BEKAL YANG MALANG

1551 Words
Adelia memandang jam dinding yang tergantung di dinding atas kamar seusai melipat mukena miliknya, jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Hari ini ia akan membuatkan sarapan untuk Ridwan, pertama kalinya sebagai istri yang sudah saha. Tidak seperti dulu, dimana ia haru setiap hari ke kantor Ridwan membuatkan bekal makan siang dan akhirnya bukan Ridwan yang menyantapnya melainkan Okky. Adelia mencuci muka dan sikat gigi sebentar , ia membuka pintu pelan agar tak menganggu Ridwan. Ia mulai melihat isi kulkas, menatap bahan sayur yang akan ia olah sekarang. Ia mulai mencucinya dan memotongnya beberapa bagian kecil-kecil seperti dadu. Sedangkan di dalam kamar, Ridwan perlahan membuka matanya memastikan jika Adelia sudah keluar kamar. Ponsel yang ia sembunyikan dibalik bantal mulai ia raih dan melihat pesan dari siapa saja. Tertera nama Maryam disana, ia hanya membuka ponselnya semata-mata untuk melihat pesan apa yang ia terima dari Maryam. Maryam : Mas Ridwan kapan ke Bandung? Senyuman bahagia selalu saja terpasang di wajahnya setiap membaca pesan dari Maryam yang pada dasarnya tidak ada yang special. Perempuan itu hanya menginginkan pertemuan dengan Ridwan, salah satu yang membuat Ridwan begitu jatuh cinta kepadanya. To Maryam : Minggu ini ya! Maryam : iya mas Ridwan! Lagi-lagi balasan Maryam benar-benar membuat Ridwan sedikit gila, ia membayangkan bagaimana suara lembut Maryam ketika menyebut namanya dengan embel-embel mas. Ridwan tidak bisa begini ia benar-benar merindukan suara perempuan yang sudah tiga tahun yang lalu menjalin kasih dengannya. Hallo ! mas Ridwan “Maryam sedang apa sudah berdandan rapi jam segini?” Tanya Ridwan, ternyata lelaki itu tidak puas jika hanya mendengar suara Maryam, ia melakukan video call di jam pagi. Bukannya menyapa istrinya justru ia menghubungi perempuan yang bukan istrinya. Mas Ridwan tidak siap-siap ? “Nanti saja!” Jawab Ridwan melihat jam masuk kerjanya masih lama. “Lagi pula sudah ada Adelia!” Batin Ridwan begitu indra penciumannya mencium bau makanan. Mas Ridwan, sebenarnya ada sesuatu hal yang Maryam mau tanyakan. Tapi nanti saja lebih enak jika bertemu langsung. “Apa Maryam?” Tanya Ridwan tampak lembut menanyakan sesuatu hal yang tampaknya mengganggu pikiran sang pujaan hatinya itu. Nggak, Maryam nunggu mas Ridwan ke Bandung aja ya! “Iya deh!” Jawab Ridwan dengan senyum ramahnya, sikapnya benar-benar sabar pada Maryam berbeda hal apabila lelaki itu sedang berbicara dengan Adelia yang selalu berisikan umpatan,kata kasar, cibiran, celoteh-celoteh nyeleneh yang sengaja ia lontarkan agar perempuan itu tidak menaruh harapan tinggi padanya. Ceklek… Suara pintu terbuka membuat Ridwan terkejut begitu Adelia muncul dibalik pintu, mengetahui suaminya sedang melakukan video call Adelia memilih menutup kembali pintu yang tadinya ia buka berniat mengingatkan Ridwan untuk bersiap ke kantor. Suara Maryam dari ponsel Ridwan benar-benar terngiang-ngiang di telinga Adelia, ingin sekali ia marah namun seperti tidak berguna. Punya hak marah layaknya tak punya hak apapun. Ridwan memilih segera mengakhiri panggilan video dengan Maryam dan bersiap untuk berangkat ke kantor setelah cuti. Ridwan mandi, setelah menyiapkan berkas-berkas yang akan ia bawa ke kantor. Setelah selesai acara ritual mandinya laki-laki itu menatap kemeja yang sudah tergantung rapi di kamarnya. Ia tahu siapa yang menyiapkannya, namun alih-alih memakainya justru Ridwan mengambil kemeja lain dari lemarinya. Ia menyisir rambutnya dengan rapi, matanya menatap cincin nikah yang ia lepas. Ia meraihnya dan memakainya di jari manisnya, untung saja ia tidak lupa apa yang akan dikatakan rekan kerja jika ia tidak memakai cincin nikah itu. “Mas Ridwan sarapan dulu, ini sekalian bekalnya!” Celetuk Adelia begitu melihat Ridwan yang keluar kamar dengan dandanan rapi. “Gue sarapan di kantor saja!” Tolak Ridwan segera menuju ke ruang tamu dan memakai sepatu miliknya. “Yaudah ini bekalnya dibawa!” Ucap Adelia yang rupanya mengikuti Ridwan ke ruang tamu. “Dengarnya ya Del! Gue udah bilang berapa kali gue nggak bakal makan masaka elo! Gue kan udah bilang belanjaan itu semua buat elo! Karena gue nggak mau direpotin elo.” Jelas Ridwan terang-terangan. Adelia menyadari Ridwan tidak memakai kemeja yang ia siapkan. Ia hanya berdiri menatap Ridwan yang sedang memakai sepatu dengan wajah yang benar-benar marah padam. “Elo ngapain masih berdiri disini? Gue nggak bakal ambil itu nasi makanan elo!” Bentak Ridwan pada Adelia yang masih saja mematung memandang Ridwan. “Kenapa nggak sekalian? Lebih enak malah.” Ucap Adelia semakin menantang, ketakutannya sudah lenyap dilahap habis oleh emosi yang kini juga memenuhi relung hatinya. Awalnya memang ingin menahannya agar tidak ada percekcokan yang berkepanjangan namun melihat sikap Ridwan membuatnya semakin geram. “Maksud lo?” Tanya Ridwan menyipitkan matanya tidak memahami arah pembicaraan istrinya itu. “Iya kenapa nggak sekalian? Kalau nggak mau makan masakan aku, sekalian aja nggak mau dicuciin sama aku diberesin sama aku! Malah lebih enak nggak ada capeknya aku.” Hardik Adelia membuat Ridwan bungkam, tentu saja Ridwan tidak akan sampai melakukan semuanya sendirian, Adelia tahu itu sekali pun Ridwan sudah terbiasa melakukannya sendirian. “Kan ada elo! Pembantu baru di rumah ini!” Sinis Ridwan yang membuat Adelia hanya memutar bolanya malas, dia lupa orang yang ada dihadapannya ini adalah orang yang lebih keras kepala darinya, jadi lebih baik dia diam saja daripada kian menjadi. Diamnya, Adelia rupanya disalah artikan oleh Ridwan lelaki itu justru semakin tertarik untuk mengeluarkan sumpah serapah kepada Adelia, sepuas hatinya. “Dengan gue nemenin elo belanja bukan berarti gue ada rasa sama elo Del! Nggak usah ngarep! Gue nggak akan cerain elo! Tapi gue bikin elo nggak betah hidup sama gue!” Tandas Ridwan menggebu-gebu lagi dan lagi sikap kasarnya kembali. Adelia tetap mematung masih setia memandang nanar Ridwan yang kini justru seperti penderita bipolar yang mempunyai kepribadian ganda. Adelia menggenggam erat kotak bekal yang masih ia dekap dengan kedua tangannya. “Pikirin hidup elo aja! Nggak usah mikirin gue!” Tambah Ridwan kemudian beranjak pergi meninggalkan Adelia yang masih saja diam membisu. Tidak sadar sejak tadi matanya sudah menitikkan air mata, tak kuasa menahan perihnya hati mendengar ucapan kasar Ridwan yang sangat jelas tidak memikirkan perasaan Adelia. Adelia tahu jika Ridwan benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini, tapi setidaknya bisakah lelaki itu mengikuti arus saja dan menunggu sampai tiba waktunya mereka akan berpisah. “Sabar Adelia ini baru pertama kali!” Ucap Adelia menenangkan dirinya sendiri. Ia meletakkan bekal makan siang Ridwan yang tidak Ridwan bawa ke meja ruang makan. Ia lebih memilih menyapu rumah, ia benar-benar menjalankan peran ibu rumah tangganya dengan Ridwan meski hanya secara fisiknya bukan secara lahiriyah dia belum mendapatkan itu dari Ridwan sama sekali. Adelia juga menyapu halaman kontrakannya, siapa yang menyangka jika ia adalah anak pemilik perusahaan besar. Hidup sederhana katanya, siapa bilang Adelia tidak bisa. Sejak kecil mamahnya, Dea selalu melatih Akbar dan Adelia mengerjakan kebutuhannya sendiri sedangkan untuk uang papahnya memang tidak membatasi namun kepribadian mereka tidak suka merepotkan papahnya. Dengan baby doll yang menjadi baju favoritnya ia menyapu halaman rumah kontrakannya. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan jepit rambut hanya di beberapa helai rambutnya yang ia pikir mengganggu penglihatan matanya. “Ini istrinya mas Ridwan ya?” Celetuk seseorang dari belakang membuat Adelia menoleh dengan senyuman khasnya. “Iya, Ibu. Adelia!” Jawab Adelia kemudian mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh seorang ibu yang menenteng sebuah tas belanja yang sudah terisi beberapa belanjaan. “Semoga langgeng ya mbak Adel! Kenalin saya bu Ratna pemilik kontrakan ini.” Ucap bu Ratna memperkenalkan dirinya juga. “Iya bu, doakan saja. Mari bu!” Jawab Adelia dengan senyum ramah kemudian memilih masuk rumahnya. Bu Ratna pun menyeberang jalan dan masuk rumahnya yang rupanya rumah mereka berhadapan. Adelia kembali memandang kotak bekal yang di atas meja, tidak mungkin semuanya ia yang menghabiskannya terlebih ia masih mempunyai sisa selain di kotak bekal itu. Melihat cukup lama kotak bekal itu mengingatkannya pada kata-kata pedas yang tak segan Ridwan lontarkan kepadanya. Adelia melihat Risma sang penjual nasi goreng tengah mempersiapkan lapak jualannya. Adelia pun segera mengambil kotak bekalnya, ia berinisiatif untuk memberikannya pada Risma saja. “Risma!” Merasa ada yang memanggil namanya, perempuan yang menggunakan kerudung itu menoleh dan mendapati Adelia di seberang jalan. Risma pun tersenyum kemudian menghampiri Adelia begitu Adelia melambaikan tangannya menyuruh Risma untuk menghampirinya. “Iya ada apa ya mbak?” Tanya Risma heran, mengapa perempuan yang sebelumnya ia lihat pertama kali di rumah Ridwan kini justru tinggal di rumah Ridwan. “Risma, udah sarapan?” Tanya Adelia lembut dengan cepat Risma menggeleng pelan dengan mengulum senyum malu. “Ini bekal mas Ridwan ketinggalan, buat kamu aja!” Ucap Adelia berbohong tidak mungkin ia mengatakan jika Ridwan tidak mau membawanya bukan. “Mbak ini…” Ucapan Risma menggantung, perempuan itu ragu dan takut jika prasangkanya tentang Adelia menyinggung perasaan Adelia. “Saya istrinya mas Ridwan!” Ucap Adelia dengan senyum ramah. “Oalah la kemarin kok bilangnya temennya.” Gerutu Risma membuat Adelia tertawa terbahak ternyata perempuan di depannya ini benar-benar perempuan polos yang gampang dibohongi oleh Ridwan. “Makasih ya mbak!” Ucap Risma kemudian menerima sodoran kotak bekal dari Adelia yang sudah lama ia biarkan karena pikirannya sibuk menerka nerka siapa Adelia sebenarnya. Adelia meneguk air putih, menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah rupanya sedikit membuat tenggorokannya kering. Kemudian muncul sebuah gagasan yang akhirnya membuat Adelia tersenyum sedikit licik. Dia bisa tetap berusaha meluluhkan hati Ridwan denagn tetap memasak untuk suaminya itu, dan jika lelaki itu tidak mau dia bisa memberikan saja pada Risma. “Sungguh bijaksana diriku!” Puji Adelia kemudian tertawa terbahak melihat tingkahnya sudah seperti anak SMA mengejar cinta kakak kelasnya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD