BAB : 19

1153 Words
Awalnya sudah bersiap untuk rebahan, tapi karena mendapat telepon dari Darrel, semua niatnya berubah. Maaf, ia memang kesal dan tak menyukai sikap Darrel. Hanya saja ketika berbicara dengan dia, ada rasa lega yang dirasakannya. Perlahan dan dengan langkah terseok-seok, ia yang baru sampai beberapa menit di kamar, kembali keluar dan turun ke lantai bawah. Rasanya perjuangan banget hingga akhirnya sampai di anak tangga paling akhir. Biasanya bisa bebas berjalan cepat, sekarang malah seperti berjalan di padang pasir yang tandus. Energinya seakan terkuras habis-habisan. Sampai di bawah, Bik asih menghampirinya. “Non mau kemana lagi? Ini sudah larut malam, loh.” Ingin berbohong, tapi kembali berpikir jika semua percuma. Kali ini tak bisa kabur-kaburan, karena tak bisa bebas. “Aku mau keluar bentar, Bik.” “Kemana, Non?” tanya Bik Asih kukuh dan penasaran. “Kalau Tuan dan Nyonya tahu, Non bisa kena amuk lagi.” Menghela napasnya berat saat apa yang dikatakan wanita paruh baya ini benar juga. “Aku hanya mau ketemu sama Darrel.” “Yang tadi datang ke sini?” Nara mengangguk. “Kalau Mama sama Papa tahu pun, mereka nggak akan mempermasalahkannya. Toh, ini kan yang mereka inginkan.” Setelah mengatakan hal itu, Nara berlalu dari hadapan Bik Asih ... melanjutkan langkahnya perlahan keluar dari rumah. Ini hanya terkilir, entah apa yang terjadi jika kakinya patah. Mungkin hanya berbaring di tempat tidur yang hanya bisa ia lakukan. Melangkah menuju pagar utama yang menutup area masuk pekarangan rumah. Dia sana, ia dibantu oleh pak satpam yang menjaga di depan pos jaga. Berpikir jika Darrel masih di perjalanan, atau justru baru berniat datang ... ternyata saat pagar terbuka, cowok itu sudah menunggu di sana. “Udah di sini?” “Baru sampai,” ujarnya menyambar tangan Kinara, kemudian membantu gadis itu untuk segera masuk ke dalam mobil. Tapi, dia menolak. “Mau kemana?” “Pergi.” “Ini sudah larut malam. Kamu mau membawaku kemana?” “Bukannya kamu tadi memintaku untuk menemanimu?” “Iya, menemani ... bukan membawa pergi. Kamu mau dituduh oleh orang tuaku karena sudah membawaku pergi malam-malam begini, hem?” “Tak akan menuduh, mungkin mereka malah menyuruh,” ujar Darrel. Tahu seperti apa niat Marion dan Tiara, bagaimana mungkin pasangan suami istri itu berani menuduhnya membawa kabur Kinara. Justru mereka akan tampak bersyukur jika itu ia lakukan. Toh, niat mereka juga membuatnya tunduk, kan. “Tapi ...” Tak mendengarkan alasan Nara lagi, ia langsung saja memaksa dia untuk segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Saat hendak masuk, benar saja dugaannya. Terlihat, ada yang memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan. Lebih tepatnya, dari balik tirai. Tak perlu menebak-nebak, karena ia tahu siapa pelakunya. Lanjut masuk ke dalam mobil, kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. “Ini mau kemana? Udah malam, loh.” Takut saja jika Darrel bertindak yang aneh-aneh. Ayolah, ia seorang gadis dan Darrel adalah cowok normal. Bukan berpikiran buruk, hanya saja mencegah hal-hal buruk terjadi, wajar, kan. Ditambah lagi keduanya baru mengenal beberapa hari. Jadi, taksalah juga jika menjaga situasi agar tetap aman. “Temani aku sebentar.” Kinara menatap horor ke arah Darrel yang fokus mengemudi. Berasa mau mencakar muka cowok ini saking kesalnya. “Kenapa menatapku seperti itu?” “Kamu bilang tadi mau menemaniku, ini kenapa sekarang berubah jadi aku yang menemanimu.” Hanya tersenyum simpul, itulah yang dilakukan Darrel. Anggaplah ia sedang terjebak dengan sebuah rasa yang tak biasa. Iya, baru beberapa hari bertemu dengan gadis ini, kenapa sepertinya ada yang aneh dengan dirinya. Lebih tepatnya, ia merasa Kinara tak seperti gadis lain yang mendekatinya tanpa rasa. Tapi Nara, bahkan perasannya yang seolah mati saja justru dia buat bereaksi. Kinara sebenarnya kesal atas tindakan Darrel yang kali ini entah akan membawanya kemana. Hanya saja, karena posisinya juga sedang tak merasa nyaman berada di rumah, jadinya menerima semua ini. Mobil memasuki area pekarangan rumah, setelah seorang satpam membukakan pagar pembatas yang lumayan tinggi. Mobil berhenti di halaman rumah yang tampak begitu luas. Mata Kinara seketika berkeliling, menatap ke sekitarnya. Darrel turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Kinara. Sampai di luar, hendak membawa dia masuk ke dalam rumah. “Ini rumah siapa?” Kinara menghentikan langkahnya, membuat Darrel yang memegang tangannya untuk membantu berjalan ikut terhenti melangkah. Ia tak berpikir jika ini adalah rumah Darrel, ya. Karena kemarin saat mabuk, dirinya tak dibawa ke sini. “Rumahku.” “Lagi?” tanya Nara kaget. “Yang kemarin itu rumah orang tuaku.” “Ini?” “Rumahku pribadi. Aku tinggal di sini.” Ingin bilang wah, tapi bibirnya ia tahan untuk mengucapkan ekspressi itu. Dikira yang kemarin rumah dia, ternyata bukan. Malah dibuat shock dengan rumah yang bahkan lebih mewah bak istana. Kembali menatap ke sekitar. Jujur saja, kalau dibandingkan rumahnya, rumah ini jauh lebih luas dan mewah. Mungkin rumahnya hanya sebanding dengan luas halaman depan rumah cowok ini. Seketika matanya fokus pada satu objek yang terletak di bagian sudut halaman. Darrel heran dengan senyuman simpul yang terlihat di bibir gadis itu. “Kenapa?” tanyanya. “Ada gazebo di situ.” “Hmm, iya. Bawahnya kolam ikan.” Menatap Darrel dengan raut tak biasa. Seolah sedang mengharapkan sesuatu yang sudah lama ia impikan. “Bisakah mengajakku ke sana saat siang hari?” “Tentu saja.” “Jangan membohongiku.” “Janji.” Keduanya lanjut memasuki area rumah, dengan pintu utama yang dibukakan oleh seorang asisten rumah tangga dari dalam. Satu hal yang bisa Kinara tangkap dari kehidupan seorang Darrel adalah ... dingin. Untuk seorang cowok, dia benar-benar seolah menutup diri dari kehidupan yang hiruk-pikuk. Bisa dirasakan saat suasana tenang ketika menginjakkan kaki di rumah dia. Mata Kinara seakan dibuat tak berkedip dengan semua penampakan yang ada di dalam rumah ini. Ia merasa selama ini kehidupannya sudah bergelimang harta dan materi, tapi ternyata salah besar. Semua yang dimiliki keluarganya, tak sebanding dengan apa yang dimiliki oleh Darrel. Pantas saja jika orang tuanya begitu kukuh dengan niat menyebalkan itu. Seperti memasuki elemen air, di mana yang hanya terasa adalah suasana nyaman dan tenang. Seorang asisten rumah tangga menghampiri dengan wajah sedikit menunduk. “Maaf, Tuan ... pesanannya sudah disiapkan oleh pelayan di ruangan atas.” “Terimakasih.” Wanita itu segera berlalu pergi setelah mendapat respon dari Darrel. “Ada berapa pelayan di rumah ini?” Darrel mengangkat kedua bahunya, pertanda ia tak tahu. “Ya ampun, jawaban macam apa itu?” “Urusan mamaku, jadi aku hanya menerima saja.” Seketika Nara berpikir kalau Darrel adalah seorang anak manja yang apa-apa diurus oleh orang tua. Tapi, tentu saja itu hanya pikirannya saja. Karena tahu sendiri kenyataannya seperti apa, kan? Jadi seorang pengusaha muda yang berada di tingkat paling atas, itu sesuatu yang membuat dunia seolah berada di dalam genggaman dia. Melanjutkan langkah menuju lantai atas. Kadang Nara bingung, ini dirinya diperlakukan oleh Darrel seperti ini, kenapa sikapnya malah justru merasa aman dan nyaman saja, ya. Baru kenal, tapi tingkat percayanya pada Darrel seolah sudah kenal lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD