HIDUP SEDEHANA KATANYA

2717 Words
Ridwan membantu Adelia yang tengah memberesi barang-barangnya. Hari ini ia akan pindah di kontrakan Ridwan yang lebih dekat dengan kantor suaminya itu. Barang-barang yang dibawa Adelia tidak terlalu banyak hanya beberapa. Menurut Adelia nanti dia bisa mengambilnya sendiri disini hari demi hari setelahnya. Drrrrttt..ddrrttt… Maryam is calling… “Maryam lagi, Maryam lagi!” Gerutu Adelia melihat ponsel Ridwan setiap kali menyala selalu nama Maryam yang justru tertera disana. “Kenapa? Masalah?” Tanya Ridwan sinis melihat raut wajah Adelia yang berubah sebal. “Cuma orang bodoh yang menanyakan apakah masalah jika suaminya masih berhubungan dengan mantan pacarnya.” Sindir Adelia balik sinis, ia muak sudah sepekan ia menjalani hari demi hari dengan Ridwan. Tidak ada yang berubah, laki-laki itu tetap sama dengan bentakan kasar setiap harinya selalu ia sediakan untuk Adelia. Maryam, kekasih yang masih selalu mendapatkan waktu-waktu disaat kepadatan kerja Ridwan. Siapa yang tidak marah? “Alah nggak usah bijak lo!” Hardik Ridwan pada Adelia yang berbicara panjang lebar, ah tidak lebih tepatnya perempuan itu sedang menyindir suaminya secara terang-terangan. “Ya terserah kamu!” Bantah Adelia, setiap Adelia mempermasalahkan hal yang sama dan selalu jawaban Ridwan yang selalu mencibir jika istrinya itu terlalu berlebihan. Semuanya sudah beres. Ridwan membawa barang-barang milik Adelia ke bagasi mobil, diikuti Adelia yang justru dengan santainya langsung masuk mobil. Dia tidak peduli dengan tatapan tajam yang diberikan Ridwan. Ridwan pun masuk mobil dengan muka masam, dia benar-benar kesal dengan sikap Adelia yang seenaknya sendiri. Tidak ada tata karma sama sekali kepada suaminya, bayangan Maryam menghampiri lamunan Ridwan. Seandainya saja ia menikah dengan Maryam, mungkin hari-hari yang lewati beanr-benar berwarna tanpa adanya mendung. Mobil melesat pergi meninggalkan perkarangan rumah Adam dan Dea yang begitu luas, begitu mobil sudah melewati gerbang, satpam di rumah itupun segera menutup pintu. Gerbang memang tidak pernah dibuka kecuali jika ada kendaraan keluar masuk. Sebenarnya, Ridwan tidak berniat memperpanjang kontrakannya. Laki-laki yang sudah tak lagi bujangan itu memiliki pemikiran sendiri yang sudah ia rencanakan matang-matang. Adelia sibuk memandang jalanan yang tampak padat, ia malas selalu berdebat dengan Ridwan dimana masalah keduanya sama. Masih tentang Maryam kekasih Ridwan. Perjalanan dari rumah orang tua Adelia menuju kontrakan Ridwan tidak memerlukan waktu lama, hanya beberapa puluh menit saja. Mobil mulai masuk ke halaman kontrakan, Adelia segera menuju ke bagasi mobil yang ternyata sudah dibuka oleh Ridwan. Mereka sama-sama mengeluarkan barang Adelia yang hanya beberapa tas saja. Adelia masuk menenteng kopernya membututi Ridwan yang sudah berjalan masuk duluan. Ini kedua kalinya Adelia datang ke kontrakan Ridwan. Adelia memasuki ruang tengah yang ukurannya dianggap cukup tidak terlalu luas ataupun terlalu sempit. Adelia memandang dua kamar yang saling berdampingan yang salah satunya merupakan kamar Ridwan. Adelia sudah menyiapkan mental jika dia akan tetap bersikukuh untuk satu ruangan dengan Ridwan, bagaimanapun itu merupakan cara Adelia mendekati Ridwan dan berusaha meluluhkan hati batu Ridwan. “Jadi dimana kamar mas Ridwan?” Tanya Adelia seraya meletakkan barang-barangnya di sampingnya. Itu hanya sebuah basa-basi karena Adelia ingat betul kamar mana yang Ridwan masuki ketika perempuan itu sedang berkunjung ke kontrakan Ridwan untuk pertama kalinya. “Kama aku sebelah sini! Dan kamu tidur di ruangan itu!” Tunjuk Ridwan pada ruangan yang berada di samping kamarnya, tampak dari luar jika kamar itu lebih besar rupanya dibanding kamarnya. “Nggak! Aku nggak mau!” Tolak Adelia mentah-mentah, ia tidak akan mau pisah kamar dengan Ridwan. “Apa maksud loe?” Tanya Ridwan heran dengan jawaban Adelia, padahal jelas-jelas beberapa hari yang lalu sudah ia tegaskan jika mereka tidak akan satu kamar. “Ya, aku nggak mau kita pisah kamar. Kalaupun mas Ridwan maunya kita pisah kamar ya mending kita pisah rumah aja sekalian.” Tandas Adelia menantang Ridwan yang terdiam, ia tidak menyangka jika Adelia bisa membalik kata-katanya, ia fikir perempuan itu akan diam saja. “Lo ngancam gue Del?” Tawa sumbang Ridwan yang terdengar menyeramkan. “Iya, biar sekalian papah sama mamah dan juga ayah sama ibu tahu kalok kamu memperlakukan aku kayak gini, mas!” Jelas Adelia padahal awalnya perempuan itu tidak berniat mengancam hanya saja Ridwan memancingnya, semakin jadilah Adelia dibuatnya. Ridwan tak mampu lagi berdebat dengan Adelia, ia kemudian menarik paksa tas yang berada di tangan Adelia dan membawanya ke kamarnya. Adelia pun tertawa lepas, baru kali ini ia bisa mengalahkan keegoisan Ridwan, bukankah Adelia terlalu baik hati sudah membiarkan suaminya itu masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya? Ridwan membuka lemari pakaiannya, Adelia yang melihat Ridwan tampak gelisah hanya memandangnya santai seolah ia justru menunggu kata apa yang akan diucapkan Ridwan kepadanya. “Atur sendiri dimana baju lo mau diletakkan !” Ucap Ridwan kemudian meninggalkan Adelia yang kini sudah menarik kopernya dan membongkarnya. Ridwan berhenti di ambang pintu ia teringat sesuatu hal yang ingin ia katakan pada Adelia. Adelia pun tak menyadari Ridwan yang kini justru memandanginya dari belakang, perempuan itu sibuk menata baju Ridwan dan baju miliknya yang kini satu lemari. “Dan lagi!...” Ucap Ridwan memberikan jeda yang sedikit lama. “Apa?” Tanya Adelia yang akhirnya menoleh begitu Ridwan tak kunjung melanjutkan ucapannya seperti menggantung. “Gue nggak ada pembantu disini, jadi semua pekerjaan rumah elo yang ngerjain!” Ucap Ridwan membuat Adelia menarik nafasnya dalam-dalam emosinya kembali tersulut. Tanpa laki-laki itu jelaskan sekalipun Ridwan menyewa asisten rumah tangga ia juga tahu bagaimana seorang istri melakukan pekerjaan rumah. “Iya Adel tahu! Tujuan mas Ridwan menikah sama Adel kan biar Adel bisa jadi babu mas Ridwan.” Ucap Adelia yang terdengar meledek justru semakin membuat Ridwan geram bukan main. “Gue lupa! Elo kan anak manja seorang direktur mana bisa elo ngerjain pekerjaan rumah.” Ucap Ridwan yang tak mau kalah meremehkan Adelia. “Iya ya, Adelia kan putri semata wayang keluarga Adam Bagaskara, saudara kembar presiden CEO Akbar yang hidupnya gak pernah ngerjain sendiri ada yang bantuin.” Ucap Adelia sombong. Perempuan itu sudah di titik benar-benar tak habis fikir bagaimana membuat seorang Ridwan itu diam. Adelia yang tadinya bukan perempuan yang mengumbar kemewahan hidupnya, kini bak menjadi bukan dirinya hanya meladeni ucapan tajam Ridwan yang benar-benar mencabik-cabik hati perempuan itu. *** Meski percecokan di antara Adelia dan Ridwan sama sekalai tidak bisa dihindari, tetapi tetap saja itu hanya sebuah perselisihan penghias rumah tangga mereka. Ridwan tertidur di tempat tidur, tanpa sadar padahal sejak tadi ia memandang Adelia yang sibuk menata pakaian milik Ridwan di satu slot yang sama. Ridwan mulai terusik, matanya memperhatikan sekitar tidak menemukan Adelia. Ia juga melihat meja kamarnya yang tadinya hanya berisi beberapa lembar kertas kerja yang tidak sengaja ia bawa kini juga terisi beberapa buku dan laptop disana milik Adelia. Ridwan beranjak bangun, keluar kamar mencoba mencari dimana keberadaan Adelia. Suara dentuman sendok membuat Ridwan mengarahkan kakinya menuju dapur. Dan benar saja, Adelia tengah mencuci semua peralatan makan Ridwan yang perlahan berdebu karena lamanya tak pernah digunakan oleh Ridwan. Ridwan memandang isi rak yang sudah bersih semua, ia pun beranjak mengambil satu gelas kosong dan mengisinya dengan air mineral dari kulkas. Adelia tahu Ridwan juga berada di dapur tapi perempuan itu memilih mengabaikan daripada setiap obrolannya dengan Ridwan hanya berujung percecokan yang tiada henti. “Mana uang belanja!” Tagih Adelia pada Ridwan yang masih meneguk air mineral. “Lo minta gue?” Tanya Ridwan yang perlahan mengeluarkan dompet miliknya. “Ini kulkas gak ada isinya terus Adel minta uang siapa kalok bukan sama mas Ridwan?” Tanya Adelia mulai mengeluarkan sifat galaknya. “Nih!” Ucap Ridwan perlahan menyodorkan kartu debit miliknya. “Kalok mas Ridwan bukan suami Adel, Adel juga nggak minta uang sama kamu.” Ucap Adelia kemudian masuk kamar. Ridwan justru tersenyum, membuat Adelia marah sepertinya akan menjadi hobbynya. Kata-kata pedas yang keluar dari mulut istrinya itu justru membuatnya ingin terus menggoda Adelia. Apa ini? Apakah Ridwan mulai menerima kehadiran Adelia? Lelaki itu menggeleng cepat tidak mau fikirannya berkeliaran sembarangan. “Ayok!” Ajak Adelia pada Ridwan yang memandangnya dari atas sampai bawah. Adelia hanya menggunakan kaos hitam sedikit kebesaran dan celana jeans, rambutnya diikat bak ekor kuda. “Kemana?” Tanya Ridwan mengeryit seingatnya ia tidak menjanjikan sesuatu pada Adelia. “Belanja!” Jawab Adelia dengan senyuman begitu berbinar. “Nggak sudi gue!” Tolak Ridwan mentah-mentah. Seketika membuat mood Adelia menjadi buruk. Ridwan mengibarkan bendera perang kembali. “…” Adelia memilih mencuci tangannya terlebih dahulu daripada membalas omelan Ridwan yang membuat Adelia ingin marah kembali. Ridwan menatap Adelia yang pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun kepadanya. Hati dan fikiran Ridwan benar-benar sudah tidak sejalan rupanya, fikirannya benar-benar menolak dan enggan untuk mengantar Adelia berbelanja, tapi hatinya seperti mendesak Ridwan untuk segera menyusul Adelia sebelum jauh. Dan lagi, hatinya menang dari fikirannya. Ridwan segera beranjak mengambil kunci mobilnya di atas kulkas. Dan benar, Adelia masih terduduk di teras rumah. “Ayok!” Ajak Ridwan dengan wajah muramnya, masuk ke mobil terlebih dahulu. “Gitu dong!” Jawab Adelia begitu sumringah sedangkan Ridwan hanya diam. “Nggak beli mesin cuci?” Tanya Adelia teringat jika di kontrakan rumah Ridwan belum ada mesin cuci. “Ada lo!” Jawaban singkat Ridwan membuat Adelia bungkam, nampaknya memberikan Adelia pekerjaan rumah tidak main-main. “Niat banget ya jadiin istri babu!” Sindir Adelia yang perlahan turun dari mobil begitu mobil sudah sampai di basement parkiran. Ridwan hanya mengulum senyum mencoba menyembunyikan kesenangannya dalam mengganggu istrinya yang pemarah itu. Ah, bukan pemarah hanya saja Ridwan yang terlalu usil kepadanya. Adelia mulai memilih bahan-bahan makanan yang sekiranya ia perlukan nanti sedangkan Ridwan mengikutinya dari belakang dengan mendorong trolly. Adelia memasukkan beberapa bahan pokok, Ridwan pun hanya memandang Adelia yang nampaknya mulai tidak menyadari kehadirannya mulai sibuk dengan deretan kemasan. “Nggak usah banyak-banyak! Inget gue nggak bakal makan masakan elo!” Peringatkan Ridwan, dengan Ridwan mau mengantar Adelia berbelanja bukan berarti lelaki itu bersedia memerankan peran suami yang sesungguhnya dan melupakan pendiriannya soal tidak akan memberikan keterkaitan yang begitu dalam dengan Adelia. “Iya, mas Ridwan tenang saja. Adel berbelanja untuk diri Adel sendiri kok.” Jawab Adelia kemudian memasukkan satu kemasan kotak s**u ke dalam trolly. “Segini banyak?” Tanya Ridwan tercengang mendengar jawaban Adelia yang diluar dugaan. “Iya, mumpung hidup numpang.” Jawab Adelia yang justru menunjukkan cengiran menyebalkan miliknya membuat Ridwan justru kesal. Niat hati ingin membuat Adelia marah justru sekarang kini ia yang terpancing kemarahan. Adelia sibuk memilih buah, Ridwan pun hanya menatap Adelia yang dengan teliti memasukkan buah apel ke dalam kantong kreseknya untuk ditimbang terlebih dahulu. “Del, Gue sekalian Jeruk!” Celetuk Ridwan berbisik pelan pada Adelia yang berada di sebelahnya. “Katanya belanja buat aku saja?” Cibir Adelia mengulang kata Ridwan bahwa Adelia tidak boleh berbelanja terlalu banyak sebab Ridwan tidak akan sudi memakan itu semua. “Del!” Panggil Ridwan kesal pada Adelia yang membolak-balikkan kata yang ia ucapkan. Adelia tidak menjawab perlahan ia meraih kantong plastic dan memasukkan beberapa jeruk menuruti sang empunya kartu debit yang ternyata juga menginginkan buah. Ddrrtttt…dddrtttt… Maryam is calling… Ridwan membaca sebentar siapa yang sedang menghubunginya sekarang ditengah ia sedang cuti di kantor. Adelia tahu siapa yang menghubungi suaminya tapi ia justru berlagak tidak tahu, tidak ada yang perlu didebatkan. Ia sudah tahu jika Ridwan masih belum bisa melepaskan kekasihnya itu. Dan lagi, nanti jika tiba saatnya Adelia tidak tahu siapa yang akan Ridwan pilih. Bukan tidak tahu, Adelia hanya mengikuti alur yang diberikan Tuhannya saat ini kepadanya. Untuk pertama kalinya, Ridwan menolak panggilan dari Maryam. Ia mematikan data selulernya terlebih dahulu sebelum memasukkan kembali ponselnya. Adelia melirik sebentar namun dia tetap diam, meski dalam hatinya ia terheran-heran ada apa dengan Ridwan. “Adelia!” Panggil seseorang membuat Adelia dan Ridwan menoleh secara bersamaan. Seorang lelaki dengan membawa sebuah trolly juga namun ia hanya sendiri, Adelia menyipitkan matanya mencoba mengingat siapa yang tengah berdiri di hadapannya kini. Ridwan justru memandang keduanya secara bergantian menunggu respon istrinya yang tampak linglung ini. “Ah gue inget Elang bukan?” Tanya Adelia dengan mata begitu berbinar berhasil mengingat mantan kekasihnya dulu semasa di bangku SMA. “Iya, mantan elo yang paling cakep nih!” Canda Elang membuat Adelia yang langsung memanyunkan bibirnya tidak terima dengan candaan mantannya yang sama sekali tidak berubah sejak dulu. “Ini?” Tanya Elang yang mengulurkan jabat tangan pada Ridwan yang berdiri di samping Adelia. “Ini…” Ucapan Adelia menggantung begitu matanya bertemu dengan sorot mata Ridwan, ia bingung harus menjawab apa takut memancing emosi Ridwan yang beberapa hari ini tidak terlalu banyak cekcok di antara mereka. “Saya Ridwan, suami Adel!” Jawab Ridwan membalas jabatan tangan Elang, tidak enak hati jika mengabaikannya terlalu lama. Ridwan bisa melihat ada keterkejutan dimata mantan kekasih istrinya itu. Bukan Elang yang terkejut tetapi Adelia juga, dia yang awalnya mempunyai niat untuk menyembunyikan saja status dari Ridwan. “Wah, parah lo! Del, nikah kaga ngundang gue!” Ucap Elang mencoba mencairkan suasana yang canggung yang sangat terlihat pada pasangan pengantin baru itu. “Lah gue gak tahu elu sekarang dimana?” Ucap Adelia jutek, membuat Elang mengulum senyum. “Gue di Jakarta sekarang, Del! Kapan-kapan deh ngopi bareng. Ayok duluan!” Pamit Elang yang dibalas anggukan oleh Ridwan. Adelia pun kemudian berjalan kembali menuju kasir, ia merasa belanja hari ini sudah cukup banyak dan cukup untuk mengisi kulkas Ridwan yang tadinya sangat kosong itu. Setelah selesai membayar semua total belanjanya, Ridwan justru berjalan bukan kea rah basement tempat mereka memarkirkan mobil mereka melainkan ke sebuah gerai toko eletronik. “Lah, mas Ridwan kok kesitu?” Tanya Adelia heran, namun sang pemilik nama lengkap Ridwan Permana itu justru tak menghiraukan pertanyaan istrinya itu. Adelia menghela nafas, sikap dingin suaminya telah kembali seperti biasa mengabaikannya. Adelia terdiam sesaat, ketika Ridwan sedang melihat-lihat mesin suci di gerai toko itu. Adelia mengulum senyum, diam-diam suaminya ternyata peka juga dengan permintaan istrinya. “Mau yang mana?” Tanya Ridwan begitu pelayan toko sudah menghampiri mereka siap untuk menjelaskan produk-produk di toko tersebut. “Yang ini!” Ucap Adelia menunjuk mesin cuci satu tabung, karena bentuknya yang simple mampu mengikat minat Adelia untuk memilikinya. “Mau dilihat dulu?” Tawar Pelayan pada Ridwan yang masih menimang-nimang produk yang dipilih oleh Adelia. “Nggak mas! Ini aja nanti kirim ke rumah saya ya!” Ucap Ridwan pada pelayan, pelayan segera memproses transaksi Ridwan. Adelia yang masih menenteng belanjanya mulai kewalahan dengan beban di tangannya. Ridwan pun meraih salah satu kantong yang berada di tangan kanan Adelia. Kemudian Ridwan memberikan kunci mobil padanya, Adelia hanya mengerutkan keningnya tak paham maksud suaminya. “Lo balik dulu ke mobil! Tunggu gue disana.” Ucap Ridwan menjawab kebingungan Adelia. Tanpa ba-bi-bu Adelia meraih kunci mobil dan menuju ke basement tempat parkiran mobil. Dia tidak bohong ia sudah lelah menenteng kantong belanja kemudian diajak Ridwan berkeliling gerai elektronik. Setelah memasukkan belanja di bagasi, Adelia memilih menunggu Ridwan di dalam mobil. Tampaknya Ridwan akan sedikit lama, Adelia memutuskan untuk mengeluarkan ponselnya. Betapa banyaknya panggilan masuk dari nomor yang perempuan itu tidak dikenal. Adelia tampak bosan juga menunggu Ridwan yang tak juga datang. Dia mulai memainkan apapun yang tangannya temukan di mobil Ridwan, sampai akhirnya ia temukan sebuah cincin di dalam dashboard mobil Ridwan, di dalamnya terukir nama Ridwan dan Maryam. Sakit? Tentu saja, bagaikan tancapan di belati kembali memenuhi ruang hatinya sama persis ketika Ridwan membandingkannya dengan Maryam. Matanya memanas melihat cincin yang masih tampak berkilau itu seperti belum dipakai. Tes… air matanya tak bisa dibendung, rongga dadanya sesak benar-benar tercekat layaknya oksigen benar-benar hilang di rongga dadanya. Adelia segera menghapus air matanya dan memasukkan kembali cincin itu ke dalam tempatnya begitu mata perempuan itu melihat Ridwan yang berjalan menuju ke mobil. Ridwan masuk sekilas memandang Adelia, matanya menangkap ada bekas air mata di pipi istrinya. Adelia hanya diam memandang luar perlahan pandangannya turun menatap nanar cincin yang melingkar di jari kirinya. Seperti tidak ada yang berarti cincin itu bagi Ridwan, Adelia benar-benar tidak habis fikir. Dosa masa lalu apa yang ia perbuat sampai ia harus terjebak dalam pernikahan dengan cinta dari salah satu pihak saja. “Lo kenapa?” Tanya Ridwan akhirnya membuka suara karena Adelia benar-benar diam sejak Ridwan masuk mobil hingga mobil itu sudah melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. “Adel kenapa? Orang nggak kenapa-napa.” Jawab Adelia berpura-pura bingung. Bukan menutupi, Adelia hanya tidak ingin merusak momen hari ini. Seharian penuh menghabiskan waktunya dengan Ridwan adalah momen langka yang tidak ia harapkan sebelumnya. Jika Adelia tidak berharap lebih, tentu saja Adelia berharap lebih melihat sikap Ridwan yang perlahan hangat kepadanya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD