Istrinya masih terlihat belum sepenuhnya puas, namun ia tak lagi membantah. Sementara itu, Ali menunduk dan menyampaikan permintaan maaf kepada Irfan, gurunya.
Tak lama kemudian, Adin kembali dari luar dengan raut wajah serius. Ia melaporkan hasil penyelidikannya: pria yang sebelumnya mengalahkan Ali adalah pendatang baru dari luar kota, seorang hartawan bernama Ferry, yang kabarnya berniat membuka perguruan bela diri sendiri di Pramesta.
Irfan mengangguk pelan.
“Anggap saja semua yang terjadi sebagai pelajaran,” ucapnya tenang. “Jadikan itu dorongan untuk berlatih lebih keras, bukan alasan untuk memelihara kebencian.”
Berkat sikap bijaksana Irfan, benih permusuhan untuk sementara dapat diredam. Ia memahami betul bahwa konflik yang lahir dari kesombongan dan emosi semata tak akan membawa kebahagiaan. Ia telah belajar dari masa lalunya, bahwa permusuhan yang benar-benar beralasan saja pernah berujung pada tragedi besar dalam hidupnya.
Karena itulah, ia tak ingin menambah daftar musuh tanpa sebab yang jelas.
Namun, tak semua murid mampu memahami ketenangan hati sang guru. Memang, Adin, Ali, dan beberapa murid senior lainnya mengerti maksud kebijaksanaan itu. Akan tetapi sebagian besar murid muda, terutama yang berjiwa panas dan penuh gengsi, justru menyimpan kekecewaan.
“Kalau memang Suhu sehebat itu,” bisik mereka di belakang,
“kenapa membiarkan Ferry menghina perguruan begitu saja?”
Beberapa hari berselang, Ferry mulai menunjukkan pengaruhnya. Ia mendatangkan murid-murid kepercayaannya dari luar kota, termasuk dua kakak-beradik yang menjadi tangan kanannya. Dengan kekayaan dan koneksi yang luas, ia membangun tempat latihan yang megah, lengkap dengan peralatan baru dan fasilitas modern.
Perguruan barunya segera menarik perhatian banyak anak muda. Ditambah lagi, kehadiran putrinya yang cantik dan ikut berlatih bela diri membuat nama Ferry cepat naik daun. Tak sedikit murid lama Irfan yang akhirnya berpindah, didorong rasa kagum dan janji masa depan yang lebih gemerlap.
Di depan perguruan barunya, Ferry memasang papan nama besar dengan tulisan mencolok:
“MAHA GURU TERBAIK DI SELURUH PRAMESTA.”
Saat pesta pembukaan, para pejabat, pengusaha, dan tokoh kota diundang. Pesta berlangsung meriah, namun satu nama sengaja tak tercantum dalam daftar undangan: Irfan Sofyan.
Dalam hitungan bulan, nama Ferry semakin berkibar, sementara perguruan Irfan kian sepi. Hal itu menusuk hati para murid setia, terlebih istrinya yang sejak awal menentang sikap terlalu sabar sang guru. Namun Irfan tetap menenangkan mereka.
“Setiap orang bebas memilih jalannya,” katanya lembut.
“Dan murid-murid yang berpindah tanpa kesetiaan, pada akhirnya tak akan menemukan arah.”
Meski begitu, waktu membuktikan bahwa kesabaran pun memiliki batas. Terlebih jika dihadapkan pada orang-orang yang tak mengenal etika.
Suatu siang, ketika Irfan tengah menjelaskan teori bela diri kepada murid-muridnya, tiba-tiba suara tabuhan drum dan gembreng menggema keras dari lapangan kosong di sebelah rumah. Irama bising itu jelas mengganggu konsentrasi latihan.
Irfan mengernyit, lalu menoleh pada Adin.
“Pergilah lihat siapa yang berlatih di sana. Tegur dengan baik. Jangan cari masalah.”
Adin menuruti perintah itu. Namun sesampainya di lapangan, hatinya langsung panas. Yang berlatih ternyata adalah murid-murid Ferry, bahkan beberapa di antaranya mantan saudara seperguruannya sendiri, dipimpin oleh salah satu murid utama Ferry yang dikenal bertemperamen keras.
Merasa situasi bisa memicu bentrokan, Adin memilih kembali tanpa menegur.
“Suhu,” lapornya jujur, “mereka murid-murid Ferry. Jika mereka menjawab kasar, saya khawatir tak mampu menahan emosi.”
Alih-alih mereda, suara tabuhan justru semakin keras, disertai sorak dan tawa. Mereka mengira sikap diam Adin sebagai tanda takut. Kesombongan pun kian menjadi.
Saat itulah, Irfan berdiri. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya mengeras.
Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah menuju lapangan rumput. Murid-muridnya mengikuti dari belakang, menyadari bahwa kesabaran sang guru akhirnya mencapai batasnya.
Di lapangan, pemimpin latihan sedang memamerkan kekuatan fisiknya mengangkat batu besar dan melemparkannya ke udara berkali-kali, disambut sorakan kagum. Namun sorak itu mendadak lenyap ketika mereka melihat sosok tinggi kurus bermata tajam mendekat.
Hening menyelimuti lapangan.
Dan untuk pertama kalinya, kesombongan itu bertemu dengan ketenangan yang berbahaya.