MENGAKHIRI ATAU MEMULAI?

1627 Words
Ddrrttt..ddrttt… Maryam : mas Ridwan nanti jadikan jam setengah Sembilan? Ridwan yang tengah menyisir rambutnya di depan cermin hanya melihat sebentar layar ponselnya tanpa berniat membalasnya. Ketika memandang bayangan pantulan cermin dirinya, Ridwan menghela nafas berat ia seperti tidak mengenal dirinya yang sekarang begitu asing. Drrrtt… drrttt… Adelia : mas, aku jalan sama Ranny. To Adelia : Terserahmu. Dengan cepat Ridwan membalas pesan dari Adelia bukan dari Maryam, ada secuil kesenangan yang tidak mau diakuinya jika Adelia menghubunginya setelah semalam. Ridwan mengutuk dirinya yang tidak bisa membalas kehangatan Adelia dengan kehangatan juga. “Ridwan!” Panggil Ibunya dari luar kamar, Ridwan segera keluar kamar untuk sarapan bersama ayah dan ibunya. “Ayo sarapan dulu!” Ajak ibu begitu melihat Ridwan yang sudah duduk di samping ayahnya. “Adelia nggak mau kesini.” Ucap ayah Ridwan kepada ibunya membuat Ridwan menoleh kaget. “Bukan ayah! Ridwan memang tidak memperkenakan dia ikut! Lagian cuman beberapa hari.” Bantah Ridwan tak disangka pandangan ayahnya terhadap Adelia seperti itu. Ayah dan ibunya saling pandang kemudian justru tersenyum, rupanya itu memang cara ayahnya untuk memancing Ridwan membicarakan istrinya. Dengan begitu mereka tahu sudah sedekat apa Ridwan dan Adelia. “Ridwan juga mau ketemu Maryam.” Ucap Ridwan memberanikan diri secara terang-terangan maksud ia pulang ke Bandung yang tak lain adalah menemui Maryam. “Untuk apa?” Tanya ayahnya yang kini raut wajahnya berubah serius, lelaki paruh baya itu tidak bisa menyembunyikan emosinya yang masih ia tahan. “Kamu sudah menikah Ridwan, untuk apa kamu menemui Maryam. Justru nanti menimbulkan fitnah.” Ucap ibu Ridwan mencoba menengahi ditengah bersitegang yang tengah melanda ayah dan anak itu. “Ridwan Cuma mau menyelesaikan hubungan ini baik-baik kok ayah.” Ucap Ridwan membela diri, bohong ! ridwan berbohong sola ia akan mengakhiri hubungannya dengan Maryam itu hanya untuk pemanis menghindari perselisihan dengan ayah dan ibunya. “Inget kamu udah ada Adelia, Ridwan!” Ucap ibunya yang tampak sabar menghadapi Ridwan yang meski ia khawatir anaknya mengambil langkah yang salah. Ridwan beranjak pergi, matanya melirik arloji di tangannya yang menunjukkan sudah pukul setengah sembilan. Ia sangat yakin Maryam sudah menunggunya di cafe yang biasa mereka datangi ketika saling melepas rindu. Ridwan segera menyalakan mobil dan bergegas menuju café. Ia tidak mau membuat Maryam menunggu terlalu lama disana. Mobil berhenti di lampu merah, Ridwan memandang seseorang yang mengenakan kaos oblong dan sneaker putih mengingatkan ia kepada istrinya di rumah yang mungkin belum pulang ke rumah. Ponselnya pun sepi hanya ada chat dari Maryam yang mengatakan jika gadis itu sudah sampai di café. Ridwan memasuki café matanya mengitari ruangan cafe mencari seseorang dengan ciri khas mengenakan hijab. Ridwan melangkah kakinya begitu matanya menangkap seseorang dengan baju warna pink seragam dengan hijabnya. “Mas Ridwan!” Sapa lembut Maryam melihat Ridwan menarik kursi di hadapannya untuk duduk. “Sudah lama?” Tanya Ridwan melepas topi yang ia kenakan. “Nggak kok beberapa menit doang!” Ucap Maryam dengan senyumannya. Sudah tersaji dua gelas minuman yang berisikan jus jeruk dan jus sirsat yang sudah dipesan oleh Maryam sebelum Ridwan datang. Ridwan menyalakan ponselnya sebentar mencoba melihat apakah Adelia mengirimkannya pesan namun nihil, perempuan itu benar-benar tidak mengirimkannya pesan. “Mas Ridwan ! Maryam mau mas Ridwan jujur tentang apa yang terjadi belakang ini sama mas Ridwan.” Ucap Maryam tanpa basa-basi menyampaikan mengapa ia memaksa untuk bertemu dengan Ridwan, padahal sebelumnya gadis itu hanya menunggu dan menunggu sampai Ridwan sendiri yang akan enghampirinya ke Bandung. “Maryam, aku sudah menikah!” Ucap Ridwan pelan memberanikan diri menyatakan sesungguhnya. Maryam terdiam, dia sudah menyiapkan hatinya sekuat mungkin mendengar berita yang terus terngiang di kepalanya, setegar mungkin jika suatu hari Ridwan memberi tahunya sendiri. Namun semua yang ia siapkan gagal, hatinya benar-benar patah sejadi-jadinya begitu mendengar dari mulut Ridwan sendiri. Pandangannya kosong keluar, isaknya mulai terdengar. Ini pertama kalinya, Ridwan membuatnya menitikkan air mata. Pertama dan terakhir mungkin setelah ini mereka tidak akan saling bertemu. “Maryam, aku benar-benar minta maaf. Ini semua salahku!” Ucap Ridwan menggenggam tangan perempuan itu, mengusapnya dan Maryam tidak menolak itu. “Memang salah mas Ridwan! Mengapa mas Ridwan justru menikahi gadis lain. Mengapa dulu mas Ridwan mendekati Maryam kalok memang berakhirnya seperti ini? Mengapa mas Ridwan tega sama Maryam.” Ucap Maryam terbata-bata diiringi isak tangisnya yang sebisa mungkin ia tahan agar tidak terdengar oleh pengunjung lain. Ridwan bungkam, ia tidak bisa menjawab. Memang Ridwan juga bingung mengapa ia tidak menolak perjodohannya dengan Adelia dulu. Apa yang ia beratkan? Pekerjaan? Sepertinya itu hanya akal-akalan buatannya sendiri. Apa benar yang ia beratkan sesungguhnya adalah Adelia sendiri. Namun mengingat perlakuan Ridwan kepada Adelia sama sekali tidak mendukung persepsi kalimat itu. “Terus sekarang bagaimana ?” Tanya Maryam yang sudah tahu jika hubungan ini tidak bisa diteruskan justru meminta pertanggung jawaban pada Ridwan yang sudah membuatnya terluka. “Aku akan menceraikan istriku, tapi Maryam harus mau menunggu.” Jawab Ridwan menggenggam erat tangan mungil Maryam mencoba menyakinkan jika ia akan tetap membuat Maryam berada disampingnya. “Kamu gila!” Pekik Maryam kemudian menarik tangannya dari genggaman tangan Ridwan. “Aku mau ini berakhir!” Pinta Maryam menyeka air matanya yang entah sejak kapan membasahi pipinya. “Aku tidak bisa melepaskan kamu, Maryam.” Ucap Ridwan lirih benar-benar menahan Maryam agar tidak mengakhiri hubungannya. Bagaimana pun Ridwan tidak bisa melepaskan perempuan yang sejak dulu menemaninya dari titik nol, sampai lelaki itu mencapai karir yang sekarang. “Nggak, mas Ridwan tega nyakitin istri mas yang nggak tahu apa-apa?” Tanya Maryam menyakinkan Ridwan jika jalan yang diambil lelaki itu salah. Meski dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga tidak merelakan Ridwan dengan orang lain, tapi Maryam juga mempunyai hati ia membayangkan sebagai sesame perempuan, bagaimana perasaan istri Ridwan mengetahui Ridwan menjalin hubungan dengan wanita lain. “Ini sudah menjadi kesepakatan aku dengan istriku, Maryam. Kamu tenang saja! Tidak ada yang tersakiti dengan hubungan kita.” Bohong Ridwan, entah iblis mana yang tengah merasuki jalan fikirannya sampai dengan gamblangnya ia memberikan penjelasan yang penuh dengan kebohongan itu. “Mas Ridwan yakin?” Tanya Maryam menatap mata Ridwan yang kini juga menatapnya kemudian menganggukkan kepalanya. “Enggak mas! Ini nggak bisa!” Ucap Maryam menggeleng ia menangis, ia dilanda kebingungan yang teramat rumit. Dalam hatinya, ia marah pada Ridwan yang tidak menepati janjinya. Dalam hatinya, ia marah pada perempuan yang telah merebut kekasihnya itu. Dalam hatinya, ia luluh ketika dijanjikan jangka waktu Ridwan akan menikahinya. Dalam hatinya pula, ia tak ingin menyakiti istri kekasihnya itu bagaimanapun ini semua adalah jalan scenario yang terbaik dari Allah. “Aku mohon Maryam! Tetap berada disamping aku!” Ucap Ridwan sekali lagi menyakinkan Maryam, jika ia benar-benar akan memikirkan segala cara agar ia dapat menceraikan Adelia dan dapat bersatu kembali dengan Maryam. Maryam menatap Ridwan dalam, ia menemukan bagaimana keteguhan pendirian Ridwan dalam mempertahankan hubungan mereka. Maryam menghela nafas panjang kemudian menyeka air matanya yang sudah berhenti membasahi pipinya. Tidak peduli bagaimana wajahnya sekarang. “Untuk saat ini, Maryam bertahan mas Ridwan! Tetapi kedepannya Maryam tidak tahu.” Jawab Maryam memberikan kejelasan. Untuk saat ini ia memberikan kejelasan pada Ridwan yang seperti sudah frustasi takut ditinggalkan oleh Maryam. “Iya, aku janji Maryam aku akan segera menceraikan Adelia demi kamu. Aku juga yakin dia tidak akan tersakiti.” Jawab Ridwan semakin bersemangat, semakin pula erat genggamannya pada tangan Maryam. Maryam tidak membalas dengan sepatah katapun, perempuan itu hanya tersenyum getir melihat sikap pujaan hatinya yang selama ini ia banggakan. Benar-benar, seorang pengecut. Menyakiti satu wanita demi wanita lain. Maryam yakin jika istri Ridwan pasti akan sakit hati melihat tingkah suaminya di belakangnya. “Hari ini mau kemana lagi?” Tanya Ridwan menawarkan diri mau menjadi sopir pribadi untuk Maryam. “Aku mau ke gramedia aja!” Jawab Maryam tersadar dari lamunannya. Ridwan hanya tersenyum menanggapi jawaban Maryam, setiap mereka bertemu Maryam selalu minta untuk ditemani membeli buku, sampai di rumahnya sudah berapa rak buku yang sudah penuh. Tapi inilah hobby, perempuan lembut itu. Jarak gramedia yang cukup dekat, Ridwan tidak repot-repot memindahkan parkir mobilnya. Maryam dan Ridwan masuk ke gramedia. Ridwan tidak terlalu suka membaca, Maryam sibuk memilih buku sedangkan Ridwan hanya sibuk memperhatikannya. Entah, angin mana yang membawanya dalam ingatan bersama Adelia. Tiba-tiba saja, Ridwan terpikirkan apa yang disukai istrinya. Bahkan Ridwan tidak tahu dan tidak pernah menanyakannya. Setiap obrolan yang mereka lakukan hanya sebuah kepentingan dan akan berujung dengan percekcokan dimana Adelia selalu mengalah, perempuan itu selalu mengajak bicara Ridwan terlebih dahulu. Setelah selesai dengan acaranya memilihnya, Maryam segera membayar bukunya. Dan, mereka berpisah di café tempat mereka bertemu itu. Ridwan tidak pernah mengantar Maryam sampai ke depan rumah, karena orang tua Maryam juga tidak setuju jika anak perempuannya berhubungan dengan Ridwan begitu juga dengan keluarga Ridwan yang juga menentang hubungan mereka berdua. Mobil melaju dengan kecepatan sedang melintasi rumah penduduk di kampung halaman Ridwan, dengan ramahnya Ridwan menyapa para tetangganya melalui kaca mobil yang terbuka. Ridwan memasuki perkarangan rumahnya, dimana tampak ayahnya sedang menyirami tanaman miliknya. “Ayah!” Sapa Ridwan pada Rokhim yang sudah mengetahui kedatangannya namun memilih untuk mengabaikannya. “Ridwan ayah mau bilang jalan yang sekarang kamu tempuh itu keliru.” Ucapan Rokhim rupanya mampu menghentikan langkah Ridwan untuk masuk ke rumahnya. Ridwan membeku di tempat, merasa ayahnya benar-benar menembaknya di tepat sasaran. Ridwan memilih pergi masuk ke kamarnya, menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hanya duduk berdua dan menghabiskan waktu mengelilingi gramedia rupanya juga melelahkan. Ridwan membuka layar kunci ponselnya, tidak ada pesan seperti biasanya jika Adelia tidak satu tempat dengan Ridwan. Ridwan melihat kontak Adelia yang aktif pagi tadi, dimana perempuan itu terakhir mengirim pesan kepadanya hari ini. Ridwan merenungkan perkataannya sendiri, bagaimana bisa ia membutakan diri dan dengan mudahnya mengatakan pada Maryam jika Adelia tidak akan terluka. Padahal dengan jelas Ridwan sadar jika tiada hari yang Adelia lewati tanpa menitikkan air mata karena ulah Ridwan. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD