Api Kehormatan yang Kembali Menyala

635 Words
Sambil terus melangkah menuju arena, Irfan Sofyan melirik ke arah Bagja. Senyum tipis terukir di wajahnya. Keraguan yang sempat menggerogoti dadanya perlahan lenyap, tersapu oleh kalimat-kalimat lugas murid kepercayaannya itu. Langkah Irfan kini terasa lebih ringan. Wajahnya kembali bercahaya bukan seperti pria yang hendak berkelahi, melainkan seperti seseorang yang berjalan mantap menuju takdir yang harus ia hadapi. “Terima kasih, Ali,” ucapnya tenang. “Kau tahu kapan harus bicara.” Ia lalu menarik napas dalam-dalam. “Jangan salah paham. Aku bukan takut. Aku hanya muak dengan orang-orang yang mengaku jago, tapi menjadikan kekuatan sebagai alat menindas. Gaya sok jantan seperti itu kosong.” Langkahnya tak berhenti. “Kalau yang kita hadapi kriminal kejam, preman pengacau kota, aku justru berangkat dengan senyum. Tapi Ferry bukan penjahat. Dia hanya orang keras kepala, sombong, dan tak mau kalah. Itu yang membuatku kesal.” Irfan menoleh sebentar. “Tapi kau benar. Kita bukan datang untuk cari nama. Kita datang sebagai pihak yang ditantang. Kita datang untuk menjaga kehormatan.” Tak butuh waktu lama hingga mereka tiba di GOR Garuda Jaya, arena tertutup yang malam itu penuh sesak. Lampu sorot menyala terang, suara orang bercampur riuh, dan aroma uang taruhan terasa kental di udara. Sorakan pecah ketika Irfan muncul. Meski hanya datang bertiga tanpa iring-iringan mewah, tanpa pengawal berlebihan, kehadirannya tetap menggetarkan. Sebagian penonton tampak ragu. Ferry datang dengan rombongan besar, atribut mencolok, gaya bak raja jalanan. Dibandingkan itu, Irfan terlihat sederhana. Namun tiba-tiba seseorang berteriak lantang dari tengah kerumunan. “HIDUP IRFAN!” Teriakan itu memicu yang lain. Sorak dukungan menyusul. Irfan hanya mengangkat tangan sebentar, bukan untuk menikmati sorakan, melainkan menenangkan suasana. Ia tahu betul: sebagian besar dari mereka bukan pendukung, melainkan penjudi. Di dalam arena, Irfan disambut pengelola tempat. Tatapannya segera menangkap sosok Ferry di sisi kiri tribun VIP. Ketika mata mereka bertemu, tak ada basa-basi. Yang tersisa hanya permusuhan yang tertahan rapi. Keributan mendadak senyap saat Ferry berdiri dan melangkah ke tengah arena. Tubuhnya besar, jas hitamnya rapi, auranya mendominasi ruangan. Ia menatap ke segala arah. “Saudara-saudara!” suaranya menggema. “Malam ini aku, Ferry, membuka arena ini untuk satu tujuan, menyelesaikan konflik secara terbuka!” Sorak pendukungnya membahana. “Nama Irfan tentu sudah lama kalian dengar. Dia mengklaim sebagai petarung nomor satu Pramesta.” Beberapa tawa mengejek terdengar. “Aku tak punya dendam pribadi. Tapi bentrokan antar anak buah sudah terlalu sering. Ini harus diakhiri.” Ferry menunjuk arena. “Yang kalah harus mengakui kapasitasnya. Yang menang berhak menentukan siapa yang pantas memimpin dan mengajar di kota ini!” Tepuk tangan bergemuruh, terutama dari mereka yang bertaruh di pihak Ferry. “Sekarang,” lanjutnya tajam, “kami persilakan Irfan memberi jawaban.” Irfan berdiri. Langkahnya ke tengah arena perlahan, mantap, tanpa emosi berlebihan. Sorak penonton kembali membuncah, nama Irfan masih punya tempat di hati warga Pramesta sejak ia membersihkan kota dari geng brutal beberapa tahun lalu. Ia memberi hormat singkat kepada penonton, lalu kepada Ferry. “Saya bukan orang yang suka ribut,” ucap Irfan dengan suara jelas namun dingin. “Sejak berhenti dari dunia lama, saya mengajar hanya untuk hidup layak. Saya selalu melarang murid saya cari masalah.” Ia menatap seisi arena. “Gelar ‘nomor satu’ bukan saya yang pasang. Itu bentuk apresiasi warga setelah kami membersihkan kota dari preman.” Tatapannya kini terkunci pada Ferry. “Sejak Ferry membuka perguruan, konflik justru meningkat. Fakta ini bisa dinilai sendiri oleh kalian.” Ia mengakhiri dengan anggukan tenang. Ferry tertawa pendek, sinis. “Pidato bagus,” katanya keras. “Tapi kenyataannya murid-muridmu pindah ke tempatku. Itu bukti siapa yang lebih unggul.” Ia melirik Ali dan satu murid lain. “Kau bawa murid terbaikmu. Bagus. Kita buktikan sekalian. Murid lawan murid. Siapa lebih pantas.” Ia menantang langsung. “Berani?” Irfan tersenyum tipis. Senyum orang yang tidak datang untuk mundur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD