Ketegangan yang menggantung di arena itu bukan hanya mencekik para penonton dan murid-murid dari kedua kubu, tapi juga mulai menggerogoti pikiran dua pelatih bela diri yang sedang saling berhadapan di tengah panggung. Setelah puluhan jurus saling ditebar, keduanya sama-sama sadar, tak mungkin menjatuhkan lawan tanpa mengerahkan serangan yang benar-benar berisiko fatal.
Apa yang sejak awal disebut sebagai duel uji kemampuan, kini telah berubah menjadi pertarungan hidup dan mati dikendalikan oleh ego, harga diri, dan dorongan untuk menghabisi lawan. Tak ada ruang untuk mundur. Siapa yang menarik diri, berarti kalah. Dan kalah di depan publik, di wilayah yang dikuasai geng masing-masing, sama artinya dengan kehilangan nama dan pengaruh. Itulah hal yang tak akan pernah diterima oleh Irfan Sofyan maupun Ferry, dua figur yang selama ini dikenal sebagai simbol kekuatan jalanan di wilayah itu.
Sorak-sorai yang sebelumnya menggema kini lenyap. Para penonton membisu, terpaku menatap dua sosok yang bergerak cepat di bawah sorot lampu arena. Bahkan dua orang yang sejak awal bertaruh satu membawa motor sport 250 cc, satu lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar kini menonton dengan wajah pucat. Taruhan mereka terlupakan, digantikan rasa ngeri melihat betapa tipis jarak antara duel dan kematian.
Tiba-tiba, dari tengah kerumunan, dua bayangan melesat ke atas panggung. Gerakannya cepat. Terlalu cepat. Kilatan logam beradu, bukan s*****a tradisional, melainkan dua bilah tongkat besi taktis yang diputar dengan presisi mematikan. Dalam satu momen singkat, serangan Irfan dan Ferry tertahan paksa. Keduanya terlempar mundur, mendarat dengan kuda-kuda waspada. Di antara mereka kini berdiri dua anak muda, seorang pria dan seorang wanita.
Gadis itu tampak berusia sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun. Wajahnya cantik, tajam, dengan sorot mata hidup dan penuh percaya diri. Senyum tipis tersungging di bibirnya, bukan senyum manis biasa, melainkan senyum orang yang sadar betul akan kemampuannya. Rambutnya diikat sederhana, jaket merah muda dipadukan dengan pakaian hitam ketat yang memudahkan pergerakan. Di tangannya, tongkat besi berputar ringan, seolah tak berbobot. Pemuda di sampingnya tak kalah mencolok. Posturnya tegap, wajahnya tegas namun tenang. Ada kemiripan jelas di mata dan rahang mereka jelas kakak beradik. Pakaiannya simpel, jaket gelap dan sepatu lapangan, tapi auranya menunjukkan kelas berbeda. Cara ia berdiri saja sudah cukup memberi pesan, ini bukan orang sembarangan. Irfan dan Ferry sama-sama terdiam. Dalam satu gerakan saja, serangan mereka ditahan bersih. Itu bukan keberuntungan itu murni teknik dan jam terbang.
Pemuda itu tersenyum tipis, suaranya tenang namun tegas. “Kalau dua raja jalanan saling bantai,” katanya, “ujungnya cuma ada satu: salah satu mati, atau dua-duanya hancur. Dari yang kami lihat, ini bukan lagi duel sportif, tapi perang ego.” Ia melirik ke sekeliling arena. “Kami cuma lewat kota ini. Dengar ada duel besar, jadi mampir. Tapi kalau terus begini, yang rugi bukan cuma kalian berdua, nama, anak buah, dan wilayah ikut terbakar.” Kata-kata itu menusuk tepat di titik lemah.
Sebelum mereka muncul, Ferry sebenarnya sudah mulai terdesak. Teknik Irfan perlahan menekan, membuat napasnya tak lagi stabil. Jika duel dilanjutkan, kekalahan tinggal menunggu waktu. Maka kemunculan dua anak muda ini tanpa disadari telah menyelamatkan mukanya di depan publik. Irfan pun menyadari keunggulannya sudah cukup terbukti. Ia tak pernah benar-benar berniat menumpahkan darah. Setelah menatap tajam kedua pendatang itu, ia berkata dengan nada dingin namun terkendali. “Kalian masih muda… tapi kemampuan kalian bukan main. Apa yang kalian katakan ada benarnya. Aku hanya tamu di arena ini. Lanjutan atau berhenti, biar tuan rumah yang tentukan.” Nada itu terdengar mengalah, tapi jelas mengandung tantangan.
Ferry tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera berbalik ke arah penonton, mengangkat tangan. “Semua dengar!” serunya. “Atas dasar penghormatan pada dua anak muda ini, duel kita hentikan sampai di sini!” Teriakan kecewa terdengar dari berbagai sudut, tapi Ferry mengabaikannya. Wajahnya malah terlihat lega. Ia lalu menoleh pada dua bersaudara itu dengan senyum lebar.
“Kalian luar biasa. Kalau tak keberatan, mampir ke tempat kami. Kita ngobrol lebih santai.” Gadis itu melirik kakaknya. Pemuda itu mengangguk ringan. “Kami senang,” jawabnya singkat. Irfan melihat interaksi itu dengan dingin. Ketika menyadari dirinya tak lagi diperhatikan, ia memilih turun dari panggung, mengajak Adin meninggalkan arena. Di sisi lain, Ferry membawa dua anak muda itu pergi bersama rombongannya, pikirannya sudah bekerja cepat, mencari cara menjadikan mereka sekutu.
Namun keributan belum selesai. Dua orang yang sejak awal bertaruh kembali bersitegang. Yang satu ngotot Ferry unggul. Yang lain bersikeras Irfanlah pemenangnya. Keduanya sama-sama buta soal teknik, tapi sama-sama haus menang. Seorang penonton tertawa keras. “Gini aja!” teriaknya. “Karena duel aslinya nggak selesai, kalian berdua wakilin jago masing-masing! Beresin di atas panggung. Siapa kalah, bayar!” Dalam kondisi emosi memuncak, keduanya setuju.
Arena kembali riuh. Namun kali ini bukan duel teknik, melainkan perkelahian brutal jalanan. Pukul, tendang, jambak, cekik. Mereka jatuh bangun, berguling di lantai panggung, saling hantam tanpa aturan. Penonton justru bersorak lebih liar. Inilah tontonan yang mereka tunggu. Hingga akhirnya kepala pengelola gedung GOR Garuda Jaya naik ke panggung, mencoba menghentikan keributan. Percuma. Keduanya sudah gelap mata. Baru setelah beberapa petugas menyiramkan ember air dingin ke tubuh mereka, perkelahian itu berhenti. Diiringi tawa dan ejekan, dua petaruh s**l itu turun dari panggung dengan wajah merah padam, lalu menghilang ke kerumunan.
Dan di antara bisik-bisik penonton, satu pertanyaan mulai beredar, Siapa sebenarnya dua anak muda yang mampu menghentikan duel Irfan Sofyan dan Ferry hanya dalam satu gerakan? Mereka adalah kakak-beradik misterius Lukman dan Santika. Nama yang sebentar lagi akan mengguncang dunia bawah tanah Pramesta.