Irfan melangkah ke tengah arena. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat kerumunan diam.
“Dua duel sudah terjadi,” katanya tenang.
“Kalian semua sudah lihat sendiri. Teknik itu pada dasarnya sama. Yang bikin beda cuma orang yang memegangnya.”
Ia menghela napas pelan.
“Apa yang aku ajarkan punya kelebihan, tapi juga celah. Begitu juga metode Ferry. Jadi gak ada yang mutlak lebih tinggi, gak ada yang mutlak lebih rendah.”
Beberapa penonton mulai berbisik.
“Kalau Ferry mau menarik tantangannya,” lanjut Irfan, “gue justru senang. Masalah selesai tanpa darah. Tapi jangan salah paham, gue bukan takut. Kalau duel ini mau diterusin, gue siap nunggu.”
Nada suaranya datar.
Justru itu yang bikin merinding.
Tiba-tiba suara perempuan membelah arena.
“Jangan sok bijak, Irfan!”
Sesosok tubuh melesat dari bawah arena, mendarat ringan di lantai beton. Nadine.
Rambutnya terikat tinggi. Jaket hitamnya terbuka, menampakkan kaos latihan ketat. Di tangannya, sebilah pedang pendek modern, tajam dan berkilau.
“Skor masih imbang,” bentaknya.
“Pedang gue yang bakal nentuin!”
Ferry sempat berteriak, “Nadine, jangan!”
Terlambat.
Nadine sudah menyerang. Tusukan lurus ke perut Irfan, cepat, agresif, tanpa ragu. Gerakannya rapi, jelas levelnya setara petarung inti.
Irfan tidak panik.
Ia memiringkan tubuhnya sedikit saja. Tangan kirinya bergerak, tepukan ringan ke pergelangan tangan Nadine.
CLAK.
Pedang itu bergetar. Jari Nadine kaku.
Ia langsung sadar: kalau Irfan mau, senjatanya sudah lepas.
Nadine meloncat mundur dengan wajah tegang.
Saat itu juga Ferry sudah berada di arena.
“Turun!” bentaknya.
Dengan wajah merah menahan emosi, Nadine melompat turun. Banyak penonton tak menyadari apa yang barusan terjadi, terlalu cepat. Tapi Ferry melihatnya jelas.
Dan ia tahu Irfan bukan orang yang bisa diremehkan.
Ferry naik ke arena, menarik napas panjang. Dari balik jaketnya, ia mengeluarkan sepasang tonfa besi hitam, s*****a khasnya.
“Maaf soal anak buah gue barusan,” katanya serius.
“Anak muda memang emosional.”
Irfan mengangguk santai.
“Emosi itu pakaian kedua anak muda.”
Ferry menatap lurus.
“Sekarang tinggal kita berdua. Ayo selesaikan.”
Irfan menghela napas, lalu mengambil kembali dua spike baja miliknya.
Dua legenda berdiri berhadapan.
Arena hening.
Keduanya mengambil posisi.
Ferry berdiri rendah, kaki terbuka, tonfa menempel di pinggang kanan-kiri. Tubuhnya stabil seperti tembok.
Irfan berdiri agak menyamping. Kaki belakang ditekuk rendah, kaki depan lurus. Dua spike disilangkan di depan d**a.
Mereka saling menatap.
Tak ada senyum. Tak ada kata.
Detik berlalu seperti menit.
“Lo duluan,” kata Irfan.
“Lo aja,” jawab Ferry tanpa bergerak.
Ini bukan basa-basi.
Di level mereka, yang menyerang dulu justru lebih berisiko.
Keduanya paham yang menunggu bisa membaca niat, lalu membalas dengan serangan yang lebih berbahaya.
“Lo yang nantang,” kata Irfan akhirnya.
Ferry mengangguk pelan.
“Baik.”
“Awas!”
Ferry menerjang.
Dua tonfa bergerak menyilang, cepat dan membingungkan. Arah serangan sulit ditebak, kepala, d**a, atau rusuk?
Irfan menangkis dengan presisi.
TRANG! TRANG!!
Benturan baja memekakkan telinga. Ferry langsung meloncat mundur, menghindari serangan balik.
Irfan membalas. Ferry menahan.
Pertempuran pecah.
Serangan demi serangan datang tanpa jeda.
Tonfa Ferry menghantam.
Spike Irfan menyambar.
Gerakan mereka makin cepat. Mata penonton mulai kesulitan mengikuti. Beberapa hanya melihat kilatan s*****a dan bayangan tubuh.
Bagi murid-murid mereka sendiri, ini seperti mimpi buruk.
Baru sekarang mereka sadar
bukan guru mereka yang kurang hebat
mereka sendiri yang belum sampai level itu.
Dua legenda masih bertarung, s*****a beradu tanpa henti.
Dan di benak para murid, satu kenyataan muncul tanpa bisa dibantah
Skill setinggi ini
tidak lahir dari bakat saja,
tapi dari disiplin, luka, dan waktu.
Arena semakin panas.
Dan duel penentuan ini…
belum menunjukkan siapa yang akan jatuh lebih dulu.