PRA-WEDDING

3125 Words
“Del, Nanti kamu fitting baju kan sama Ridwan?” Tanya Dea seraya menyodorkan roti dengan selai nanas di dalamnya ke Adelia yang sedang meneguk s**u cokelat hangat miliknya. Adelia yang sedang menelan s**u hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari mamahnya. Hari ini memang ada janji dengan designer baju pengantin untuk fitting baju, designer yang sama saat saudara kembarnya menikah. Adelia tidak menyangka pernikahannya hanya berjarak beberapa bulan saja setelah Ridwan menyetujui perjodohan itu. Jika ada yang berharap hubungan Adelia dan Ridwan semakin membaik setelah sekembalinya mereka dari Bandung? Jawabannya adalah salah. Tidak ada yang berubah antara mereka, Adelia yang selalu terlihat lembut pada Ridwan dan Ridwan yang selalu menepis segala ketulusan yang diberikan dengan caci maki dan ucapan kasar. Dimana sembari ditegaskan tidak sepatutnya laki-laki kasar terhadap perempuan bagaimanapun kondisinya bukan? Adelia menscroll chat di ponselnya, ia melihat pesan yang ia kirim kepada Ridwan hanya dibaca tanpa dibalas. Seperti biasanya, Adelia tersenyum tulus ia menyemangati dirinya sendiri dengan perlakuan Ridwan. Setidaknya dibaca meski tidak dibalas daripada semasa dulu tidak dibaca dan tidak akan pernah dibuka. To Mas Ridwan: Mas Ridwan ingatkan hari ini ada fitting baju. Centang dua abu-abu langsung berubah biru namun tulisan online tidak berganti mengetik. Tanda Ridwan membaca tapi tidak membalas begitu tulisan online menghilang. Adelia tersenyum getir, namun seraya ia menscroll kontak ponselnya mencari nama yang sudah tenggelam karena pesan baru. To Fariza: Kak, temenin Adel fitting baju ya nanti? Akhirnya ia meminta kakak iparnya saja yang menemaninya fitting baju. Bukankah lucu jika nanti Adelia datang sendirian tanpa adanya orang yang menemaninya. Fariza: loh nggak sama Ridwan? Adelia : Nggak. Jawaban singkat itu hanya dibalas sebuah emoji jempol dimana Adelia yakin jika kakak iparnya itu mengerti. Setiap ia mengingat Ridwan, Adelia akan mengingat nama yang tertera di ponsel lelaki itu. Nama yang ia yakini sebagai nama pujaan hati calon suaminya. Fariza : Jam berapa fittingnya? Mobilnya masih dipake sama mas Akbar. Adelia : Jam 9 aja. Adelia selalu menjadikan saudara kembarnya sebagai panutannya setelah papah dan mamah. Bergelimpang harta tapi tidak pernah membeli barang yang dianggap tidak begitu diperlukan. Seperti mobil cukup satu, hanya Akbar yang memakainya karena sejak menjadi istri Akbar kakak iparnya itu tidak lagi bekerja hanya sebagai ibu rumah tangga. Adelia bergegas mengambil kunci mobilnya, arloji jam di tangannya menunjukkan masih pukul tujuh tigapuluh menit. Ia ingin berkunjung ke rumah Akbar saja sekalian menjenguk Aufar keponakan satu-satunya. Baru saja ia keluar rumah, ia sudah mendapati sebuah mobil terparkir diluar gerbang. Adelia familiar dengan mobil itu, bukan mobil Ridwan maupun orang-orang yang sekarang dekat dengannya. Melainkan mobil Dicky, mantan kekasihnya 2 tahun silam. Adelia menghela nafas, ia lelah setiap ia keluar rumah harus bertengkar terlebih dahulu baru mengusir lelaki yang ia putuskan beberapa tahun silam. Jika sejak kuliah Adelia hanya mengejar Ridwan, jawabannya salah perempuan itu sempat menjalin kasih dengan orang lain namun tetap saja ada secuil kecil ruang di hatinya untuk Ridwan yang ia sisakan. “Dicky!” Panggil Adelia sambil mengetuk kaca mobil, tak harus menunggu beberapa menit kaca itu pun terbuka menampilkan sosok lelaki dengan wajah blasteran Jerman-Indonesia tersenyum dengan senyuman ramah. “Pagi, Del!” Sapa Dicky dengan senyuman ramah meski ia melihat dengan jelas bagaimana wajah Adelia tidak bersemangat menyambut dirinya. “Lo pagi-pagi udah disini itu ngapain sih? Nggak enak diliatin tetangga Ky.” Ucap Adelia dengan nada sedikit kesal karena ulah Dicky. “Kok kamu gitu sih Del. Mau kemana jam segini udah rapi banget kamu?” Tanya Dicky mengalihkan topik pembicaraan agar bisa berlama-lama dengan Adelia. “Mau fitting baju.” Jawab Adelia dengan nada sewot. Adelia nampaknya tak menyadari jawabannya membuat Dicky membisu sejenak. “Mau nganterin siapa?” Tanya Dicky baik-baik menganggap mungkin saja ia salah paham mendengar jawaban Adelia. “Huffftt…..” Bukannya menjawab justru Adelia menatap datar Dicky yang masih tersenyum menunggu jawaban dari Adelia. “Dicky, dua minggu lagi aku menikah.” Ucap Adelia sangat pelan dan hati-hati tak ingin lelaki di depannya terkejut. Hening, Dicky tiba-tiba terdiam mematung, seperti ada yang hilang begitu saja dari hatinya. Beberapa tahun setelah putus, sepertinya usahanya sia-sia untuk mendapatkan hati Adelia. Memang bukan jodoh, sejauh apapun bertahan tetap tidak akan bisa bersama. “Kamu serius Del?” Tanya Dicky tersenyum getir, matanya Nampak berkaca-kaca. Sorot matanya sama persis ketika Adelia memutuskan hubungan mereka beberapa tahun silam. Iya, Dicky memang laki-laki yang sedikit cengeng. Semasa pacaran dulu, dia kerap menitikkan air mata setiap bertengkar dengan Adelia. “Gue serius Dicky, gue jodohin sama anak rekan bokap gue.” Bohong Adelia karena pada dasarnya papahnya menjodohkannya dengan Ridwan atas dasar papahnya tahu siapa yang diinginkan oleh putri semata wayangnya itu. “Dijodohin? Emang masih jaman ya Del? Kamu nggak suka kan sama dia?” Tanya Dicky mencoba menggali lebih dalam. Mencoba menemukan barangkali masih ada kesempatan untuk merebut hati mantan kekasihnya itu. Adelia menggeleng tak mengerti dengan jalan fikiran Dicky yang masih saja menggali lebih dalam, mencari celah agar merobohkan pendirian Adelia. Tentu saja, tidak akan roboh perjodohan ini adalah yang diimpikan Adelia selama ia menyadari rasa yang ia miliki untuk Ridwan begitu dalam. *** Ridwan sedang menatap layar laptopnya yang menampilkan data-data distribusi marketing. Matanya memang tertuju pada layar laptopnya namun fikirannya sibuk berkeliling entah kemana. Ia teringat pesan yang dikirim Adelia semalam, haruskah ia pergi untuk fitting baju. Rasanya sangat malas dan tidak ada keinginan untuk menghabiskan waktu berlama-lama dengan Adelia. Ddrrtt…ddrrtttt… Adelia : Mas Ridwan ingatkan hari ini ada fitting baju ya! Pesan dari Adelia membuatnya semakin gusar, ia melempar sedikit kasar ponselnya ke meja kerjanya dalam keadaan terbalik. Ia tidak ingin pergi sudah itu saja, kata-kata yang ia tegaskan pada dirinya sendiri. Ddrrrttt…ddrrrttt… “Apala…” Ucapannya terpotong begitu pesan pop up yang ia kira dari Adelia ternyata bukan dari perempuan itu, melainkan dari Maryam kekasih hatinya. Senyumnya mengembang begitu membaca isi pesan singkat yang dikirim kepadanya. Maryam : Mas Ridwan nggak pulang ke Bandung. Kangen! To Maryam : Iya, Mas Ridwan nanti pulang. Senyuman lelaki itu memudar begitu matanya berpapasan dengan sebuah tatapan menyebalkan dari sahabat karibnya, Okky. Semenjak Akbar mempunyai istri dan juga kini istrinya tengah mengandung Ridwan jarang keluar barang untuk bersantai di kedai kopi langganan mereka. “Yang mau kawin, dapat chat dari calon bini aja udah kesemsem kayak remaja lagi jatuh cinta.” Goda Okky yang kemudian duduk di meja Ridwan yang sudah memasang wajah masam. “Siapa yang bilang dari calon bini gua?” Tanya Ridwan sinis menatap Okky yang kini mengeryitkan kedua alisnya, tak mengerti maksud ucapan Ridwan. “Ky, gue boleh minta tolong nggak?” Tanya Ridwan yang tiba-tiba saja ia mempunyai ide yang sedikit membantunya dalam masalah kecil. “Apaan?” Tanya Okky kesal dengan tatapan misterius Ridwan, firasat Okky sahabat karibnya itu mempunyai ide gila untuknya. “Gantiin gue fitting baju.” Jawab Ridwan singkat dengan senyum sumringah guna menarik simpati Okky agar mau membantunya. “Lo Gila!” Umpat Okky spontan begitu mendengar ide Ridwan yang terdengar ngaco itu. Okky pikir dengan setujunya Ridwan menikahi adik presider direktur di perusahaannya, berarti cowok itu mau melakukan bagaimana prosedurnya sebelum menikah meski bukan dengan kekasihnya tapikan Adelia berstatus sebagai istri nantinya. “Demi apa elo senekad ini Wan? Lu pikir keluarganya Adel nanti gak berpikir macam-macam kalok gue gantiin elo.” Tanya Okky mulai meluapkan emosinya kepada Ridwan yang meninggalkan hati nuraninya di Bandung. “Ya itu kan tergantung elo Ky.” Jawab Ridwan santai kemudian menyilangkan kedua tangannya di belakang kepalanya, menyandarkan kepalanya yang bertumpu pada tangannya. Mengistirahatkan sejenak pikirannya yang akhir-akhir ini cukup berat. “Tergantung gue! Gimana bisa?” Bantah Okky tidak terima dengan lemparan masalah dari Ridwan yang kini justru di tangannya. “Yakan elo bilang gue lagi diluar kota, tugas kantor apa kek. Lagian kenapa elo yang datang di fitting baju kan gampang alasannya. Lu tinggal bilang kalok postur tubuh gue sama elo itu sama.” Jelas Ridwan terang-terangan. “Stress elo Wan!” Umpat Okky berkali-kali kepada sahabatnya yang nampaknya mulai tidak waras. *** “Yang mana Del butiknya? “ Tanya Fariza yang sedang mengemudi meski dengan perut yang perlahan membesar itu. “Yang itu tuh!” Tunjuk Adelia pada sebuah butik berwarna abu-abu terlihat beberapa mobil dan sepeda motor terparkir disana. Adelia pun turun mengikuti Fariza yang juga keluar dari mobil. Raut wajah Adelia tidak bisa berbohong jika perempuan itu sedang menunggu kedatangannya seseorang. Matanya menoleh ke jalanan dari arah kanan dan kiri berharap sebuah mobil yang familiar akan datang menyusulnya. “Hufffttt…..” Adelia menghela nafas berat ia tampak menyerah soal ajak mengajaknya dengan Ridwan. “Kenapa Del? Ridwan nggak datang?” Tanya Fariza yang langsung menuju titik temunya. Sejak ia mengenal bagaimana saudara iparnya itu, Fariza melihat dengan jelas bagaimana dalamnya perasaan Adelia kepada Ridwan, sahabat karib suaminya. Fariza juga melihat dengan jelas bagaimana Ridwan bersikeras menolak perasaan Adelia. “ Dateng kok Za, mungkin telat.” Bohong Adelia padahal ia tahu dengan jelas Ridwan tidak akan datang. “Oh ya udah sambil nunggu dia datang kita masuk duluan aja Del.” Ajak Fariza setelah melihat kebohongan tampak jelas di mata Adelia namun tetap saja ia menutupinya. Fariza berjalan terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Adelia, gaun yang ia pesan sedang diambilkan oleh pegawai butik. Fariza dan Adelia menunggu sesekali Fariza melirik Adelia yang tampak sibuk menyalakan dan mematikan layar ponselnya. Ting… Terdengar lonceng dari pintu masuk yang menandakan ada seseorang yang masuk. Adelia yang tadinya memasang senyum sumringah memandang pintu kini senyum itu memudar. Bagaimana tidak yang datang bukan Ridwan, calon suaminya melainkan Okky kerabat kantor Ridwan. “Ehm… Del! Istrinya Pak Akbar!” Sapa Okky sedikit canggung pada dua perempuan yang kini menatapnya tanpa berkedip sedikit terkejut rupanya dengan kedatangan Okky yang tiba-tiba. “Lo ngapain kesini Ky?” Tanya Adelia begitu kembali terbangun dari rasa terkejutnya. “Ridwan, Nyuruh gue gantiin dia dulu. Dia ada tugas kantor mendadak diluar kota.” Jawab Okky terbata-bata dia tak berani menatap Adelia takut mungkin kebohongannya akan terbongkar. “Nggak usah Ky.” Tolak Adelia sedikit kecewa mendengar penjelasan dari Okky, yang sangat jelas Adelia tahu jika lelaki itu tengah berbohong dihadapannya. “Eh, Nggak papa deh Del. Lagian Okky juga udah jauh-jauh dari kantor ya kan?” Bela Fariza melihat Okky yang tidak enak juga. Fariza merupakan istri Akbar, lelaki yang bernotabene sahabat karib Ridwan. Dari Akbar, Fariza mengenal bagaimana sosok Ridwan. Jika sekarang Okky menggantikannya, itu memang atas permintaan Ridwan bukan inisiatif Okky sendiri. “Ya udah deh Ky, coba nih!” Jawab Adelia menyodorkan tuxedo hitam yang tampak begitu elegan. “Maafkan gue Del !” Bisik Okky dalam hati seraya mengambil tuxedo yang sedang disodorkan Adelia kepadanya. Dalam hati, Okky berbisik bagaimana bisa Ridwan menelantarkan perempuan yang begitu sabar menghadapi sikap dinginnya selama bertahun-tahun. Dan lagi, sebentar lagi mereka akan menikah justru Ridwan semakin parah memperlakukan Adelia demi gadis pujaan hatinya di kampung halamannya yang bertepatan di Bandung. “ Positif thinking aja! “ Usap Fariza begitu melihat Okky yang sudah masuk ruang ganti. Ia menatap Adelia yang perlahan mengalihkan pandangannya untuk menutupi air matanya yang tak bisa lagi ia bendung itu. “Tapi ini tuh keterlaluan Za. Fitting baju pakek digantiin orang lain.” Omel Adelia yang memendam emosinya agar sebisa mungkin tidak meledak-ledak. “Iya, tapi kamu santai aja Del. Yang elo harus perlihatin sama Ridwan elo tetep stay cool. Biar dia semakin penasaran, gue tahu dia berusaha bersikap dingin tuh biar elo perlahan menjauh. Tapi kalok namanya udah mau nikah elo harus yakin sama diri sendiri, seorang Adelia pasti bisa bikin seorang Ridwan takluk hatinya.” Penjelasan panjang Fariza membuat Adelia menegakkan kembali bahunya, ia yakin sekerasnya Ridwan bisa ia taklukan dengan kehangata dari Adelia. Tak berselang lama, Okky keluar dengan setelan tuxedo yang tadi Adelia berikan untuknya. Adelia menatap Okky dengan senyum, ia tahu jika postur tubuh Okky dan Ridwan itu sama persis. Dan sekarang tuxedo itu melekat dengan pas di tubuh lelaki kelahiran kota Padang itu. “Andai ya Ky. Elo yang jadi laki gue!” Gumam Adelia tanpa sadar membuat Okky dan Fariza mendelik terkejut mendengarnya. Senyumannya yang tadi terlihat bahagia berubah menjadi sendu, ada pilu yang tertutupi disana. Dalam bayangan mata Adelia, FAriza melihat siapa yang kini perempuan tatap. Perempuan itu sibuk dengan imajinasi yang ia buat sendiri seolah Ridwan ada disana. “Jangan gitu deh Del! Gue baperan!” Canda Okky mencairkan suasana yang tadinya hening seolah dunia berhenti berputar pada Adelia. “Alah lu baperan!” Ucap Adelia kembali ke sifat aslinya begitu galak jika sudah berurusan dengan Okky. “Eh,Del ini gue gantiin Ridwan dapat upah gak nih?” Tanya Okky semakin mencairkan suasana begitu mendapat tanggapan galak Adelia, menandakan perempuan itu sudah tidak terlalu larut dalam perasaannya. “Yang nyuruh elo kesini siapa?” Tuding Fariza ikut bercanda karena sejak tadi perempuan itu hanya meratapi kesedihan adik iparnya sebab calon suaminya yang justru tidak datang saat fitting baju. “Ridwan!” Jawab Okky singkat dengan wajah sumringah tanpa merasa bersalah seperti sebelumnya. “Ya berarti elo minta Mas Ridwan lah.” Ucap Adelia kesal pada Okky yang langsung tidak bersemangat, menyesal membantu Ridwan yang ternyata Adelia dan Ridwan mempunyai persamaan. Mereka sama-sama menyebalkan ! *** Ridwan memutar bolanya malas begitu matanya bertemu dengan sorot mata Adelia yang sejak tadi tak berhenti menatapnya dari Ridwan keluar mobil sampai kini mereka berhadapan. Adelia terlihat sangat marah pada Ridwan yang kini dia justru santai tanpa merasa bersalah sedikitpun. Meski ia tahu sebab kedatangan Adelia pertama kali ke kontrakannya. “Tahu darimana elo kontrakan gue ?” Sarkas Ridwan yang memaki Adelia duluan begitu jarak keduanya hanya tinggal beberapa langkah lagi. “Aku saudara kembar sahabat kamu kalok kamu lupa mas!” Jawab Adelia tak kalah dingin dari laki-laki di hadapannya. “Maksud gue ngapain elo kesini!” Tanya Ridwan mulai meninggikan nada bicarannya, membuat Adelia beberapa detik mengerjapkan matanya sedikit terkejut dengan kemarahan Ridwan. “ Kamu kemana mas? Tadi siang?” Tanya Adelia mengintrogasi, ia tahu sejak awal kedatangan Okky, Ridwan tidak sedang tugas kantor ke luar kota laki-laki itu hanya menghindari Adelia seperti biasanya. Ridwan memutar bolanya malas memilih memutar kunci rumahnya dan segera masuk. Adelia hanya memandang kesal bukan main melihat bagaimana Ridwan menyambutnya selalu dengan emosi dan sikap dingin. Adelia ragu, ia tidak dipersilahkan masuk. Ia takut jika ia tetap menerobos masuk mengikuti Ridwan akan bertambah emosi Ridwan, ah bukan rasa benci Ridwan akan semakin dalam kepadanya. Wanita lemah! Sudah jelas Ridwan yang salah dalam perkara ini, namun dengan jelas Adelia masih menjaga sikap agar calon suaminya itu tidak marah kepadanya. “Lo ngapain disitu? Buruan masuk nggak enak diihat tetangga gue.” Ucap Ridwan dengan nada sedikit menggertak membuat Adelia kelagapan dan memutuskan segera masuk membututi Ridwan. “Elo mau pulang? Atau tunggu disini gue yang ngantar! Gue mau mandi dulu.” Tawar Ridwan yang ternyata menyadari kedatangan Adelia tidak membawa mobil. “Adel nunggu disini aja.” Jawab Adelia dalam hati begitu senang bagaimana tidak Ridwan menawarkan untuk mengantarnya pulang untuk pertama kalinya. Biasanya lelaki dingin itu akan segera mengusir keberadaan Adelia. Mendengar jawaban singkat Adelia, Ridwan segera masuk kamar mandi untuk membersihkan sekujur tubuhnya yang sudah lengket karena seharian di kantor mondar-mandir ditambah cuaca hari ini matahari cukup terik. Adelia hanya diam di ruang tamu, menatap sekeliling rumah kontrakan calon suaminya. begitu sederhana kehidupan Ridwan, hal itu yang membuat Adelia tak bisa menghindar dari pesona Ridwan meski beberapa kali ia mendapat penolakan baik dari cara halus maupun kasar. Ddrrtttt…drrrttt… Maryam is Calling… Semacam dejavu, Adelia hanya menatap kosong laya ponsel Ridwan yang kini menyala dan berdering menampilkan sebuah nama yang Adelia tahu pasti siapa itu. Senyuman yang tadi tak bisa ia sembunyikan hilang entah kemana, digantikan nafasnya yang tercekat terasa sakit dikerongkongan, lidahnya begitu kelu. Apalagi selain Adelia sedang menahan tangis, cengeng memang tapi sakit hati yang paling dalam adalah menyukai orang yang hatinya milik orang lain. Tepat ketika layar ponsel itu berhenti berdering, suara pintu kamar mandi terbuka terdengar. Menampilkan Ridwan yang sudah memakai kaos santai dengan celana jeans panjang. Ia menghampiri Adelia yang sejak tadi memainkan ponselnya saja. “Lo mau balik sekarang apa makan disini sekalian?” Tanya Ridwan, lelaki itu mengutuk hati dan pikiran yang tidak sejalan. Pikirannya menyuruhnya segera mengusir Adelia dari hadapannya, tapi apa sekarang hatinya justru dengan sukarela tanpa paksaan menawarkan diri untuk berlama-lama dengan calon istrinya itu. “Ha?” Tanya Adelia yang sedikit kaget mendengar tawaran Ridwan yang sama sekali tidak seperti biasanya dan bahkan terfikir oleh perempuan bernama lengkap Adelia Aninbagaskara itu. “Di depan ada orang jualan nasi goreng kalok elo mau.” Tawar Ridwan yang langsung dijawab anggukan cepat Adelia membuat Ridwan tersenyum sinis padanya. “Elo, nggak usah seneng dulu dengan sikap gue. Semua ini gue lakuin agar terbiasa saat ada papah dan mamah elo!” Tegur Ridwan melihat Adelia yang tidak berhenti mengulum senyuman bahagianya. “Iya, Adel tahu kok. Tapi akan ada suatu hari dimana mas Ridwan nglakuinnya atas kesengajaan hati mas Ridwan.” Ucap Adelia dengan senyuman yang justru terlihat menyedihkan. Sebenarnya, ucapan Adelia bukan ditunjukkan untuk lelaki yang kini berjalan keluar pintu utama, melainkan untuk menghibur hatinya yang kini sedang tertancap sebuah belati tak kasap mata karena ucapan Ridwan. “Udahlah Del, nggak usah mimpi yang aneh-aneh. Gue yang seperti itu hanya ada di imajinasi elo!” Hardik Ridwan yang ternyata terdengar oleh Ridwan. Sampai hati, sekembalinya dari memesan sebuah ketoprak Ridwan masih sempat untuk melontarkan ucapan yang tak kalah pedas untuk Adelia. Ridwan masuk kamar cukup lama dengan membawa ponselnya. Dari dalam ruang tamu Adel melihat penjual nasi goreng membawa dua porsi piring berisikan nasi goreng di masing-masing tangannya. Adelia melirik kamar Ridwan yang masih tertutup rapat, perempuan itu akhirnya berdiri menerima piring yang disodorkan oleh gadis penjual nasi goreng. Menurut penglihatan Adelia, gadis penjual itu masih cukup muda hampir seumuran dengannya sepertinya. “Neng, pacarnya Kang Ridwan?” Tanya gadis itu pada Adelia yang masih tersenyum ramah kepadanya. “Bukan, saya temen kantornya.” Bohong Adelia dengan senyuman membuat gadis itu mengangguk-angguk mengerti. “Kang, nasinya ini ya?” Teriak gadis itu pada Ridwan yang berjalan menuju ruang tamu. “Iya, Risma ! makasih!” Jawab Ridwan tak kalah ramah membuat Adelia terdiam, seperti canggung karena mendapati sikap Ridwan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ridwan dan Adelia segera menyantap nasi goreng yang masih mengeluarkan kepulan asap itu, pekerjaan kantor hari ini cukup berat bagi Ridwan sedangkan kekesalan hati Adelia karena hari ini cukup menguras tenaganya ditambah sang biang keladi tak merasa bersalah sedikitpun. Ridwan melirik Adelia yang hanya menundukkan kepala, matanya focus pada nasi goreng di hadapannya. Interaksi dimana mereka makan bersama, cukup aneh juga bagi Adelia. Ddrrttt…dddrrrttt… Dicky is calling…. Getaran ponsel menyita perhatian keduanya, Ridwan juga memperhatikan ponsel Adelia yang masih berdering dan sang empunya tak juga menerima panggilan itu. Sorot mata Ridwan benar-benar tak bisa diartikan penuh teka-teki di dalamnya. “Diangkat kek berisik!” Hardik Ridwan membuat Adelia terkesiap dan segera menolak panggilan dari Dicky. Ridwan yang melihatnya tersenyum sinis. “Sok-sokan jual mahal dulu aja elo ngemis-ngemis.” Ledek Ridwan yang membuat Adelia manyun, kesal sekali mengapa setiap kata yang keluar dari Ridwan adalah kata-kata tajam dan menyebalkan untuk didengar. “Sekalinya dilepas nggak bakal digenggam lagi.” Gumam Adelia entah pada siapa, pada kenyataannya memang begitu. Adelia selalu mengejar lelaki yang dia suka begitu agresif dan inisiatif tetapi sekalinya ia tidak peduli tidak aka nada kesempatan untuk lelaki itu mengambil hati Adelia seperti dulu. Awal pacaran dengan Dicky, Adelia yang mengejar kemudian sampai akhirnya Adelia pula yang melepaskan. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD