I’M NOT YOURS
“Apa kamu mau ke Bandung mas?” Tanya Adelia dengan nada sedikit tinggi.
Ia kesal, bagaimana tidak suaminya yang baru saja melakukan panggilan suara langsung memutuskan untuk ke Bandung malam ini juga. Tanpa Adelia tanyakan siapa yang tengah menelepon di tengah malam kecuali Maryam kekasih gelap suaminya.
“Iya, Kenapa lo mau ikut?” Tantang Ridwan dengan senyuman sinis, membuat Adelia tidak habis pikir bagaimana piciknya Ridwan.
Tidak mau melihat titik benar dan salahnya jika sudah berhubungan dengan Maryam. Adelia benar-benar dibuat tua dalam fikirannya karena ulah Ridwan yang benar-benar tidak seperti bayangannya sebelumnya.
“Kamu gila! Kamu pikir aku nggak tahu kamu ke Bandung buat ketemu Maryam!” Tegas Adelia blak-blakan mulai tidak senang dengan hubungan gelap Ridwan dan Maryam.
“Bagus kalok loe tahu gue nggak perlu sembunyiin.” Tandas Ridwan justru tak tahu malu dengan perselingkuhan yang diketahui istrinya.
“Kamu benar-benar gila mas, aku ini siapa kamu?” Bentak Adelia benar-benar tak tahan dengan perlakuan Ridwan padanya yang sudah keterlaluan.
“Gue nggak merasa milikin elo di hidup gue, dan gue berharap sebaiknya elo juga begitu!” Peringatkan Ridwan dengan emosi yang tak kalah menggebu-gebu, nafasnya naik turun tak beraturan.
Adelia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Ridwan bersikeras untuk pergi ke Bandung. Ridwan pun beranjak pergi masuk ke kamar meninggalkan Adelia yang masih berdiri di ruang makan.
Adelia terduduk di ruang makan, meremas rambutnya dengan sedikit keras ia benar-benar frustasi menghadapi Ridwan yang begitu keras kepala. Yang sampai sekarang Adelia sesalkan adalah membiarkan papahnya, Adam pergi ke Bandung menemui kedua orang tua Ridwan guna menjodohkan anak mereka.
Adelia menguatkan dirinya, ini memang jalan takdir yang sudah digariskan. Ini merupakan resiko yang harus ia tanggung ketika menikah dengan Ridwan yang jelas ia sudah tahu jika Ridwan sudah mempunyai wanita lain sebelum menikahinya. Beberapa kali juga kenyataan menamparnya jika ia dinikahi oleh seorang Ridwan Permana semata-mata karena karir lelaki tersebut.
Adelia masuk kamar dan mendapati Ridwan tengah menata beberapa berkas kantor yang akan dibawa ke Bandung. Adelia menghampiri Ridwan, menyodorkan botol mineral untuk suaminya, Ridwan terdiam dalam hatinya ia merasa malu karena setiap pertengkarannya dengan Adelia, perempuan itulah yang justru mengalah dan mencoba melupakan permasalahan seolah tidak terjadi apa-apa.
“Mas Ridwan berapa hari disana?” Tanya Adelia menatap Ridwan yang menunduk menata dokumen-dokumen penting dan juga laptop kerjanya.
“Sampai hari minggu.” Jawab Ridwan datar, emosi lelaki itu juga mulai redam.
“Apa yang bisa ku bantu?” Tanya Adelia duduk disamping dokumen yang berada di tepi ranjang.
“Bantu gue kemas ini.” Jawab Ridwan menunjuk dokumen yang berada di samping Adelia dengan dagunya.
Adelia menunduk mencoba mengedipkan matanya agar tidak terlalu panas, ia menata dokumen itu ke dalam tas ransel Ridwan, memasukkan laptop Ridwan dan juga botol yang berisikan air mineral ia selipkan di kantong tas sebelah samping.
“Udah?” Tanya Adelia menengadahkan wajahnya pada Ridwan yang masih setia berdiri dengan tangannya yang sibuk menari-nari diatas layar ponselnya.
Ridwan pun mengangguk tanpa memandang Adelia, begitu matanya menangkap mata Adelia yang memerah perempuan itu dengan cepat mengalihkan pandangannya. Ridwan ingin berpura-pura tidak peduli tapi hatinya seperti ada cubitan kecil begitu tahu mata Adelia benar-benar penuh dengan air mata yang sengaja perempuan itu tahan.
Ridwan meletakkan tas ransel di pundaknya dan berjalan keluar rumahnya, Adelia mengikuti Ridwan dari belakang tanpa sepatah katapun. Yang bisa perempuan itu lakukan adalah menemani dan menunggu agar suaminya itu cepat sadar.
Ridwan memasukkan tas ranselnya dan menaruhnya di kursi penumpang samping pengemudi. Dia menyalakan mesin dan mengeluarkan mobil dari halaman rumahnya. Adelia menutup pagar tanpa memandang Ridwan sama sekali, sedang Ridwan masih sempat menatap sebentar istrinya itu.
Ada dilema besar menyelimuti hatinya, Ridwan menyakinkan perasaannya bahwa itu hanya rasa bersalahnya sesaat. Ia segera menancap gas menuju kota kelahirannya dimana sang pujaan hati sudah menunggu kedatangannya.
Tengah malam, jalanan tampak sepi bahkan ia berani melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Dua jam lebih mobil sudah sampai perkarangan rumah milik orang tuanya, beruntung gerbang tidak di kunci. Ridwan menuju pintu utama rumahnya dengan tas ransel yang sedikit membebani pundak sebelah kanannya.
Tingg… tinggg…
Suara bel menggema di kesunyian malam, Ridwan tak perlu menekan bel lagi begitu lampu tengah rumah tampak menyala menandakan bunyi bel membangunkan tuan rumahnya. Tak berapa lama sosok lelaki paruh baya muncul dengan wajah yang masih berantakan.
“Ridwan!” Sapa Rokhim membenarkan letak kacamatanya memandang dengan benar sosok di depannya yang langsung mencium tangannya.
“Malam, ayah!” Sapa Ridwan kemudian masuk rumahnya dan duduk di sofa merenggangkan pinggangnya yang sedikit kaku karena menyetir mobil.
“Adelia tidak ikut?” Tanya Rokhim menyadari anaknya datang sendirian sama saat dia masih berstatus lajang.
“Tidak, tapi Adel tahu Ridwan kesini.” Ucap Ridwan dengan senyum.
“Yaudah istirahat dulu, Ibu kamu tidak tahu.”Ucap Ayah Ridwan kemudian beranjak berdiri dan berjalan menuju kamar.
Ridwan pun segera naik ke lantai atas menuju kamarnya, tas ranselnya cukup berat. Ia merogoh botol mineral, meneguknya pelan ia tertegun sejenak yang ia mengira botol yang diberikan Adelia berisikan air mineral ternyata sebuah the lemon hangat.
Ridwan menatap layar ponselnya, ia membaca pesan yang masuk satu persatu tidak ada nama istrinya disana. Ridwan kembali teringat bagaimana mata Adelia tidak bisa berbohong bahwa ia benar-benar sedang terluka dan Ridwan adalah penyebab masalah yang ia memilih untuk mengabaikannya.
To Adelia : Sampai
Entah mengapa jari jemarinya mengetik pesan dengan lincahnya dan hatinya menyuruhnya untuk mengirim pesan untuk Adelia untuk pertama kalinya.
Ting…
Adelia : Oke
Ridwan menatap pojok kanan atas ponselnya, menunjukkan pukul setengah satu dini hari dan Adelia masih terjaga. Ridwan merasa Adelia memang menunggunya sampai di Bandung. Ia memandang cincin yang melingkar di jarinya, tanpa ragu ia melepas dan menyimpannya di nakas lacinya.
Besok ia akan bertemu dengan Maryam, apa yang dikatakan Maryam jika perempuan itu mengetahui jika Ridwan memakai cincin pernikahan, meski Ridwan tahu dengan pasti bahwa Maryam pasti sudah mengetahui pernikahannya dengan Adelia. Memang resepsi tidak diadakan di tempat Ridwan, tetapi satu kali pesta kemarin sudah mengundang seluruh undangan ayahnya menuju ke Jakarta untuk resepsi disana. Tak heran tamu undangan benar-benar sangat ramai karena undangan mempelai dijadikan satu.
Maryam : Mas Ridwan sudah sampai? Besok bertemu ya!
Sebuah pesan masuk dalam ponselnya membuat Ridwan mau tak mau membuka matanya kembali sebelum terpejam. Pesan dari perempuan yang menjadi alasan Ridwan membelakan diri pergi ke Bandung malam hari.
Otaknya semakin pusing, dua perempuan yang mempunyai hubungan masing-masing benar-benar mengharapkan sesuatu darinya. Dengan begini ia tampak memberikan harapan untuk Adelia dan berat hati untuk melepas Maryam dari genggamannya. Sesuatu yang sangat rumit dalam urusan hati.
***
Adelia menjalankan aktivitasnya seperti biasanya membersihkan seisi rumah yang tidak terlalu luas itu, mencuci pakaian kotor Ridwan yang lelaki itu gunakan untuk bekerja. Hari ini katanya Ranny temannya semasa bangku kuliah akan berkunjung ke kontrakannya untuk pertama kalinya.
Tingg… tong…
Suara bel membuat Adelia meletakkan sebentar alat sapunya dan menuju pintu utama, dari kaca terlihat Ranny yang sudah berpakaian rapi. Adelia membukakan pintu dengan penampilan masih mengenakan pakaian tidurnya dan rambut yang belum tersisir rapi.
“Astaga!” Pekik Ranny melihat penampilan Adelia yang sangat jauh berbeda ketika perempuan itu lajang.
“Kenapa?” Tanya Adelia menutup pintu kembali begitu Ranny sudah masuk rumahnya.
“Del! Ini elo! Udah kayak emak-emak anak tiga aja lo!” Ledek Ranny melihat Adelia yang benar-benar mengurus semua pekerjaan rumah.
“Kampret lo Ran!” Umpat Adelia kesal dengan ucapan Rannya yang seenaknya meledek dirinya, memang untuk mengerjakan pekerjaan rumah apakah memerlukan pakaian yang seperti ketika mereka jalan-jalan keluar rumah.
“ Ridwan mana Del?” Tanya Ranny celingak-celinguk melihat sekeliling dari tadi tidak menemukan keberadaan Ridwan barang hanya mendengar suaranya saja.
“Ke Bandung!” Jawab Adelia pendek, mendengar nama Ridwan mengingatkan tujuan Ridwan pergi ke rumah orang tuanya tidak semata-mata mengunjungi kedua orang tuanya melainkan ada maksud lain.
Ranny pun diam menyadari raut wajah Adelia berubah ketika ia menanyakan keberadaan suami sahabatnya itu. Ranny hanya duduk memandang Adelia menyelesaikan pekerjaanya terlebih dahulu. Matanya menyorot seisi ruangan tidak ada foto pernikahan mereka berdua.
“Lo mau minum apa nih?” Tawar Adelia setelah pekerjaannya selesai.
“Seadanya aja!” Jawab Ranny, ia sangat yakin Adelia sangat capek mengerjakan semuanya sendiri. Padahal Ranny sangat tahu jelas di rumahnya Adelia hanya melakukan beberapa pekerjaan saja, sisanya dibantu oleh asisten rumah tangga.
“Mau kemana hari ini?” Tanya Adelia seraya menyodorkan secangkir the hangat dan beberapa buah miliknya yang masih banyak persediaan di kulkas.
“Temenin gue beli gelang ya Del buat emak gue di kampung!” Ajak Ranny yang ternyata ingin mengajak keluar sahabatnya yang sejak menikah mereka jarang berkomunikasi, maklum Ranny tidak mau mengganggu pengantin baru yang lagi berbunga-bungannya.
“Gue mandi dulu ya Ran!” Pamit Adelia begitu mendapat anggukan dari Ranny, ia segera masuk kamar dan pergi membersihkan badannya. Ranny senantiasa menunggu Adelia yang mungkin sedang berdandan, dengan secangkir the hangat cukup membuat hawa dingin sedikit beranjak pergi dari tubuhnya.
Tak berapa lama Adelia keluar menggunakan kaos putih, sepatu sneakers putih dan tas mungilnya seperti biasa. Ranny menatap atas dari bawah penampilan Adelia, ia menyadari satu hal sahabatnya sedikit kurus dibanding awal pernikahan ekmarin.
“Del! Gue mau nanya! Elo bahagia nggak sih?” Tanya Ranny pelan sedikit berhati-hati dalam berucap.
Ia bahagia sahabatnya menikah dengan lelaki pilihan hatinya, tapi Ranny tahu pasti bagaimana pandangan Ridwan kepada sahabatnya itu. Dingin dan kebencian seperti saling berkolaborasi untuk mendorong Adelia menjauh dari kehidupan Ridwan.
To Ridwan : mas, aku jalan sama Ranny.
Adelia mengirimkan pesan untuk Ridwan, perempuan itu tetap berpamitan pada Ridwan meski suaminya tidak ada di rumah. Padahal Adelia tahu dengan pasti aktivitas yang sedang dilakukan oleh suaminya sekarang. Mungkin sudah berbincang dengan Maryam, kekasih gelap suaminya.
Ridwan : terserah
Adelia tersenyum getir melihat balasan Ridwan yang sama sekali tidak ada hangatnya dalam pesan sekalipun. Ranny tidak enak hati setelah menanyakan hal intim justru raut wajah sahabatnya itu berubah.
“Sorry, Del! Gue…”
“Ran, elo tanyakan sama gue? Apa gue bahagia? Jawabannya ada disini.” Potong Adelia pada Ranny agar sahabatnya itu tak salah paham. Adelia tanpa sungkan menunjukkan chatnya dengan Ridwan baru saja.
“Gila!” Umpat Ranny membaca balasan Ridwan terhadap pamitan Adelia. Yang seharusnya responnya tidak patut untuk ukuran suami istri.
“Jadi apa gue bahagia apa enggak silahkan disimpulkan sendiri.” Ucap Adelia dengan senyuman yang begitu lebar seolah seperti ada beban yang hilang sejenak begitu ia bisa berbagi keresahan hatinya dengan sahabatnya.
“Ya udah yuk di lupain dulu masalahnya!” Ajak Ranny memainkan kunci mobilnya dengan senyuman lebar berusaha menghibur sahabatnya.
Mungkin benar jauh dari Ridwan, setidaknya ia selain memendam rindu Adelia juga bisa mengurangi percekcokan keduanya setiap mereka saling berdekatan. Adelia pun segera masuk mobil setelah mengunci gerbang rumahnya, ia sudah memastikan jika Ridwan tidak akan kembali ke Jakarta sebelum hari esok.
Mobil melaju, Adelia merasa seperti kembali pada kehidupannya yang dulu, belum menjadi istri sah Ridwan Permana. Ia merasa bisa kesana-kemari tanpa memikirkan Ridwan, aktivitas apa yang lelaki itu lakukan, lamunannya mengingatkan kembali bahwa Ridwan sedang berada di Bandung untuk Maryam.
“Lo tahu nggak sih Ran, Ridwan tuh ke Bandung untuk kencan sama kekasih yang lamanya itu.” Celetuk Adelia membuat Ranny yang tadi focus mengemudi kini menoleh.
“Serius?” Tanya Ranny terkejut bukan kepalang. Ia tidak tahu jika ternyata Ridwan sudah mempunyai kekasih karena memang lelaki itu cukup tertutup untuk masalah pribadinya.
“Rasanya gue pengen kesana, gue pengen berkata kasar di depan mereka berdua.” Ucap Adelia begitu kesal mengingat setiap obrolan Ridwan dan Maryam via telepon.
“Jangan! Justru elo buktiin sama Ridwan elo biasa aja Del! Laki-laki model Ridwan emang risih kalok di pepet terus. Kalok kita diam justru membuat mereka penasaran.” Ucap Ranny memberi saran.
Adelia mengangguk pelan setuju dengan pendapat Ranny. Sepertinya dia harus bersikap seperti ia bersikap dengan lelaki lain, memang perlakuan Adelia pada Ridwan sangat jelas terlihat berbeda dibanding dengan lelaki lain.
Ranny membelokkan mobilnya di toko berlian ternama di kota Jakarta, mamahnya ulang tahun dan sudah menjadi ritual setiap tahun jika ia membelikan kado selalu bersama sahabat semasa kuliahnya ini, Adelia.
“Lo mau ngasih apa emang Ran?” Tanya Adelia mengikuti arah mata Ranny pada sebuah kalung.
“Rejeki gue lumayan banyak bulan ini Del, jadi ya cari yang lumayan mahal. Semua berkat abang elo yang jadi atasan gue sama bu Fariza yang baik banget.” Jelas Ranny tanpa mengalihkan pandangan matanya dari berlian di nakas kaca itu.
Adelia pun juga ikut memilih sebuah kalung, namun justru kini dia yang tergoda pada sebuah kalung dengan design yang sangat simple. Kalung dengan sebuah bandul berbentuk kunci memanjang, kunci seperti dalam negeri dongeng. Adelia memandangnya takjub rasanya ia ingin segera meminang kalung itu.
“Kan jadi elo yang pengen beli!” Sindir Ranny yang melihat Adelia sibuk focus meneliti sebuah kalung.
“Jangan bilang siapa-siapa ya Ran gue beli. Termasuk Akbar sama mas Ridwan.” Ucap Adelia memperingatkan yang langsung diacungi jempol oleh Ranny tanda ia menyetujuinya.
“Mbak bisa lihat yang ini!” Pinta Adelia pada penjaga nakas, penjaga nakas tersenyum seraya memperlihatkan kalung yang ditunjuk Adelia.
“Benar-benar cantic!” Puji Adelia yang hanya dibalas senyuman oleh pelayan.
“Baik saya ambil yang ini ya mbak!” Ucap Adelia kemudian menyodorkan kembali kalung itu ke pelayan setelah dengan teliti ia memperhatikan kalung itu.
“Baik mbak silahkan tunggu.” Ucap pelayan kemudian segera menuju computer mungkin untuk input data transaksi Adelia.
“Del! Menurut lo bagusan yang mana?” Tanya Ranny menarik Adelia untuk melihat kalung yang saling bersandingan itu.
Adelia mengamati dua kalung yang mempunyai bandul berbeda itu, yang sebelah kanan dengan bentuk pita yang kedua berbentuk bunga. Keduanya bagus memang, Adelia sampai juga dilema harus memilih yang mana padahal bukan dia yang dibelikan oleh Ranny.
“Yang ini aja deh bagus!” Ucap Adelia menunjuk bunga, menurutnya untuk kalangan ibu-ibu bentuk pita terlalu simple lebih cocok untuk perempuan usia remaja.
“Mbak saya ambil yang ini ya!” Ucap Ranny akhirnya mengikuti saran Adelia memilih kalung berbandul bunga.
“Habis ini mau kemana Del?” Tanya Ranny duduk disebelah Adelia menunggu gilirannya untuk transaksi.
“Terserah sih Ran, gue juga mau ngapain di rumah ?Mas Ridwan juga lagi nggak di rumah.” Jawab Adelia kembali teringat Ridwan yang sama sekali tidak mengirim kabar kepadanya.
TBC