Irfan dikenal di dunia bawah kota sebagai petarung yang berhati terlalu lembut untuk ukuran dunia keras. Meski berhadapan dengan preman jalanan atau bandit bayaran, ia jarang menghabisi lawannya. Sebisa mungkin, Irfan hanya melumpuhkan, pukulan cepat ke titik saraf, kuncian singkat, lalu peringatan dingin sebelum meninggalkan mereka terkapar.
Tak jarang, setelah menjatuhkan musuhnya, Irfan justru melemparkan beberapa lembar uang ke d**a lawannya.
“Buat berobat,” katanya singkat. “Kalau kita ketemu lagi, gue gak bakal sebaik ini.”
Namun dunia gangster tak selalu memberi ruang untuk belas kasihan. Saat berhadapan dengan lawan yang kemampuannya nyaris setara, pertarungan berubah jadi adu nyawa. Siapa ragu, dia mati.
Dan Irfan pernah berada di titik itu.
Bertahun lalu, ia terlibat duel hidup-mati melawan seorang petarung tunggal legendaris bernama Bagja. Pertarungan itu brutal, cepat, dan berdarah. Pada akhirnya Irfan menang, namun dengan harga mahal. Bagja tewas, dan bahu Irfan robek oleh sabetan parang.
Ia tak pernah menyangka bahwa malam itu akan menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Tiga bulan kemudian, saat Irfan sedang berada di luar kota mengawal pengiriman barang bernilai tinggi, pembalasan datang.
Malam itu rumahnya disusupi. Bayangan hitam melompat dari atap, bergerak secepat angin.
Jeritan Nadine, istrinya, memecah kesunyian malam. Tangisan anak kecil menyusul.
Putri mereka, Kayla, baru berusia lima tahun, diculik.
Saat Irfan pulang, ia hanya disambut Nadine yang gemetar dan selembar surat di atas meja. Dengan wajah pucat dan jari bergetar, ia membaca:
Irfan.
Awalnya gue datang buat ngabisin lo sebagai balasan atas kematian kakak gue, Bagja.
Tapi karena lo gak ada, gue ambil anak lo.
Biar lo ngerasain sakit yang sama.
_Andiman_
Surat itu diremas hingga hancur.
Rahang Irfan mengeras.
“Kalau gue nemu lo, Andiman,” gumamnya penuh amarah, “semua tulang di badan lo bakal gue patahin satu-satu.”
Hari itu juga Irfan pergi. Ia meninggalkan rumah, meninggalkan Nadine. Dua tahun penuh ia menyusuri kota demi kota, dunia gelap demi dunia gelap, mencari jejak putrinya. Namun hasilnya nihil.
Ia pulang sebagai pria yang patah.
Sejak saat itu, Irfan berubah. Pendiam. Tatapannya kosong. Rambutnya memutih lebih cepat dari usia. Ia berhenti menjadi pengawal profesional dan membuka tempat latihan bela diri kecil di Kota Pramesta, bukan demi ketenaran, melainkan demi bertahan hidup.
Sebelas tahun berlalu.
Dan hari ini, menjelang duel besar, luka lama itu kembali terbuka.
Nadine memperhatikan suaminya yang duduk tertunduk.
“Mas,” katanya lembut namun tegas, “kenapa kau kelihatan ragu?”
Irfan menghela napas.
“Aku kepikiran… Kayla.”
Hati Nadine terasa tertusuk, namun ia menahan diri.
“Ini bukan waktunya menoleh ke belakang,” katanya mantap. “Tatap lawanmu. Jangan biarkan masa lalu melemahkan tanganmu.”
Ucapan itu seperti air dingin menyiram kepala Irfan.
Saat itu Adin, tangan kanan Irfan yang kini bekerja sebagai pengawal profesional di Pramesta, masuk dan memberi hormat.
“Bos, orang-orangnya Ferry sudah sampai di GOR Garuda Jaya. Mereka nunggu.”
“Berapa orang?” tanya Irfan.
“Sembilan belas. Ferry, anaknya, dua tangan kanan, sisanya petarung lapis dua.”
Irfan berpikir sejenak.
“Kita bertiga aja. Gue, lo, sama Ali. Jangan bawa senjata.”
Adin terkejut, tapi tak berani membantah.
Setelah Adin pergi, Nadine menatap suaminya tajam.
“Mereka datang rame-rame. Kenapa kau malah merendah?”
Irfan tersenyum tipis.
“Ini duel, bukan perang geng. Ferry cuma mau nentuin siapa yang lebih kuat. Kalau dia berniat lain, itu urusan nanti.”
Nadine terdiam. Darah keras dalam dirinya mendidih.
Andai aku bisa bertarung, pikirnya, sudah kuhancurkan mereka.
Namun yang keluar dari bibirnya hanya keyakinan:
“Aku percaya kau akan menang.”
Irfan menggenggam tangan istrinya.
“Kaulah kekuatanku, Nadine.”