Nadine menatap suaminya dengan sorot mata yang tajam namun sarat keyakinan. Kepalanya sedikit terangkat, dan ada kilatan keras di balik tatapan itu ketika ia berkata dengan suara rendah namun penuh tekad,
“Kalau sampai kau kalah… kalau kau tewas dalam duel ini… maka setelah masa berkabung, aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk mengumpulkan orang-orang kuat dan membalas dendam.”
Irfan hanya menghela napas pelan. Ia tidak membantah, tidak pula mencoba menenangkan. Ia sekadar menggeleng kecil, seolah menerima bahwa segala kemungkinan bahkan kematian adalah bagian dari jalan yang harus ia tempuh.
Irfan lalu berkemas. Ia mengenakan jaket hitamnya dan memastikan sepasang baton baja pendek s*****a bela diri modern yang bisa dilipat terselip rapi di balik pinggangnya. Tersembunyi, namun siap digunakan kapan saja.
Saat ia hendak melangkah keluar, Nadine tiba-tiba meraih lengannya.
Sekejap, ketegasan di wajah Irfan lenyap. Wajahnya memucat, dan suaranya berubah lirih.
“Mas… semoga Tuhan melindungimu.”
Irfan menatap wajah istrinya lama, lalu mengusap dagunya dengan sentuhan lembut.
“Jangan khawatir,” katanya tenang. “Doamu itu jimat terkuatku.”
Begitu Irfan keluar dari ruang dalam, ia mendapati lebih dari dua puluh muridnya telah berkumpul di halaman perguruan. Wajah-wajah muda itu menatapnya dengan campuran harap, kecewa, dan kecemasan. Mereka semua berharap bisa ikut mengantar sang guru ke arena duel.
Adin dan Ali, dua murid senior yang paling dipercaya Irfan, sudah berdiri siap di dekat gerbang.
Irfan memahami perasaan murid-muridnya. Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara tegas namun tenang,
“Aku sengaja tidak membawa kalian. Aku hanya pergi bersama Adin dan Ali.”
Beberapa murid tampak gelisah.
“Duel ini bukan perang,” lanjut Irfan. “Ini adu kemampuan untuk menutup permusuhan, bukan memperluasnya. Kalian masih muda, emosional. Pihak lawan pun sama. Jika kalian ikut berombongan, suasana hanya akan makin panas.”
Ia memandang mereka satu per satu.
“Kita belajar bela diri bukan untuk menyombongkan diri atau mencari musuh. Ilmu ini untuk melindungi, bukan menindas. Lawanku hari ini keras dan sombong, tapi kesombongan saja belum cukup untuk menyebut seseorang jahat.”
Para murid terdiam, kepala tertunduk.
Salah satu murid akhirnya memberanikan diri bicara,
“Tapi, Pak… kami ingin menonton. Kami ingin belajar dari duel itu.”
Irfan mengangguk kecil.
“Itu wajar. Kalian boleh menonton. Tapi sebagai penonton biasa. Jangan ikut campur, dan jangan berangkat bersama kami.”
Maka berangkatlah Irfan, Adin, dan Ali menuju lokasi duel.
Adin, yang kini hampir menginjak usia empat puluh, bekerja sebagai pengawal profesional pengantar barang bernilai tinggi. Ia telah berkeluarga dan memiliki seorang anak lelaki yang dititipkan kepada kerabatnya di pusat kota. Meski hidupnya keras, Adin bertekad agar anaknya kelak menjadi orang terpelajar, jauh dari dunia k*******n yang ia jalani.
Sementara Ali, yang baru berusia dua puluh tahun, bertubuh besar dan berwatak lurus. Ia jujur, keras, dan memiliki bakat luar biasa dalam bela diri. Kemampuannya berkembang pesat hingga hampir menyamai Adin. Ali adalah yatim piatu, diasuh langsung oleh Irfan, dan tinggal di rumah perguruan sebagai bagian dari keluarga.
Mereka berjalan cepat dan hampir tanpa bicara. Irfan menunduk sepanjang jalan, pikirannya melayang pada peristiwa beberapa bulan lalu, peristiwa yang menjadi awal permusuhan ini.
Sejak kehilangan putrinya, Kayla, yang diculik oleh Andiman, Irfan memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai pengawal profesional. Ia merasa profesi itu menjauhkannya dari keluarga, dan membuka celah bagi tragedi yang menghancurkan hidupnya.
Ia lalu membuka tempat latihan bela diri kecil di Kota Pramesta, menerima murid dari berbagai latar belakang. Ia tidak mematok biaya. Siapa pun yang memiliki niat dan bakat, boleh belajar.
Tahun demi tahun berlalu. Nama Irfan justru semakin dihormati. Banyak muridnya mendapat pekerjaan layak—sebagai pengaman gudang, pengawal kota, hingga pelindung pribadi pengusaha besar. Reputasinya meluas di seluruh Pramesta.
Hingga suatu hari, terjadi perampokan besar di perbatasan kota. Irfan memimpin murid-muridnya menggagalkan aksi itu. Sejak saat itu, warga menjulukinya sebagai pelatih bela diri nomor satu Pramesta.
Julukan itulah yang akhirnya menarik perhatian seorang pendatang baru.
Namanya Ferry.
Ferry adalah pelatih bela diri aliran modern yang disegani, kaya raya, dan memiliki reputasi tinggi. Namun di balik kejujurannya, ia menyimpan sifat sombong dan keyakinan bahwa tak ada yang lebih hebat darinya.
Saat mendengar nama Irfan Sofyan dielu-elukan sebagai yang terbaik, hatinya terusik.
Dan sejak hari itulah, bara permusuhan mulai menyala, perlahan, namun pasti.