Perlahan aku membuka mataku, aku berbaring di sofa di kelilingin ayah, ibu, Clarisa dan juga teman-temanku. Ada juga seorang dokter tepan di depanku sedang memeriksaku. Aku seperti sedang bermimpi di siang bolong mengingat kejadian yang menimpaku, sungguh tragis perbuatan si lampir tua itu. "Bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya ayah pada sang dokter. "Tidak apa-apa pak, putri anda hanya syok saja. Disarankan untuk tidak terlalu banyar berfikir, hindari hal-hal atau fikiran yang bisa membuat anda stres, karena akan berakibat buruk pada kandungan anda dan juga kepada anda sendiri" ucap sang dokter yang kujawab dengan anggukan. Aku tidak sanggup untuk berkata-kata, rasanya tubuhku sangat lemas. "Kalau begitu saya permisi dulu, ingat untuk menghabiskan obat yang saya berikan" lanjutnya.

