Genesis Revolusion - Bagian 1
GENESIS OXIGEN: BAGIAN 1
BAB 1: UDARA YANG DICURI
Rian terbangun oleh suara alarm respiratornya yang melengking rendah—sebuah peringatan kematian yang sopan. Di dalam penglihatan HUD maskernya, angka digital berwarna merah berkedip: 8% Oksigen. Setiap napas yang ia ambil terasa berat, seperti menghirup debu gergaji yang dibakar.
Jakarta tahun 2084 bukan lagi kota megapolitan yang ia baca di buku sejarah. Gedung-gedung pencakar langit di Sudirman kini hanyalah pilar-pilar batu yang meratap, diselimuti kabut beracun yang disebut "Awan Timbal". Di bawah sana, di jalanan yang dulu macet oleh kendaraan, kini hanya ada bangkai logam dan bayangan makhluk-makhluk yang bermutasi akibat radiasi filter udara yang bocor.
"Maya, lo masih di sana?" bisik Rian. Suaranya serak, tenggorokannya terasa seperti disayat sembilu.
"Gue di sini, Rian. Jangan banyak bicara, hemat oksigenmu," suara Maya terdengar melalui frekuensi radio yang terenkripsi. "Gue sudah kunci koordinat gudang medis di lantai 14. Ada sisa filter cadangan milik korporasi Arcas di sana. Kalau lo nggak sampai dalam sepuluh menit, lo bakal pingsan karena hipoksia."
Rian berdiri, kakinya gemetar. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding beton yang berjamur. Di tangannya, sebuah belati tungsten berkilat tertimpa cahaya senter bahunya yang mulai meredup. Ia harus bergerak.
Rian melangkah memasuki lorong lantai 14. Bau busuk daging yang membusuk bercampur dengan aroma ozon yang tajam. Di sini, udara terasa lebih dingin. Ia melihat bayangan bergerak di ujung lorong—sesuatu yang tinggi, kurus, dengan tangan yang panjangnya tidak proporsional.
The Hollow.
Mereka bukan lagi manusia. Radiasi dan kelaparan oksigen tingkat ekstrem telah mengubah DNA mereka, menjadikan mereka predator yang hanya peduli pada satu hal: hemoglobin segar dalam darah manusia.
Rian mematikan senternya. Ia bergerak dalam kegelapan total, mengandalkan memori spasial dari peta digital Maya. Tiba-tiba, suara gesekan kuku terdengar tepat di atas kepalanya. Tanpa melihat, Rian berguling ke depan.
BRAKK!
Lantai tempat ia berdiri tadi hancur dihantam cakar raksasa. Rian menyalakan senternya sekejap—hanya satu detik—untuk membidik. Mata kuning makhluk itu menyala ketakutan terkena cahaya mendadak. Rian menerjang, menancapkan belatinya tepat di sela-sela tulang leher makhluk itu. Cairan hitam menyemprot masker Rian. Makhluk itu melengking pelan sebelum akhirnya ambruk.
"Satu tumbang," napas Rian memburu. 5% Oksigen.
Pintu gudang medis itu berat dan terbuat dari baja murni. Rian memasukkan kode bypass yang diberikan Maya. Pintu itu mendesis, terbuka pelan mengungkapkan ruangan yang sangat bersih—kontras dengan kehancuran di luar. Di tengah ruangan, sebuah meja logam menopang sebuah koper perak dengan logo matahari terbit: Arcas Corp.
Rian segera membuka koper itu, berharap menemukan tabung oksigen hijau yang ia butuhkan. Namun, matanya terbelalak. Di dalam koper itu hanya ada satu tabung kecil berisi cairan biru bening dan sebuah hard drive eksternal dengan label merah: PROYEK GENESIS – PROTOKOL PEMBERSIHAN.
"Maya... ini bukan filter," ucap Rian bingung.
Keheningan panjang terjadi di seberang radio. "Gue tahu, Rian," suara Maya berubah. Tidak ada lagi nada cemas, yang ada hanyalah ketenangan yang mematikan. "Ambil koper itu. Bawa ke titik evakuasi di atap. Helikopter sudah menuju ke sana."
"Apa isinya, Maya? Kenapa ada daftar nama ribuan orang di layar koper ini?"
"Itu adalah daftar orang-orang yang oksigennya akan diputus malam ini, Rian. Termasuk orang-orang di Sektor Bawahmu. Kita butuh ruang untuk bernapas, dan lo baru saja membantu kami memastikan hal itu terjadi."
Dunia Rian seakan runtuh lebih cepat daripada gedung di sekitarnya. Jadi, selama ini ia dikirim bukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tapi untuk menjadi kurir bagi surat kematian rakyatnya sendiri?
"Lo kerja buat mereka," desis Rian. "Lo anak Direktur Arcas."
"Dunia butuh seleksi alam, Rian. Ayahku hanya mempercepat prosesnya. Sekarang, bawa koper itu ke atap, atau gue bakal matikan sinyal GPS-mu dan membiarkan Hollows berpesta dengan dagingmu."
Rian melihat ke arah koper itu. Ia melihat daftar nama yang terus bergulir di layar kecilnya. Nama ibunya, nama adiknya, semua ada di sana dengan status: ELIMINASI.
Amarah menggantikan rasa takutnya. Rian mengambil tabung biru di dalam koper—sebuah stimulan seluler—dan menyuntikkannya langsung ke lehernya. Rasa panas luar biasa membakar pembuluh darahnya. Matanya memerah, dan tenaganya kembali secara tidak wajar.
"Gue nggak bakal ke atap, Maya," Rian menghancurkan earpiece-nya.
Rian tidak lagi merasa sesak. Stimulan itu memaksanya bernapas dengan sisa oksigen yang ada secara sangat efisien. Ia mengambil koper itu, menyampirkan tas punggungnya, dan berlari menuju jendela kaca gedung yang sudah retak.
Di bawah, ia melihat truk-truk militer Arcas mulai mengepung gedung. Mereka tidak datang untuk menjemput kurir; mereka datang untuk memastikan tidak ada saksi yang hidup. Rian menatap ke langit, ke arah Kubah Atas yang bersinar terang di kejauhan—surga buatan bagi kaum elit.
"Kalian ingin pembersihan?" Rian berbisik pada dirinya sendiri sambil menarik pelatuk granat asap yang ia temukan di gudang. "Gue bakal kasih kalian badai."
Ia melompat keluar dari lantai 14, menggunakan kabel sling darurat untuk meluncur turun di tengah hujan asam yang mulai turun. Di bawah sana, perang baru saja dimulai.
Angin kencang menghantam tubuh Rian saat ia meluncur turun. Kabel sling di pinggangnya berdecit, bergesekan panas dengan rel pengaman gedung yang berkarat. Di bawahnya, lampu-lampu sorot truk Steel-Guard menyapu kabut abu-abu, mencari sosoknya yang sedang melayang.
"Di sana! Lantai sepuluh!" teriak sebuah suara mekanis dari pengeras suara di bawah.
RATATATATAT!
Peluru-peluru kaliber tinggi mulai merobek dinding beton di sekitar Rian. Percikan api terbang tepat di depan matanya. Rian menekan tuas pelepas kabel lebih cepat. Ia jatuh bebas selama tiga meter sebelum akhirnya mendarat dengan keras di atas atap sebuah bus kota yang sudah berkarat.
BUM!
Atap bus itu melesak ke dalam. Rian meringis, merasakan stimulasi biru di tubuhnya bekerja keras memperbaiki jaringan otot yang nyaris robek akibat benturan. Ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Ia melompat turun dari bus, berlari menuju gang sempit yang gelap, tepat saat sebuah granat gas meledak di tempat ia berdiri tadi.
"Kunci semua akses jalan! Jangan biarkan kurir itu lolos!" perintah Maya terdengar menggema dari menara-menara pengawas di kejauhan. Rian tahu, Maya tidak akan membiarkannya hidup dengan data sensitif itu.
Rian menyelinap masuk ke dalam lubang drainase raksasa yang tertutup sampah plastik. Bau amonia dan limbah industri menyengat, tapi bagi Rian, ini adalah bau keselamatan. Di sini, sensor udara milik Arcas Corp tidak berfungsi dengan baik karena tingginya kadar metana.
Ia berjalan tertatih-tatih sejauh dua kilometer di dalam kegelapan lubang bawah tanah tersebut. Napasnya mulai stabil, tapi ia tahu stimulan biru itu punya efek samping. Jantungnya berdegup terlalu kencang, dan penglihatannya mulai dihiasi bintik-bintik cahaya aneh.
"Berhenti di sana, atau kepala lo pecah," sebuah suara dingin menyapa dari balik kegelapan.
Rian mengangkat tangannya perlahan. Senter bahunya yang redup menangkap sosok tiga orang pria mengenakan masker gas rakitan, memegang senapan serbu kuno yang sudah banyak dimodifikasi.
"Gue bukan musuh," ucap Rian parau. "Gue bawa... koper Arcas."
Ketiga orang itu saling pandang. Salah satu dari mereka, seorang pria dengan tato simbol gir di lehernya, mendekat dan merampas koper perak itu. Ia membukanya sedikit, lalu matanya terbelalak melihat layar yang masih menyala.
"Bawa dia ke Bos. Sekarang," perintah pria itu.
Rian diseret masuk ke sebuah aula bawah tanah yang dulunya mungkin adalah stasiun MRT yang megah. Kini, tempat itu dipenuhi dengan tenda-tenda medis, tumpukan senjata, dan ratusan orang yang tampak kelelahan. Di tengah aula, seorang pria tua bertubuh kekar sedang menatap peta digital kota.
"Siapa nama lo, anak muda?" tanya pria itu tanpa menoleh. Namanya Baron, mantan kapten keamanan Arcas yang membelot sepuluh tahun lalu.
"Rian. Saya dari Sektor Bawah."
Baron berbalik, menatap tajam ke mata Rian yang masih kemerahan akibat stimulan. "Lo pakai Blue Genesis. Lo tahu kan itu racun? Lo cuma punya waktu maksimal 48 jam sebelum jantung lo meledak karena kerja berlebihan."
Rian terdiam sejenak. "Gue nggak peduli. Di koper itu ada daftar eksekusi. Malam ini, mereka bakal mutus oksigen ke Sektor Bawah. Ibu gue, adik gue... mereka semua ada di daftar itu."
Aula itu mendadak sunyi. Baron mengambil koper itu, melihat datanya, dan tinjunya menghantam meja kayu hingga retak. "b******n Arcas. Mereka sudah mulai Fase Pembersihan lebih cepat dari perkiraan kita."
Baron menatap para pejuangnya, lalu kembali menatap Rian. "Dengarkan gue, Rian. Kita sudah merencanakan p*********n ke Kubah Atas selama bertahun-tahun, tapi kita nggak pernah punya kunci enkripsinya. Koper yang lo bawa ini... ini bukan cuma daftar kematian. Ini adalah Master Key untuk sistem distribusi oksigen pusat."
"Maksud lo, kita bisa buka alirannya untuk semua orang?" tanya Rian.
"Lebih dari itu. Kita bisa mematikan perisai elektromagnetik Kubah Atas dari dalam. Kita bisa membawa udara bersih ke bawah, dan membawa kebenaran ke atas," jawab Baron dengan api di matanya.
Namun, pembicaraan mereka terhenti oleh getaran hebat yang mengguncang langit-langit stasiun. Debu berjatuhan. Suara mesin bor raksasa terdengar dari arah utara.
"Mereka menemukan kita!" teriak salah satu penjaga. "Tim penghancur Arcas ada di atas kita!"
Rian mengambil kembali belatinya. Ia merasakan energi dari stimulan biru itu melonjak lagi, seolah merespons adrenalinnya. "Berapa lama waktu yang kita punya buat sampai ke pusat distribusi?"
"Lewat jalur rahasia, kita butuh enam jam. Tapi kita harus menahan mereka di sini supaya warga sipil bisa dievakuasi ke bunker yang lebih dalam," kata Baron sambil menyandang senapan mesinnya.
Rian menatap ke arah lubang masuk stasiun di mana pasukan Steel-Guard mulai turun menggunakan tali rappel. "Kalian evakuasi warga. Gue yang bakal tahan pintu masuk."
"Lo gila? Lo cuma sendirian!"
Rian tersenyum pahit, memperlihatkan gusi yang mulai berdarah—efek samping stimulan. "Gue sudah mati sejak gue suntik cairan ini ke leher gue, Komandan. Biarkan sisa hidup gue ini berguna buat sesuatu."
Baron menatap Rian lama, lalu memberikan sebuah hormat militer yang singkat namun penuh hormat. "Jangan mati terlalu cepat, Rian. Gue tunggu lo di gerbang Kubah Atas."
Rian berdiri di depan lorong stasiun yang gelap, menunggu gelombang pertama pasukan musuh muncul. Di telinganya, samar-samar ia mendengar suara Maya lewat pemancar yang sudah hancur di saku bajunya, sebuah bisikan statis yang tak lagi ia pedulikan.
Lampu sorot dari helm pasukan Steel-Guard menusuk kegelapan lorong stasiun bawah tanah seperti mata iblis. Rian berdiri diam, membiarkan tubuhnya bergetar hebat. Bukan karena takut, tapi karena cairan Blue Genesis di pembuluh darahnya sedang memaksa jantungnya berdegup di luar batas manusia normal.
“Target teridentifikasi. Eksekusi di tempat,” suara robotik dari komandan pasukan lawan bergema.
Sepuluh senapan serbu menyalak bersamaan. Rian tidak menghindar ke samping; ia menerjang ke depan dengan kecepatan yang bahkan sulit ditangkap oleh sensor gerak mereka. Ia seperti bayangan biru yang melesat di antara desingan peluru.
SLASH!
Belati tungsten Rian merobek sambungan kabel di leher prajurit terdepan. Sebelum tubuh itu jatuh, Rian merampas senapan serbunya dan melepaskan tembakan beruntun dalam jarak dekat. Dalam lima detik, tiga prajurit tumpah ke lantai.
“Dia bukan manusia biasa! Gunakan pelumpuh saraf!” teriak salah satu dari mereka.
Rian merasakan sengatan listrik menghantam punggungnya, tapi stimulannya memblokir rasa sakit itu. Ia hanya merasakan panas yang semakin membara. Di matanya, semua gerakan musuh tampak lambat—sebuah efek samping yang menandakan otaknya sedang terbakar.
Di bagian dalam bunker, Baron memimpin evakuasi. Ia melihat ke arah lorong tempat Rian bertarung. Suara ledakan dan tembakan tak kunjung berhenti.
“Komandan, kita harus menutup pintu ledakan sekarang! Jika tidak, mereka akan masuk ke jalur pengungsian anak-anak!” lapor seorang teknisi dengan wajah pucat.
Baron menggertakkan gigi. Menutup pintu itu berarti mengunci Rian di luar sendirian tanpa jalan keluar. “Tunggu tiga puluh detik lagi!”
“Nggak bisa, Komandan! Mereka sudah menembus perimeter sektor B!”
Tiba-tiba, suara Rian terdengar di radio cadangan milik Baron. Suaranya sudah tidak seperti manusia lagi—berat, serak, dan penuh dengan suara desis udara.
“Tutup... pintunya... Baron,” bisik Rian. “Gue... nggak bakal... balik.”
Baron memejamkan mata sejenak, memberikan penghormatan terakhir di dalam hatinya. “Tutup pintunya! Sekarang!”
Pintu baja setebal satu meter itu bergeser menutup dengan suara dentuman logam yang memekakkan telinga. Di sisi lain, Rian bersandar pada pintu itu, darah biru mulai merembes dari telinga dan hidungnya. Di depannya, dua puluh prajurit Steel-Guard tersisa sedang mengisi ulang senjata mereka.
Rian tersenyum, meski giginya sudah mulai goyah. Ia meraba sakunya dan mengeluarkan sebuah pemancar kecil yang diam-diam ia ambil dari koper tadi. Ia tidak bermaksud menghancurkannya; ia bermaksud menyiarkannya.
“Maya... lo denger gue?” Rian bicara ke arah kamera pengawas di langit-langit.
Di Kubah Atas, Maya berdiri di depan layar monitor besarnya, terpaku melihat sosok Rian yang hancur namun tetap tegak. “Rian, menyerahlah. Lo Cuma memperlama penderitaan lo.”
“Nggak, Maya. Gue Cuma lagi nunggu sinyalnya upload,” kata Rian sambil menekan tombol pada pemancar itu.
Tiba-tiba, semua layar di Kubah Atas—dari papan iklan raksasa hingga televisi di rumah-rumah mewah—berubah menjadi daftar hitam. Daftar nama ribuan orang yang akan “dihapus” oleh Arcas Corp malam itu.
Warga Kubah Atas mulai berbisik. Mereka melihat nama-nama pengasuh mereka, pelayan mereka, bahkan beberapa rekan kerja mereka yang tinggal di zona transisi ada di sana. Benih pemberontakan mulai tumbuh di tempat yang paling tidak terduga: di rumah sang musuh.
Tepat sebelum peluru terakhir menghantam dadanya, lantai di bawah kaki Rian runtuh. Bukan karena bom musuh, tapi karena ledakan yang dipicu oleh Kael—android tua yang muncul kembali dari bayang-bayang gorong-gorong.
Rian jatuh ke dalam saluran air limbah yang mengalir deras, membawanya menjauh dari kejaran Steel-Guard. Kael melompat mengikutinya, menangkap tubuh Rian yang sudah lemas di tengah arus air yang kotor.
“Kenapa... lo balik?” tanya Rian saat mereka terdampar di tepian beton yang jauh dari stasiun.
“Logika sistem saya menyatakan bahwa Anda adalah variabel yang tidak boleh hilang jika probabilitas kemenangan ingin dipertahankan,” jawab Kael dengan suara datarnya.
Kael menyuntikkan sesuatu ke d**a Rian. Bukan stimulan, tapi penetral radikal. “Ini akan mematikan efek Blue Genesis, tapi Anda akan merasakan sakit yang luar biasa. Jika Anda bertahan, kita punya waktu empat jam untuk mencapai pusat udara sebelum Fase Pembersihan dimulai secara otomatis.”
Rian menjerit saat sistem sarafnya kembali berfungsi normal. Rasa sakitnya seperti ribuan jarum yang dipanaskan menusuk setiap inci kulitnya. Namun, penglihatannya kembali jernih. Merah di matanya mulai memudar.
“Kael, koper itu... ada di mana?”
“Baron membawanya ke titik kumpul utara. Kita akan bertemu mereka di dasar menara pusat distribusi,” Kael membantu Rian berdiri.
Mereka berada di wilayah “Gutter”, pemukiman kumuh paling bawah yang bahkan matahari pun tidak pernah sampai ke sana. Namun, saat Rian melihat ke sekeliling, ia melihat orang-orang mulai keluar dari gubuk mereka. Mereka memegang pipa besi, alat pertukangan, dan apapun yang bisa dijadikan senjata.
Mereka telah melihat daftar itu. Mereka telah mendengar suara Rian yang disiarkan tadi.
“Kita nggak Cuma berdua, Kael,” bisik Rian sambil menatap ribuan obor yang mulai menyala di kegelapan bawah tanah. “Ayo kita ambil udara kita kembali.”