Di depan anak buahnya, Asrul tak mau kehilangan gengsi. Ia sedang berdiri di tengah lapangan kosong, bekas lahan proyek mangkrak, tempat gengnya biasa berkumpul. Musik trap dari speaker portable diputar keras, menggetarkan udara, sementara beberapa anak buahnya memamerkan pukulan ke samsak gantung dan latihan street fighting.
Saat melihat Irfan datang mendekat, Asrul justru tersenyum sinis.
Dengan teriakan provokatif, ia melemparkan bongkahan beton yang tadi diangkatnya ke udara. Beton itu jatuh lurus mengarah tepat ke kepala Irfan.
Bukan untuk membunuh.
Itu aksi intimidasi.
Asrul yakin pria tua itu akan menghindar. Ini hanya pesan, kami berkuasa di sini.
Namun Irfan tidak bergeser setapak pun.
Tanpa menoleh, ia mengangkat tangan dan menangkap bongkahan beton itu di udara, lalu menghantamkannya ke tanah.
DUARR!
Beton itu retak dan amblas ke tanah.
Suara musik langsung dimatikan.
Tawa lenyap.
Lapangan mendadak sunyi.
Untuk sesaat, amarah Irfan sempat membuncah. Lemparan itu sudah melewati batas. Namun ketika mendengar Asrul refleks berteriak memperingatkan, Irfan tahu pemuda ini arogan, tapi belum sepenuhnya gelap.
Dengan suara tenang tapi menekan, Irfan berkata,
“Latihan kalian kebablasan. Musik keras, keributan, intimidasi. Ini kawasan pemukiman. Pindah.”
Asrul bertolak pinggang.
“Lo siapa ngatur-ngatur?”
Ia menyeringai.
“Katanya lo legenda lama Pramesta?”
“Lapangan ini bukan punya gue,” jawab Irfan.
“Tapi ketenangan warga di sini tanggung jawab gue.”
Asrul mendengus.
“Kalau kami nolak?”
Tatapan Irfan mengeras.
“Gue paksa.”
Beberapa anak buah Asrul maju setengah lingkaran. Aura geng benar-benar terasa. Tapi Irfan melangkah sendiri.
Dorongan pertamanya hanya gertakan, Asrul menangkis, lalu terhuyung. Dorongan berikutnya datang cepat dan berat, memaksa Asrul mundur.
Tak ada jurus rumit.
Tak ada pamer teknik.
Hanya tekanan mental dan fisik murni.
Sedikit demi sedikit, Asrul terdesak ke tepi lapangan.
“Keluar,” kata Irfan dingin.
“Sekarang.”
Kesadaran bahwa dirinya hampir dipermalukan di depan geng sendiri membuat Asrul meledak. Dengan geram, ia mencabut golok lipat besar dari balik jaket, s*****a khas geng jalanan.
“Berisik banget lo, orang tua!”
Golok menyambar brutal, tanpa perhitungan.
Irfan merendah, menghindar tipis. Dalam sekejap jarinya menekan titik saraf di lengan Asrul.
Asrul menjerit.
Golok jatuh.
Lengannya kaku, mati rasa.
“Cukup,” kata Irfan.
“Ini peringatan.”
Ia hendak menolong, tapi Asrul sudah mundur terpincang, ditarik anak buahnya. Mereka kabur, meninggalkan lapangan dalam keheningan.
Irfan memandang murid-muridnya dan berkata lirih,
“Ini bakal panjang.”
Dan benar saja.
Saat Ferry melihat Asrul pulang dengan lengan kaku, amarahnya meledak.
“Irfan berani sentuh wilayah gue?!”
Namun istrinya menahan.
“Anak buahmu yang mulai. Jangan semua diselesaikan pakai ego.”
Ferry terdiam.
Tapi satu hal tak bisa dibatalkan: