Tok ... tok ... tok .... "Genta, boleh mama masuk?" Genta menatap pintu kamar nya dengan sorot mata sayu, masih berusaha meredam sengatan aneh di area d**a nya akibat kenyataan beberapa waktu lalu. "Genta? Maafkan mama, tapi bisakah kita berbicara sebentar?" Genta menarik nafas perlahan dengan panjang, sesekali mengurut d**a yang semakin tak karuan. Tak lama ia duduk dari acara baringannya dan bersandar pada headboard. "Masuklah mama," pinta nya lirih. Ceklek~ Genta memalingkan wajah, tak ingin hanya sekedar menyambut kedatangan wanita yang melahirkannya walau hanya sekedar dengan senyuman. Karna sungguh, hatinya masih dongkol dengan sifat kedua orangtua nya. Bunyi decitan kasur yang menandakan ada seseorang yang mendudukinya tak juga menarik perhatian Genta. Ia tetap memalingkan

