THE WEDDING'S DAY

3346 Words
Hari ini, matahari menggantikan embun yang perlahan menghilang dibalik semak-semak rerumputan. Kehangatannya menembus celah-celah yang ada, membuat sang merpati tak hanya memeluk dirinya sendiri dalam sarang pohon. Akbar sejak tadi memandang dalam diam saudara kembarnya yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Menjadi seorang istri dari Ridwan, benar-benar dewasa. Tidak seperti yang lain mengabadikan momen-momen bahagia Ridwan dan Adelia, Akbar hanya diam memandang perempuan yang sedang dirias itu, tatapannya tak bisa dipungkiri selain perasaan haru menyelimutinya. “Lu ngapain sih Bar? Mantengin gue mulu.” Omel Adelia yang sedikit malu begitu Akbar menatapnya dalam diam, tak seperti biasanya abangnya itu menatapnya penuh arti. “Gue? Ngapain ?” Tanya Akbar balik memandang satu persatu pasang mata di dalam ruangan itu. “ Akbar tuh cuman terharu akhirnya saudara kembarnya menikah juga.” Ucap Fariza sambil mengusap lengan suaminya. Adelia terdiam memandang haru pada Akbar yang justru langsung mengalihkan pandangannya menghindari kontak mata dengan Adelia. “Sini peluk sini!” rengek Adelia yang berubah manja melambaikan kedua tangannya pada Akbar yang justru kesal dengan sikap saudaranya itu, manjanya tidak pernah hilang jika berhadapan dengan Akbar. “Ogah nanti jas gue kena make up elo!” tolak Akbar menggoda Adelia yang semakin kesal pada dengannya. Akbar bergegas keluar ruang rias, entah mengapa sejak tadi dia memang terdiam begitu sebentar saja ia menemukan ada tatapan sendu di mata Adelia yang tertutupi secara rapi. Akbar bergantian menuju kamar rias pengantin pria, disana ia menemukan Ridwan yang justru duduk termangu menatap jendela luar. “Lu ngapain Wan?” Tanya Akbar menepuk pundak Ridwan yang ternyata tidak menyadari kedatangannya. “Gue sedikit gugup, Bar.” Jawab Ridwan jujur apa adanya. Akbar ikut memandang luar jendela, keluarga besar Adelia dan Ridwan sudah berkumpul menunggu akad nikah dilaksanakan. Dalam hati Ridwan bertanya, pernikahan ini bukan pernikahan yang ia harapkan. Harapan membangun bahtera rumah tangga dengan Maryam, pupus sudah. Tapi, kenyataannya ia gugup ketika beberapa menit lagi akad nikah dilaksanakan. “Ini belum seberapa. Nanti momen paling gugup waktu selesai ijab Kabul dan Adelia keluar ruangan.” Bantah Akbar mengingatkan Ridwan. Benar juga, Ridwan belum mengalami dimana beberapa menit kemudian ia dan Adelia bukan lagi dua insan yang terjebak perjodohan melainkan sepasang suami istri yang sudah sah di mata hokum dan agama. Tok…tok… “Mas Ridwan ! penghulunya udah datang.” Ucap seorang lelaki remaja yang diperintahkan untuk menjemput Ridwan. Ridwan berjalan menyusuri kerumunan manusia, semua mata tersenyum kepadanya dan tak bisa mengalihkan pandangan dari Ridwan. Ada Rokhim, ayah Ridwan yang tampak bangga menatap Ridwan mengenakan pakaian serba putih. Ibu Ridwan tampak menangis haru, sesekali ia menyeka air matanya yang hampir jatuh. Akad nikah dimulai, dengan perasaan campur aduk Ridwan menjabat tangan sang penghulu. Kemudian Adam mulai melafalkan kalimatnya, semuanya hening tampak mendengarkannya dengan seksama. Begitu selesai, kini giliran Ridwan. “Saya terima nikah dan kawinnya. Adelia Aninbagaskara binti Adam Bagaskara dengan mas kawin sedemikian dibayar tunai.” Ucap Ridwan berusaha menutupi kegugupannya meski akhirnya kalimat itu terucap begitu lancar. “SAH?” Tanya sang penghulu menatap para saksi. “Sah.” Ucap para saksi serempak. ‘ “Mempelai wanita bisa menemui mempelai pria sekarang.” Ucap penghulu. Begitu mendengar ucapan penghulu, Fariza menyusul Adel yang mungkin kini sekarang sedang menunggu di ruang rias. “Del? “ Panggil Fariza membuat Adelia segera menoleh. “Ayo keluar!” Ajak Fariza pada adik iparnya yang kini dibalut dengan gaun serba putih. Fariza pelan-pelan menuntun Adelia yang sedikit susah berjalan karena gaunnya yang begitu besar. Hatinya berdegup kencang begitu memandang seisi ruangan rumahnya yang kini berubah menjadi bak istana yang begitu megah. Air matanya tak terbendung begitu sorot matanya bertemu dengan tatapan Ridwan yang tak bisa Adelia artikan. Untuk pertama kalinya, Adelia melihat sorot hitam pekat mata Ridwan. Laki-laki yang ia kejar kini telah sah menjadi suaminya. Keringat dingin mulai keluar, Adelia menarik nafas dalam agar kegugupannya tak membuat semuanya justru terlihat berlebihan. Padahal sangat jelas, Adelia sangat bahagia hari ini. Menjadi ratu sehari semalam dengan Ridwan sebagai rajanya adalah impiannya. Langkahnya berhenti tepat dihadapan Ridwan, laki-laki itu tersenyum padanya sedangkan Adelia hanya menatapnya diam. Ia tidak bisa tersenyum membalas senyuman Ridwan yang jelas-jelas bagi Adelia itu senyum palsu. Tangan Adelia menyambut uluran tangan Ridwan, mengecup punggung tangan Ridwan. Adelia tidak bisa mengontrol air matanya yang tidak sengaja jatuh mengenai tangan Ridwan. Adelia tak menyadari bahwa kegugupan miliknya menjalar pada Ridwan lewat kecupan singkat dan air mata yang membasahi tangannya. Cup… Ridwan mencium kening Adelia, Adelia memejamkan matanya tangisannya benar-benar tak bisa ia tahan. Ridwan yang melihat air mata mengalir membasahi pipi Adelia mengusapnya pelan dengan ibu jari tangannya. “Sadar Adelia ini bukan untukmu.” Batin Adelia menyakinkan dirinya bahwa perlakuan Ridwan saat ini bukan semata-mata untuknya melainkan menjaga reputasinya di depan banyak orang. *** Tamu masih silih berganti berdatangan, semakin menjelang malam suasana semakin ramai penuh dengan tawa disana sini, hidangan yang tersaji terus dibawa dari dapur menuju meja prasmanan. Berbeda dengan dua mempelai yang kini duduk bersandingan saling diam, menatap hiruk pikuk resepsi pernikahan mereka. Adelia menatap saudara kembarnya yang tampak asik mengobrol dengan istrinya, papah mamahnya sibuk bertukar cerita dengan mertuanya. Rani, sekretaris Akbar sekaligus sahabatnya juga tengah bercanda tawa dengan rekan-rekan kantornya. Hingga pandangan Adelia bertemu dengan pandangan laki-laki yang kini berjalan kearahnya, laki-laki yang dulu pernah menjadi dambaan hatinya. Ridwan menyadari kedatangan Dicky yang dengan senyuman yang penuh haru. Ada ketidak relaan disana yang Ridwan temukan. Adelia berdiri menyambut jabatan tangan Dicky, sedangkan Dicky tersenyum meski air matanya hampir saja tak bisa ia bendung. Perjuangan meluluhkan hati Adelia kembali ternyata tidak semudah dulu, kini ia benar-benar merelakan pada jodoh mantan kekasihnya itu. “Del, Gue balik dulu ya! Gue ada urusan kantor di luar kota besok!” Pamit Dicky seolah ia melupakan rasa perih yang teramat dalam. “Iya, Makasih ya Ky udah disempetin datang.” Ucap Adelia ramah. “Selamat Bro! gue duluan ya!” Ucap Dicky menjabat tangan Ridwan yang dibalas senyum dan anggukan Ridwan secara bersamaan. Dicky berpamitan juga dengan tamu undangan yang sekiranya ia kenal. Ridwan menatap kosong, bayangan senyum Adelia yang tulus untuk Dicky mengganggu pikirannya. Ada apa dengannya? Bukankah ia tidak menyukai Adelia? “Udah nggak usah sok melankolis ditinggalin mantan!” cibir Ridwan pada Adelia yang menghapus pelan-pelan air matanya. “Makanya dulu bilang sama papah elo, minta dinikahin sama Dicky anaknya direktur.” Cibir Ridwan tak henti-hentinya begitu tak mendapat respon dari Adelia. “Iya, tahu gitu Adelia bilang sama papah. Dijodohin sama Dicky bukan sama mas Ridwan.” Jawab Adelia dengan kesal. “Kamu!” Ucap Ridwan geram mendapat jawaban Adelia yang tidak terfikir olehnya. Pasalnya Adelia juga geram, bagaimana tidak di hari pernikahannya yang harusnya berisikan hanya sebuah kebahagiaan harus rusak suasana hatinya karena ulah suaminya yang memiliki mulut tajam itu. Adelia memilih memainkan ponselnya, menscroll beranda instagramnya, postingan orang terdekatnya berisikan foto pernikahannya saat ini. Ridwan yang melihat Adelia yang sibuk memainkan ponsel dengan cepat merebut ponsel itu dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya. “Mas Ridwan! Kenapa sih?” Tanya Adelia kesal melihat tingkah Ridwan yang tidak seperti biasanya. “Nggak enak diliatin tamu undangan Del!” Ucap Ridwan yang tiba-tiba dengan nada lembut. Adelia melihat seisi tamu undangan yang justru mengulum senyum melihat Ridwan dan Adelia justru sedikit bertengkar. Adelia akhirnya mengalah, jika hari ini adalah hari yang ia nanti-nanti semenjak tahu bahwa tunangannya adalah Ridwan Permana, kini ia berharap hari ini segera berakhir, ia sudah begitu lelah dan ingin meletakkan tubuhnya yang sejak tadi menyangga gaun berlapis-lapis seperti bukan dirinya. Ada wanita paruh baya dan juga laki-laki yang sudah beruban, dua pasangan itu menghampiri Adelia yang justru menunduk karena tidak menyadari kedatangannya. Ridwan segera berdiri, melihat Ridwan yang berdiri Adelia pun mengikutinya. Matanya berbinar begitu mendapati kakek neneknya yang masih diberikan umur panjang. “Adelia udah nggak minta saku kakek lagi ya ini!” Ledek kakeknya yang langsung membuat Adelia merengek. Semuanya tertawa termasuk Ridwan yang tanpa sadar mengulum senyum melihat tingkah manja istrinya di depan kakek neneknya. Adelia memeluk neneknya begitu sayang, neneknya yang menurut Adelia seperti mamahnya kelak jika mamahnya tua. “ Ridwan! Kalok Adel nakal pencet hidungnya ya!”Ucap Kakek Adelia dari papahnya, yang selalu tak pernah kehabisan pantun jenakanya. “Siap kek!” Ucap Ridwan kemudian memeluk kakek dan nenek dari istrinya itu. Sudah lama ia tidak merasakan hangatnya pelukan dari kakek neneknya, karena kakek nenek dari ayah dan ibunya sudah lama berpulang. Hingga di penghujung malam, tamu perlahan satu persatu berpamitan untuk pulang karena malam sudah sangat larut. Begitu juga Ridwan dan Adelia yang sudah memasuki kamar yang dulunya milik Adelia kini milik berdua. Di dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, mereka diterpa suasana hening kembali. Adelia yang sibuk menghapus make up dan Ridwan yang justru sibuk melihat berkas-berkas kantor miliknya. Adelia juga tidak mau mengajak ngobrol suaminya barang sebentar pun, tubuhnya sudah benar-benar lelah dan ia tidak mau meladeni sikap suaminya yang selalu dingin kepadanya. Adelia memilih mandi untuk menghilang bau keringat yang sejak tadi menempel di tubuhnya. ‘ Adelia mandi, Ridwan melirik sebentar melihat apa yang dilakukan perempuan yang kini menyandang sebagai istrinya itu. Ridwan memainkan ponselnya banyak panggilan tak terjawab dan pesan singkat. Pesan singkat yang berisikan ucapan selamat dari rekan-rekannya membuat Ridwan tersenyum simpul sampai akhirnya senyuman itu lenyap melihat dari siapa panggilan tak terjawab berpuluhan yang masuk di layar ponselnya itu. Maryam…. Hari ini Ridwan benar-benar lupa dengan sang pujaan hatinya itu, ia terlalu sibuk menikmati suasana pernikahannya dengan Adelia. Panggilan yang banyak masuk itu, seperti bukan Maryam yang ia kenal dan Ridwan tahu apa yang akan di katakannya nanti jika mereka bertemu. “Mas Ridwan!” Panggilan Adelia yang baru saja keluar kamar mandi mengalihkan pandangan Ridwan dari ponselnya. Matanya begitu tajam menatap dalam diam Adelia, membuat perempuan itu sedikit gugup. “Mas Ridwan mau tidur dimana?” Tanya Adelia lembut padahal pertanyaan itu tak harusnya ia lontarkan pada Ridwan. “Maksud elo gimana?” Tanya Ridwan bernada dingin menatap Adelia yang tampak menghela nafas panjang. “Bisa nggak sih mas? Nggak usah dingin gitu aku juga nanya baik-baik kok.” Ucap Adelia dengan nada pelan, mencoba menekan emosinya agar tak meledak-ledak. “Ngapain gue harus lembut sama elo!” Hardik Ridwan yang kini justru dengan nada tinggi membuat Adelia yang kesal dan takut bercampur aduk perasaannya. “Ya udah, Mas Ridwan tidur di sofa aja ini kamar Adel. Lagian Adel tahu Mas Ridwan nggak mau satu ranjang sama aku.” Ucap Adelia yang justru membuat Ridwan menatapnya dalam diam. Adelia segera menenggelamkan dirinya dibalik selimutnya tak peduli tanggapan Ridwan kepadanya. Sedangkan Ridwan mengulum senyum, entah mengapa tingkah Adelia barusan sangat menggelitik perutnya. Ridwan membereskan berkas-berkas kantornya, mengambil handuk dan memasuki kamar mandi milik istrinya itu. Semuanya sudah disiapkan disana rupanya peralatan mandi miliknya, pakaian ganti. Adelia yang baru saja memejamkan matanya, membuka matanya kembali begitu mendengar suara pintu kamar mandi tertutup. Jujur saja, ia benar-benar tidak bisa membayangkan apakah ia bisa tidur malam ini terlebih dengan Ridwan. Tok…tok.. Ketukan pintu membuat Adelia mau tak mau harus bangkit dari acara rebahannya. Rambutnya yang sepunggung atasnya terurai, Adelia pun membuka pintu menampilkan wajah saudara kembarnya yang memasang wajah tengilnya. “Kirain udah mulai malam pertama.” Goda Akbar dengan wajah tengilnya tanpa dosa. “Apaan, ngapain elo kesini?” Tanya Adelia begitu galak pada Akbar yang justru hanya cengar cengir menyerahkan beberapa kue dan air mineral. “Basa basi kan lu!” Cibir Adelia menerima sodoran makanan dari Akbar. “Dasar Akbar jelek!” BRAAKKK… Baru saja Akbar akan membalas namun justru Adelia dengan kekuatan super menutup pintu kamarnya secepatnya. Akbar pun berlalu, sedangkan Adelia menaruh makanan itu di meja kamarnya dan ia berjalan kembali ke ranjangnya. Ddrrttt…ddrrttt… Ponsel Ridwan di ranjang bergetar, mengalihkan perhatian Adelia yang juga sedang memainkan ponselnya. Sejenak matanya melirik, menemukan nama Maryam yang tengah menelepon. Awalnya sakitnya bukan main tapi kini justru Adelia tampak biasa dan tidak terganggu. Setelah ijab qabul ini, Adelia berjanji bahwa akan membuat hatinya sekuat cintanya pada Ridwan tidak akan memudar sebab penolakan Ridwan. Ia tetap bersikeras sekerasnya batu tetap akan terkikis air hujan. Adelia bangkit mengambil makanan dan menaruhnya di nakas samping ranjangnya. Ponsel Ridwan kembali berdering sejalan dengan Ridwan yang sudah keluar kamar. Ridwan buru-buru menghampiri ponselnya, sejenak melirik raut wajah Adelia yang tampak biasa saja seolah tak mendengar dering nyaring yang berasal dari ponsel Ridwan. “Siapa?” Tanya Ridwan memulai pembicaraan pada Adelia yang hanya diam. “Apanya?” Tanya Adelia bingung dengan arah pembicaraan Ridwan yang kini duduk di sampingnya. Sepertinya laki-laki itu memilih tidur di ranjang bersama Adelia saja daripada ia harus tidur di sofa atau membiarkan Adelia yang tidur di sofa. Ridwan tidak membuka chat yang berasal dari Maryam sama sekali, justru ia sibuk mere-post postingan temannya yang menandai dirinya di foto resepsi miliknya. “Yang dating barusan?” Tanya Ridwan menjawab pertanyaan Adelia. “Akbar!” Ucap Adelia kemudian memasukkan lagi satu suapan ke dalam mulut mungilnya. *** Matahari mulai menampak wajahnya menusuk setiap sela yang ada dengan sinarnya, sela-sela jendela yang tidak tertutup tirai mulai diterpa cahaya sanga fajar. Adelia mulai membuka matanya, mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba mngumpulkan nyawanya. Hampir saja ia terjungkal, ia melihat Ridwan yang masih terpejam disamping dirinya. Wajah damainya, begitu tampak lembut tak mengira jika Ridwan mempunyai sikap galak dan dingin kepada Adelia, ya tampaknya hanya kepada Adelia saja lelaki itu tak pernah memberikan sikap ramah. Adelia memilih bangun dan segera mandi. Di hari spesialnya hari pertama ia menjadi istri Ridwan. Ridwan mulai terusik dengan suara gemuruh air dari kamar mandi, ia tapi tak membuka mata lebih memilih memejamkan mata meski sudah terjaga. Tak berapa lama, Adelia keluar kamar mandi dan menemukan Ridwan yang sudah membuka mata menatap gerak-gerik Adelia. Adelia yang merasa diperhatikan membalas tatapan tajam Ridwan, ia merasa akan terjadi perselisihan pagi-pagi dengan Ridwan. “Elo nggak usah terlalu bahagia gitu deh Del!” Cibir Ridwan yang melihat kegembiraan yang terpancar dari mata Adelia yang ternyata tidak bisa ia tutupi. “Nanti setelah resepsi di Bandung, kita tinggal di kontrakan aku dan kita nggak bakal satu kamar lagi!” Tegas Ridwan tekankan ketika mengucapkan kata satu kamar. “Emang kenapa kalok kita satu kamar mas? Kita kan suami istri.” Jawab Adelia yang nampaknya tidak terima dengan pemikiran suaminya yang terbilang nyeleneh itu. “Jangan harap!” Bantah Ridwan dengan nada tinggi. “Aku nggak berharap tapi itu hak aku protes dengan ucapan nyelenehmu itu.” Bantah Adelia tidak terima, entah mendapat kekuatan darimana ia berani membantah setiap ancaman Ridwan yang biasanya hanya mampu ia dengar dan diam membisu. Ddrrttt…ddrrttt… Maryam is calling…. “Tuh pacar kamu telepon!” Hardik Adelia kesal dengan nama kontak Maryam yang sudah menelepon Ridwan di pagi buta ini. “Apa urusannya sama loe?” Tantang Ridwan tidak terima begitu Adelia memberikan sebutan pacar untuk Maryam. “Apa urusannya? Aku istri kamu kalok kamu lupa!” Tegas Adelia yang berakhir suaranya terdengar parau. Nampaknya emosinya benar-benar meledak melihat betapa egoisnya Ridwan dan butanya lelaki itu terhadap kesalahan siapa permasalahan pagi ini. “Iya, gue tahu elo istri gue! Tapi jangan harap gue ada perasaan buat elo! Sedikitpun tidak ada Adelia! Sadarlah!” Ucap Ridwan menyeringai Adelia yang tampaknya sangat membanggakan tentang status yang ia sandang saat ini. “Apa sih hebatnya Maryam Maryam itu, sampai kamu nggak pernah pake hati setiap ngomong sama aku?” Tantang Adelia yang kini beruraian air mata yang mengalir perlahan membasahi pipinya. “Elo nggak ada sedikitpun yang lebih unggul dari dia. Bidang apapun itu!” Tegas Ridwan yang emosinya benar-benar memuncak di ubun-ubun, sampai kata-kata yang keluar dari mulutnya benar-benar tak bisa ia kendalikan. “Oh ya! Aku bakal buktiin ke mas Ridwan kalok Adel lebih baik daripada perempuan itu!” Tegas Adelia percaya diri bahwa ia bakal mampu membuat seorang Ridwan jatuh hati padanya. “Hahaha… udahlah Del ! nggak usah capek-capek lo! Buang tenaga doing nanti!” Cibir Ridwan tanpa sengaja mengusap kepala Adelia. Laki-laki itu tak menyadari apa yang ia lakukan sangat memberi sensasi dasyat bagi perempuan di depannya yang sedang berada di puncak emosinya. Adelia terdiam sejenak, tapi ia tak melupakan emosinya yang saat ini meluap-luap. Ia belum pernah bertemu dengan gadis pujaan hati Ridwan yang bernama Maryam itu, tapi kecemburuannya membuat hatinya membenci gadis itu. Bagaimana tidak? Gara-gara gadis itu Adelia harus menanggung kesalahan yang ia sama sekali tidak terkait di dalamnya. Sikap Ridwan yang selalu dibicarakan orang-orang kepadanya adalah sosok yang lembut, tetapi di depan Adelia lelaki itu sama sekali tidak persis dengan yang dibicarakn mereka. Adelia harus menerima sikap kasar,dingin galak pada suaminya yang selalu menyalahkan keadaan dan memojokkannya seolah-olah pernikahan ini adalah berhasilnya Adelia membujuk papahnya. Miris! “Sampai nanti elo ketemu sama Maryam. Elo jangan minder!” Ledek Ridwan kemudian menyeringai wajah Adelia yang masih saja memasang wajah masam padanya. “Terserah!” Ucap Adelia mulai lelah mendengar ucapan Ridwan yang semakin lama ia bersamanya semakin merobek-robek hati Adelia tanpa emmikirkan perasaan perempuan itu. Adelia berjalan keluar kamar, menuju meja makan yang sudah tertata rapi makanan-makanan Akbar sudah duduk rapi di meja makan bersama papahnya, sedang Fariza membantu mamahnya menata makanan di meja makan. Dan Adelia datang setelah semuanya selesai sungguh mulia putri semata wayang Adam itu. “Ridwan nggak di ajak turun Del?” Tanya Adam melihat Adelia yang turun sendirian. “Mas Ridwan masih mandi!” Ucap Adelia sekenanya ia sangat malas sebenarnya menutupi hal yang sebenarnya terjadi antara dia dan Ridwan. “Bilang dong sama Ridwan suruh cepet turun gue mau berangkat kerja.” Goda Akbar pada Adelia yang tampak malu-malu menyebut nama suaminya itu. “Ogah! Wek!” Ledek Adelia pada Akbar yang langsung merubah wajahnya menjadi kesal. “Awas ya lo Del!” Ancam Akbar geram melihat saudara kembarnya yang selalu sengaja memancing emosinya keluar. “Iya, Adel tunggu bang Akbar!” Ucap Adelia menantang dengan nada bicara yang sengaja dibuat-buat. “Mah, Adel!” Ucap Akbar mengadu sama mamahnya. “Udah kalian itu bener-bener!” Ucap Dea, dia selalu dibuat pusing jika putra-putrinya sedang berkumpul hanya pertengkaran sampai umur mereka beranjak dewasa pun tetap saja. Jika bukan Adelia yang menggoda, Akbar terlebih dulu yang menggoda. Seperti it uterus sampai membuat kadang papahnya ikutan pusing. Adelia bangkit ia pikir mungkin saja Ridwan sudah mandi, Adelia menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menormalkan kembali hati dan fikirannya yang tadinya dipenuhi kemarahan karena ulah Ridwan. “Mas!” Panggil Adelia dari ambang pintu pada laki-laki yang sedang memainkan ponselnya di kursi kamar. “Ayo turun! Sudah ditunggu yang lain sarapan dulu!” Ucap Adelia begitu yang dipanggil hanya menoleh tanpa menanyakan keperluan Adelia. Perempuan itu pun dengan sabar mencoba kembali lembut pada Ridwan meski tadinya emosinya benar-benar hampir meledak. Ridwan pun turun mengikuti langkah Adelia yang sangat lincah menuruni tangga rumahnya. Ridwan menunduk seolah tak menyadari jika kini semua orang di ruang makan sedang memperhatikannya. “Wih! Ini nih menantu papah udah bangun!” Goda Adam mencairkan suasana agar tidak canggung. Nampaknya menantu laki-lakinya sedikit pendiam dibanding Akbar. “Jadi Fariza bukan menantu papah?” Tanya Akbar pura-pura tidak terima membuat semuanya mengulum senyum melihat tingkah kekanak-kanakan Akbar. “Iri kan iri!” Ledek Adelia pada Akbar membuat Akbar ingin sekali mengacak-ngacak rambut saudara kembarnya yang meski sudah menikah namun sikap manjanya kepada Akbar tidak akan hilang rupanya. Adam dan Dea saling melempar pandangan menunggu bagaimana sikap Adelia pada Ridwan. Senyum pasangan yang sudah mulai tua itu merekah begitu tebakan keduanya benar, Adelia mengambilkan nasi milik Ridwan. Benar-benar Dea semasa muda dulu. Ridwan sedikit tersentuh hatinya, melihat sikap Adelia yang tampak biasa saja padahal kejadian pagi tadi pertengkaran mereka sangat hebat. Ah bukan, lebih tepatnya perempuan itu pandai dalam menutupi lukanya. Nasi yang diambilkan Adelia pun sangat pas dengan porsi yang biasa Ridwan makan. Dalam hati Adelia benar-benar sangat menyayangkan pernikahan Ridwan dengannya hanya akan tampak seperti eprnikahan sesungguhnya ketika mereka terjebak suasana yang mengharuskan keduanya bersikap layaknya suami dan istri. Tapi Adelia cukup bersyukur setidaknya Ridwan dapat menjalankan perannya sebagai suami Adelia meski hanya pura-pura. Adelia pun menyantap makanannya, perempuan itu tidak sadar sejak tadi ada yang memperhatikan raut wajahnya. Fariza, kakak iparnya yang mengetahui dengan jelas bagaimana hubungan Adelia dengan Ridwan sesungguhnya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD