mendengar ucapan Ridwan yang berusaha membuktikan katanya.
“Aku nggak perlu bukti, aku memang tidak percaya sama mas Ridwan lagi!” Tegas Adelia menatap mata Ridwan dengan dinginnya, bukankah secara terus terang Adelia sudah menegaskan bahwa semenjak insiden di resepsi pernikahan Maryam, ia benar-benar tidak mau mempercayai Ridwan lagi.
Meski dari tatapan Ridwan Adelia tahu laki-laki itu tengah serius, hanya saja bagaikan mimpi di siang bolong tidak mungkin seorang Ridwan yang terus menolak rasa cintanya dari bangku kuliah sampai sekarang tiba-tiba mengatakan jika mempunyai rasa terhadap Adelia.
Adelia bangkit dari duduknya di tepi ranjang, ia melangkah pergi meninggalkan kamar. Baru satu langkah tangannya sudah ditahan oleh Ridwan yang kini berdiri membelakanginya, Adelia terdiam ia tidak menolak begitu tangan kekar itu menggenggam pergelangan tangan kirinya. Ia memilih memutar badannya menghadap Ridwan dan menunggu apa lagi yang akan diucapkan lelaki itu.
“Apalagi??” Tanya Adelia tampak tak sabar dengan posisinya sekarang yang bersentuhan fisik dengan Ridwan.
“Kamu tidak percaya karena kamu fikir aku gila karir dan jabatan dari papah?” Tanya Ridwan membuat Adelia bungkam.
“…”
Tidak ada jawaban, Adelia menunduk menghindari tatapan dengan RIdwan namun tangannya masih setia digenggam oleh Ridwan. Ridwan menghela nafas panjang, nampaknya pada perannya sekarang ialah yang harus bersabar menyakinkan Adelia bahwa yang dikatakannya benar. Bahwa, Adelia menggiring hatinya yang membeku perlahan mencair dengan kehangatan dan ketulusan yang diberikan Adelia kepadanya.
“Besok kemasi barang kamu kita pindah ke kota dimana nggak ada orang yang kenal sama kita! Aku bakal resign dari perusahaan papahmu.” Tandas Ridwan kemudian keluar kamar meninggalkan Adelia yang masih tercengang dengan ucapan Ridwan yang tidak terfikirkan oleh Adelia sama sekali.
Adelia terdiam ia masih terkejut dengan ucapan Ridwan, ia juga dalam kebingungan apa yang akan dikatakannya kepada mertuanya jika mereka menanyakannya. Adelia benar-benar lupa, Ridwan adalah seseorang yang begitu keras kepala apa yang menghalangi langkah lelaki itu ia terjang, apa yang mempersulit tetap ia paksa. Ridwan benar-benar berani mengambil resiko.
Adelia ikut keluar kamar menyusul Ridwan yang duduk di belakang rumah merenung dengan seputung rokok yang terselip di antara jari tengah dan jari manisnya. Adelia diam, ia menghampiri Ridwan dan duduk disamping lelaki itu.
“Mas!” Ucap Adelia dengan nada lirih nyaris tak terdengar, namun Ridwan menoleh ia mendengar suara Adelia.
“Aku nggak butuh pembuktian!” Ucap Adelia begitu Ridwan menatapnya intens.
“Aku cuman mau kita berpisah secara baik-baik, sekalipun bukan suami aku papah pasti tidak akan menyeret urusan pekerjaan.” Tambah Adelia membuat Ridwan menghisap putung rokoknya yang baru rasa berkurang setengah bagiannya.
“Aku nggak bisa!” Tolak Ridwan mengepulkan asap rokok yang ia hisap dengan pasrah.
“Kenapa?” Tanya Adelia menggeser tempat duduknya untuk mendekat ke Ridwan, ini pertama kalinya ia berani mendekatkan dirinya pada Ridwan yang biasanya ia hanya akan menjauh dan menjauh.
“Aku nggak bisa pokoknya, rumah ini di kontrakan aja dulu.” Tegas Ridwan membuat Adelia membisu di tempatnya. Rupanya Ridwan soal kepindahannya ke Yogyakarta itu benar-benar serius.
“Emang mas Ridwan udah bilang sama Papah?” Tanya Adelia membuat Ridwan diam.
“Nanti aku bakal bilang.” Ucap Ridwan sekenanya, meski ucapan Adelia ada benarnya. Ini semua melibatkan beberapa orang padahal pusat masalahnya hanya ada pada dirinya dan juga Adelia.
Adelia sendiri juga tidak habis fikir dengan pemikiran suaminya yang menurutnya terdengar aneh, ceroboh tanpa berpikir panjang. Adelia juga tidak menyangka jawaban Ridwan benar-benar seenaknya, keras kepala. Memang apa susahnya tinggal mengurus surat penceraiannya lalu dia akan berbicara pada papahnya untuk tidak mencabut apa yang sudah ia berikan pada Ridwan.
“Mas!” Panggil Adelia menahan lengan Ridwan yang akan beranjak pergi itu, Ridwan menatap tangan Adelia perlahan berpindah ke wajah istrinya itu. Entah kesalahannya atau bukan, Ridwan selalu melihat wajah Adelia yang tampak berkaca-kaca, menahan tangis. Kalau dulu, melihat Adelia yang menangis adalah tujuannya, mengingat kegigihan Adelia untuk dekat dengannya.
Sekarang, berbanding terbalik. Dia benar-benar tidak bisa untuk melihat Adelia menitikkan air matanya barang setetes pun, dia benar-benar tidak sanggup untuk itu. Ridwan menarik lengan Adelia, sehingga gadis itu mendekat. Wajahnya benar-benar ada dihadapan Ridwan sekarang, Adelia menahan nafasnya ada sesuatu yang menjalar di sekujur tubuhnya. Matanya benar-benar tidak bisa berkedip.
Cupp…
Ridwan melayangkan sebuah ciuman, ah bukan lagi kecupan. Ridwan bahkan menarik tengkuk Adelia untuk memperdalam lumatan bibirnya yang mulai ia hadirkan. Adelia meronta, entah mengapa perlakuan Ridwan yang mendadak membuatnya terkejut bukan kepalang. Sayangnya dia tidak berbuat banyak, Ridwan semakin memperdalam lumatan bibirnya tidak peduli dengan penolakan Adelia.
Adelia yang melihat Ridwan memejamkan matanya, bahkan ciuman mereka terasa begitu nyata. Adelia mulai memejamkan matanya, menikmati setiap kecapan yang terasa antara bibirnya dengan bibir Ridwan. Adelia tidak berbohong, lumatan dan perlakuan Ridwan benar-benar lembut, membuatnya terbuai. Adelia benar-benar terlena, sampai ia lupa apa yang membuat mereka tadinya bertengkar hebat.
“Huhh…!” Hembusan nafas mereka secara bersamaan, Ridwan tidak menjauhkan wajahnya dari Adelia. Membiarkan kedua ujung hidung mereka bertemu, Ridwan menahan senyum melihat wajah sang istri yang menunduk, menahan malu. Wajahnya sudah benar-benar memerah seperti kepiting rebus.
“Aku menyadarinya! Bibirmu memang candu! Manis, tidak ada yang menyamakan.” Bisik Ridwan membuat Adelia membulatkan matanya, ia kaget mendengar ucapan Ridwan yang terlalu terbuka itu bahkan tanpa sungkan. Adelia mendorong Ridwan untuk melepaskan dekapannya, sayangnya Ridwan cukup siaga akan hal itu sehingga posisi mereka masih sama, tangannya masih mengunci Adelia.
“Aku benar-benar tidak bisa melepaskanmu!” Bisik Ridwan lagi membuat Adelia menatap intens mata suaminya, mencoba menemukan kebohongan yang sayangnya tidak bisa ia temukan sama sekali. Justru ada ketulusan dalam netra mata yang tajam milik Ridwan.
TBC