“Memang sudah bilang sama Papah?”
Kalimat pendek Adelia itu sejak tadi mengganggu Ridwan, selama di kantor dia tidak bisa focus mendengarkan bawahannya yang sedang persentasi laporan bulanan perusahaan. Tidak seperti biasanya Ridwan yang banyak menyanggah atau memprotes meminta penjelasan jika ada yang janggal atau kurang di penjelasan karyawannya.
Ridwan hanya mengangguk, meski pandangannya terlihat focus menyimak namun sebenarnya fikirannya entah kemana. Dia tidak bisa berbohong jika ia terus terganggu dengan sikap Adelia yang benar-benar dingin. Bahkan gadis itu benar-benar tidak terlena dengan pengakuan Ridwan.
Ridwan mengakuinya, dia mengaku kalah saat karena dia yang berkoar-koar bahwa dia tidak akan jatuh cinta pada sosok seperti Adelia nyatanya ucapannya itu termakan sendiri olehnya. Ia memijat pelipisnya dengan cukup keras begitu rapat selesai, dengan kurun waktu yang benar-benar singkat, bagkan memecah rekor sebagai rapat tersingkat Ridwan.
Reno masuk membawa berkas yang tadinya ia persentasikan dan disetujui oleh Ridwan, bahkan kali ini Reno merasa beruntung karena pekerjaannya tidak seberat biasanya. Bagaimana tidak! Reno tidak perlu capek-capek untuk melakukan revisi berulang kali seperti yang biasa ia lakukan.
“Ada apa?” Tanya Ridwan yang membuka matanya dan mendapati Reno yang sudah duduk berhadapan dengannya dengan menyodorkan dokumen yang memerlukan persetujuannya.
Reno tampak tersenyum senang, ia tidak bisa menutupi kebahagiaannya karena hari ini mendadak terasa menyenangkan baginya. Berbeda dengan Reno, Ridwan tampak menghela nafas gusar dan juga alisnya bertaut menandakan ada yang tidak beres dengan dokumen yang dibawa Reno.
“Kenapa ini bisa hanya 15%? Kamu yakin bisa menghemat pengeluaran perusahaan?” Tanya Ridwan menunjuk angka yang ia bicarakan, sedangkan Reno mendadak bingung. Senyum yang sejak tadi terpasang di wajahnya hilang, berganti dengan raut wajah yang menandakan bahwa ia sedang bingung.
“Yang mana Pak?” Tanya Reno dengan lemah, Ridwan tidak menjawab membiarkan Reno menemukan kejanggalan yang ia bicarakan. Ridwan menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, aura dingin dan tegasnya kembali muncul.
“Tapi Pak! Tadi selama rapat Pak Ridwan juga tidak protes atau menyuruh revisi. Pak Ridwan bahkan mengangguk dan juga mengacungkan jari jempol Bapak!” Sanggah Reno bermodalkan alibi kuatnya, Reno memang salah satu karyawan yang memilili alibi yang kuat sehingga ia dapat membantah pendapat Ridwan.
“Saya? Setuju? Dan jari saya seperti ini?” Tanya Ridwan cengo, bahkan lelaki itu menunjukkan ibu jarinya. Reno mengangguk mantap, mengiyakan. Ia tidak sedang mengambil kesempatan namun memang berbicara sesuai fakta jika Ridwan hari ini memang begitu mudah memberikan persetujuan tanpa repot memberikan alasan dan data yang valid untuk sebuah usulan.
“Kamu yakin?” Tanya Ridwan sinis, berharap Reno menampakkan dirinya yang ketakutan karena telah memanfaatkannya. Sayangnya, pupus harapan Ridwan. Reno justru mengangguk polos, membuat Ridwan menatapnya dengan hembusan yang sejak tadi terdengar kasar.
“Pak Ridwan kenapa? Sejak tadi Pak Ridwan terlihat begitu aneh. Bahkan rapat yang biasanya memakan waktu beberapa jam ini hanya satu jam.” Ungkap Reno memberanikan diri mengutarakan keanehan yang sejak tadi ia lihat dari sisi Ridwan.
“Bapak bahkan setuju dengan persentasi hari ini, hanya mengangguk tanpa protes atau meminta kejelasan dari data yang diberikan.” Tambah Reno memaparkan hal yang benar-benar langka terjadi dan ia temui dari sosok atasannya, Ridwan.
“Kalau begitu atur cuti untuk saya besok! Sepertinya otak saya memang sedang tidak beres.” Ucap Ridwan setelah mengibaskan tangannya pada Reno memberikan isyarat agar Reno berhenti menceritakan hal aneh yang terjadi selama rapat karena semakin membuat Ridwan linglung dan merasa malu, seperti kehilangan dirinya sendiri.
“Cuti Pak? Baik Pak! Kalau begitu saya permisi!” Pamit Reno begitu Ridwan menandatangi dokumen yang ia serahkan. Reno bergegas keluar ruangan sang atasan karena merasa tidak ada lagi yang perlu ia kerjakan.
“Oh ya! Reno!” Ucap Ridwan tiba-tiba menghentikan Reno yang tadinya sudah memutar knop pintu dan ingin keluar ruangan.
“Ada yang terlupakah Pak?” Tanya Reno yang memutar badannya, melihat Ridwan yang Nampak menatapnya. Sepertinya sang atasan itu sedang berpikir.
“Tolong panggilkan Ulfa!” Ucap Ridwan yang langsung dibalas anggukan oleh Reno.
Ridwan menyandarkan tengkuknya lagi di kursi kerjanya, ia memejamkan matanya. Merasa Adelia benar-benar membuat harinya sekarang berantakan. Ia sangat yakin bahwa karyawan yang mengikuti rapat hari ini akan membicarakan dirinya.
“Ada apa Pak? Kata Reno Bapak mencari saya?” Tanya Ulfa yang tadinya mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dan dengan berani masuk tanpa dipersilahkan. Ridwan tidak marah dengan yang Ulfa lakukan karena memang Ridwan melamun dan tidak mendengarnya sama sekali.
“Besok saya cuti! Tolong jika ada dokumen yang perlu tanda tangan saya, kamu ke rumah saja biarkan istri saya saja yang tanda tangan.” Ucap Ridwan menjelaskan maksud dirinya menyuruh Reno memanggil Ulfa, Ulfa mengangguk dengan amanat yang diberikan Ridwan kepadanya.
“Tapi Pak! Besok ada jadwal bapak rapat sama beberapa mitra dan juga kolega dari luar kota katanya mau berkunjung.” Bantah Ulfa yang teringat jadwal padat Ridwan hari ini.
“Batalkan atau jadwalkan ulang saja, besok saya mau ke Jakarta. Ada keperluan dengan mertua saya!” Ucap Ridwan memberikan alasan yang valid dan akan mempermudah cutinya.
Bukankah perusahaan ini masih milik Adam, sang mertua. Tentu saja perusahaan akan memprioritaskan segala urusan yang berhubungan dengan sang pemilik perusahaan itu sendiri.
“Baik Pak! Kalau begitu permisi!” Ucap Ulfa yang tidak bisa membantah lagi karena memang itu permintaan dari atasannya sendiri.
Ulfa pergi, tinggal Ridwan di dalam ruangan itu. Ridwan menatap cincin pernikahannya yang sudah ia pakai lagi. Entah kapan ia memakainya, dirinya sendiri tidak mengingatnya. Ridwan melamun, benar-benar merasakan susahnya menaklukan hati Adelia dibandingkan Maryam.
Ridwan tiba-tiba terfikirkan untuk menghubungi Adelia, ia mendadak penasaran apa yang sedang dilakukan oleh istrinya selama bekerja. Bukankah seperti pengantin baru jika sekarang, apakah mereka bukan pengantin baru? Tentu saja pengantin baru! Hanya saja sudah beberapa bulan.
Halo!
Suara Adelia terdengar membuat Ridwan tersenyum, ia menertawakan dirinya sendiri karena jantungnya yang berdetak begitu hebat. Pernikahan ini bagaikan boomerang bagi dirinya sendiri, kemana Ridwan yang terus menegaskan akan membuat hari Adelia menangis dan terluka. Kemana itu semua, apakah hanya bualan semata?
Halo!
Suara Adelia terdengar kesal karena Ridwan tidak kunjung berbicara karena sibuk dengan lamunannya sendiri.
“Halo!”
Ada apa Mas Ridwan telepon jam segini? Mana nggak langsung ngomong!
“Apa yang sedang kamu lakukan?” Tanya Ridwan benar-benar seperti seorang anak yang beranjak dewasa, sedang melakukan pendekatan dengan pacar barunya. Alih-alih menjawab Adelia tampak mendengus kesal karena merasa Ridwan sedang mempermaikannya.
Mas Ridwan lagi kesambet apasih? Jam segini telepon mana tanyanya nggak penting amat. Udah ah Adelia lagi sibuk!
***