BAB : 24

1263 Words
Sebenarnya ia benar-benar nggak mood datang ke kampus, bahkan mengikuti kelas saja rasanya tak bersemangat. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena masalah dengan mamanya tadi pagi. Kalau bukan karena memikirkan nilainya, mungkin hari ini ia akan memilih mendekam di dalam kamar seharian suntuk. Waktu menunjukkan pukul satu siang, ketiganya sedang menikmati makan siang di sebuah cafe yang berada di dekat kampus. Tempat tongkrongan anak-anak kampus kalau menghabiskan waktu. Pesan segelas minuman, nongkrongnya hingga berjam-jam. Atau bahkan cuman numpang duduk mengerjakan tugas kampus. Faye dan Zila saling lirik satu sama lain. Apalagi kalau bukan perkara mood Kinara yang semenjak pagi tadi seperti rooler coaster. Turun naik. Bahkan pas tuga debat tadi saja dia seolah sedang mengeluarkan uneg-uneg yanga da dalam pikiran dia. “Ra, lo masih mikirin orang tua lo?” tanya Zila menebak. “Gue nggak mikirin mereka, tapi yang gue pikirin adalah ... bisa nggak ya kira-kira gue hidup tanpa campur tangan mereka?” Menatap kedua sahabatnya penuh tanda tanya. “Maksud lo?” “Gue nggak mau jadi seorang anak yang hanya dijadikan sebuah alat untuk mendapatkan dan menggapai sesuatu yang mereka inginkan.” Faye menarik napasnya dalam. “Palingan orang tua lo nggak bakalan biarin itu terjadi. Lihat selama ini, bahkan hanya untuk keluar saja semua dibatasi. Lo yakin bisa kabur dari semua itu?” “Tapi ...” “Orang tua lo itu pasti udah mikirin ini jauh-jauh hari lah. Kalau enggak, mana mungkin mereka dengan santainya melakukannya. Harus lo sadari, orang tua kita berada di titik yang sama. Memuja harta dan tahta. Anak adalah nomer sekian. Kalau bisa dijadikan duit, kita juga bakalan dilempar.” Zila mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan faye. “Sekarang elo. Tinggal tunggu waktu saja gue atau Faye yang bakalan jadi objek selanjutnya.” Kadang tak habis pikir pada orang tua mereka. Seolah hanya mmikirkan harta dan tahta, hingga seolah menumbalkan anak sendiri. Kinara menyeruput minumannya, saat otaknya terasa panas memikirkan perkara ini. “Lo hari ini masih kerja?” Kinara menggeleng. “Lo cabut?” “Nggak, cuman ambil libur aja sampai kaki gue beneran pulih.” “Gimana sama si cowok yang jadi atasan lo? Bukannya kemrin kalian baku hantan, trus sampai sekarang masih kah?” “Baik, kok,” respon Nara. Sontak dong mendengar balasan Kinara membuat Faye dan Zila saling lirik sedikit bingung. Ayolah, keduanya masih ingat seperti apa kesan yang disampaikan Nara saat dia begitu kesal atas sikap sia pemilik perusahaan tempat dia harus kerja. Tapi sekarang tiba-tiba seolah berbanding terbalik. “Lo yakin?” “Yakin apanya?” “Kemarin bilangnya dia nyebelin, ngeselin, pengin elo bunuh dan kawan-kawannya. Tapi sekarang malah bilang baik.” Menyenderkan punggungnya di kursi. “Pas acara ulang tahunnya Erika, gue mabuk parah. Sendirian di jalanan nungguin taksi, karena elo berdua udah gue suruh pulang duluan.” “Padahal kita udah nawarin buat nganter. Elonya aja yang keburu takut sama orang tua lo,” sahut Zila. “Trus?” tanya Faye. “Trus, hujan gede ... dan gue masih nangkring di pinggir jalan. Tiba-tiba dia muncul dan ...” “Jangan bilang kalau dia bawa elo ke hotel. Trus, dia melakukan sesuatu yang bikin kaget pas pagi harinya. Jujur, Ra ... kalian berdua nggak sampai melakukan hal-hal yang bikin perut lo melendung, kan?” Kinara sampai menggetok kepala Zila dengan sendok saat mendengar pemikiran buruk sobatnya itu hingga sampai memikirkan hal jorok. “Lo pikir gue cewek apaan, sih ... sampai melakukan hal seperti itu.” Sementara Faye malah tertawa ngakak ketika mendengar pemikiran Zila yang menurutnya terlalu random. Dikira semua kisah seperti siaran FTV. “Ya maap. Kan gue cuman memikirkan hal-jhal yang sering terjadi di sebuah drakor.” Di saat yang bersamaan, ponselnya berdering. Menyambar benda pipih itu, kemudian melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata dari mamanya. Kembali meletakkan ponsel dengan muka malas. ‘Dari siapa?” “Mama.” “Kenapa nggak dijawab. Siapa tahu ada yang penting.” Berkat saran Zila, akhirnya Nara memutuskan untuk menjawab panggilan dari mamanya. Meskipun ia sudah peka akan apa yang dikabarkan oleh wanita paruh baya itu. “Ya, Ma.” “Kamu masih di kampus?” “Iya.” “Nggak ke kantor Darrel?” “Aku udah bilang sama Darrel kok semalam, kalau untuk beberapa hari ini aku ijin nggak masuk.” “Darrel bilang apa?” “Ya, bilang apalagi. Toh dia juga tahu kalau aku lagi cidera gini.” Mendengar perkataan Kinara pada mamanya, membuat Zila dan Faye malah senyum-senyum. Ayolah, mereka berdua berada dalam satu pemikiran yang sama. “Mama sama Papa nggak enak loh, sama dia.” “Udah deh, Mama sama Papa jangan terlalu bersikap memalukan seperti itu. Aku tahu bagaimana harus bersikap sama Darrel, jadi jangan terlalu menunjukkan kalau Mama sama Papa memang mengincar posisi dia.” “Nara, mama melakukan semua ini demi kamu!” “Iya, aku mau bilang makasih banget atas bantuan Mama. Lihat, kan, sekarang ... aku sepeerti seorang gadis yang nggak tahu malu.” Langsung menutup panggilan telepon dengan mamanya. Mencari cara agar tak memperpanjang perdebatan, karena kalau terus lanjut ia bisa saja tak bisa menahan emosi. Melempar ponselnya di meja, kemudian menuyeruput minumannya hingga habis tak tersisa. “Lo baik-baik aja, kan?” tanya Zila memastikan. “Menurut lo gue baik-bak aja tau enggak?” Zila menggeleng cepat, menjawab pertanyaan Kinara. “Hmm, Ra ... kita boleh nanya sesuatu, nggak?” “Jangan tanya perihal gue sama Darrel.” Zila dan faye memberengut, ketika isi otak mereka seolah bisa ditebak oleh Kinara dengan mudah. Padahal kan keduanya penasaran dengan hubungan Kinara dan darrel. “Kan kita penasaran.” “Penasaran di bagian mana? Gue dan dia nggak ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas rekan kerja. Itupun atas desakan orang tua gue.” “Lo yakin?” “Gue nggak yakin kalau Nara bakalan bertahan dengan seorang Darrel, tanpa menjalin sebuah hubungan khusus. Ayolah, siapa yang nggak kenal cowok tampan itu, sih. Gue dilempar sama orang tua gue ke dia juga bakalan mau,” jelas Faye dengan Nada penuh harap. “Nah, Faye benar, tuh. Seorang pengusaha muda dengan berbagai bisnis yang berada di posisi atas. Siapa, sih, yang nggak mau sama cowok kayak gitu. Gue yakin, pasti di sekitarnya banyak wanita-wanita cantik yang berkeliaran. Atau, jangan-jangan kayak pebisnis-pebisnis lain yang suka mengkoleksi wanita simpanan. Bokap gue aja yang bangkotan, kayak gitu, apalagi Darrel yang masih gress. Nara hanya bisa menatap aneh pada kedua sobatnya yang sedang memikirkan perihal seorang Darrel. Iya, mungkin ketika belum tahu kehidupan cowok itu, ia akan berpikir seperti kedua sobatnya. Tapi sekarang sepertinya ia salah. “Kalian salah besar,” respon Nara. “Di bagian?” tanya Zila. “Ya, semuanya.” “Tuh, kan ... dibelain,” ledek Faye. “Bukan ngebela, tapi memang dia nggak seperti itu. Oke, anggaplah sebelum kenal gue juga mikir kayak gitu, tapi saat tahu aslinya ternyata gue salah.” Faye tertawa. “Dan dari cara elo menceritakan tentang dia, bisa diambil kesimpulan kalau sebuah rasa sedang berkembang.” “Jangan mikir aneh-aneh dulu.” “Ih, apaan, sih, Ra. Gue bilang rasa sedang berkembang aja lo baper. Padahal gue nggak bilang rasa cinta loh, ya.” Benar-benar, ya, kedua sahabatnya ini. Bisa sekali membuat otaknya panas. Sebuah pesan tiba-tiba muncul di notif ponsel Kinara, membuatnya langsung mengecek pesan itu. baru juga berniat berleha-leha sembari meregangkan otot kakinya, yang tak diharapkan justru muncul. “Kenapa?” tanya Faye melihat reaksi tak mengenakkan dari wajah Nara. Penasaran, Zila mengambil alih ponsel milik Kinara dan membaca pesan singkat itu. “Cie ... yang habis dichat sama ayang.” “Siapa?” tanya Faye.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD