Ridwan sampai di kantornya lebih pagi dari biasanya, tetapi dengan melupakan ponselnya. Ia menghubungi Adelia terlebih dahulu untuk membawakan ponselnya kesini dengan bantuan Okky.
“Pak Ridwan ! ada bingkisan untuk anda!” Celetuk seorang satpam dari belakang Ridwan membuat Ridwan segera menoleh begitu namanya dipanggil.
“Oh iya makasih pak!” Ucap Ridwan sambil menerima sodoran dari satpam berupa sebuah kotak yang masih terbungkus rapi.
Ridwan segera masuk ruangannya, membuka bingkisan yang ia sendiri tidak tahu apa isinya. Ridwan mengeryit begitu nama Maryam yang tertera disana sebagai pengirimnya. Ia pun membuka kotak yang ternyata berisikan sebuah kemeja dan jam tangan warna hitam elegan.
Ini bukan pertama kalinya Maryam mengirim barang untuknya, Ridwan sering menerima bingkisan dari Maryam yang selalu mengirim ke kantornya secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan kepada Ridwan sebelumnya.
“Widih! Dapat paket terus ya lo!” Cibir Okky membuat Ridwan hanya memandangnya sinis tanda mencibir balik.
“Jomblo itu memang sakit!” Goda Ridwan yang justru membuat Okky tersenyum terperangah tidak menyangka Ridwan akan membalas cibirannya.
“Kampret ya lo, Wan mentang-mentang udah nikah sama Adelia. Mana masih dapat paket dari Maryam pula.” Ucap Okky sarkas sedikit menyayangkan sikap Ridwan yang tidak mau melepas salah satu diantara Adelia dan Maryam.
“SStttt!!!” Sergah Ridwan menyuruh Okky untuk berbicara jangan terlalu keras.
“Sorry gue lupa Wan!” Celetuk Okky menyadari jika ini masih di kantor, Ridwan khawatir ada yang mendengar persoalannya dengan Adelia. Lebih tepatnya keadaan sebenarnya dari rumah tangganya dengan Adelia yang jauh dari kata harmonis.
“Hari ini Akbar nggak dating katanya.” Ucap Okky membuka topik pembicaraan baru.
“Kenapa?” Tanya Ridwan yang juga ingin tahu alasan sahabat karib sekaligus kakak iparnya itu tidak masuk kerja, meski Akbar dikenal dengan sikapnya yang brandal tetapi lelaki itu tidak pernah atau sangat jarang tidak masuk kerja kecuali ada keperluan mendadak.
“Ngurusin cabang perusahaan di Bandung.” Jawab Okky membuat Ridwan hanya mengangguk pelan mengerti.
Memang perusahaan sedang melakukan pembukaan cabang besar-besaran di berbagai kota besar. Itu merupakan rencana yang sudah lama Ridwan dengar bahkan sebelum ia menikah dengan Adelia.
Dddrrttt..ddrrrttt..
Telepon kantor berdering membuat Ridwan dan Okky saling pandang, telepon milik Ridwan lebih tepatnya yang berdering. Ridwan terdiam sejenak mengapa tumben telepon dari pemilik perusahaan menghubunginya seperti tidak biasanya, jabatan Ridwan belum setinggi rekan-rekannya yang biasa berkomunikasi langsung dengan Adam papah Akbar guna memberikan informasi dari data penjualan maupun perkembangan perusahaan.
Halo!
Halo, Ridwan! Nanti sepulang kantor mampir ke rumah papah ya!
Oh baik pah!
Ridwan menutup telepon begitu sambungan diputus dari Adam. Ia duduk termangu sambil memikirkan apa yang akan dikatakan mertuanya ketika ia sudah sampai di rumah. Ia menduga-duga apakah mertuanya mengetahui persoalan pernikahan Adelia yang sudah benar-benar tidak bisa dilanjutkan menurutnya.
“Itu tadi Pak Adam, Wan?” Tanya Okky penasaran karena Ridwan memanggil dengan sebutan papah. Setahu Okky jika penelepon adalah Rokhim pastinya Ridwan memanggilnya dengan sebutan ayah. Dan satu lagi, ayah Ridwan tidak mungkin menghubunginya melalui telepon kantor.
“Yoi, gue suruh mampir ke rumah!” Jawab Ridwan seraya membuka laptopnya yang sejak tadi masih bertapa di dalam tas kantornya.
“Mampus lo Wan!” Ucap Okky berusaha menakut-nakuti Ridwan.
“Kenapa?” Tanya Ridwan masih dengan santai meladeni godaan dari Okky, satu ruangan dengan sahabat sendiri memang membuat hari kerja dipenuhi dengan canda tawa dan saling bertukar cerita.
“Bisa aja Adelia ngadu soal Maryam ke papahnya.” Ucap Okky membuat asumsi sendiri mengenai diteleponnya Ridwan dari mertuanya.
“Ngaco lo!” Sahut Ridwan seraya tertawa mendengar dugaan Okky.
“Apa yang nggak mungkin, Adelia deket banget sama keluarganya.” Bantah Okky, ia sangat paham dengan istri Ridwan yang dulunya adalah temannya di bangku SMA.
“Adelia bukan pengadu kayak elo!” Ucap Ridwan seraya menatap Okky yang mulai kesal karena rupanya sahabatnya itu tidak ada sedikitpun menunjukkan rasa ketakutan apalagi kekhawatiran di raut wajahnya.
“Eh!eh! udah mulai kenal sama Adelia.” Goda Okky pada Ridwan yang rupanya keceplosan membicarakan tentang Adelia.
Tiba-tiba muncul seorang perempuan yang berdiri di ambang pintu dengan wajah datarnya, Adelia yang membawa tas selempang dan juga satu kotak yang berisikan kotak bekal untuk Ridwan. Pandangan Ridwan pun berubah dingin Adelia yang berjalan menuju mejanya. Sedangkan Okky yang berada di pojok ruangan mengulum senyum dengan respon Ridwan yang sangat terlihat laki-laki itu naif.
Adelia tidak banyak bicara, ia menyodorkan ponsel Ridwan dan juga kotak bekal yang tadi pagi Ridwan tolak untuk dibawa. Ridwan memandang malas kotak bekal yang berada di hadapannya, tadinya ia ingin berterimakasih pada Adelia karena sudah mengantarkan ponselnya. Kini wajahnya berubah masam, Adelia memang benar-benar keras kepala sudah beberapa kali Ridwan mengatakan untuk tidak memasak untuk dirinya. Hasilnya, nihil! Adelia tetap pada rutinitasnya setiap hari.
“Gue kan udah bilang! Nggak usah bawain bekal.” Gerutu Ridwan sedikit lirih pada Adelia, tatapannya tajam tertuju pada Adelia yang masih berdiri di sampingnya.
“Cobain dulu!” Paksa Adelia masih dengan nada rendah juga, ia tidak mau memancing perhatian orang-orang kantor.
“Emang ngomong sama orang nggak ada otak itu susah!” Omel Ridwan mulai kehabisan kesabaran.
“…”
Adelia hanya diam dan masih setia berdiri disamping Ridwan yang mulai sibuk memainkan ponselnya, banyak pesan dan panggilan yang masuk. Ridwan tidak menyadari kemana arah mata Adelia tertuju, perempuan itu tertegun ketika melihat sebuah bingkisan yang tertulis nama pengirimnya. Sampai ia lupa, bagaimana rasa sakit itu mencabik-cabik hatinya setiap mengetahui tentang Maryam.
“Ya udah sana pulang!” Usir Ridwan menyadari Adelia yang tak juga beranjak pergi.
Adelia menghela nafas panjang melihat bagaimana sikap Ridwan kepadanya, Okky yang sejak tadi melihat keduanya hanya bisa memantau dalam diam. Ia kasihan melihat Adelia yang sangat sabar menghadapi sikap temperament Ridwan kepada perempuan itu.
Begitu Adelia keluar ruangan, Ridwan menghampiri Okky yang masih saja membisu. Ridwan menyodorkan kotak bekal kepada Okky. Membuat Okky mengerutkan keningnya, kenapa justru Ridwan memberikan kotak bekal pemberian Adelia kepadanya.
“Lah kok dikasih gue Wan?” Tanya Okky dengan kebingungan.
“Makan aja, gue jajan diluar.” Jawab Ridwan santai kemudian berjalan menuju meja kerjanya kembali.
“Wah elo kebangetan Wan, bekal dibuatin istri malah dikasih ke orang.” Omel Okky melihat bekal dalam ta situ.
“Gue nggak pernah nyuruh dia repot-repot bawain gue bekal Ky. Lagian gue udah bilang sama di a gue nggak bakal makan masakan dia. Dianya aja yang bandel.” Bela Ridwan pada dirinya sendiri tidak terima jika Okky memandangnya sebagai suami yang tidak menghargai perhatian istri.
“Ya udah terserah elo aja deh Wan, Allah tuh ngga tidur nantinya juga bakal diganti apa yang dirasain Adel saat ini.” Ucap Okky kemudian memilih focus pada pekerjaannya kembali.
Ridwan tipe orang yang sangat keras kepala dan mempunyai obsesi yang tinggi jika tertarik dengan sesuatu hal. Termasuk ia meninggalkan hati nuraninya pada Adelia demi seorang yang masih ia cintai sekarang, Maryam.
***
Hari sudah berganti gelap, sang fajar menyembunyikan sinarnya dibalik malam. Jalanan tiada henti masih banyak kendaraan berlalu lalang. Ridwan yang sudah pulang kerja, segera menuju rumah mertuanya Karena ia menerima telepon dari papah mertuanya untuk datang ke rumah.
Ridwan : gue mampir di rumah papah dulu.
Setelah selesai mengetik pesan kepada Adelia, ia segera menekan icon pesawat kertas itu. Tanpa dia sadari, Ridwan menjadi sering berpamitan kepada Adelia meski istrinya tidak menanyakan keberadaannya.
Mobil memasuki perkarangan rumah, ia melirik ponselnya sejenak. Tidak ada balasan dari Adelia padahal biasanya perempuan itu sangat cekatan bila ada pesan dari Ridwan. Ridwan pun mengedikkan bahunya seolah tidak peduli kalaupun Adelia tidak membalas pesannya.
Ting… Tong…
Ridwan memberanikan diri menekan bel rumah mertuanya,Ridwan merasa semacam dejavu mengingat ia pernah datang sendiri ke rumah ini dengan membawa niat bahwa ia menerima perjodohan antara dirinya dan Adelia.
Ceklek…
“Oh nak Ridwan, masuk udah ditunggu papah di ruang kerjanya.” Sapa mamah mertuanya yang selalu ramah padanya.
Ridwan pun hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah. Dea berjalan terlebih dahulu baru Ridwan mengekorinya di belakang guna mengantarkan Ridwan ke ruang kerja Adam.
“Udah sampai Wan, sini!” Sapa Adam kemudian menyuruh Ridwan duduk di hadapannya.
Ridwan pun masuk dengan perasaan sedikit canggung, ini baru pertama kalinya ia masuk ke dalam ruangan kerja papah mertuanya. Adam pun tersenyum begitu tatapan mereka saling bertemu. Ridwan juga tidak mau berbicara terlebih dahulu, lelaki itu masih mempunyai sedikit rasa canggung kepada papah mertuanya yang dulunya hanya ia kenal sebagai papah sahabat karibnya juga pemilik perusahaan Bagaskara.
“Jadi gini Wan! Kamu kan satu-satunya menantu laki-laki di rumah ini. Kebetulan orang tua kamu juga di Bandung. Jadi papah punya pemikiran kalok perusahaan di Bandung kamu yang urus.” Jelas Adam membuat Ridwan yang sejak tadi menyimak dengan seksama terdiam membisu, ia benar-benar terpaku dengan penjelasan Adam.
“Tapi pah, kayaknya Ridwan belom bisa kalok harus ngurus perusahan besar gitu. Kenapa nggak dipimpin Akbar aja pah?” Tanya Ridwan merasa tidak enak, bagaimana tidak ia merasa ilmu yang dimilikinya belum seberapa dibanding dengan Akbar yang sudah lama mengatur perusahaan di berbagai cabang.
“Makanya, kamu belajar dulu. Nanti juga jago kok, kamu beli rumah sekalian disana. Nanti uangnya papah tambahin kalok memang kamu pengen beli rumah yang bagus sekalian.” Ucap Adam tanpa merasa keberatan siap sedia membantu menantunya.
“…”
Ridwan terdiam, ia sama sekali tidak menyangka diberi kepercayaan dari papah mertuanya untuk mengurus perusahaan. Ridwan semakin diselimuti rasa bersalah atas sikapnya pada Adelia yang jika mungkin keluarganya tahu, tidak akan pernah memberikan kepercayaan kepadanya lagi.
“Kenapa malah diam, Wan?” Tanya Adam justru melihat wajah gelisah yang tidak bisa ditutupi menantunya bukannya merasa senang.
“Tapi Adelia apa mau pah. Jujur saja Ridwan senang bukan main diberi kepercayaan tapi juga was-was karena Ridwan tidak bisa menjalankan amanah yang diberikan.” Ucap Ridwan menjadikan Adelia sebagai alasan atas kegelisahannya.
“Kalok Adel mah nggak usah dibicarain Wan. Kamu ke laut aja dia bakal ikut.” Gumam Adam sambil tertawa membuat Ridwan yang tadinya serius juga ikut tertawa.
“Oh iya, kamu siap-siap aja untuk segera pindahan. Dan untuk sementara tinggal di rumah orang tuamu sambil memilih rumah disana juga nggakpapa. “ ucap Adam bangkit dari duduknya justru membuat Ridwan segera tercengang.
“Siap-siap?” Tanya Ridwan tak bisa dikendalikan, ia cukup terkejut dengan maksud papah mertuanya mengundangnya datang ke rumah ditambah sepertinya ia segera pindah kantor ke Bandung.
“Iya, papah kesini nyuruh kamu dengerin nggak butuh penolakan. Ayo makan dulu, mamahmu tadi masak favorit Adel.” Ajak Adam pada menantunya yang tercengang mendengar jawaban Adam.
“Ini nggak terlalu buru-buru. Nggak dibicarain lagi sama Akbar lagi pah?” Tanya Ridwan mencoba menanyakan kembali atas keraguannya tentang dirinya ditugaskan mengurus perusahaan cabang di Bandung.
“Nggak perlu, ini aja atas dasar usulan Akbar.” Jawab Adam membuka pintu ruangan kerjanya dan menuruni tangga.
Ridwan hanya diam, ia tidak menyangka justru Akbar mengusulkan dirinya sebagai pengurus perusahaan padahal sangat jelas Akbar lebih tahu bagaimana skill Ridwan. Ridwan melihat makanan yang terjadi ada sayur sop sama bakwan udang saja. Ridwan tersenyum teringat bahwa ini adalah makanan favorit istrinya.
“ Jangan dibatin ya Wan! Emang kesukaan istri kamu itu nggak mahal banget.” Ucap Dea membaca pikiran menantunya yang terlihat kaget kemudian tersenyum usai memandangi makanan yang dihidangkan di meja makan.
“Nanti nitip buat Adelia ya Wan!” Ucap Dea sekali lagi yang langsung dibalas anggukan Ridwan.
Ridwan melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya menunjukkan pukul Sembilan malam. Setelah bercengkerama dengan mertuanya, Ridwan pamitan pulang dengan menenteng tas yang berisikan makanan untuk Adelia. Meski Ridwan yakin Adelia sudah tidur jam segini.
Jarak rumah mertua dengan kontrakan hanya berkisar beberapa menit, tapi semenjak menikah Adelia tidak pernah mampir ke rumah mertuanya. Lebih sering ke rumah saudara kembarnya. Ridwan pun menancap gas melesat pergi saampai mobilnya tidak terlihat Dea menutup pintunya.
Kendaraan masih saja padat memenuhi jalan ibu kota tetapi tak seramai seperti saat jam pulang dari kantor. Ridwan menambah kecepatan agar segera sampai di rumah kontraknya. Begitu sampai, Ridwan buru-buru masuk rumah yang ternyata rumah tidak di kunci dan Adelia sedang menonton sinema di televise.
“Oh sekarang berani nggak bales chat gue.” Celetuk Ridwan berjalan menuju dapur membuat Adelia menoleh begitu mendengar suara Ridwan.
“Hpnya aku charger.” Jawab Adelia singkat, Adelia mengekor dengan Ridwan yang membawa sesuatu menuju meja makan.
“Mas beli apaan?” Tanya Adelia pada Ridwan yang duduk lebih dulu dan meneguk air putih di gelas yang selalu Adelia sediakan jika sewaktu-waktu Ridwan akan minum.
“Ini, titipan mamah.” Sodor Ridwan kepada Adelia, tak bisa dipungkiri wajah Adelia tampak berbinar melihat kotak yang berisikan sayur sop dan bakwan udang. Mungkin saja, jika yang berbicara Adelia secara langsung mengatakan bahwa itu makanan favoritnya mungkin Ridwan akan mengatakan Adelia sedang berpura-pura demi membuatnya terkesan. Namun, kedua orang tua Adelia sendiri yang memberitahunya, Ridwan tidak menyangka sesederhana itu makanan istrinya.
Adelia menunduk menyantap sop buatan mamahnya, dalam hatinya ia terheran-heran kenapa Ridwan tak beranjak pergi justru duduk di hadapannya. Ini pertama kalinya, biasanya laki-laki itu akan segera menjauh dari Adelia, sebisa mungkin tidak terlibat dalam satu ruangan kecuali ketika tidur. Meski saat tidur Ridwan akan memunggunginya, tetapi setiap malam ketika sudah benar-benar pulas lelaki itu akan mendekapnya entah Ridwan sadar atau tidak.
“Del!” Panggil Ridwan yang sejak tadi menatap Adelia yang sibuk menyantap sop tanpa mengangkat kepalanya barang sebentarpun dari mangkoknya.
Adelia mendongak yang mampu membuat Ridwan sedikit gugup rupanya, Ridwan menarik nafas berkali-kali. Sedangkan Adelia menunggu bibir Ridwan terbuka, sepertinya akan ada yang disampaikan makanya suaminya tak segera masuk ke kamar.
“Papah minta gue ngurusin cabang perusahaan di Bandung.” Ucap Ridwan singkat menatap lurus mata Adelia yang sangat jelas terkejut.
“Iyakah?” Tanya Adelia memastikan kemudian ia tersenyum senang, bagaimanapun itu artinya suaminya naik jabatan.
“Lo yakin seneng? Itu berarti kita pindah ke Bandung. Papah bilang suruh beli rumah aja disana.” Cibir Ridwan begitu melihat wajah Adelia berbinar begitu bahagia ketika mengetahui suaminya dipercaya mengurus cabang dari perusahaan papahnya.
“Ya nggakpapa kan!” Jawab Adelia seolah tidak mempermasalahkan jika ia harus pindah ke Bandung untuk ikut suaminya.
“Bodoh!” Desis Ridwan pada Adelia dengan senyuman sinis, membuat Adelia terpaku ia menatap mata elang Ridwan mencoba mengerti kemana arah pembicaraan Ridwan.
“Itu artinya! Gue semakin deket sama Maryam, dan gue udah mencapai puncak karir yang gue mau. Ya elo tahu lah kedepannya gue gak bakal butuh elo di samping gue.” Jelas Ridwan mengucapkan kata menusuk pada Adelia.
Adelia menundukkan kembali kepalanya, memilih focus menyantap sopnya ia tidak mau merusak nafsu makannya yang sedang bagus hari ini. Meski kata-kata Ridwan benar, dia benar-benar menjatuhkan keikut sertaan Adelia yang bahagia atas apa yang diraih suaminya. Ridwan terdiam, ia menyadari ucapannya mengubah suasana Adelia. Perempuan itu menjadi diam tampak menyembunyikan sesuatu.
“Ya nggak papa kalok jalannya emang begitu.” Ucap Adelia tersenyum pada Ridwan, Adelia beranjak menaruh mangkuk kotor itu di wastafel ia segera pergi meninggalkan Ridwan yang masih setia duduk di meja makan.
Ridwan membisu mendengar jawaban Adelia yang tidak ia sangka. Ia pikir nantinya Adelia akan marah padanya, namun jawabannya justru menandakan perempuan itu sudah siap dengan segala resiko jika mereka tinggal di Bandung.
Jika dulu, Ridwan selalu ingin menyakiti Adelia menegaskan pada perempuan itu bahwa ia sama sekali tidak memiliki rasa terhadap istrinya. Semuanya berubah, ada cubitan kecil didadanya ketika melihat sorot mata Adelia yang tidak bisa berbohong. Matanya sendu, tapi ia mampu mengatakan ucapan seolah ia tidak masalah apa yang akan terjadi.
Ada apa dengannya, sikap Adelia yang selalu ia tolak mentah-mentah kini menjadi boomerang untuknya sendiri. Emosinya memuncak melihat kalung Adelia yang melingkar di leher perempuan itu. Asumsi jika Adelia memiliki lelaki lain dibelakangnya semakin kuat.
Ridwan menjambak rambutnya sendiri frustasi, ia melihat pesan dan panggilan dari Maryam tak satupun ia angkat. Ridwan tersadar hari ini ia lupa tentang Maryam, sampai ia tidak mengirim pesan atau sekedar membalas pesan dari kekasih gelapnya itu.
***
Dua insan yang masih tertidur pulas, adzan subuh berkumandang menembus gendang telinga lelaki yang tengah mendekap istrinya dari belakang. Ia mulai terusik dari tidurnya, perlahan ia membuka mata dan mengumpulkan nyawanya.
Ridwan sedikit terlonjak begitu mengetahui tidak ada jarak di antara mereka, Adelia yang tengah memunggungi Ridwan justru Ridwan yang mendekap erat istrinya itu. Bukannya menjauhkan diri, Ridwan membiarkan posisinya dan ia menyadari ketika dia tidak dibawah kesadaran ternyata nalurinya justru memeluk Adelia.
Ridwan baru mengetahuinya sekarang, meski ucapan pedas dan ia menegaskan di hatinya berkali-kali bahwa Adelia bukanlah yang diharapkan oleh hatinya. Namun kini, justru Ridwan yang mendekat pada Adelia.
Ridwan merasakan adanya pergerakan dari Adelia, ia segera menutup matanya berpura-pura jika ia masih belum terbangun dari tidurnya. Adelia memindahkan pelan lengan kekar Ridwan yang memeluk erat tubuhnya. Ia duduk di tepi ranjang dan mengikat rambutnya asal, perempuan itu belum sadar jika Ridwan sudah menatapnya dari belakang.
Adelia segera mengambil air wudhu dan menunaikan sholat. Ridwan yang sejak tadi memandang gerak-gerik istrinya hanya diam dan Adelia belum menyadari itu. Begitu Adelia melepas mukenanya ia baru menyadari ada sepasang mata yang sejak tadi tengah menatapnya.
“Kamu nggak sholat?” Tanya Adelia mengeryitkan keningnya menatap Ridwan yang menatapnya datar.
“Sholat.” Jawab Ridwan singkat kemudian berdiri menuju kamar mandi.
Adelia mengendikan kedua bahunya, tak ingin tahu dan tak ingin bertengkar di pagi hari. Ia segera menuju dapur, hari ini ia ingin memasak tumis jamur tiram saja dan juga Ikan yang kemarin ia beli dengan Risma di pasar.
Meski ia tahu nantinya juga dia yang menghabiskan makanannya sendiri. Ia hanya melakukan rutinitas di pagi hari dengan kegiatan yang sama. Barangkali, Ridwan berubah pikiran untuk mencoba masakannya barang sekali pun.
Hari ini penuh dengan kebingungan bagi Adelia, bagaimana tidak jika tadi ia menemukan Ridwan tengah menatapnya. Sekarang ia melihat Ridwan yang sedang menonton televise. Ini aktivitas yang sangat jarang, karena biasanya laki-laki itu akan berdiam diri di kamar sambil menunggu jam berangkat kerja.
Adelia segera membersihkan rumah dan juga halaman rumah. Tidak peduli dengan Ridwan yang sejak tadi mencuri pandang padanya. Ini baru pertama kalinya, ia melihat Adelia membersihkan rumah. Sampai pekerjaan Adelia selesai, Ridwan masih di posisi yang sama.
“Mas aku keluar dulu ya! Jangan lupa bekalnya dibawa!” Ucap Adelia kemudian melepas ikat rambutnya.
“Mau kemana elo di pagi buta begini?” Tanya Ridwan dengan nada sarkatik, menyelidik dengan apa yang akan dilakukan istrinya itu.
“Aku mau nemenin Risma belanja hari ini.” Jawab Adelia dengan santai, ia tidak paham dengan raut wajah Ridwan yang berubah menjadi dingin sekarang. Sepertinya laki-laki itu punya kepribadian bipolar, temperament yang tidak bisa terkendali dan gampang untuk tersulut emosi.
“Gue nggak habis fikir ya Del! Ada ya perempuan sekeras kepala elo! Udah dibilang nggak usah bikini gue makanan. Kalaupun elo masak juga buat diri elo aja! Nggak sudi gue makan masakan elo!” Ucap Ridwan mulai kesal, entah mengapa ia mulai kesal dengan sikap Adelia yang tidak mendengar ucapannya.
“Kenapa sih mas pagi-pagi juga udah rebut. Kalau nggak mau bawa juga nggakpapa kok. Biasanya juga kamu tetep bawa dikasih ke Okky atau nggak dibuang.” Ucap Adelia mulai ikut tersulut emosi.
Ridwan bungkam, Adelia ternyata tahu apa yang ia lakukan terhadap bekal yang diberikan kepadanya. Adelia pun sibuk duduk di samping Ridwan yang juga menonton televise sambil menunggu Risma datang.
“Nggak usah belanja, Minggu depan udah ke Bandung.” Ucap Ridwan memperingatkan Adelia untuk mengosongkan lemari es karena mungkin dalam jangka waktu dekat mereka sudah berpindah ke Bandung, ke rumah orang tua Ridwan untuk sementara.
“Minggu depan cepet banget!” Gumam Adelia sambil membenarkan rambutnya yang berantakan tertiup angina dari luar.
Pagi hari ini, mendung dan matahari masih enggan menampakkan dirinya. Bersembunyi dibalik awan dengan semilir angin yang tiupannya menusuk tulang. Setiap pandangan Ridwan tertuju pada Adelia selalu membuat Ridwan tersulut emosi karena melihat kalung yang dipakai Adelia. Sampai sekarang Adelia tidak mau memberitahu siapa yang memberikan kalung itu kepadanya. Lebih tepatnya, Ridwan tidak mempercayai jawaban dari Adelia.
“Kenapa? Lo belum siap gue cerain?” Tanya Ridwan sinis melihat keterkejutan Adelia karena kepindahan mereka.
“Iya, Adel tahu kok mas. Udah jadi tangga pijakan sekarang pernikahan ini di mata kamu.” Cibir Adelia tidak mau kalah, ia merasa tidak adil jika hanya dia saja yang selalu terpancing emosi. Kenyataannya Ridwan lebih mudah terpancing daripada dirinya.
“Oh, iya setelah cerai kan elo lebih leluasa berhubungan sama yang ngasih kalung elo itu.” Ucap Ridwan seraya menggeser duduknya tepat disamping Adelia. Jikapun Adelia menoleh mungkin hidungnya sudah menyentuh hidung Ridwan.
Adelia tersenyum, rupanya kalung yang ia pakai mampu membuat Ridwan benar-benar penasaran seperti cacing kepanasan. Adelia justru menggoda Ridwan dengan memainkan kalungnya seolah ia bangga dengan kalung yang ia pakai.
“Gue tanya baik-baik Del, dari siapa kalung yang elo pakai itu?” Tanya Ridwan dengan nada seperti memberikan ancaman pada Adelia.
“Mas berapa kali sih aku harus ngasih tahu, kalung ini aku beli sendiri. Kalau kamu nggak percaya kamu bisa tanya sama Ranny. Aku beli sama dia, lagi pula kalaupun ini kalung dari lelaki lain, apa urusannya sama kamu? apa ruginya buat mas Ridwan?” Tanya Adelia memojokkan Ridwan membuat Ridwan membisu, diam seribu Bahasa.
“…”
“Lagipula mas Ridwan udah dapat apa yang mau mas Ridwan capai kan. Udah naik jabatan, kita jadi menetap di Bandung semakin dekat dengan perempuan simpananmu itu.” Tegas Adelia semakin menjadi, ia malas untuk berdebat tetapi suaminya selalu memancing.
“Jaga ucapan elo!” Bentak Ridwan mencengkeram lengan Adelia dengan kuat sampai Adelia meringis kesakitan. Ridwan tidak terima jika Maryam disebut sebagai perempuan simpanan.
“Emang aku salah? Perempuan yang jadi kekasih lelaki yang sudah beristri itu disebut apa? kalau bukan perempuan simpanan.” Tegas Adelia suaranya berubah parau begitu ia dengan berani menatap balik mata elang Ridwan yang kini menatapnya dengan kilatan membara.
“Lepasin!” Tegas Adelia pada tangan Ridwan yang masih memberikan cengkraman kuat di lengannya sampai memerah. Ridwan yang melihat air mata Adelia menetes membuatnya melepaskan cengkramannya.
Ridwan langsung beranjak menuju kamarnya, bersiap-siap untuk berangkat kerja. Dia melempar kaos yang ia pakai kasar ke tempat tidur dan segera menuju kamar mandi.
Byuurrr…byuurrr…
Setiap guyuran air yang membasahi rambut sampai ujung kakinya membuatnya terbayang segala bagaimana pedasnya ucapannya pada Adelia. Ia tidak habis pikir juga mengapa ia bisa menjadi iblis ketika berhadapan dengan Adelia, tetapi hatinya selalu bertolak belakang dengan apa yang ia tampilkan pada Adelia.
Selesai dengan ritual mandinya Ridwan keluar kamar dengan baju stelan kerja yang rapi.Adelia sudah berangkat belanja menamani Risma. Ridwan berjalan menuju meja makan, ia meneguk kopi buatan Adelia untuk pertama kalinya, kemudian ia memandang lama pada kotak bekal warna silver itu. Ia ragu ingin membawa atau tidak, semua yang dikatakan Adelia pagi ini seperti tamparan untuknya.
Ridwan memutuskan membawannya, entah nanti bekal itu akan diberikan kepada Okky atau ia makan untuk pertama kalinya. Benar-benar membuat keadaan rumit adalah salah Ridwan sendiri, hatinya tidak mau mengakui jika ia perlahan mencintai istrinya itu, istri yang ia tekad akan ia buat hidupnya sengsara mungkin dan akan menceraikannya demi pujaan hatinya di kampung halaman, Maryam.
TBC