-Shela's POV
Saat sedang asik curhat sama teman-teman gengku di kantin, kami kaget melihat Daren dan cogan-cogan sekolah ngobrol dengan cewek paling aneh di dunia ini.
Bayangin aja, pakaian hitam-hitam, rambut hitam panjang kayak sadako, mata belo hitam, bahkan juga riasan hitam-hitam di sekitar mata. Hal yang gak disangka, cewek kayak gitu pakai riasan juga ternyata. Udah kayak ngelayat kan? Mana serem banget.
Gimana orang gak selalu memandang miring ke dia, orang dianya sendirian terus, mana ada yang mau temenan sama dia. Dan sekarang, gak ada angin gak ada hujan dia malah asik ngobrol sama cowok-cowok paling keren di sekolahan.
Baru saja aku bercerita mengenai aku yang diputuskan tiba-tiba dan kejam oleh Daren, sekarang Daren malah godain cewek yang gak jelas asalnya itu.
"OMG Shela!!! Itu lo liat deh. Masa seorang Daren, yang paling keren satu sekolahan, malah deket-deket sama cewek paling ditakuti."
"Hah? Mana? Mana?"
Velya, salah satu anggota gengku yang terlahir cantik dan kaya. Kami semua begitu, cantik dan kaya. Otomatis kami akan langsung beken di sekolah ini dan jadi idola semua orang.
Aku tidak percaya apa yang ku lihat. Daren beneran berusaha membujuk cewek itu. Bahkan denganku, Daren tidak pernah sekali pun seperti itu. Apa sih bagusnya cewek paling aneh dan dijauhi satu sekolah?
Cewek itu pun langsung pergi begitu saja saat Daren mengajaknya bicara. Dasar aneh, udah untung ada yang mau ngajakin elo ngomong!
"Oke girls, gue bener-bener benci dia. Any idea?"
"Mm, lo liat aja deh tuh tampang belagu nya. Apain ya bagusnya?"
"Ta*i cocoknya ketemu comberan lah. Ya gak?"
"Boleh juga tuh, jadi...?"
Aku, Velya and Jelic langsung pergi mencari si culun Ella buat nyariin air comberan. Ya kali tangan kami yang lembut dan wangi ini mau ribet-ribet ngambil air menjijikan itu. Si culun ini adalah kacung kami sejak dulu.
"Cinderella ku sayang, ayo sinii... ambilin air paling bau yang ada di sini"
"Di mana?"
"Ya mana gue tau! Lo cari aja sendiri!"
Akhir-akhir ini Ella emang keliatan lebih aneh. Dia mulai berani menatap kami saat berbicara. Tatapannya pun mulai seram. Mungkin aku sedang sedikit berhalusinasi lantaran banyaknya kejadian aneh dan gila di sekolah.
Seorang kacung lemah seperti Ella gak mungkin mau balas dendam kepada kami. Kalau dia punya keberanian sebesar itu, mana mungkin dia bisa jadi kacung.
"Apa yang lo liat? Sana buruan. Atau lo mau disiksa?"
Karena kata-kata Jelic yang mengancam, Ella pun langsung ngacir ke toilet. Kadang aku juga ngeri dengan Jelic. Secara dia kan punya hobi aneh, nyiksa-nyiksa orang. Bisa aja dia psycho yang sedang haus akan darah. Hiiyyy bayanginnya aja bikin ngeri.
Tidak lama kemudian Ella datang dengan sangat tenang sambil membawa sebotol racun bau. Yah bukan racun juga sih, tapi itu racun paling berbahaya untuk kami.
"Ini"
"Oke sip. Sana lo culun, hush hush."
Si culun pun langsung ngacir, takut disuruh-suruh lagi. Kami langsung mencari Daren dan si aneh itu. Akhirnya kami pun berhasil menemukan mereka di taman dekat gudang. Lagi... ketawa-ketawa?!
"Wah parah, bisa-bisanya Daren becanda gitu sama dia."
"Iya Shel, lo liat aja tuh ganjen banget ih dia."
Tanpa memperdulikan apa-apa lagi. Langsung saja aku pergi menggebrak cewek aneh yang ternyata ganjen itu. Karena pengaruh emosi, aku pun tanpa sadar menuangkan cairan haram itu tanpa peduli apa dampaknya. Layaknya menuangkan bir, aku pun membasahi kepala cewek itu tanpa ampun.
Dia terlihat tenang namun segera pergi begitu saja. Sementara yang kaget justru Daren.
PLAK!! Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipiku. Da.. Daren menamparku?
"Apaan-apaan lo, hah?! Elo sama cairan otak lo ini sama-sama busuk!"
Cairan otakku? Daren benar-benar sudah gila. Ini.. pertama kali aku ditampar! Gara-gara si aneh itu! Aku benar-benar tidak terima! Aku akan membalasnya!
"What? Lo ditampar Daren???"
"Tapi kayaknya dia ga serius nampar elo, kalo serius pasti udah berdarah."
"Gue.. gue ga nyangka banget. Dia tega banget!"
Aku pun menyadari air mata mulai mengalir di pipiku. Bukan karna sakit, ini karna aku sudah sangat-sangat marah. Aku pasti akan membalasnya, tunggu saja!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
-Daren's POV
Tangan ku reflek menampar Shela begitu saja. Lagian kenapa dia harus muncul dan menggangguku terus. Kami sudah putus, harusnya dia berhenti mengganggu hidupku.
Aku tidak melihat Shein menangis, tapi dia hanya diam dan tanpa ekspresi. Siapa pun pastinya akan sedih dan marah kalau diperlakukan seperti itu. Shela benar-benar sudah keterlaluan.
Untung saja saat ini sudah selesai istirahat. Jadi tidak banyak orang diluar yang nanti nya bisa melihat Shein dengan bau menyengat. Ku rasa dia pasti pergi ke toilet.
"Lo mau kemana? Mau ke toilet nyusul dia?"
"Tapi kan..."
"Udah biar aja dulu, sok baik amat sih lo, hahaha."
Akhirnya aku hanya diam dan mengikuti teman-temanku ke kelas. Wajar kan kalau kawatir dengan orang yang barusan ketawa dengan kita trus tiba-tiba dia kabur disiram air otak nenek sihir yang bau? Apalagi nenek sihir itu mantan kita sendiri.
Buat kalian yang gagal move on, jangan siram-siram gebetan mantan kalian ya, eh.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Seperti biasa, pelajaran yang membosankan. Apalagi hari ini banyak kejadian yang menguras pikiran. Selama belajar, aku tidak bisa fokus karena memikirkan Shein. Dia masuk kelas ga ya? Dia masih bau ga ya? Dia baik-baik aja ga ya? Dia udah mandi belum ya?
Karna penasaran banget, saat bel berbunyi aku langsung ngacir ke kelas Shein dan meninggalkan teman-teman ku yang masih kebingungan. Ternyata di sana beneran ada Shein, dengan baju yang terlihat bagus dan bersih tanpa noda. Tunggu, gimana caranya bersihin air otak si nenek sihir?
"Shein!"
Aku melambaikan tangan kepada Shein yang masih duduk di mejanya. Tempat yang strategis untuk seorang Shein, di pojok ruangan. Tapi dia hanya melirik sebentar dan pura-pura ga denger.
Aku pun berlari menghampiri Shein yang sedang mengemasi barang-barangnya. Sekali lagi, cewek aneh dan jutek itu cuma diem.
"Umm, maaf"
Shein hanya menatap ku dengan tatapan 'buat-apa-minta-maaf?'
"Yah, tadi kan gara-gara gue. Dia itu... mantan gue"
Sekali lagi dia tak bergeming. Seolah-olah aku sedang ga bicara sama dia. Lalu dia pun berjalan keluar, dan pasti nya ke parkiran. Aku pun mengikutinya terus sambil membujuknya.
"Ehh? Kan gue udah minta maaf. Please ya, maafin gue. Plissssssssssss... gue traktir makan yuk?"
Gaada respon. Kadang dia bener-bener nyebelin.
"Ih ternyata lo bisa ngambek juga ya? Wahhh langka nih"
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku sudah terduduk di lantai dalam sekejap mata. Cewek ini bisa magic ya?-- bisa-bisa nya dia menyulap begini. Mendadak aku merasakan bibir ku berdarah, sedikit pecah tepatnya.
Tanpa diduga, ternyata kata-kata ku yang memang kurang ajar bagi dua orang yang tidak dekat akhirnya ditanggepin. Entah harus sedang atau sedih. Sedihnya, aku bahkan ga bisa menyadari kalau aku berhasil ditonjok dengan mudah oleh seorang cewek.
Saat aku masih melongo kayak orang i***t, dia sudah menghilang. Cepet banget ilangnya-- pastinya dia sedang menuju parkiran, aku pun sesegera mungkin ke sana.
"Shein, tunggu... gue... minta maaf... kita... makan... dulu yuk"
Aku kehabisan oksigen karna lari kayak banci dikejar satpolpp. Untungnya dia masih di parkiran. Untung-untung nanti nya Shein mau memberi ku oksigen tambahan, eh :3
Lagi-lagi dia cuma diam. Apa sih susah nya ngomong?--
"Shein, dengerin gue--"
Tanpa sadar aku memegangi bahunya. Ups, kayak nya kami terlalu dekat. Sampai-sampai dia pasti bisa merasakan nafas ku yang kayak lagi sakaratul maut. Aku tidak tau harus bagaimana :3
Kali ini dia tidak menunduk. Tapi dia terus menatap ku dengan tajam, melotot gitu. Kenapa dia jadi terlihat manis dan imut?? Oh tidakkk. Oke, tenang dulu. Tenang Daren...
"Jadi, mau kan ya makan sama gue yang ganteng ini?"
Setelah mengatur nafas akhir nya aku bisa kembali tenang. Baru pertama kali segugup ini di depan cewek, mana dia melotot pula. Udah serem, galak nya ga nahan.
"Stupid"
Dengan mudah dia lolos dari cengkraman ku. Itu cewek lama-lama kayak banteng deh. Dia pun segera naik ke motor nya.
"Huh? Woi, ngapain sih lo ikutin gue terus, turun gak! Atau lo mau mati ya?"
Karna panik aku langsung ikut naik ke motor nya. Entah apa yang ada di pikiran ku saat itu-- tapi kebodohan ku ini dapat membuat dia bersuara lebih dari biasanya. Ternyata dia punya sisi bawel juga.
"Abis lo ninggalin gue sih, kan gue spontan naik--"
"Turun gak? Cepetan turun, lo bau ketek tau"
"Eh, gue wangi tau, yah kecuali abis main basket. Kalo itu sih gue akui gue jadi bau ketek"
"Woi ketek, cepetan turun"
"Lo terobsesi sama ketek gue ya?-- oke gue mau turun, kalo lo turun lebih dulu"
Akhirnya dia menyerah dan turun duluan. Aku pun mengikutinya sambil beberapa kali membaui ketek ku. Uh, emang bau sih tapi dikit kok. Namanya juga cowok ya kan, apalagi aku habis lari-lari ngejar dia. Dia harus bertanggung jawab atas insiden ketek ini.
Dia cuma diam sambil sedikit menunduk. Aku bisa melihat wajah nya memerah. Apa dia marah pada ku? Atau karna dia malu berkomentar tentang ketek? Setidaknya sekarang aku tau kalo dia ternyata punya sisi becanda juga. Ku kira dia beneran selalu serius.
"Eh eh, lo kenapa? Gausah sok pendiem deh. Barusan kan lo komentar tentang ketek gue"
Aku pun menyentuh pipi nya dengan ujung jari ku sambil mendekatkan wajah agar bisa melihat ekspresi nya. Seperti yang diduga, lagi-lagi aku ditonjok.
"Abis lo diem aj..."
Kata-kataku terhenti ketika melihat sebuah botol dengan kain terbakar di ujungnya serta tulisan "bo... kejutan" menggelinding ke arah kami.
"Bom!"
Dia berteriak sekeras mungkin. Tentu saja itu langsung membuat ku panik dan mencoba mengambil botol itu lalu melemparnya. Sebelum sempat melakukan hal bodoh itu, tangan ku sudah ditarik olehnya.
Tiba-tiba dia mendorong motornya sampai menimpa botol itu lalu menarik tangan ku lagi. Kami pun berlari secepat mungkin. Namun sudah terlambat. Saat kami berlari bom sudah meledak. Yang aku ingat, seseorang mendorong ku hingga aku terlungkup. Kemudian semuanya menjadi gelap...