Suara deringan ponsel memecah tidur nyenyaknya yang bahkan terasa begitu singkat. Bukan hanya matanya yang berat untuk melek, tapi kepalanya juga terasa sedang ditimpa beban berat.
Perlahan bangun, memutar posisi tidurnya menghadap ke arah jendela. Awalnya malas, tapi sinar mentari yang terlihat sudah begitu terang benderang sontak membuatnya melek maksimal. Langsung duduk dan menyambar ponsel miliknya yang terdengar sudah berulang kali berdering. Hanya saja tadi ia abaikan karena rasa malas dan kantuk.
Terlihat nama Faye yang tertera di layar datar itu.
“Hallo.”
“Ra, lo di mana, sih? Katanya hari ini masuk. Ini kita berdua udah deg-deg an loh. Lo suhunya dalam tugas ini. Jangan bilang kalau hari ini nggak masuk.”
Faye langsung heboh. Bukan apa-apa, itu karena di kampus ada tugas kelompok diskusi. Sedangkan Kinara salah satu di antara ketiganya yang bisa dikatakan ketua dalam hal perdebatan.
“Iya, sorry. Gue semalam tidur larut malam. Jadi kesiangan. Tenang, tenang ... ini gue langsung mandi dan otewe, kok.”
“Jangan sampai telat, ya.”
“Iya.”
Jadilah, niat hati ingin meregangkan otot kakinya yang masih sakit agak sejenak ... hanya saja tak jadi karena diburu waktu.
Segera berjalan perlahan menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama, karena posisinya sekarang adalah dikejar waktu. Selesai mandi, segera berganti pakaian. Rok selutut dengan atasan senada dan sepatu kets sebagai bawahan.
Mencari ikatan rambut kesayangannya, tapi tak ia temukan. Teringat, kalau benda itu diambil paksa oleh Darrel semalam. Mencari ikat rambut lain, tapi matanya tiba-tiba fokus pada jam dinding. Berasa diburu waktu, hingga melupakan ikatan rambut.
Beranjak dari posisi duduknya, menyambar tas ransel dan segera bergegas keluar dari kamar.
“Serius, ya. Gue paling kesal kalau dikejar waktu kayak gini,” umpatnya berdecak kesal saat menuruni anak tangga secara perlahan. Coba saja kalau kakinya tak sakit, udah berlari ini.
Sampai di bawah, menghela napasnya panjang. Lega, akhirnya berhasil sampai.
“Non mau kemana?” tanya Bik Asih yang berpapasan dengan Nara di bawah.
“Kampus, Bik.”
“Kakinya kan masih belum pulih, Non. Kok udah mau kuliah aja, sih. Nanti Tuan sama Nyonya marah, loh.”
Nara yang tadinya hendak berlalu pergi begitu saja, seketika menghentikan langkahnya saat mendengar kata-kata Bik Asih.
“Bibik tahu, kan, Mama sama Papa itu nggak perduli sama sekali padaku. Jadi, jangan berpikir jika mereka akan khawatir tentang kondisiku. Mungkin kalau aku mati sekalipun, juga nggak akan ada pengaruhnya sama kehidupan mereka.”
“Non ...”
“Apa yang kamu katakan, Sayang?”
Memutar bola matanya malas, saat ia sedang buru-buru, ada saja yang membuatnya harus tertahan.
“Kenapa bicara seperti itu?” tanya Tiara mengomentari perkataan putrinya barusan.
“Kenapa, Ma? Toh, memang kenyataannya seperti itu, kan? Aku mau sakit atau mati sekalipun, mama sama papa nggak akan perduli padaku.”
Wajah Tiara seketika berubah emosi dengan balasan Kinara.
“Sejak kapan kamu jadi anak yang pembangkang begini? Apa ini balasan yang kamu berikan pada kami sebagai orang tua?”
Tersenyum getir.
“Sudahlah, Ma. Aku capek jika harus berdebat terus sama Mama. Karena kenyataannya anak pasti salah lagi dan lagi.”
Hendak pergi, tapi Tiara menyambar tangan Nara hingga langkah gadis itu terhenti.
“Kamu tahu, Kinara! Seorang anak tak sepantasnya bicara dan bersikap seperti itu pada orang tuanya. Karena kodrat seorang anak adalah menuruti apapun yang membuat orang tuanya bahagia. Bukan malah sebaliknya.”
“Termasuk memaksa?”
“Itu semua bukan paksaan, tapi bukankah memang seharusnya tugas anak adalah membalas kebaikan orang tuanya?”
Nara melepaskan pegangan tangan Tiara di tangannya. Tahukah apa yang ia rasakan kini? Yap, sebuah kesedihan mendalam. Ingin teriak, ingin menangis dan menghilang dari dunia ini.
“Mama meminta balas budi karena melahirkan dan membesarkanku?”
“Tak harus diminta dan dituntut. Itu memang kewajiban seorang anak, kan?”
Terkekeh, dengan tangis yang tertahan. Ternyata ia memiliki sebuah hutang budi pada orang tuanya sendiri, karena sudah melahirkannya ke dunia dan merawatnya sampai seusia ini.
“Makanya Mama dan Papa menjadikanku sebuah alat untuk mencapai sesuatu yang kalian inginkan.”
“Kami bukan sedang menjadikanmu sebagai alat, Nara. Itu salah. Kami lakukan karena tak ingin kamu hidup susah dengan kekurangan materi. Kalau bisnis kami maju, itu kan kamu juga yang akan menikmati hasilnya.”
Dengar, kan ... perkataan mamanya tak akan jauh dari materi dan bisnis. Bahkan menjadikan dirinya sebagai tumbal demi dua hal itupun mereka lakukan.
“Aku berangkat kuliah dulu,” pamitnya langsung saja berlalu pergi dari hadapan Tiara. Dengan langkah cepat, meskipun kakinya terasa ngilu. Rasanya ingin cepat pergi dari rumah yang akhir-akhir ini terasa panas.
Pak satpam membukakan pagar saat ia akan keluar. Tak lama, sebuah taksi datang dan berhenti di depannya. Langsung masuk dan memberitahukan tujuannya pada supir taksi.
Beberapa hari yang lalu ia masih merasa dianggap sebagai seorang anak di dalam rumah, tapi setelah tahu niat kedua orang tuanya seperti apa ... rasanya status sebagai anak seolah sudah tak berlaku.
Wanita yang ia panggil mama sekalipun, bahkan dengan lantangnya meminta balas budi. Setahunya, bukankah seorang Ibu tak kenal pamrih karena membesarkan anak-anaknya? Tapi, kenapa mamanya malah menuntut semua itu.
Sampai di kampus, langsung masuk dan menuju kelas. Baru setengah perjalanan, ia rasanya seolah tak sanggup lagi berjalan. Kakinya seakan keram karena dipaksa. Memilih duduk di kursi yang ada di salah satu lorong kelas. Kemudian menelepon Zila untuk menyusulnya.
“Hallo, Ra.”
“Susul gue ke sini. Serius, kaki gue sakit banget.”
“Lo di mana?”
“Depan kelas bahasa.”
“Oh, oke. Gue sama Faye ke sana.”
Jadilah, ia menunggu kedua sobatnya datang menyusul. Hanya berjalan dari gerbang depan, ini keringatnya sudah membasahi sekujur tubuhnya.
Selang beberapa menit, tampak Faye dan Zila berlari menghampirinya.
“Ya ampun, Ra ... lo beneran sakit?”
“Ish, lo pikir gue sakit bohongan?” Memberengut kesal atas perkataan Faye. Padahal sudah ia katakan kemarin kalau jatuh di kamar. Ini malah seolah tak percaya saja.
Jadilah, kedua gadis itu membantu Kinara untuk lanjut berjalan menuju kelas yang terletak di bangunan belakang. Kenapa juga ini kelas harus jauh jaraknya dari gerbang depan. Ini baru mau masuk, apa kabarnya nanti saat pulang. Iya, otomatis olah raga lagi.
Sampai di kelas, tampak beberapa mahasiswa dan mahasiswi sibuk dengan kelompok masing-masing. Bagaimana tidak, tugas kali ini merupakan nilai tambahan. Kalau tak ikut, otomatis nilai bakalan kosong.
“Lo udah siapa, kan?” tanya Faye pada Nara.
“Jangan ditanya lagi. Kebetulan tadi di rumah gue juga habis berdebat sama Mama, otomatis sekarang emosi gue lagi naik.”
“Kenapa lagi?”
“Jangan bilang kalau orang tua lo marah karena keluar tanpa ijin atau ...”
“Bukan, bukan itu.”
“Lalu?”
“Masalah sikap mereka yang tiba-tiba berubah. Ternyata selama ini memberikan apapun yang gue inginkan, itu seolah ada ganti ruginya.”
“Maksudnya gimana, sih?” Zila malah dibuat bingung dengan perkataan Kinara.
“Ya, mereka melempar gue masuk ke sebuah perusahaan ternyata ada niat buruk.”
“Apa?” Kaget kedua sahabatnya berbarengan.
“Mereka pengin gue dekat sama pemilik perusahaan itu. Artinya, kedekatan gue dan dia nantinya bisa membawa pengaruh buat perusahaan orang tua gue,” jelas Nara.
“Jadi, ini ceritanya elo dijadiin tumbal dalam dunia bisnis?” tanya Faye, yang lebih mirip sebuah tebakan.
Ingin berkata tidak, tapi kenyataannya memang begitu. Jadi, bagaimana mau mengelak?
“Begitulah.”