“Beneran deh Del! Itu kalung pas banget di lehermu.” Ucap Fariza kembali memuji adik iparnya itu, Fariza benar-benar memandang terlalu lama Adelia yang kini memakai sebuah kalung berbandul kunci tampak cantic lebih terlihat anggun dari biasanya.
“Emang itu dari siapa sih Del? Palingan juga Ridwan. Duitnya itu bocahkan banyak.” Cibir Akbar yang sangat mengetahui betapa pandainya Ridwan mengatur dalam masalah keuangan.
“Kepo lu!” Tolak Adelia kemudian menjulurkan lidahnya pada saudara kembarnya.
Padahal dalam lubuk hatinya terdalam, ia tersenyum miris dalam hatinya. Rasanya menyakitkan berbahagia dalam kebohongan. Bagaimana tidak mereka mengira kehidupan rumah tangga Adelia dengan Ridwan semakin hari semakin harmonis padahal kenyataannya semakin hancur berkeping-keping semakin jatuh.
Adelia : Mas Ridwan, aku lagi di rumah Akbar kalok udah sampai Jakarta kabarin ya!
Hari ini hari minggu, Adelia mengingat jika Ridwan akan kembali ke Jakarta. Ia pun mengetik sebuah pesan yang dikirimkannya pada Ridwan yang mungkin saja saat ini ia sudah dalam perjalanan menuju Jakarta.
Ridwan: Mau di jemput?
Tidak seperti dulu Adelia harus menunggu beberapa jam baru pesannya akan dibalas atau bahkan hanya sekedar dibaca oleh suaminya. Kini, tampak jelas perbedaannya Ridwan membalasnya dengan begitu cepat tanpa menunggu beberapa menit berlalu.
Tidak segera membalas justru Adelia mengeryitkan alisnya tak biasanya lelaki itu menawarkan diri untuk Adelia. Adelia terdiam ia bingung untuk membalas bagaimana, kasian jug ajika Ridwan harus menjemputnya di rumah Akbar.
Adelia : Nggak usah, aku pulang sendiri aja.
Ridwan :Oke
Rupanya lelaki itu menunggu balasan dari Adelia, Adelia melihat jam dinding di ruang tamu rumah Akbar yang menunjukkan pukul lima sore. Masih terlalu dini, menurutnya. Tapi ia juga tidak bisa menunggunya terlalu lama.
“Kenapa Del gelisah gitu mukanya?” Tanya Fariza melihat Adelia yang sejak tadi memandang jam dinding yang menempel di dinding dan laya ponselnya secara bergantian.
“Nggak, aku mau pulang aja deh.” Jawab Adelia kemudian beranjak berdiri kemudian dibuntuti oleh Akbar dibelakangnya dengan tangan menggenggam sebuah kunci mobil.
“Tumben peka!” Sindir Adelia masuk mobil begitu Akbar yang juga masuk ke mobil.
“Lo mau gue apain Del?” Tanya Akbar dengan wajah kesal mendengar setiap yang dikatakan Adelia selalu saja memancing kekesalannya, benar-benar disengaja membuat Akbar sebal pada saudara kembarnya itu.
Adelia hanya cengengesan menanggapi ancaman Akbar yang tidak membuatnya takut justru semakin ingin menggoda Akbar agar lelaki itu marah. Adelia memandang keluar jendela dalam perjalanan, ada hal yang mengganggu pikirannya yang tak semua orang mengetahuinya. Ia justru tidak mau bercerita pada keluarganya terlebih dahulu. Ia tidak mau dicap telah salah memilih pasangannya.
Sampai mobil Akbar berhenti, Adelia belum juga sadar ia sibuk dengan fikirannya terlalu dalam memikirkan Ridwan yang sedang di Bandung, padahal jawabannya sudah dia tahu tanpa menanyakan secara langsung.
“Del!” Panggil Akbar yang sejak tadi mengamati perubahan raut wajah Adelia sejak tadi setelah keluar dari rumahnya.
“Gue tahu elo sedang tidak baik-baik saja.” Ucap Akbar begitu Adelia tidak menjawab panggilannya justru hanya menoleh dengan tatapan datar.
“Ngaco, gue kenapa?” Tanya Adelia dengan tawa sumbang seolah ia tidak seperti dengan dugaan saudara kembarnya itu. Lebih tepatnya perempuan itu tengah menutupi masalahnya, menutupinya dengan rapat-rapat.
“Del, Elo satu-satunya saudara gue! Gue berharap setelah elo menikah. Elo temukan kebahagiaan elo selain dari keluarga elo.” Jelas Akbar berbicara serius mengabaikan Adelia yang mengelak ucapannya.
“Gue capek Bar!” Gumam Adelia menunduk, air matanya jatuh.
Akbar menyalakan mobilnya, menancap gas pelan meninggalkan rumah kontrakan Ridwan yang masih terkunci itu. Adelia tidak menolak ia menunduk, meremas bajunya yang tidak bersalah. Akbar memilih pura-pura tidak mendengar isakan kecil dari tangisan Adelia. Ini pertama kalinya, Adelia menangis sesenggukan di hadapannya.
“Ridwan masih berhubungan dengan Maryam?” Tanya Akbar menghentikkan mobilnya di sebuah taman.
“Bagaimana elo tahu?” Tanya Adelia mendongak kaget mendengar ucapan saudara kembarnya yang rupanya mengetahui tentang suaminya.
“Pertanyaan elo itu lucu Del, Ridwan sahabat gue! Bagian mana sih yang nggak gue tahu tentang dia.” Ucap Akbar pada Adelia yang sepertinya lupa jika Ridwan adalah teman semasa kuliah Akbar juga.
Adelia mengutuk dirinya yang terlalu bodoh, ia lupa jika Ridwan dan saudara kembarnya itu bersahabat kenapa ia tidak terpikirkan untuk menanyakan tentang Ridwan dan Maryam pada Akbar. Adelia terlalu melihat Akbar pada sisi dimana lelaki itu punya celoteh-celoteh lucu dan tidak bisa diajak serius.
“Makanya gue kaget gimana bisa papah jodohin elo sama Ridwan.” Tambah Akbar mengeluarkan unek-uneknya yang sejak dulu ia tidak habis fikir bagaimana papahnya menegnal kedua orang tua Ridwan.
“Tapi nanti ketika elo ketemu mas Ridwan tolong ya pura-pura aja elo nggak tahu masalah gue sama dia.” Ucap Adelia memohon ia tidak mau suasana semakin memburuk jika Akbar menangani masalahnya. Lebih tepatnya, perempuan itu tidak mau Ridwan semakin membencinya.
“Nggak, gue cuman pantau dari kejauhan aja. Dan gue bakal masuk ketika elo udah nggak mampu berdiri di kaki elo sendiri.” Jawab Akbar bahwa saat ini ia hanya bisa menahan diri untuk menutup mata dan telinganya agar emosi tidak menguasainya hingga ia akan berbuat gegabah.
“Gue nggak mau papah sama mamah tahu, Bar. Gue nggak mau mereka memandang mas Ridwan sebagai pengecut sekalipun itu kenyataannya.” Ucap Adelia menyeka air matanya meski isakannya masih muncul tanpa ia minta.
“Gue pernah diposisi elo Del, elo udah kenal Ridwan sedangkan dulu gue sama Fariza belum saling mengenal sebelumnya.” Ucap Akbar mencoba memberikan energy positif tentang pandangan Adelia yang sepertinya mulai menyerah karena keadaan.
“Jadi sekarang Ridwan ke Bandung demi ketemu Maryam?” Tanya Akbar mencoba menanyakan kebenaran tentang praduganya pada Ridwan yang memang sejak dulu setiap weekend akan pulang ke rumah orang tuanya.
Adelia mengangguk lalu air matanya kembali mengalir setiap mendengar nama Ridwan dan Maryam disebut secara bersamaan. Akbar mengepalkan tangannya mencoba menetralisir agar emosinya sedikit reda tidak terlalu bergejolak.
“Jangan terlalu dikejar Del!” Ucap Akbar membuat Adelia menatapnya diam, perempuan itu mencoba mencerna maksud dari perkataan Akbar.
“Gue nggak bisa Bar! Gue selalu pengen mata Ridwan terbuka saat ini jelas gue diposisi yang seharusnya ia prioritaskan.” Elak Adelia tak bisa menerima saran dari Akbar yang justru meminta untuk menjauhi terlebih dahulu Ridwan, sama seperti istrinya, Fariza juga mengatakan pada Adelia cara mengambil hati Ridwan adalah menjauhi secara perlahan manusia es itu.
“Coba aja dulu Del!” Ucap Akbar mengusap pelan pundak Adelia memberikan semangat untuk masalah saudara kembarnya, baru pertama kali ini ia melihat Adelia benar-benar merasa tertekan dengan kedaaan. Berbeda dengan Akbar yang selalu terlihat ketika dia mengalami masalah, Adelia sifatnya menurun lebih dominan dari Dea, mamahnya yang selalu tetap tenang dibaliknya menyimpannya rapat-rapat.
Adelia lebih tenang, ia benar-benar menyandarkan bebannya pada saudara kembarnya. Masalahnya cukup hanya dia dan orang yang terdekatnya yang tahu. Sebisa mungkin, ia berharap masalah ini akan usai sebelum kedua orang tua Adelia dan Ridwan mengetahuinya.
Akbar memutar balik mobilnya menuju kontrakan Ridwan kembali, ia sudah menduga jauh-jauh hari begitu papahnya mengatakan menjodohkan Adelia dengan Ridwan. Dugaannya benar, ada wanita lain disisi Ridwan. Masalahnya sama persis seperti awal pernikahannya dengan Fariza, perbedaannya Fariza lebih diam dibandingkan Adelia yang selalu ceria dan pecicilan dimana akan terlihat begitu menemui masalah.
***
Adelia selesai memasak sebuah sup ia menambahkan beberapa potongan cumi dan udang. Matanya beberapa kali menatap jam dinding, perkiraannya Ridwan akan sampai Jakarta pukul tujuh malam. Semuanya sudah siap, Adelia mengambil semangkuk sup terlebih dahulu. Perutnya benar-benar kelaparan sejak kepulangannya dari rumah Akbar ia sibuk membersihkan rumah dan berbelanja menggunakan jasa online.
Adelia : Mas Ridwan pulang jam berapa?
Ridwan : otw
Adelia mengangguk pelan membaca balasan Ridwan yang menunjukkan lelaki itu sudah dalam perjalanan menuju Jakarta, Adelia tersenyum melihat kini suaminya selalu membalas pesannya dengan cepat meski hanya singkat-singkat dan masih saja menunjukkan sikap dinginnya.
Adelia memilih menunggu kepulangan Ridwan seraya menonton serial drama di televisi. Ia benar-benar menahan rasa kantuknya karena begitu lelah seharian mondar-mandir. Ia sudah mengunci rumah dan gerbang, ia yakin jika Ridwan membutuhkan bantuannya.
Di tempat yang berbeda, Ridwan dengan santainya justru ia sedang duduk di Café bercengkrama dengan Maryam sambil menghirup udara segar mala mini di Bandung. Ia berbohong, pesan yang ia kirimkan kepada Adelia hanya untuk membuat istrinya tidak mengirim pesan untuknya beberapa kali.
“Mas yakin, istri mas nggak curiga?” Tanya Maryam memastikan begitu melihat istri Ridwan mengirimkan pesan kepada Ridwan.
“Iya, tenang saja kalok aku udah bales dia nggak bakl ngechat lagi.” Jawab Ridwan dengan gampangnya dan dengan rasa tidak bersalah ia menggenggam tangan Maryam.
Jam masih menunjukkan pukul delapan malam, Ridwan pamit dari rumah kedua orang tuanya untuk berangkat ke Jakarta. Sedangkan kenyataannya ia mengajak Maryam untuk kembali bertemu sebelum ia berangkat ke Jakarta.
“Sampai kapan kita kayak gini?” Tanya Maryam memandang Ridwan yang sibuk memandang jalan raya, banyak beberapa pasang kekasih berlalu lalang menikmati kota sama dengan dirinya.
“Sabar! Aku nggak bakal bikin kamu lama menunggu.” Ucap Ridwan semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Maryam.
“Aku gak yakin istri kamu tidak akan sakit hati melihat kita.” Ucap Maryam akhirnya mengeluarkan unek-unek yang beberapa hari mengganggu karena Ridwan justru tidak mengakhiri hubungannya malah menjanjikan akan bercerai dengan istri yang baru saja ia nikahi.
Ridwan teringat sesuatu ia merogoh kunci mobilnya dan benar saja kunci rumahnya sudah ia lepas sejak ia menikah dengan Adelia. Itu berarti Ridwan tidak akan bisa masuk rumah jika Adelia tidak membukakan pintunya.
“Maryam, sudah jam setengah Sembilan aku pulang balik ke Jakarta ya!” Pamit Ridwan yang langsung mendapat anggukan Maryam memang hari sudah lumayan malam.
Cup…
Ridwan memberikan kecupan di kening Maryam membuat perempuan itu terkejut bukan kepalang. Mobil Ridwan sudah melesat pergi dan Maryam masih termangu belum sepenuhnya sadar karena keterkejutannya akan suatu hal yang selama mereka menjalin hubungan tidak pernah diberikan oleh Ridwan.
Dalam kesenangan hatinya ada serpihan luka yang hadir mengiringi kesenangannya hari ini. Dengan begini, secara tidak langsung ia merupakan simpanan lelaki orang. Sekalipun Maryam mengenal Ridwan terlebih dahulu sebelum Adelia namun scenario sudah berkehendak karena nyatanya jodoh Ridwan adalah Adelia.
Mobil melesat masuk gerbang tol, dengan kecepatan di atas rata-rata mobil Ridwan menyusuri jalanan yang dipenuhi dengan truk angkutan barang yang sekarang beroperasi di malam hari memang lebih banyak.
Menempuh beberapa dua jam lebih, mobil sudah sampai di depan gerbang rumah. Dugaannya benar, Adelia mengunci gerbang rumahnya dan mau tak mau ia harus menelepon Adelia untuk membangunkan barang kali perempuan itu tengah tidur karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.
Baru saja, Ridwan mengeluarkan ponselnya langkah kaki seseorang dari dalam terdengar membuat Ridwan mendongak dan menunggu siapa yang membuka pintu. Adelia dengan wajah yang menahan kantuk membuka pintu, wajahnya tampak lelah. Ridwan pura-pura tidak melihatnya lelaki itu justru segera memasukkan mobil ke dalam halaman rumah.
Adelia menghela nafasnya pasrah, ia tahu Ridwan rupanya berbohong jika lelaki itu sudah perjalanan menuju ke Jakarta namun kenyataannya ia baru sampai Jakarta dimana malam tidak banyak sepeda motor berkeliaran yang menyebabkan kemacetan.
“Kamu bohong kan mas ? kamu belum perjalanan ketika tadi aku ngechat kamu.” Gerutu Adelia mengekor dibelakang Ridwan yang sudah masuk rumah duluan.
“Apa sih Del!” Omel Ridwan mendengar celoteh sepele Adelia.
“Jawab dulu!” Rengek Adelia merasa Ridwan kini menghindari pertanyaannya.
“Apa sih Del! Masalah sepele kayak gitu aja di permasalahin. Iya gue masih jalan sama Maryam kemarin. Terus kenapa? Bawel banget.” Bentak Ridwan hilang kendali, ia sudah lelah ditambah Adelia yang justru semakin membuatnya pusing.
“Iya udah maaf, ayok makan dulu. Aku angetin dulu supnya.” Ajak Adelia mengalah untuk sepersekian kali setiap pertengkaran dengan Ridwan.
“Nggak usah, gue udah hilang selera terlebih udah berapa kali gue bilang gue nggak bakal makanan masakan elo!” Tandas Ridwan yang meneguk air di sampingnya yang disiapkan Adelia untuknya.
“Cobain dulu!” Bujuk Adelia mencoba membujuk Ridwan untuk merasakan masakan Adelia barang secuilpun.
“Gue udah capek pengen istirahat, Jadi elo masuk kamar duluan aja. Nggak usah memperkeruh suasana doang elo disini.” Usir Ridwan pada Adelia yang tadinya berniat duduk di depannya untuk menemaninya makan malam.
Adelia bungkam, Ridwan benar-benar emosi kepadanya. Adelia memilih segera masuk kamarnya. Perempuan itu segera membaringkan tubuhnya yang sudah sangat lelah semuanya, ia meninggalkan Ridwan yang terdiam di meja makan memandang makanan yang sudah dingin.
Ridwan yang membaca pesan dari Maryam juga tak berniat membalas, moodnya benar-benar buruk karena Adelia. Ridwan memilih segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Tubuhnya sudah sangat lengket sekali.
Sekali lagi, makanan yang dibuat oleh Adelia dengan ketulusan darinya tak dijamah oleh Ridwan. Benar-benar membuang uang, Ridwan pun masuk ke kamar menemukan Adelia yang sudah terpejam menghadap pintu kamar. Lelaki itu yakin jika istrinya itu masih terjaga karena tidak mungkin setenang itu bukan setelah terlibat percekcokan yang sangat sepele.
“Lain kali nggak usah masakin gue, percuma Del! Nggak bakal gue makan!” Omel Ridwan sambil melepas jam tangannya dan meletakkannya di nakas.
“Buang-buang duit! Nggak usah terlalu mendalami peran elo di pernikahan ini gue nggak butuh!” Cercahan Ridwan benar-benar membuat gusar Adelia yang tadinya hampir pulas.
“Memang apa salahnya sih mas ? aku ngejalanin pernikahan ini nggak main-main. Kalok kamu caranya begitu ya itu urusan kamu.” Bantah Adelia tidak terima dengan cara Adelia menggantungkan harapannya sepenuhnya di pernikahannya dengan Ridwan.
“Buang-buang duit Del! Elo pikir gue banting tulang tiap hari demi nurutin hidup serba mewah elo itu!” Cibir Ridwan yang selalu memandang Adelia sebelah mata, ia selalu berasumsi jika Adelia hanyalah anak seorang direktur yang hidupnya bergantung pada harta dan kemewahan. Ridwan tidak sanggup jika harus hidup seperti ini terus menerus.
“Oh kamu keberatan mas! Aku cuman minta uang belanja yang emang jadi tanggung jawab kamu!nggak bakal aku minta dibeliin cincin mahal kayak yang ada di dashboard mobil kamu!” Titah Adelia menggebu-gebu, emosi yang ia pendam meledak-ledak. Semua yang dilakukan Ridwan untuk Maryam akhirnya ia lontarkan juga pada Ridwan.
Ridwan terkejut, rupanya istrinya mengetahui perihal cincin yang ia simpan di mobilnya. Ia berniat untuk memberikannya pada Maryam justru takdir mengatakan lain ia justru menikah dengan Adelia.
“Nggak usah ikut campur!” Desis Ridwan menghampiri Adelia yang tidak siap dengan jarak yang begitu dekat yang diciptakan Ridwan.
Bagaimana tidak, sampai kepala Adelia terkatup tempat tidur Ridwan juga tidak memberikan jarak di antara wajah mereka. Ridwan menatap tajam lurus menusuk pandangan mata Adelia dengan mata yang berapi-api menandakan lelaki itu masih dalam keadaan emosi yang membara sedangkan Adelia segera mengalihkan pandangannya mendorong d**a Ridwan yang sangat dekat dengannya.
Ridwan mengalah begitu tangan Adelia mendorong tubuhnya dengan kuat, Adelia menetralisir nafasnya yang tidak teratur naik turun. Ia memilih berbaring ke kanan membelakangi Ridwan yang masih duduk di tepi ranjang.
Ridwan akhirnya memutuskan untuk mandi saja, mungkin air dingin yang mengalir di sekujur tubuhnya mampu mendinginkan pikirannya. Adelia memilih memejamkan mata mencoba mencari ketenangan dibalik cahaya remang-remang lampu tidur yang sedikit terlihat.
Byurrr…byurrr…
Ridwan mengguyur wajahnya dengan keras, bagaimana tidak wajah Adelia yang Ia pandangi dari dekat terngiang-ngiang di hadapannya. Wajahnya tampak ketakutan, apa yang sedang merasuki pikirannya. Ridwan mengakui istrinya cantic dari segi paras meski tanpa make up dan juga ada satu atau dua jerawat yang tumbuh di hidung Adelia justru membuatnya tampak manis.
***
Adelia terbangun beberapa kali mengerjapkan matanya mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu sebelum aktivitas. Hampir saja ia terlonjak begitu di hadapannya sudah ada Ridwan yang duduk sambil memandanginya. Setan mana yang merasuki Ridwan yang secara terang-terangan kini memandanginya.
“Kamu kenapa mas?” Tanya Adelia menanyakan raut wajah Ridwan yang tampak diam dan tatapannya begitu dingin di bagi buta ini.
Ridwan tidak menjawab namun justru memandang gerak-gerik Adelia kemanapun perempuan itu melangkahkan kakinya. Ridwan sedang merasa ingin melampiaskan emosinya entah kepada siapa. Bangun tidur ia berniat menyakinkan dirinya jika apa yang terngiang difikirannya tentang Adelia adalah salah.
Di waktu terjaganya dari tidurnya, Ridwan memutar badannya untuk menghadap Adelia, memastikan jika kemarin wajah Adelia yang tampak cantic itu adalah tipuan. Namun asumsi itu tidak dibenarkan, Ridwan memandang Adelia yang sedang pulas dan tetap saja diam-diam Ridwan mengagumi paras Adelia yang tidak ia sadari sejak dulu.
Baru saja senyum yang ia tahan akan keluar, raut wajahnya berubah ketika menangkap ada permata yang melingkar di leher Adelia. Ia ingat betul jika Adelia belum memakainya sebelum ia berangkat ke Bandung.
“Lo masih ketemu sama mantan-mantan elo?” Tanya Ridwan dingin memandang Adelia yang sudah selesai menunaikan sholat subuh.
“Apasih!” Jawab Adelia heran dengan pertanyaan Ridwan yang justru membuatnya heran, di pagi buta Ridwan sudah memancing keributan dengannya.
“Jawab Adelia!” Bentak Ridwan yang sudah emosi hanya karena sebuah kalung yang melingkar di leher Adelia.
“Apasih mas! Pagi-pagi udah ngajak rebut!” gerutu Adelia kemudian memilih keluar kamar menuju dapur guna mempersiapkan makanan untuk Ridwan.
Adelia memang bodoh, ia sudah tahu jika Ridwan tidak akan menyentuh makanan darinya tapi perempuan itu tetap berusaha keras agar mendapatkan kehangatan Ridwan yang selalu ia harapkan hari demi hari.
Begitu Adelia keluar, Ridwan terdiam. Mau tidak mau ia mengakui, pikirannya benar-benar kalut hanya karena melihat Adelia mengenakan kalung yang pasti bukan dia yang membelikannya. Ridwan terbakar cemburu oleh asumsinya sendiri, ia berfikir selama di Bandung Adelia tidak menghubunginya sebab ia diam-diam bertemu dengan mantan kekasihnya.
Ridwan bergegas mandi lebih cepat dari biasanya, Adelia yang berada di dapur pun dengan cekatan tangannya mulai terbiasa berperang dengan pisau dan alat-alat dapur lainnya. Siapa bilang Adelia tidak menyadari sikap Ridwan, kenyataannya Adelia juga memikirkan apa yang terjadi pada Ridwan sampai-sampai di pagi buta ini ia hampir saja bertengkar.
Adelia terdiam melihat Ridwan yang sudah segar dengan aroma maskulinnya menghampirinya kembali dengan tatapan tajam sama seperti tadi ketika Adelia baru bangun. Jaraknya semakin dekat, Adelia waspada dan membalas tatapan Ridwan juga kepadanya.
“Kalung dari siapa?” Tanya Ridwan berdiri di samping Adelia yang tengah memasak.
“Bukan siapa-siapa!” Jawab Adelia cuek, menurutnya itu bukan hal penting tentang siapa pemberi kalung itu kepada Adelia.
“Jawab!” Bentak Ridwan seraya menarik paksa lengan Adelia agar perempuan itu menghadapnya tanpa sengaja menimbulkan air mendidih di dalam panci itu memercikkan isinya tepat di lengan kiri Adelia.
“Apa sih mas? Mana yang perlu ku jawab. Ini kalung aku beli sendiri!” Jelas Adelia mulai kesal dengan tingkah Ridwan yang sedikit posesif bukan tempatnya. Bukan tempatnya, karena tetap saja yang harusnya mendapat sikap ini adalah Maryam bukan dirinya.
“Bohong!” Desis Ridwan menatap tajam Adelia yang menarik paksa lengannya yang berada dalam genggaman Ridwan.
“Siapa laki-laki yang memberi kalung itu? Yang datang di pernikahan elo? Apa si Elang?” Sergah Ridwan membuat Adelia benar-benar harus sabar menghadapi Ridwan yang rupanya sikap Ridwan yang sesungguhnya tidak ia kenal sama sekali.
“Kamu itu kenapa sih? Bukan dari mereka!” Bantah Adelia, dia sudah harus menahan perih lengan karena terkena percikan air panas sekarang menghadapi Ridwan yang justru mencurigainya.
“Kan bener kan! Gue ke Bandung elo ngundang laki-laki lain di rumah ini.” Ucap Ridwan keceplosan bahwa ia sedang mencurigai bahwa Adelia diam-diam dekat dengan laki-laki lain di belakangnya.
Adelia diam dengan sengaja ia mematikan saja kompornya, padahal sayur belum juga matang. Ia memandang sinis pada Ridwan, Ridwan membeku ditempat ia tahu kini Adelia benar-benar emosi kepadanya begitu jelas dari tatapan matanya yang hitam begitu pekat.
“Jangan samakan aku sama kamu mas. Aku menikah sama kamu nggak berhubungan lagi sama mantan aku sekalipun berkedok pertemanan. Memangnya kamu, menjalin hubungan sama pacar kamu itu!” Ucap Adelia memojokkan Ridwan, ia tidak peduli salah sendiri laki-laki itu memancing amarahnya.
“Kenapa jadi ngungkit masalah gue! Gue yakin itu kalung dari laki-laki simpanan elo!” Tuduh Ridwan yang rupanya tidak percaya jika kalung itu memang Adelia membelinya sendiri.
“Apa urusannya sama kamu mas? Mau aku punya laki-laki di belakang kamu juga nggak ada ruginya kok sama kamu. bukan urusan kamu!” Tegas Adelia sudah mulai geram.
“Sampai gue ketemu itu laki-laki, jangan harap dia hidup!” Ancam Ridwan mendekatkan dirinya pada Adelia yang langsung terlihat gugup dengan serangan tiba-tiba Ridwan.
“Jadi jangan salahin aku kalok aku ketemu sama Maryam tiba-tiba aku mencekiknya!” Ucapan Adelia sinis ganti mengancam pada Ridwan.
“Oh, jadi benar ada laki-laki lain di belakang gue!” Ucap Ridwan berspekulasi sendiri dengan jawaban Adelia mengenai ancamannya.
Adelia mendorong Ridwan untuk menjauh, ia sudah gugup dan takut jika Ridwan mendengar degup jantungnya yang tidak menentu sejak Ridwan mendekatkan wajahnya padanya. Sampai nafas hangat Ridwan begitu terasa menyapu wajah Adelia.
“Oh ! kamu cemburu mas !” Ucap Adelia dengan senyum kemenangan membuat Ridwan menjadi salah tingkah.
“Apa yang perlu gue cemburuin! Elo nggak pulang sama laki-laki gue nggak bakal nyari!” Ucap Ridwan begitu sarkas sampai Adelia terdiam sejenak kata-kata Ridwan benar-benar menusuk relung hatinya.
“Adel juga bisa kok mas buat cari laki-laki lain. Tapi nggak mau, nanti apa bedanya Adel sama mas Ridwan!” Ucap Adelia sinis kemudian berjalan keluar rumah memilih membersihkan halaman rumahnya terlebih dahulu daripada harus berdebat dengan Ridwan yang tampaknya laki-laki itu belum berniat untuk mengakhirinya.
Adelia kesal dan juga senang, Ridwan benar-benar peduli dengan setitik apapun yang ada dalam diri Adelia. Tapi sayangnya ia kesal, Ridwan menyamakan dirinya dengan Adelia. Lagi pula kenapa Ridwan sangat marah dan curiga padahal sangat jelas Adelia hanya mencintai Ridwan, laki-laki tidak tahu diri itu.
Selesai menyapu, emosi Adelia sudah perlahan stabil ia memutuskan masuk rumah untuk meneruskan masaknya. Ridwan sudah menghilang dari dapur, bisa jadi laki-laki itu tengah bersiap untuk pergi ke kantor.
Adelia menyelesaikan masaknya dan menyiapkan bekal untuk Ridwan. Perempuan itu tetap memberikan perhatian sepenuh hati pada Ridwan, sekalipun mereka berdua bertengkar. Ridwan keluar kamar dengan pakaian rapi, tentu saja dengan pakaian yang Ridwan ambil sendiri dari lemari bukan yang disiapkan Adelia untuknya.
“Mas, nggak mau sarapan?” Tawar Adelia mengekor pada Ridwan yang berjalan menuju ruang tamu untuk memakai sepatu.
“Nggak, gue sarapan di kantor!” Tolak Ridwan dengan nada dingin.
“Iya ini bekalnya dibawa ke kantor!” Ucap Adelia menyodorkan kotak bekal pada Ridwan.
Bukan menerimanya jutsru laki-laki itu hanya memandang dingin kotak bekal Adelia. Adelia terdiam, ia meletakkannya disamping tas kerja Ridwan dan memilih pergi mungkin saja Ridwan akan membawanya jika Adelia tidak terus mengekornya.
Harapan Adelia pupus, Ridwan mengabaikan kotak bekal miliknya. Masuk mobil dan dengan cepat menancap gas meninggalkan Adelia yang menahan air matanya di dapur, ia mengambil kembali bekalnya dan meletakkan di atas meja makan.
Rasanya begitu melelahkan rupanya mengejar seseorang yang tidak mengharapkan kehadiran kita. Adelia pikir semuanya akan berubah, aka nada harapan dari kehangatan yang selalu Adelia berikan untuk Ridwan.
Adelia tersadar begitu luka bakarnya tersenggol tepian meja makan. Luka yang ia dapat tanpa sengaja karena bertengkar dengan Ridwan. Terkadang terbesit Adelia ingin mendatangi perempuan yang bernama Maryam, memintanya untuk meninggalkan Ridwan karena laki-laki itu sudah menjadi suami yang sah Adelia.
Tapi itu hanya sebuah angan-angan, Adelia tidak mungkin berani melakukannya. ia takut kemarahan dan kebencian Ridwan kepadanya semakin bertambah parah. Setidaknya ia bisa melihat Ridwan ketika membuka dan menutup matanya meski harinya tampak melelahkan karena memang hanya nafkah jasmani saja yang diberikan seorang Ridwan kepadanya, sedangkan nafkah Rohani Adelia hanya tersenyum getir membayangkan karena sama sekali ia tidak melihat sebuah titik terang.
Dddrrrttt…ddrrrttt…
08956xxxxxxx
Sebuah nomor baru menghubungi ponselnya, Adelia terperanjat dari lamunannya. Ia tidak mengenal nomor itu, ia tidak mengangkatnya justru hanya memandangnya. Tapi nomor it uterus menghubunginya. Akhirnya dengan keberaniannya Adelia mengangkat panggilan tersebut. Adelia sedikit terkejut begitu mendengar suara sang pemanggil ponselnya.
Handphone gue ketinggalan di laci antarin kesini.
TBC