“Hm… jadi dia menganggap dirinya nomor satu?” gumam Ferry sambil menyeringai tipis.
“Ingin sekali aku menguji, sejauh apa kepandaiannya sampai berani menyombongkan diri begitu.”
Namun nasib berkata lain. Saat Ferry tiba di perguruan, Irfan kebetulan sedang pergi ke luar kota menemui seorang kenalan lama. Yang menyambut Ferry hanyalah seorang murid muda.
“Maaf, Pak,” kata murid itu sopan. “Suhu sedang tidak ada. Kalau Bapak ada keperluan, silakan datang besok pagi. Mungkin Suhu sudah kembali.”
Mendengar itu, Ferry seharusnya pergi. Tapi saat matanya menangkap pemandangan di halaman puluhan murid sedang berlatih bela diri ia justru berhenti melangkah.
Ia melangkah masuk tanpa diundang.
Latihan hari itu dipimpin oleh Ali, murid senior Irfan yang dikenal keras dan jujur. Dengan suara lantang dan sikap tegas, Ali memberi arahan pada adik-adik seperguruannya.
Ferry berdiri di tepi lapangan, mengamati dengan mata tajam.
Tiba-tiba…
“Hahaha!”
Tawa itu terdengar jelas. Sengaja keras. Mengejek.
Ali langsung menoleh. Wajahnya mengeras saat melihat seorang pria asing tertawa tanpa sopan di tengah latihan.
“Apa yang kau tertawakan?” bentaknya kasar.
Ferry memandang Ali dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum miring.
“Aku tertawa karena caramu melatih itu keliru. Ini kah metode perguruan yang katanya nomor satu di Pramesta? Menggelikan.”
Ali mendidih. Meski belum menerima jurus tertinggi dari gurunya, kemampuannya sudah jauh di atas murid biasa.
“Kalau cuma bisa mencela,” katanya tajam, “berani kau buktikan?”
“Tentu saja,” jawab Ferry ringan. “Dan mudah sekali.”
Ia melirik murid-murid di lapangan.
“Dengan teknik seperti itu, kalau mereka melawanku… dua jurus saja cukup untuk merobohkan.”
“Sombong!” teriak Ali.
Ia memberi isyarat pada salah satu murid tingkat dua, pemuda delapan belas tahun bertubuh tegap.
“Kau dengar? Dia bilang bisa merobohkanmu dalam dua jurus.”
Ferry menatap pemuda itu dengan mata meremehkan.
“Asal dia pakai teknik yang kau ajarkan tadi, aku jamin.”
“Baik!” bentak Ali. “Buktikan!”
Pemuda itu memasang kuda-kuda dan langsung menyerang dengan tenaga penuh, serangan lurus dan keras, mengandalkan kekuatan otot dan emosi.
Kesalahan fatal.
Ferry bergerak secepat kilat.
Tubuhnya melangkah ke samping, tangannya menangkap lengan lawan, lalu
BRAK!
Pemuda itu terlempar lebih dari dua meter dan jatuh terguling di tanah. Bahunya lecet, wajahnya meringis menahan sakit.
“Kurang dua jurus,” Ferry tertawa mengejek.
Ali terkejut. Gerakan itu cepat… dan tenaganya luar biasa. Tapi darah mudanya justru makin mendidih.
“Kau hebat,” katanya dingin. “Tapi berani kau melawanku?”
Ferry menatap Ali lebih serius kali ini.
“Merobohkanmu dalam dua jurus? Sulit. Tapi sepuluh jurus? Mudah.”
Ucapan itu seperti tamparan keras di wajah Ali di depan murid-muridnya sendiri.
“Baik!” teriak Ali. “Coba robohkan aku dalam sepuluh jurus!”
“Kau cari masalah sendiri,” jawab Ferry santai. “Maju.”
“Tidak,” Ali menggeleng. “Kau yang ingin merobohkanku. Maka kaulah yang menyerang.”
Ia memasang kuda-kuda rapat, menjaga tubuhnya sempurna tak ingin mengulang kesalahan murid tadi.
Ferry tersenyum tipis.
“Bagus. Jaga baik-baik.”
Ia melangkah maju dan meluncurkan pukulan lurus ke d**a Ali, keras, cepat, disertai teriakan,
“Jurus pertama!”
Ali menahan, menangkis dengan tangan kiri.
DUK!
Benturan itu membuat tubuhnya terdorong mundur tiga langkah. Tangannya bergetar, rasa nyeri menjalar hingga bahu. Namun ia tetap berdiri, rahang mengeras.
“Bagus,” kata Ferry. “Jurus kedua!”
Dengan lompatan cepat, Ferry menyerang bersamaan satu tangan ke kepala, tangan lain menusuk ke lambung.
Ali mengelak ke samping, tubuhnya miring, lalu membalas dengan tendangan ke arah lutut lawan.
Namun Ferry lebih cepat.
Tangannya menyabet ke bawah, menghantam pergelangan kaki Ali dengan tenaga mengerikan.
Ali tersentak, berteriak, dan buru-buru menarik kakinya sambil memutar tubuh ke belakang, selamat… hanya sejengkal dari tulang patah.