Nara yang awalnya rebahan, langsung segera duduk ketika mendengar kata-kata menohok yang diutarakan papanya. Jujur, inikah sikap asli kedua orang tuanya atau justru dirinya yang selama ini terlihat bodoh ... hingga tak sadar seperti apa mereka sebenarnya.
“Papa mau aku bersikap seperti apa pada Darrel?” Tersenyum getir. “Papa tahu tidak, aku memang butuh materi. Hanya saja bukan dengan jalan kotor seperti saran papa ataupun mama. Sekarang memintaku mendekati Darrel dengan cara yang ...” menghentikan kata-katanya. “Kalian berdua benar-benar berniat menjadikanku sebagai tumbal sebuah bisnis!”
Beranjak dari posisi duduknya, kemudian berlalu pergi dari sana dengan langkah terseok-seok. Iya, kakinya benar-benar terasa sakit. Bahkan seolah belum ada perubahan. Tapi sakit di hatinya jauh lebih sakit. Apalagi semua itu disebabkan oleh orang tuanya sendiri. Berasa sebuah barang yang dengan gampangnya kesana kemari sesuai keinginan mereka.
Menuruni anak tangga perlahan, sampai di bawah tersandar di dinding kemudian menangis dengan kedua lutut sebagai penopang.
“Loh, Non nara kenapa? Kakinya masih sakit ya, Non?”
Bik Asih yang posisinya berada di dapur muncul dan menghampiri Kinara yang menangis terduduk di lantai. Padahal tadi gadis ini baik-baik saja, kenapa sekarang malah menangis. Bahkan saat jatuh pun tadi siang juga tak sampai seperti ini.
“Non kenapa?”
Menghapus air mata di kedua pipinya dan kembali ke mode tenang. “Bik, bantuin aku ke teras samping,” pintanya yang langsung disetujui oleh Bik Asih.
Sampai di sana, ia duduk di kursi mengusap-usap pergelangan kakinya yang jujur saja rasanya sangat ngilu. Kalau tidak dalam keadaan seperti ini, ia lebih memilih pergi keluar daripada berada di dalam rumah. Otaknya seakan mau meledak saja, ketika mengingat kata-kata papanya tadi.
Bik Asih yang tadinya masuk, kini kembali menghampiri Kinara. Dengan sebuah baki berisi makanan dan segelas air minum.
“Aku nggak minta makan, Bik,” ujar Nara.
Wanita paruh baya itu tak mendengarkan apa yang dikatakan majikannya. Buktinya, ia tak berniat membawa kembali makanan itu ke dalam. Justru meletakkan di meja samping Nara.
“Bibik tahu apa yang Non rasakan. Tapi semua itu harusnya nggak sampai bikin Non menyiksa diri sendiri. Kalau Non sakit, otomatis nggak bisa berbuat apa-apa. Itu artinya, semua keputusan tetap berada di tangan Tuan dan Nyonya.”
Entah Bik Asih tahu permasalahan yang ia hadapi atau tidak, tapi dari kata-kata yang diberikan padanya seolah dia tahu segalanya.
“Kalau bukan karena kakiku sakit, aku males di rumah,” gumamnya mulai menyambar piring yang berisi makanan dan mulai melahapnya perlahan.
Bik Asih tampak tersenyum simpul melihat sikap Nara. Ya, gadis ini memang masih muda. Bahkan usia saja belum genap dua puluh tahun. Hanya saja karena sikap orang tua yang seolah tak terlalu perhatian, membuat dia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah daripada di rumah. Ya apalagi penyebabnya kalau bukan mencari hal yang menyenangkan.
“Non, yang tadi itu siapa?” tanya Bik Asih.
“Siapa?”
“Yang datang dan Non ijinkan masuk ke dalam kamar.”
Kinara memutar bola matanya malas dengan perkataan Bik Asih.
“Siapa yang ijinkan dia masuk ke dalam kamarku, sih, Bik. Dia yang maksa masuk, itu berarti aku nggak ngijinin,” jelasnya tak terima dengan perkataan Bik asih.
“Iya, nggak ijin. Tapi saat sudah di dalam, malah dibiarkan saja.”
“Bibik, ih. Jangan mulai berpikir seperti orang tuaku, deh. Dia itu cowok baik-baik dan aku juga nggak mungkin lakuin hal-hal aneh sama dia.”
“Ehem, mulai dibelain.” Ledek Bik Asih yang semakin membuat raut aneh terpancar di wajah Kinara.
“Bibik ...”
Bik Asih tertawa melihat ekspressi Kinara yang mungkin lebih baik dia merajuk ataupun merengek seperti ini, daripada seperti sebelumnya yang justru kelihatan menyedihkan.
“Bibik tinggal dulu ya, Non. Nanti kalau sudah selesai makannya, panggil saja.”
Jadilah, ia makan malam sendirian. lebih tepatnya memang selalu begini juga, sih. Karena orang tuanya jarang makan di rumah, apalagi untuk rutinitas makan bersama. Adapun, paling makan di luar dengan jadwal yang sudah diatur sedetail mungkin. Karena terkadang, saat makan justru ada saja yang jadi halangan orang tuanya.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebenarnya ia tak mengantuk, hanya saja ingin berbaring. Kembali ke kamar, tapi saat tangannya memegang gagang pintu, niatnya terhenti karena sebuah panggilan dari mamanya.
“Sudah baikan?”
“Menurut mama?”
“Mama serius loh, Sayang. Udah deh, jangan bersikap seolah-olah di sini yang salah adalah kami sebagai orang tua.”
“Mama tahu tidak, kalau bunuh diri bukan termasuk ke dalam sebuah dosa, aku mungkin akan memilih jalan itu daripada harus berhadapan dengan kehidupan yang menjebak seperti ini.”
“Nara!”
Tak membalas lagi, ia langsung saja membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Berhadapan dengan orang tuanya itu seperti makan buah simalakama. Dihadapi, takut dosa. Nggak dihadapi, beliau seolah selalu menyulut emosinya.
“Dengar, Nara! Kalau kamu nggak menuruti apa yang Mama sama Papa inginkan, jangan berpikir untuk keluar dari kamarmu! Nggak ada yang namanya bebas ataupun kuliah. Terserah, apa yang mau kamu pilih!” teriak Tiara di depan pintu kamar Kinara. Karena ia tahu, gadis itu pasti mendengar perkataannya.
Tadinya sudah mode tenang, tapi sekarang justru posisinya semakin dipersulit oleh orang tuanya sendiri. Bisa-bisanya mengacamnya dengan cara kotor begitu.
Menghempaskan badannya di kasur, kemudian menutupi wajahnya dengan bantal. Tak ingin menangis, tapi posisinya sekarang memang terasa sangat menyedihkan. Seperti sebuah boneka yang diciptakan untuk melakukan sebuah misi kejahatan dan bodohnya ia baru paham sekarang.
Ponselnya berdering. Tak melihat siapa yang menghubungi, malah langsung saja menjawab.
“Ya?”
Si penelepon masih diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Ini siapa?”
“Kamu nangis, ya?”
Pertanyaan itu tak dijawab oleh Nara. Ia malah melirik nama yang tertera dia layar datar itu. padahal berpikir kalau yang menelepon adalah Zeli ataupun Faye, tapi ternyata malah Darrel.
“A-apa?” Tampak .gugup. Karena ia memang berbohong
“Nangis?”
“Enggak.”
“Aku nggak nanya, itu menebak.”
“Kamu mau ngapain? Kalau nggak ada yang penting, aku tutup dulu. mau istirahat,” ujarnya hendak menutup percakapan dengan Darrel.
“Pasti karena orang tuamu, kan?”
Awalnya hendak menutup, tapi perkataan Darrel bikin kesal juga. “Maumu apa, sih? Ini masalahku, jangan ikut campur.”
“Dan jangan lupa, kalau aku berada di antara masalahmu itu, Nara.”
“Apalagi?”
“Beneran nangis?”
“Iya, aku nangis. Kenapa? Puas kamu!” Langsung kembali ke mode nangis. Jujur, ya ... ini dirinya masih kesal dengan semua permasalahan dengan orang tuanya. Tiba-tiba Darrel menelepon seolah menyulut api dan emosinya agar semakin naik.
“Mau aku temani?”
“Nggak usah!” Menolak dengan tegas.
“Mau menemaniku?”
“Darrel!”
Keterlaluan banget kan, dia. Seolah muncul hanya memberikan ia rasa kesal yang semakin parah.
“Aku baru mau pulang. Kalau kamu mau, aku bisa menemanimu sebentar.”
“Nggak!”
“Yakin?”
Kinara terdiam.
“Percayalah, aku tak seburuk yang kamu pikirkan. Hanya berniat menemanimu saja. Nggak lebih.”
“Baiklah,” respon Nara lembat.
“Aku kabari saat sampai.”
“Hmm.”
Semakin terlihat bodoh saja, kan, dirinya. Kesal pada Darrel, malah menyetujui saat dia mau ketemuan. Darrel yang dijadikan orang tuanya sebagai ladang penyempurna bisnis, bahkan dia tahu itu ... hanya saja dengan begitu bodoh malah seolah mau saja mengikuti alur yang dibuat orang tuanya. Apakah di sini posisinya dan Darrel sama-sama tampak bodoh?