“Apa yang kamu lakukan!”
Mendorong Darrel agar menjauh dan melepaskannya dari dekapan dia, tapi seolah sia-sia saja ... karena dia menahan agar dirinya tetap di posisi itu.
“Kenapa bisa begini?”
Pertanyaan Darrel membuat Nara terdiam. Dia sedang bertanya tentang apa, sih? Sumpah, ya. Ini darrel sikapnya seolah tak bisa diterimanya dengan akal sehat. Atau justru dirinya emmang sedang tak sehat.
“Maksudmu apa?”
“Kenapa kamu bisa ku rasakan?”
“Bapak Darrel yang terhormat. Aku ini manusia, tentu saja bisa dirasakan. Dikira aku ini hantu, yang tak bisa disentuh dan dirasakan.”
“Hmm,” angguk Darrel. “Aku nggak bisa merasakan apapun, tapi kenapa bisa merasakanmu?”
Tadinya mode kesal, tapi kembali ia sadari perkataan Darrel. Benar juga, ya ... bahkan saat pisau itu dengan sengaja dia lukai tangannya, terlihat biasa saja. Tak tampak kesakitan dia rasakan.
“A-apa yang kamu rasakan?” tanya Nara penasaran.
Tak langsung menjawab, darrel seolah menikmati perasaannya saat ini. Ia tahu jika sikapnya ini salah, karena dengan seenaknya begini pada Kinara. Hanya saja, rasanya begitu nyaman saat ada yang bisa ia rasakan.
“Hangat,” gumamnya pelan. “Nyaman.”
Sekali lagi ia tekankan bahwa dirinya adalah wanita biasa, wanita normal yang juga punya perasaan. Ketika sikap Darrel begini padanya, wajar, kan, dirinya salah tingkah. Ditambah lagi sebelum tahu kalau dia menyebalkan, hatinya memang menaruh rasa suka pada dia.
“Bisa lepasin aku.” Sungguh, ia merasa nggak nyaman mendapatkan sikap seperti itu.
Darrel melepaskan Kinara dari dekapannya. Canggung, tapi perasaan heran seolah membuat rasa canggung itu hilang begitu saja.
“Maaf,” ucap Darrel. “Aku bersikap seperti itu hanya penasaran saja.”
Hanya mengangguk perlahan. Aslinya mah ia saat ini seakan salah tingkah dihadapan Darrel. Darrel yang bersikap aneh, tapi malah dirinya yang jadi tak enak.
Bingung harus bersiakp bagaimana, untungnya di saat yang bersamaan ponsel milik dia berdering ... hingga akhirnya situasi yang sedikit canggung itu tercaikan.
Darrel beranjak dari posisi duduknya, berjalan sedikit menjauh ke dekat balkon kamar untuk menjawab panggilan telepon. Selang beberapa saat kemudian kembali pada Nara.
“Maaf, aku harus kembali ke kantor,” ujar Darrel.
Kinara mengecek waktu di jam yang ada di dinding. Terlihat jarum jam sudah berada di angka delapan malam. Ayolah, apa cowok ini sudah tidak sehata, ya. Hingga di jam segini dia masih berpikir untuk kerja.
“Kamu yakin mau ke kantor?”
“Hmm, ada kerjaan. Mungkin lembur.”
Kinara tersenyum sinis mendengar pengakuan Darrel. Menyenderkan punggungnya dengan paksa pada sebuah bantal di punggungnya.
“Kenapa, ya ... setiap pebisnis itu tak mengenal waktu?”
“Maksudnya?”
“Gila kerja,” respon Nara langsung. “Bahkan lupa dunia nyata saat terlalu fokus pada hal yang mereka anggap sebagai hal yang nomer satu di atas segalanya.”
“Tak semua seperti itu. Setiap orang punya masing-masing alasan dalam menyikapinya. Aku tahu kamu bicara begitu karena pengalaman orang tuamu sendiri, kan. Tapi percayalah, aku dan papamu berbeda.”
Nara memanyunkan bibirnya ketika mendengar perkataan dan balasan Darrel.
“Terserah. Tak ada hubungannya juga denganku berengutnya dengan nada kesal.
“Aku pergi.”
Darrel langsung berlalu pergi dengan langkah cepat meninggalkan Kinara yang masih mode jutek. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan tentangnya. Ingin bicara panjang, tapi sekarang bukan waktunya. Ada banyak pekerjaan yang harus lebih dulu diselesaikan.
Seperginya Darrel, Kinara mengehembuskan napasnya lega. Seperti sebuah perasaan yang nyangkut di tenggorokan, hingga akhirnya lepas.
“Akhirnya dia pergi,” leganya merebahkan badan di kasur.
Bukan tak menyukai Darrel menemuinya, tapi sikap cowok itu barusan padanya sukses membuat otak dan hatinya seakan dihantam badai kebingungan. Kenapa dia sampai bersikap seperti itu? Kemana Darrel yang di awal pertemuan dengannya ... seperti kutub utara yang entah kapan akan melelehnya.
“Menghadapi sikap aneh dia dalam durasi beberapa menit tadi, benar-benar menguras otak,” gumamnya. Kemudian berpikir. “Tapi, apa benar dia nggak bisa merasakan apa-apa?”
Kembali nggak yakin, tapi saat ingat dia melukai tangan sendiri dengan pisau, kembali lagi membuatnya percaya. Hanya saja ia bingung, kenapa saat dirinya yang menyentuh, malah bisa dirasakan.
“Ya ampun, skenario kehidupan macam apalagi ini yang akan gue hadapi.”
Jadi anak tunggal yang apapun dengan mudah ia dapatkan. Sekarang, di saat terbiasa menikmati, ia justru harus dihadapkan pada sebuah drama yang mengharuskannya melakukan misi sesad yang direncanakan orang tuanya sendiri.
Berpikir jika ini hanyalah bisa terjadi dalam sebuah sinetron, tapi ketika mengalami sendiri akhirnya ia sadari jika hidup juga termasuk dalam skenario. Bahkan yang tadinya berpikir kalau dirinya paling disayang, ternyata ia justru disiapkan jadi sebuah tumbal demi kelancaran bisnis orang tuanya sendiri.
Pintu kamarnya dibuka dari arah luar. Membuat pandangannya fokus pada seseorang yang masuk dan berjalan menghampirinya.
“Bagaimana kondisimu?”
“Menurut Papa?”
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya juga ikut mengekor masuk.
“Sudah makan, Sayang?”
“Belum,” jawabnya malas.
“Ini sudah malam, loh. Jangan bilang kalau kamu sengaja nggak makan karena nungguin papa sama mama,” ujar Tiara.
Kinara menatap fokus pada wanita paruh baya yang duduk di sampingnya yang sedang rebahan.
“Aku pernah melakukan hal itu, hingga akhirnya yang ditunggu ternyata sudah makan di luar. Jadi, aku kapok untuk menahan lapar, kalau endingnya yang ditunggu juga malah tak menghargaiku.”
Sebelumnya Kinara masih bersikap layaknya seorang anak manis dan penurut pada kedua orang tua. Sadar, jika selama ini ia banyak salah, terutama perkara ijin keluar malam yang sering ia abaikan. Tapi semenjak kemarin saat tahu jika sayang padanya hanyalah untuk memperbudaknya, sikapnya berubah.
“Kan Mama sama Papa sudah bilang, kalau kamu jangan menunggu.”
“Aku anak mama sama Papa, loh ... wajar, kan, kalau sesekali kita makan bersama.” Menghembuskan napasnya malas. “Ah, sudahlah. Percuma juga ku jelaskan, kalau sebagai orang tua kalian berdua nggak memahami apa yang ku mau.”
“Papa berikan apa yang kamu mau selama ini, kan? Katakan, apa yang nggak pernah kami berikan.”
“Kasih sayang kalian padaku mana? Hilang kemana? Apa sudah lupa kalau aku juga butuh sosok Mama sama papa di sampingku?”
“Nara, kamu ...”
“Tadinya aku masih bertahan karena sadar jika sebagai seorang anak, sikapku mungkin tak baik. Selalu melakukan apa yang kalian larang lah. Tapi, sekarang aku nggak mau lagi, Ma, Pa. Aku nggak mau lagi melakukannya ... termasuk mendekati Darrel.”
Tampak emosi menyelimuti raut wajah Marion ketika mendengar perkataan Kinara. Gadis yang biasanya penurut, meski sesekali suka membantah, tapi sekarang dengan berani menolak apa yang ia inginkan.
“Jangan pernah membantah apa yang Papa mau, Kinara!”
“Papa tahu nggak. Aku benci dunia bisnis. Karena apa? Karena banyak orang yang saat terlalu menikmati pekerjaan itu, mereka lupa segalanya. Aku memiliki orang tua yang bergelut di bidang bisnis, dan sekarang aku malah dipaksa untuk mendekati Darrel demi bisnis. Aku nggak mau, Pa. Tolong, jangan memaksaku untuk mendekati dia lagi.”
“Dengar, Nara!” bentak Marion yang membuat Kinara bahkan Tiara dibuat kaget mendengar suara lantang itu. “Harusnya kamu bersyukur terlahir di keluarga pebisnis. Itu artinya, kehidupanmu terjamin. Mendekati Darrel adalah jalan terbaik dan yang paling aman agar bisnis kita tetap berada di jalan yang sempurna. Kamu sudah biasa hidup dalam kemewahan. Berpikirlah bijak, jika tak ada harta kamu mau hidup bagaimana!”
“Aku tahu, Pa. Aku paham. Tapi, jangan mendekati Darrel. Karena dia tahu seperti apa niat Papa sebenarnya. Dia nggak sebodoh yang kalian kira.”
“Kamu itu seorang gadis, Kinara. Kamu sudah dewasa. Berpikirlah bagaimana cara mendekati seorang pria dengan caramu!”
Hatinya dibuat seakan tertusuk pisau, ketika mendengar perkataan papanya sendiri. Apa laki-laki paruh baya ini sedang memaksanya untuk melakukan tindakan dan cara yang kotor agar Darrel ia dapatkan?