Janji di Dermaga Tua

1351 Words
Jam dinding di ruangan Surya menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh menit. Suasana markas Aditama masih terasa tegang usai pertempuran siang tadi. Banyak anak buah yang terluka, dan suasana hati seluruh orang dipenuhi amarah serta kecurigaan. Namun di benak Surya, satu hal yang terus berputar: telepon misterius tadi malam. "Datanglah sendirian ke dermaga tua pukul dua pagi..." Ia tahu ini bisa jadi jebakan. Siapa pun yang menelepon pasti ingin memancingnya keluar dari perlindungan. Namun rasa penasaran akan kebenaran yang dikabarkan rahasia yang bisa menghancurkan keluarganya membuatnya tidak bisa diam. Jika ada yang berusaha merusak nama Aditama, ia harus tahu sebelum semuanya terlambat. Dengan gerakan hati-hati, Surya mengenakan jaket hitam tebal, menyelipkan dua pistol di pinggang, dan sebilah pisau di pergelangan kaki. Ia meninggalkan catatan singkat untuk ayahnya, namun tidak menyebutkan tujuan persisnya sesuai peringatan dalam telepon itu. Jalanan menuju dermaga tua sepi dan gelap. Daerah itu sudah lama ditinggalkan, penuh bangunan rusak dan tumpukan peti bekas. Suara ombak yang memecah karang terdengar jelas, bercampur dengan angin malam yang menusuk tulang. Sesampainya di sana, Surya bergerak perlahan, memeriksa setiap sudut dengan waspada. Tangannya selalu siap meraih senjata. Di ujung dermaga yang hampir lapuk karena dimakan usia, ia melihat sebuah sosok berdiri membelakangi cahaya remang dari lampu jalan yang rusak. "Siapa kau?" tanya Surya dengan suara berat, jaraknya masih sekitar sepuluh meter. Orang itu berbalik. Surya mengernyitkan dahi ternyata itu Sekar Ayu Angkasa. Wanita itu juga tampak siap siaga, memegang pistol di tangannya, sorot matanya tajam penuh kewaspadaan. "Kau di sini?" tanya Sekar dengan nada terkejut namun tetap dingin. "Jadi kau juga menerima telepon itu?" Surya mengeratkan genggamannya pada gagang senjata. "Jangan berpikir ini pertemuan yang kebetulan. Apakah ini jebakanmu? Memancingku datang sendirian agar kau bisa membunuhku dengan mudah?" Sekar tertawa kecil sinis. "Jika aku ingin membunuhmu, aku bisa melakukannya saat kita terjebak di tempat tadi siang. Aku datang karena aku juga ingin tahu kebenaran siapa yang berusaha memanfaatkan kita, dan apa rahasia yang dimaksudkan." Mereka saling menatap, jarak di antara mereka masih terasa dingin dan penuh permusuhan. Tidak ada rasa lega, hanya kecurigaan yang semakin besar. Namun sebelum sempat mereka berdebat lebih jauh, suara langkah kaki berat terdengar dari arah gudang-gudang tua di samping mereka. Lima orang pria muncul dari kegelapan, masing-masing memegang senjata api. Di bagian d**a mereka terlihat jelas lambang elang tanda Keluarga Garuda. Di depan mereka berjalan seorang pria paruh baya dengan bekas luka panjang membelah pipi kanannya. Itu adalah Rendra, tangan kanan pemimpin Keluarga Garuda yang dianggap telah mati bertahun-tahun lalu. "Bagus sekali," ucap Rendra sambil tersenyum licik. "Kalian berdua datang sendirian, persis seperti yang diharapkan. Dua penerus keluarga besar, terperangkap di tempat yang sepi dan tidak ada yang akan menyelamatkan." "Jadi kalian yang memancing kita ke sini?" tanya Surya dengan suara tenang meski hatinya waspada. "Apa maksud kalian sebenarnya?" "Kita ingin menghancurkan dua keluarga yang telah menindas kita selama puluhan tahun," jawab Rendra. "Dulu, Juanda Aditama dan Baskara Angkasa bersekongkol membunuh ayahku dan mengambil seluruh kekuasaan kita. Mereka bersatu untuk memusnahkan kita, lalu berbalik bermusuhan sendiri demi memperebutkan sisa kekuasaan. Itulah rahasia yang tidak pernah mereka ceritakan kepada kalian!" Ucapan itu membuat Surya dan Sekar tertegun sesaat. Mereka selalu mendengar bahwa kedua keluarga itu bermusuhan sejak dulu, namun tidak pernah ada cerita tentang persekongkolan di masa lalu. "Kau berbohong!" bentak Sekar. "Ayahku tidak akan pernah melakukan hal semacam itu!" "Benarkah?" Rendra mengeluarkan sebuah amplop tua dari saku jaketnya dan melemparkannya ke tanah di tengah mereka. "Di dalamnya ada surat perjanjian dan bukti transaksi yang membuktikan semuanya. Kalian bebas melihatnya... asalkan kalian masih hidup." Dengan isyarat tangan, Rendra memerintahkan anak buahnya untuk menyerang. Tembakan meledak secara bersamaan. Surya dan Sekar segera berlindung di balik tumpukan peti kayu yang tebal. Peluru menghantam permukaan kayu, menciptakan serbuk-serbuk halus yang beterbangan. "Kita tidak bisa bertahan lama di sini!" teriak Surya di tengah suara tembakan. "Mereka lebih banyak dan posisinya lebih menguntungkan!" "Kita harus memisahkan mereka!" balas Sekar sambil membalas tembakan. "Aku akan menarik perhatian mereka ke arah kanan, kau cari kesempatan untuk menyerang dari belakang!" Surya menatapnya sekilas. Ini bukan kerja sama karena kepercayaan, melainkan satu-satunya cara agar mereka selamat. "Baiklah! Tapi jangan berpikir aku akan membiarkanmu hidup setelah ini selesai!" "Sama sekali tidak!" balas Sekar tegas. Mereka bergerak serentak. Sekar melompat keluar dari tempat persembunyiannya, menembak secara acak dan berlari menuju bangunan tua di sebelah kanan. Beberapa anak buah Rendra langsung mengejarnya. Sementara itu, Surya bergerak diam-diam di balik tumpukan peti, mendekati posisi Rendra yang tidak terlalu memperhatikan. Pertarungan menjadi kacau. Suara tembakan, teriakan, dan dentangan benda keras bercampur dengan suara ombak. Surya berhasil melumpuhkan dua orang musuh dengan gerakan cepat, namun peluru nyaris meleset dari kepalanya. Di sisi lain, Sekar juga bertarung dengan lincah, memanfaatkan lingkungan sekitar untuk mengelabui pengejarnya. Namun Rendra tetap waspada. Saat ia menyadari Surya mendekat, ia langsung menembak. Surya terhuyung, peluru itu mengenai lengan kirinya. Darah segera membasahi jaketnya. "Sekarang kau sudah lemah!" teriak Rendra sambil mendekat dengan senjata yang masih diarahkan. "Tanpa perlindungan orang lain, kau hanyalah anak muda yang tidak tahu apa-apa!" Surya menahan rasa sakit, tangannya masih memegang pistol meski gerakannya agak terbatas. Ia tahu peluangnya tipis. Namun tiba-tiba, sebuah peluru melesat tepat mengenai tangan Rendra, membuat senjatanya terlempar jatuh. Rendra berteriak kesakitan dan menoleh. Di sana berdiri Sekar, napasnya memburu, matanya tajam mengarah pada pria itu. "Jangan berpikir kau bisa menang dengan cara licik!" Melihat pemimpinnya terluka, dua anak buah Rendra segera bergerak melindunginya. Namun sirine polisi terdengar dari kejauhan mungkin ada warga yang mendengar suara tembakan dan melaporkannya. "Kita pergi!" perintah Rendra sambil mundur perlahan. "Ini belum selesai! Kita akan bertemu lagi, dan kali ini kalian tidak akan selamat!" Mereka segera melarikan diri sebelum polisi tiba. Suasana di dermaga kembali sunyi, hanya menyisakan Surya dan Sekar yang saling berhadapan, masing-masing terengah-engah dan terluka ringan. Amplop tua yang dilempar Rendra masih tergeletak di tanah. Sekar mendekat dan mengambilnya dengan hati-hati. Ia membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya: selembar surat tulisan tangan dan beberapa lembar dokumen lama yang sudah menguning. Surya mendekat, meski tetap menjaga jarak. Mereka membaca bersama-sama. Tulisan di surat itu jelas menunjukkan tanda tangan ayah Surya dan ayah Sekar, serta uraian tentang pembagian wilayah dan perjanjian untuk memusnahkan Keluarga Garuda dua puluh tahun silam. "Jadi... ada benarnya juga ucapan mereka," gumam Sekar pelan, suaranya berubah sedikit tidak setegas tadi. Surya mengeratkan rahangnya. Dunia yang ia kenal selama ini mulai terasa kabur. "Tapi ini tidak mengubah fakta bahwa keluarga kita tetap bermusuhan. Perjanjian itu mungkin ada, tapi dendam yang tumbuh sesudahnya tetap nyata." Sekar mengangguk pelan. Ia melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke amplop. "Kita tidak bisa percaya begitu saja pada dokumen ini. Bisa saja dipalsukan." "Benar," jawab Surya. "Tapi ada satu hal yang pasti: Keluarga Garuda ingin kita saling membinasakan. Dan mereka masih memiliki rencana lain." Mereka saling menatap sekali lagi. Tidak ada rasa terima kasih, tidak ada rasa dekat hanya keraguan yang mulai tumbuh di balik dinding permusuhan yang selama ini kokoh. Namun sebelum sempat mereka berbicara lebih banyak, suara langkah kaki banyak terdengar dari arah jalan masuk. "Polisi datang," kata Sekar cepat. "Kita harus pergi masing-masing. Jika tertangkap bersama, akan muncul spekulasi yang justru membuat situasi semakin buruk." Surya mengangguk singkat. "Baiklah. Tapi ingat, ini tidak berarti gencatan senjata. Besok kita tetap musuh." "Selamanya," jawab Sekar tegas. Mereka berpisah, masing-masing menghilang ke arah yang berbeda sebelum petugas berwenang tiba. Namun di dalam hati keduanya, satu pertanyaan baru muncul: Apakah selama ini mereka berperang karena dendam asli, atau hanya karena dimanfaatkan oleh orang lain? Surya kembali ke markas dengan luka di lengannya dan amplop berisi dokumen misterius. Ia berniat memeriksanya lebih teliti, namun saat membuka pintu kamarnya, ia tertegun. Di atas meja kerjanya tergeletak sebuah bunga mawar putih tanda Keluarga Angkasa bersama selembar kertas tulisan tangan: "Kebenaran itu lebih gelap dari yang kau bayangkan. Hati-hati dengan orang yang paling dekat denganmu." Surya mengepal kertas itu erat-erat. Apakah ini pesan dari Sekar, atau jebakan lain yang ingin memanaskan perseteruan kembali? Dan siapa yang dimaksud "orang terdekat"? Apakah ayahnya, atau orang lain di dalam lingkaran keluarganya sendiri? Di sisi lain kota, di kamar Sekar, hal yang sama terjadi: sebuah lencana elang kecil tergeletak di meja, dengan pesan yang serupa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD