6.

1496 Words
"Congrats! Dia pincang. Hadiah kita cocok untuk nya" Secepat mungkin aku melihat ke atas. Siapa tau pemilik kertas ini masih di sana. Tapi sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Pincang? Jangan-jangan yang dia maksud adalah Shein. Kalo benar Shein, ini petunjuk siapa pelaku nya! Oke, aku harus tenang dulu. Mungkin aku harus kasih tau Shein. Secepat mungkin aku menuju ke rs di mana Shein dirawat. Aku hampir ketinggalan sesuatu, ya bunga. Aku memilih bunga mawar hitam yang kebetulan memang tinggal satu. Mungkin Shein akan suka, karna dia selalu memakai yang hitam-hitam. Langkah ku terhenti saat melihat Shein duduk termenung di tempat tidurnya. Dia melihat ke arah luar jendela. Seperti nya dia kesepian di sini. Paman nya itu juga tidak pernah lagi datang. Tatapan nya kosong. Ada bucket bunga mawar merah di meja. Siapa yang cukup gila untuk memberikan cewek ini bunga selain aku? "Shein, boleh gue masuk?" Aku mengagetkan lamunan nya. Dia hanya mengangguk kecil. Aku pun melangkah perlahan. Yang aku lihat adalah sebuah kursi roda yang seperti habis dibanting dan benda-benda berserakan. Setelah ku perhatikan dengan baik-baik, bucket bunga itu sudah hancur, seperti di gunting dengan kasar. Tidak ada kartu di bunga itu yang menunjukkan pengirim nya. Aku pun mulai melihat Shein yang masih saja sibuk dengan lamunan nya. Setelah ku perhatikan baik-baik, ada bercak-bercak darah di sprei kasur itu. Benar saja, telapak tangan Shein penuh oleh darah, tangkai bunga mawar yang memang berduri itu juga ada bercak darah nya. Bagaimana bisa tangan Shein luka karna bunga itu? Spontan aku menggenggam tangan nya dengan lembut agar dia tidak kaget. Dia hanya menatap ku dengan tatapan kosong. Aku mencoba tersenyum meskipun seperti nya ini bukan saat yang tepat untuk tersenyum. Dia hanya tetap diam. Aku segera mencari peralatan p3k dan membalut tangan nya perlahan. Dia masih tetap saja diam dan menatap ku. Padahal itu akan sangat perih apalagi aku menemukan ada duri yang masih menempel di tangan nya. Dia tidak baik-baik saja tentu nya. Aku kembali menggenggam tangan nya dengan lembut agar dia tidak merasa sakit. Dia diam saja, namun tatapan nya berubah menjadi tatapan sedih. Perih sekali menyaksikan seseorang dengan kondisi tangan yang berdarah-darah karena bunga yang di tujukan untuk nya dan membanting kursi yang harus nya ia pakai untuk berjalan. Aku semakin tidak tega melihatnya. Aku tau kalau aku melakukan ini saat dia seperti biasa, aku akan mati hari itu juga. Tapi aku tetap nekat untuk memeluknya. Dia masih saja diam. Setelah sekitar 5 menit, aku pun melepaskan pelukan nya karna ia tidak terlihat setuju atau pun marah dipeluk seperti itu. Tapi dia masih bersandar di bahu ku, seperti seseorang yang kepala nya berat sekali. Dengan sangat hati-hati aku mengelus kepala nya. Entah kenapa hati ku sangat luluh melihat seorang cewek yang sanggup membanting ku malah bersandar padaku seolah-olah dia tidak punya tenaga lagi. Aku sengaja untuk tidak mengajak nya bicara, karna sudah pasti dia gaakan bilang yang sebenernya. Jadi tunggu dia tenang dulu deh baru tanya-tanya. Kayak gini jadi awkward juga. Dia keliatan capek dan lelah. Tangan ku pun merangkul pundaknya. Dia jadi semakin rapat ke pelukan ku lalu tertidur. Dari wajah nya saja udah keliatan kalo dia lagi ga begitu sehat. Badan nya pun ternyata cukup panas. Apa gaada perawat atau dokter di sini yang memeriksa nya untuk hari ini? Gaada yang ngajak dia ngobrol ato apa kek gitu? Aku pun segera membereskan kekacauan yang cewek ini perbuat. Mulai dari membereskan bucket bunga yang sudah hancur dan memanggil perawat. Sprei yang ada darahnya dan kursi roda rusak ini pasti nya harus diganti. Aku melihat sebuah kertas yang baru saja dibuang. Kayaknya ini kartu pengirim bunga. Sayang banget udah dirobek. Aku pun mencoba menyatukan nya lagi. Specially for my Princess I miss ya♡ Princess? Aku pun langsung melihat Shein yang sedang tertidur dengan pulasnya. Dia ga cocok kali disebut princess-princes-- Tapi kenapa dia marah banget sama pengirim ini, siapa sih pengirim nya? Bunga bagus dan mahal dia ancurin aja. Kayaknya dia nyoba jalan tadi. Tapi karna gabisa dia ga sengaja jatuhin barang-barang. Trus karna kesel kursi roda nya dibanting, padahal ga salah apa-apa. Aku pun duduk di samping nya. Aku masih terbayang keadaan nya saat pertama kali melihatnya, saat dia mengalahkan ku, saat dia menyelamatkan ku, saat dia di pelukan ku. Tunggu! Peluk? Kenapa aku baru sadar kalo tadi itu memalukannn Dia pasti akan menganggap ku aneh-- Main peluk-peluk anak orang sembarangan. Duh malu banget. Untung dia ga ketawa. Semoga dia lupa deh-- Aku pun melihat wajah polos nya saat dia tertidur. Ada sesuatu yang menguras emosi nya. Aku pun menyelimuti tangan nya yang masih diperban dan mencium kening nya. "Joe..." Joe? Siapa Joe?-- "Emm, ini Daren" "Joe..." Kayaknya dia ngigo deh. Udah dibilangin aku Daren dia masih saja Joe-Joe. Apa si pengirim bucket bunga itu Joe? Kayak nya itu urusan pribadi dia deh, mending gausah ikut campur-- "Joe..." "Ehm, iya deh. Ini Joe kok" Dia pun menggenggam tangan ku erat sekali. Seperti tidak akan pernah melepaskan nya lagi. Dia kenapa sih? Trus Joe-Joe s****n itu siapa? Aku kaget saat menyadari kalo dia menangis. Mata nya mulai mengeluarkan air. Aku yakin memang terjadi sesuatu antara dia dengan Joe. Aku ga tega bangunin cewek yang lagi ngigo sambil nangis. Aku pun memeluk dia sampe dia tertidur pulas kembali. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ "Tidur dengan pulas?" "Hoamm... Daren?--" "Akhirnya lo sadar kalo gue ini Daren" "Eh?--" Untunglah dia baik-baik saja dan kembali normal. Pihak rs minta maaf pada ku karna tidak menjaga nya dengan baik. Mereka memohon agar berita ini tidak tersebar dan akan memberikan pelayanan khusus untuk Shein. Perawat akan check keadaan Shein sekali sejam. Aku juga sempat meminta data nomor telfon paman nya Shein dari pihak rs. Dan aku menelfon paman nya yang akan segera datang malam ini. Aku pun diminta nemenin Shein sampai paman nya datang. Ini sudah hampir jam 8 malam, paman Shein juga belum datang. Karna bosan, akhirnya aku mengajak teman-teman ku kesini. "Ehhh mau kemana lo?" Shein tiba-tiba berdiri dan mencoba berjalan sambil berpegangan. "Mandi lah, gerah tau" "Lo kan belum boleh jalan-jalan" Tanpa menghiraukan ku, dia benar-benar ke kamar mandi. Masak iya aku ikutan masuk ke sana?-_- apa boleh buat, biarin aja bocah keras kepala itu sendiri. "Kok kita jadi babysitter nya dia ya?" "Walaupun badan nya kayak anak tk, dia itu lebih ngerepotin tau--" "Ya kan kasian-- dia sendiri terus lho di sini" "Mana nih si om nya?--" Kami pun kembali lanjut main game, nonton tv dan ngemil. Ga beberapa lama setelah itu, Shein keluar dari kamar mandi. Aneh nya, dia udah bisa jalan, tapi cuma pincang. Dia bahkan gaperlu pegangan lagi. Dasar anak aneh ajaib-- "Jadi kenapa kamar gue jadi penampungan gembel?" Dengan tidak berotak nya cewek itu malah bilang kami semua gembel yang mengungsi ke kamarnya. Padahal kan kami di sini jadi babysitter nya. Bocah biasa nya emang ngeselin. "Eh anak tk, kami di sini jadi babysitter elo tau--" "Apa? Anak tk? Lo kira gue gabisa nendang anu lo sampe lo mati?" "Anu?" Dia hanya diam lalu duduk di kasur nya sambil makan makanan pasien yang pasti nya gaenak banget. Akhirnya dia malah memakan cemilan kami. Hidup emang seenak dia aja, kayak anak raja. Tapi ga nyangka juga kalo aslinya dia se rese ini. "Mau jalan-jalan?" Aku pun duduk di samping nya untuk menawari dia jalan-jalan. Siapa tau dia udah beneran bosen sama ruangan ini. "Bentar.." Dia pun memencet nomor dan memesan makanan cepat saji yang banyak banget. Dia lapar ato gimana nya aku gamau nanya-nanya deh. Yang jelas, wajah teman-teman ku jadi sangat ceria mendengar makanan. "Ntar kalo datang, lo-lo pada tanda tangan, kasih cek di laci" Cek?-- anak ini kurang ajaib apalagi? Dia ninggalin cek dan ngasi tau di mana letak nya. Kami pun segera pergi menuju taman di seberang rs yang pastinya bakal rame karna ini malam minggu. Aku pun merapat pada anak kecil yang kalo rame bakal ilang itu. "Gausah modus" "Engga kok, ntar kalo adik kecil ilang, gue dimarahin" Dia hanya cemberut sambil memegang bahunya. Karna sudah malam, tentunya akan sangat dingin untuk pakaian tipis ala-ala rs. Aku pun memakaikan jaket ku padanya. "Gue mau ngasi liat ini. Gue ga sengaja gitu dapet. Kalo dugaan gue bener, ini yang bikin lo di rs lama-lama" Setelah berhasil dapat bangku untuk duduk, aku pun langsung memamerkan hasil temuan ku itu. Anehnya, dia tidak terkejut sama sekali melihatnya. Padahal udah niat mau keren-kerenan. "Gue ke sini mau ngasi tau itu tadi, tapi elo..." "Udah, gausah dibahas--" "Iyadeh, gausah cemberut lho anak tk :v jadi gimana? Kita pasti bakal nyari siapa pelaku nya dong" "Oh itu sih pasti. Kalo engga ya bodoh namanya" Setelah lama ngobrol, aku pun memberanikan diri mengeluarkan mawar hitam (yang tentunya sudah ku potong duri-duri nya karna gamau liat dia berdarah-darah lagi). Dia harus tau betapa sulitnya menyembunyikan bunga itu dari teman-teman ku. "Ini apaan? Lo udah gila?" Spontan aku pun memeluknya. Entah kenapa, sesuatu di otak ku mengatakan untuk memeluknya saat dia sudah memegang bunga itu. Tidak ada lagi orang rame pacaran di malam minggu. Yang ku tau hanya aku, dia dan sebuah bunga di tangan nya. Aku beruntung tidak di tonjok tiba-tiba. "Gue gamau lo kayak tadi lagi. Kalo ada masalah, cerita aja sama gue. Kalo lo kesepian, gue temenin. Tapi jangan nyiksa diri sendiri gitu. Kalo ga bisa jalan, gue rela jadi kacung yang gendong-gendong elo. Maaf ya kalo gue b**o banget. Ngapain ya pake acara kayak gini segala. Gue cuma... gabisa liat elo kayak gitu. Jangan gitu lagi, janji ya sama gue"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD