Tuan Rumah dan Tamu Undangan

618 Words
Irfan mengangguk singkat. “Kau tuan rumah,” ucapnya tenang, “aku hanya tamu. Aturan main ada di tanganmu. Aku terima.” Dua tokoh itu turun dari arena ke sisi masing-masing. Sorak penonton kembali pecah, bukan sorak hormat, tapi sorak orang-orang yang haus adrenalin dan uang taruhan. Ferry memberi isyarat cepat. Seorang pemuda bertubuh besar melangkah maju. Kulitnya gelap, rahangnya keras, tato menjalar dari leher ke lengan. Ia tidak naik lewat tangga arena, melainkan meloncat langsung dari pagar pembatas, mendarat mulus di tengah arena seperti atlet parkour. Aksi itu disambut gemuruh. “Siapa murid Irfan yang berani naik?” tantangnya lantang sambil menyapu pandangan ke kubu lawan. Irfan menoleh dan memberi isyarat kecil pada Ali. Ia membisikkan sesuatu singkat, cukup dekat hingga hanya Ali yang mendengar. Ali mengangguk. Ali maju. Ia meloncat ke arena dengan kedua tangan terbuka, lalu mendarat ringan, disusul dua kali roll ke depan sebelum berdiri tegak. Gerakannya bersih, terkontrol, dan penuh presisi. Beberapa penonton yang paham teknik langsung berdecak kagum. Ali menatap lawannya lurus. “Sesuai pesan pelatih,” katanya lantang, “aku bertarung tanpa alat apa pun. Ini adu kemampuan, bukan duel hidup-mati.” Pemuda bertato itu tertawa keras. “Tenang saja,” katanya sambil melepas sarung pisau lipat dari pinggangnya dan melemparkannya ke arah saudaranya di tribun. “Aku juga pakai tangan kosong.” Ia mendekat. “Lo Ali, kan?” “Murid kedua Irfan?” Ali tersenyum tipis. “Dan kau Asrul,” balasnya dingin. “Petarung kepercayaan Ferry. Posisi kita setara. Jadi tak perlu banyak bacot, mulai saja.” Sorot mata Asrul langsung berubah. “Asal kau siap!” bentaknya. Asrul menyerang lebih dulu—pukulan lurus cepat, diikuti dorongan bahu khas petarung jalanan. Ali menggeser tubuh, menghindar tipis, tapi Asrul langsung menurunkan tubuh dan menyapu lutut dengan tendangan rendah yang licik. Ali meloncat menghindar, lalu membalas dengan serangan kaki lurus ke d**a. Asrul menangkis, membalas, dan duel pun meledak. Pukulan, elakan, sapuan kaki, semua berlangsung cepat. Gaya mereka jelas berbeda. Asrul mengandalkan tenaga dan tekanan brutal, sementara Ali bermain kecepatan, sudut, dan timing. Puluhan pertukaran terjadi. Beberapa pukulan masuk, tapi tak ada yang benar-benar menjatuhkan. Namun kemudian Asrul mengubah ritme. Asrul mulai menyerang dengan teknik cengkeraman, jepitan sendi, dan pukulan terbuka ke titik-titik vital, leher, bahu, tulang selangka. Bukan gaya sportif, melainkan gaya arena bawah tanah. Ali mulai terdesak. Serangan datang bertubi-tubi. Hingga sebuah pukulan kiri Asrul masuk bersih ke bahu Ali. Ali berteriak tertahan dan terpental, tubuhnya menghantam lantai arena dan terguling. Penonton bersorak liar. Namun Asrul belum puas. Dengan mata merah dan napas memburu, ia melangkah maju hendak menghajar lagi lawan yang sudah jatuh. “Cukup!” bentak Ferry dari tribun. Terlambat. Sosok melesat dari bawah arena. Dalam sekejap, Adin sudah berdiri di depan Asrul. Asrul terkejut, refleks memukul. Namun Adin memiringkan tubuh dan menyabet lengan Asrul dari samping. BUK! Asrul terhuyung, wajahnya berubah. “Ini duel,” kata Adin dingin. “Bukan pengeroyokan.” Ferry berdiri, marah. “Asrul! Turun!” Dengan napas berat dan wajah kesal, Asrul meloncat turun dari arena, kemenangan di tangannya, tapi reputasinya tercoreng. Adin membantu Ali turun. Beberapa murid Irfan segera membawa Ali pergi untuk ditangani. Sorot mata Irfan mengeras. Ia tahu pertarungan ini belum selesai. Ferry tak menunggu lama. Ia menunjuk ke arena. Seorang pria lain melangkah maju, lebih tenang, lebih rapi, aura berbahaya tanpa banyak gaya. Petarung utama. Adin naik ke arena dan menjura singkat. “Adikmu menang,” katanya dingin. “Adikku kalah. Sekarang giliran kita.” Petarung Ferry tersenyum tipis. “Kau berani main penuh?” ejeknya. “Atau masih mau jaga tangan bersih?” Adin menoleh ke arah Irfan. Irfan tak berkata apa-apa. Ia hanya melemparkan sepasang hand wrap hitam ke arena. Adin menangkapnya. Matanya menyala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD