.
Sudah seperti yang ia duga dirinya di minta menghadap ke nyonya besar, istri Raden Kusumo. Tentunya ia bersimpuh hormat di hadapan wanita yang kini duduk tengah menatapnya sorot tajam menakutkan tapi hingga beberapa detik lalu. Kumala, ibu Nirmala masih terdiam suasana di teras depan seharusnya aman nyaman karena hawa nya cukup sejuk dengan diamnya wanita disegani penghuni kediaman Raden Kusumo, cukup membuat bulukuduk meremang, lebih baik dari pada kesunyian.
" Kamu Surti kan?," halus sekali bait katanya
" Benar, Ratu bagus ayu Kumala. Saya Surti, yang mengurus keperluan Ndoro muda Nirmala"
Ayu Kumala, Sebagai ibu ia ingin memarahi anak itu namun beban sebagai orang terpandang di kota itu haruslah bijak mengambil keputusan, ia menghela nafas berat.
" Saya ngak marah" ucapnya halus, sontak Surti semenjak awal menunduk menatap beningnya lantai marmer itu kini mendongak mendapati senyum tipis nan angun dari orang terpandang tersebut.
" Saya salah, nyonya besar" akunya
" Saya tahu, dia tadi keras kepala, jadi. mohon maaf dan bersabar ya kami tetap harus menjaga Ndoro Nirmala,"
Dengan lekas Surti mengangguk, selesai mendapatkan teguran ia diperbolehkan untuk kembali ke rumah belakang.
.
Waktu sudah berlalu cukup cepat dari kemarin namun Nirmala masih tergolek lemah di pembaringan, di dalam ruangan sempit nan biasa hanya ada dipan serta lemari pakaian ruangan itu adalah ruang kamar Surti bersama sukemi teman sejawat nya berusia sama, Jika Surti di utus menjadi pembantu pribadi Nirmala maka sukemi hanya menjadi pesuruh di dapur dimanapun dia diminta, tubuh gadis itu tengah meringkuk dalam pembaringan tak menyadari teman sekamarnya telah masuk kedalam
Sukemi mendekati tubuh sobatnya duduk di dekat pembaringan anak itu
" Kamu gak mau keluar?"
" Kemana" balasnya tak bertenaga
" Keluar? Jalan-jalan atau bantu-bantu aku"
" Aku saja tadi pagi di usir dari Pawon, katanya aku banyak bikin salah" desah nya kemudian, badannya kini beranjak dari dipan tipis miliknya membuat derit kayu terdengar menganggu.
Temannya bertubuh kurus itu menghela nafas kesal mendapati begitu letoy nya Surti.
" Kenapa kamu begini? Masalah tempo hari" Surti mengangguk lemah
" Beliau belum bangun juga?" Tanya sukemi lagi lalu mendapat gelengan oleh Surti sebagai jawaban
" Kalau Ndoro Nirmala susah bangun gak mungkin aku ngangur, suk"
Benar juga, otak sukemi mulai eror.
" Main ke danau yuk, mumpung kita ngangur" ajak sukemi mulai bangkit dari duduknya
Surti memandang malas tangan yang terjulur ke arahnya namun ia tetap menyambut jemari kehitaman bekas membakar arang.
Seperti anak seusia mereka di tengah ke senganggan mereka berlari, saling berkejar kejaran. Berlomba siapa pemenang menuju tempat danau biasa mereka mencuci serta mandi di dekat sana juga terdapat sungai namun di hari terik seperti saat ini pasti ada para anak petani sedang bermain di sana entah memandikan kerbau atau lelaki lelaki muda tengah asik berendam mandi disiang bolong.
Kedua gadis yang belum puber tersebut tengah asik duduk di pinggiran danau mencelupkan kaki sampai pertengahan betis membuat mereka melepas penat dari sekian banyak pekerjaan.
" Sudah mendingan ndak? "
Surti memamerkan giginya dengan senyum lebar sebagai Jawaban.
" Lumayan juga, suk. Gini-gini amat ya kita jadi perempuan serba salah" ungkapnya
Sukemi gadis berpakaian coklat tersebut hanya melirik mimik sendu Surti, bisa di bilang mereka sudah seperti saudara dari kecil bersama bahkan sukemi ingat mereka pernah jatuh terjungkal sampai terjebur kotoran kandang kuda karena saat itu mereka main kejar-kejaran di tengah peternakan, beruntung pak kuwok tidak marak kepada mereka berujung di adukan pemilik rumah
" Udah sabar, lagian kamu ya kok sabar banget sama Ndoro Nirmala, dia kan suka ngerendahin kita-kita, kamu juga ngerasa kan?"
" Tapi Ndoro Nirmala yang penting ngak pernah main tangan kan"
" Kamu suka, melayani Nirmala, gadis itu manja sekali kan"
Air muka Surti berubah keruh dahinya berkerut, otaknya di paksa berfikir, kata manja di tujukan untuk Nirmala yang keluar dari bibir sukemi mengasumsikan manja menurut pandangan nya dengan dirinya sebagai pesuruh pribadinya.
" Kurasa Ndoro ayu, ngak begitu" sangat nya menolak pernyataan barusan
Kini ganti sukemi menautkan alis tebalnya, heran. Temannya membela junjungan yang selalu menjadi kan ia dalam masalah sebagai seorang bawahan
Tau akan isi otak teman seperjuangan nya gadis sawo matang itu nyengir memperlihatkan deretan gigi gingsul, faham pikiran gadis yang berhitung saja suka salah sampai mereka pernah di lempar sayur oleh Mbok-mbok tukang masak
" Saya ngak membela, Ndoro Nirmala. Liat deh ekspresi wajah nya, dia keliatan kesepian apalagi gampang sakit sejak kecil sampai Raden Kusumo beserta istrinya sangat khawatir, dia sebenernya kayak butuh pembuktian dia itu bisa seperti saudari Gendis, saudaranya itu cukup mempunyai fisik kuat dan mudah di sayangi semua orang berbeda dengan seorang pendiam seperti Nirmala ia merasa tersisihkan jika di sanding Gendis" Jelasnya pada si kurus, sukemi mengangguk lirih. Semuanya terasa masuk akal, terkadang Nirmala sangatlah pendiam dan terkadang otoriter karena anak resmi dari wanita berdarah biru dan pria bangsawan terpandang.
" Iya, aku jadi mikir lagi. Raden Wahyudi sama Raden Suryadi juga tak begitu dekat dengan Ndoro Nirmala"
" Kasian tau dia, kita emang orang susah tapi masih di kasih sehat sama Gusti pangeran, makan mangga busuk aja masih sehat" di susul tawa setelahnya
Sekilas ingatan mereka pernah makan mangga yang separuh bagiannya hampir busuk, kata mereka sih lumayan buat makan daripada busuk atau di makan kalong.
" Kalau begitu, aku berharap. Keluarga Raden Kusumo beserta keluarganya sehat selalu, suk."
" Iyo, kamu tahu aku saja ngak di marahi sama Ratu bagus ayu Kumala" balasnya sembari menyebutkan gelar lengkap junjungan wanita mereka.
Dirasa sudah cukup mereka beranjak dari sana langit terlihat sudah hampir kehilangan sinar mentari, sedikit melompat lompat dengan riang kembali bersama
Di tempat lain, tubuh Nirmala tengah membiru urat nadinya terlihat menonjol bahkan badan nya basah oleh keringat namun kesadaran nya belum pulih, gerakan lirih terdengar samar kata tak jelas namun terlihat ia tetap berusaha memangil siapapun untuk menolong dirinya di ambang kesadaran.
Ya Gusti agung, hamba lelah, hamba tak kuat menjadi seperti ini. Siapapun tolong gantikan posisi ku, aku tak bisa lagi di sini.
Ditengah kesadarannya ia berdoa tanpa berucap, tak berharap Tuhan mendengar harapan nya. Setidaknya nyawanya pergi dengan tenang di alam lain, beban hati nya membuat dirinya lelah ditambah fisik nya lebih lemah dari anak lainnya.
Bak seperti keajaiban tubuh Nirmala tersentak dengan kondisi masih membiru sana sini tapi seusai itu ia pingsan bekas bak memar di tubuhnya kian menghilang sendiri.