bc

Cinta Terlarang Sang Mafia

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
HE
mafia
drama
sweet
serious
city
like
intro-logo
Blurb

Di tengah perseteruan darah dua keluarga mafia terkuat, Surya Aditama dan Sekar Ayu Angkasa ditakdirkan bermusuhan. Namun pertemuan tak terduga menumbuhkan cinta terlarang. Kini, mereka harus memilih: setia pada dendam leluhur, atau mempertaruhkan nyawa demi menyatukan dua dunia yang saling membenci.

chap-preview
Free preview
Warisan Tahta
Hujan turun lebat membasahi jalanan kota yang dipenuhi asap knalpot dan bau aspal basah. Di balik gedung perkantoran megah yang lampunya masih menyala remang, berdiri sebuah bangunan tua yang kokoh markas besar Keluarga Aditama. Di sinilah pusat kekuasaan yang ditakuti seluruh penjuru kota. Nama Aditama bukan sekadar nama keluarga; ia adalah simbol kekuasaan, kekejaman, dan darah yang tumpah turun-temurun. Di ruangan utama yang luas dengan dinding berhias ukiran kayu gelap, suasana terasa mencekam. Dua puluh orang pria berdiri tegak melingkar, wajah mereka datar namun penuh kewaspadaan. Di ujung ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan sorot mata tajam yang menusuk. Itu adalah Juanda Aditama, kepala keluarga yang telah memerintah selama tiga puluh tahun. Di sampingnya berdiri seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, postur tubuhnya tegap, rahangnya tegas, dan tatapannya dingin menatap seluruh hadirin. Itu adalah Surya Aditama, putra satu-satunya yang dipersiapkan menggantikan posisi ayahnya. "Perseteruan ini sudah berlangsung lebih dari dua generasi," suara Juanda bergema di seluruh ruangan, berat dan penuh penekanan. "Keluarga Angkasa adalah racun yang harus dicabut sampai ke akarnya. Mereka tidak akan pernah berhenti mencoba merebut wilayah dan kekuasaan kita. Dan besok, saat aku resmi menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Surya, tanggung jawab ini akan menjadi miliknya." Semua orang menunduk hormat. Surya hanya diam, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya. Sejak kecil, ia telah diajari satu hal: Keluarga Angkasa adalah musuh yang harus dibasmi. Ia dilatih bertarung, menguasai senjata, dan mengambil keputusan tegas tanpa belas kasihan. Namun di balik tatapan dinginnya, ada bagian hatinya yang lelah. Ia tidak memilih jalan ini ia terlahir di dalamnya. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Seorang pengawal masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi. "Tuan! Ada kabar buruk! Gudang penyimpanan barang kita di pinggir kota baru saja diserang! Semua barang habis dibakar, dan tiga orang anak buah kita tewas ditembak mati!" Suasana langsung berubah menjadi dingin mematikan. Juanda menekan gagang tongkatnya hingga buku jarinya memutih. "Tanda apa yang mereka tinggalkan?" "Bunga mawar putih, Tuan. Tanda khas Keluarga Angkasa." Surya merasakan darahnya mendidih. Ini bukan sekadar serangan biasa. Ini adalah tantangan terbuka, tepat di saat pergantian kekuasaan akan berlangsung. "Ayah, izinkan aku pergi ke sana," ucapnya tegas. "Mereka tidak bisa sembarangan menginjak nama Aditama." Juanda menatap putranya lama, lalu mengangguk perlahan. "Baik. Tunjukkan pada mereka apa artinya melawan Aditama. Tapi ingat jangan biarkan emosi menguasaimu. Bunuh jika perlu, tapi pastikan mereka tahu siapa yang berkuasa di sini." Dengan diiringi sepuluh pengawal andalannya, Surya melesat menuju lokasi serangan. Jalanan yang gelap dan berliku menjadi saksi bisu ketegangan yang meluap. Sesampainya di sana, pemandangan yang menyambutnya membuat giginya gemeretak. Gudang itu sudah menjadi abu, asap hitam masih mengepul tinggi, dan mayat tiga orang anak buahnya tergeletak dingin di tanah basah. Di atas salah satu peti yang masih utuh, tergeletak sebuah bunga mawar putih yang layu. "Pencuri pengecut," gumam Surya pelan. Belum sempat ia memeriksa lebih jauh, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah belakang bangunan. Surya memberi isyarat diam, tangannya langsung meraih gagang pistol yang terselip di pinggang. Sesaat kemudian, sekelompok orang muncul dari kegelapan. Di depan barisan itu, berdiri seorang wanita muda yang mengenakan jas hitam ketat, rambut hitam panjangnya terurai diterpa angin malam. Tatapannya tajam, penuh percaya diri, dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Jadi ini penerus Keluarga Aditama?" suaranya terdengar jelas, tenang namun mengandung tantangan. "Surya Aditama, bukan?" Surya menyipitkan mata. Ia belum pernah melihat wanita ini sebelumnya, tapi aura yang ia miliki tidak bisa dianggap remeh. "Siapa kau? Dan apa hakmu ada di sini?" Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai di matanya. "Namaku Sekar Ayu Angkasa. Putri dari ketua Keluarga Angkasa. Dan tempat ini adalah awal dari apa yang akan datang." Nama itu bagaikan petir di siang bolong. Anak dari musuh bebuyutan mereka berdiri tepat di hadapannya, tanpa rasa takut. Surya merasa darahnya berdesir campuran antara amarah dan rasa penasaran yang tidak ia mengerti. "Beraninya kau menampakkan diri di sini. Kau tahu tidak apa yang akan kulakukan padamu?" "Silakan coba," tantang Sekar sambil sedikit mengangkat dagunya. "Tapi ingat, jika aku jatuh malam ini, seluruh pasukan Angkasa akan menyerang markasmu saat kau lengah. Apakah kau siap mengorbankan nyawa orang-orang di sekitarmu hanya untuk memuaskan amarah sesaat?" Surya terdiam. Ia bisa melihat ketegangan di tubuh Sekar, tapi wanita itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Di balik tatapan dinginnya, ada keberanian yang jarang ia temukan pada wanita lain. Untuk sesaat, amarahnya mereda, digantikan oleh rasa aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Namun ia cepat menepisnya. Mereka adalah musuh. Selamanya. "Kau pikir ancaman itu bisa menakutkanku?" Surya melangkah maju, jarak di antara mereka semakin dekat. "Ingatlah ini, Sekar Ayu Angkasa. Mulai malam ini, aku akan memburumu dan keluargamu sampai kalian tidak punya tempat untuk berpijak di kota ini. Perseteruan ini tidak akan berakhir sampai salah satu dari kita lenyap." Sekar menatap matanya tajam, namun ada kilatan yang sulit diartikan di balik tatapan itu. "Kita lihat saja nanti, Surya Aditama. Sampai kita bertemu lagi." Dengan isyarat tangan, Sekar mundur perlahan bersama anak buahnya, menghilang kembali ke dalam kegelapan malam sebelum Surya atau anak buahnya sempat bereaksi. Surya berdiri sendirian di tengah reruntuhan, matanya menatap arah kepergian wanita itu. Namanya terus berputar di kepalanya Sekar Ayu Angkasa. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, suara tembakan meledak dari arah pepohonan di sekitarnya! Surya langsung menghindar, peluru itu meleset hanya beberapa sentimeter dari bahunya. "Penembak jitu!" teriak salah satu pengawal. Surya menoleh cepat, mencari asal tembakan. Di kejauhan, samar-samar ia melihat sosok yang sudah melarikan diri. Ini bukan bagian dari rencana Sekar ada orang lain yang ingin memanfaatkan situasi ini! Siapa yang benar-benar berusaha membunuhnya malam ini? Apakah itu perintah tersembunyi dari Keluarga Angkasa, atau ada pihak ketiga yang ingin memanaskan perseteruan ini lebih jauh lagi?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
713.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
951.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
342.9K
bc

Not just, the Beta

read
339.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook