Aku terbangun dengan badan yang berasa remuk semua. Perih di mana-mana. Rasanya untuk bergerak saja sudah sangat susah dan berat. Setelah rasanya semua jiwa ku terkumpul, aku pun mulai melihat sekitar.
Infus, oksigen, bau obat, putih-putih, pasti nya rumah sakit. Kenapa aku di sini? Oiya, kan ada bom. Siapa sih yang tega mengebom cogan? Btw, kan waktu itu lagi sama...
SHEIN?!
Di mana Shein? Aku pun melihat seseorang dengan kursi roda tertidur sambil duduk di samping ku. Huft... aku lega melihat dia baik-baik saja. Bahkan dia sudah sadar duluan. Apa aku terkena lebih parah?
Wajah nya ga bisa boong. Dia keliatan capek banget. Dia lebih manis kalo diam. Terlebih lagi riasan serem di wajah nya udah gaada. Mungkin dibersihkan oleh perawat. Kepala nya dibalut perban, begitu pun badannya, jelas terlihat dari baju tipis ala-ala rumah sakit yang ia pakai.
Aku pun mengusap kepala nya pelan. Dia terlihat seperti adik yang lagi nungguin kakaknya. Abis badannya kecil banget sih. Dibilang baru masuk smp juga orang-orang pasti percaya. Mana imut lagi. Kalo lagi tidur dia cocok jadi adik ku deh. Tapi kalo engga, cocok nya jadi bodyguard :v
"Mmm"
Dia tiba-tiba bangun. Kan malu juga kalo aku ketauan usap-usap kepala dia. Bisa-bisa aku ditonjok sampe mati beneran. Aku pun langsung pura-pura tidur supaya ga malu-maluin.
Dia mengucek mata nya lalu melihat ku sesaat.
Dia mengusap kepala ku dengan lembut lalu mencium kening ku sambil menyuruh ku untuk bangun. Yah, itu akan terjadi kalo ini cerita romance abal-abal.
Sayang banget ini kenyataan.
"Kalo udah bangun gausah pura-pura tidur, dasar sok cantik"
Sontak aku langsung bangun dan memasang tampang kesal. Siapa yang dia bilang sok cantik? Lagian kan aku cowok tulen. Bukannya melihat tampang kesal ku dia malah berusaha menggerakkan kursi rodanya dan pergi mengambil buah di meja sebelah.
"Siapa yang lo maksud sok cantik?--"
"Elo lah. Orang gue yang parah, elo yang sadarnya lama"
Yah kali ini aku hanya bisa terdiam. Bener juga yang dia bilang. Aku hanya lecet-lecet sedikit sedangkan dia pake pakai-pakai kursi roda segala dan banyak perban. Apa sih yang terjadi sebenernya? Keadaan hening sesaat. Aku pun berusaha memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Ehm, itu.. ee.. kenapa gue.. sama lo.. anu.."
"Anu-anu apa hah?"
"Ih dengerin gue dulu-- kenapa kita.. di sini?"
"Bentar gue panggilin dokter, siapa tau lo amnesia. Ato gue jedukin lagi biar inget?"
"Engga-_- bisa lo ceritain lagi detailnya ga?--"
Dia pun menceritakan semua nya. Pastinya cerita nya ga semulus yang dikira-- Kalo aku memotong pembicaraan pasti dia langsung pergi ato terus-terusan diam. Terpaksa ada pertengkaran dulu sebelum ceritanya berlanjut.
Jadi dia merebahkan motor nya supaya dapat meredam bom. Bom nya hanya bom molotov biasa (entah dari mana dia tau jenis-jenis bom, aku tidak berminat menanya nya). Tapi entah kenapa setelah kami berlari bom masih bisa meledakkan kami. Untungnya dia sempat mendorong ku lalu melindungi ku dengan tubuhnya. Makanya perban di tubuhnya sangat banyak.
"Tunggu.. kenapa lo lindungin gue segala? Naksir ya cewek?"
"Udah gue bilang jangan memotong pembicaraan kan"
"Ya maaf. Tapi kan gue kepo:3"
"Udah tugas gue"
"Wahhh, elo ternyata romantis banget ya :3 uhh gue jadi malu. Pake tugas ngelindungin gue segala"
"Mati aja lo sana"
Dia pun kembali memutar-mutar kursi roda nya. Tampak nya dia mencoba menyesuaikan diri dengan kursi itu. Karna udah capek balik-balik kayak orang gila, dia pun memutuskan untuk tiduran. Tapi entah gengsi ato gimana, dia ga minta tolong buat naik ke tempat tidur. Padahal kaki nya banyak luka dan perban.
"Kalo ga bisa ya minta bantuan kek"
"Gue bisa tau"
Aku pun langsung menggendong dia yang nampak nya kaget.
"Turunin gue deh. Mentang-mentang gue kayak mumi, bukan berarti gabisa matiin el..."
Pintu terbuka. Mata kami langsung tertuju pada sosok di depan pintu. Dua orang, lelaki dan perempuan paruh baya yang nampaknya juga kaget melihat kami. Shein pun langsung menepuk ku, mengisyaratkan untuk menurunkan nya.
"Daren, kamu gapapa nak?"
Ya, mereka berdua adalah orangtua ku yang sedang kerja di luar kota dan meninggalkan anak semata wayang nya yang baru saja terkena bom. Mereka menanyakan siapa cewek yang bersama ku dan kenapa kami gendong-gendong an.
"Dia, yang nyelamatin Daren. Namanya Shein"
"Shein, makasih ya nak udah bantuin Daren. Dia emang suka sok jago, sekali lagi makasih ya"
"No problem"
Ibuku yang terkadang memang berlebihan memeluk Shein. Tapi dia langsung menghentikannya lantaran Shein mengaduh kesakitan karna luka-lukanya. Kami pun mengobrol panjang, dari wajahnya sih udah keliatan banget Shein gasuka bicara.
"Dareennnn... huhuhu.."
Kami semua kaget karena seketika pintu dibanting seseorang yang memanggil namaku dengan lebay banget-- Ternyata itu teman-teman ku. Pasti nya kalian bisa menebak siapa yang menangis gadungan itu.
"Eh om, tante. Kalian berdua ngapain sampe masuk-masuk rs segala?"
"Dibom"
"HAH?!"
Mereka pun menutup mulut karna Shein yang terlihat memegang sepatu nya dan berniat melempar ke mulut mereka. Sisi asli cewek ini mulai terlihat. Dia ga seserem dan sesuram yang terlihat. Malah dia terlihat normal-normal aja, kecuali tampilan mumi nya itu.
"Nak Shein, gaada keluarga nya yang ke sini?"
Shein nampak ragu sejenak menjawab pertanyaan ibuku. Betul juga sih, dari tadi gaada yang nyariin dia. Dia sempat tertunduk dan hanya diam. Hening sesaat, ibuku merasa salah menanyakan hal itu.
"Thank you, nurse"
Perhatian kami teralihkan pada sosok di balik pintu yang sepertinya sedang bicara dengan perawat. Dia pun segera masuk dan..
"Okay, A. Tell me, why you look like mummy? You must be carefull, okay? Don't make me worry 'bout you. Be good girl. You must know how many time lost cause I say it to you"
"Mm.. B.. oh I mean uncle Ben. Ini cuma kecelakaan biasa kok"
"Oh? Shein.. ya Shein. Kamu baik-baik aja?"
Semua nya memandangi pria yang dipanggil paman Ben oleh Shein. Mungkin dia paman nya(?) Tunggu, dia kan om-om yang sama Shein di cafe. Oh jadi itu paman nya. Gara-gara Harel jadi salah paham kan--
"Saya paman nya Shein, salam kenal. Maaf bahasa saya kacau, saya bukan indonesian"
Sadar semua orang kebingungan, om-om itu menjelaskan kalo dia paman nya Shein.
Tidak lama setelah orangtua ku kembali ke pekerjaan mereka dan paman Shein juga pergi, teman-teman ku mulai mengacaukan suasana. Mulai dari berantem, gangguin cewek galak di kursi roda, sampe ngomongin hal-hal jorok. Untunglah cewek galak itu tidak dengar suara otak-otak jorok mereka. Kalau tidak, udah melayang semua kami dari sini.
Tidak lama kemudian, datang seorang perawat yang menjemput Shein. Katanya sih buat pemeriksaan. Tinggal kami di ruangan ini. Rumpi ala-ala cowok pun dimulai.
"Itu cewek makan nya apa sih? Kok eike jadi keder gitu yah sama dia?"
"Bukan masalah serem, galak nya itu lho--"
"Buat apa om-om nya itu dateng?"
"Enak aja! Kan udah dibilangin itu paman nya. Lo obsesi banget ya sama om-om itu?--"
"Bener sih om-om itu badan nya bagus, tapi eike kurang suka. Muka nya garang! Eike kan suka yang imut-imut ganteng kayak Daren♡"
Aku pun langsung menjauh sejauh mungkin dari si Berbi. Kan ga lucu kalo tiba-tiba dia serius bilang suka nya. Gamau ah homo-homo gitu. Sadar kok kalo belum punya pacar, tapi gaharus sama 'makhluk' itu juga kan? Yang kayak dia kan bisa pesen ke mucikari ato liat-liat di simpang.
"Oiya! Lo belum tau kan Dar kalo si Berbi udah punya pacar sekarang? Dan lo harus tau kalo pacar nya itu cewek! Huh terharu gue"
"Iya??? Ya Tuhan, siapa lagi cewek buta yang dapat ujian kali ini?"
"Ih ga gitu juga man. Gue ini cogan tulen tau"
"Suka-suka elo deh, jadi siapa Ren?"
"Itu... si- aauu"
Omongan Ren terhenti karna Roby menyikut perut nya. Ga keras sih, tapi cukup buat bikin Ren mengaduh dan hentiin laporan nya.
"Kalian denger topeng-topeng kan tadi?"
Harel yang dari tadi asik dengan dunia nya sendiri akhirnya mulai bicara. Tentu saja topik nya sangat jauh dari yang kami bicarakan-- Roby terlihat lega karna akhirnya terbebas dari pembahasan masalah pribadi nya.
"Oh, itu. Kan udah dijawab. Itu buat anak paman nya Shein yang mau ulang tahun"
"Tapi kenapa harus mengendap-endap kayak maling? Trus kenapa ga dibungkus dulu? Kok dikasi ke paman nya langsung?"
"Lo kok curiga berat ya sama Shein?--"
Akhirnya Harel hanya terdiam. Udah jelas Shein lagi sakit, jalan aja susah masih aja dicurigain.
"Kalo lo curiga sama cewek lemah yang buat jalan aja sekarang gabisa, lo beneran kejam--"
"Eh tapi, gue juga denger kabar dia pelaku nya"
"Kok lo ga bilang?--"
"Waktu itu udah mau bilang, tapi kata-kata gue dipotong mulu sih--"
Kami semua terkejut kelihat Shein yang mendadak masuk dengan kursi roda nya. Sepertinya dia mendengar semua pembicaraan kami. Namun dia hanya diam saja dan naik ke tempat tidur nya. Kali ini dia bisa sendiri. Dia menarik tirai pemisah tempat tidur kami lalu tidur.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Setelah sekitar 3 hari di rs aku pun sudah bisa sekolah lagi. Agak lebai juga sih 3 hari. Tapi ada serangkaian pemeriksaan dari polisi dan psikiater. Shein masih harus di sana seminggu lagi. Dokter bilang kaki nya masih lemah, paling 2 hari lagi baru bisa pake tongkat. Seenggaknya itu ga permanen. Cuma sampe kaki nya kuat lagi.
Sejak omongan kami didengar nya, cewek itu cuma diam. Mungkin dia tersinggung dengan ucapan kami. Tapi gaada juga yang berani minta maaf sama dia. Setiap hari aku selalu ke sana untuk melihat dia, dia diam di kamar, terkadang jalan-jalan di taman atau tertidur.
Hari ini pun aku akan tetap berkunjung, mungkin dikasih bunga bisa bikin dia baikan. Saat menuju parkir, kepala ku ditimpa oleh sebuah kertas yang dibuang begitu saja. s**l banget-- siapa sih yang ga beratitude gini? Aku pun iseng membuka kertas nya sebelum membuang.
"Congrats! Dia pincang. Hadiah kita cocok untuk nya"