AKHIRNYA PULANG

1010 Words
Dia terlampau senang, saking senangnya dia jadi lupa melakukan hal yang menarik untuk Miracle. Yah, Vanessa terdiam sempat kerena mendengarkan kata sayang yang keluar dari mulut Miracle, dia rasanya telah menjadi permaisuri bagi istana yang kosong,"indahnya duniaku," gumamnya masih tetap pandangannya lurus meneliti setiap inci dari wajah Miracle. Miracle tidak tahu apa yang terjadi, apakah pacarnya ini mempunyai gangguan syaraf otak yang berbeda, atau ada hal lain yang membuat dia seperti orang gila yang ada di jalanan seperti di luaran sana. "Apakah kamu tahu ada hal yang lebih menarik dari kata sayang?" tanya Vanessa setelah kembali kesadaran kepada dirinya. "Apakah itu?" tanya Miracle,"yah, kata aku akan menjadi teman hidupmu, mungkin itu akan lebih baik dan juga menarik," ucapnya memberikan kode kepada Miracle. Miracle tersenyum kecil, apakah mereka berada di alam yang lain? Miracle menatap ke depan dan mengucapkan hal yang membuat wanitanya senang,"Apakah kamu mau menjadi teman semati dan sehidup ku?" dengan seperti itu rasanya tambah cinta Vanessa tambah melebihi tingginya gunung. Beberapa saat kemudian, Zee sudah tertidur lenyap dia bahkan tidak tahu kenapa, apakah karena ini adalah efek dari obat? atau apakah ini adalah efek untuk semua makanan yang dia konsumsi. Yah, dan kini lelaki dari kaca itu melihat dirinya, sungguh miris nasibnya, dia tidak bisa berkata-kata lagi, namun yang pasti dia sudah memberikan pelayanan yang terbaik kepada teman masa kecilnya itu,"apakah kamu mempunyai keperluan kepada putri saya?" dengan cepat bulu kuduknya merinding mendengarkan kata putri. "Jangan sampai," dia bergumam dengan bibir yang sudah mulai tampak sedikit ke permukaan. "Kenapa? apakah anda tidak ingin menemui dia, kasihan sudah beberapa hari tetapi tidak ada yang menjenguk dirinya," sungguh miris dirinya saat mengatakan hal itu. Sebentar, sebenarnya saat ini dia ingin berbalik namun apa boleh buat, dia juga belum mengenal wanita ini, dia tidak mungkin dengan seenaknya pergi ke dalam ruangan itu, dia hanya bisa pergi berlalu seperti angin saja. Ketika lelaki itu pergi, Maya wanita yang baru saja datang saat ini menatap ke depan, dia melihat bahwa punggung lelaki itu rasanya tidak asing lagi, namun siapakah gerangan itu? dia menatap dan menatap, serta ingatannya kembali pada beberapa tahun yang lalu. Flashback of. Ada tiga sahabat yang rasanya seperti saudara saja, Maya menatap punggung anak lelaki yang baru saja membantu dia untuk mengangkat jemuran ini, yah kalian pasti mengetahui siapa itu, dan lebih tepatnya ada tawa yang belum bisa mereka gantikan. "Ayo, kita bermain masih baru pulang sekolah juga," ajak lelaki itu sembari pulang dari sekolah dengan ransel yang dia buang ke atas sofa. "Apakah kamu nanti tidak akan di marahi oleh Paman dan juga Bibi?" tanya lelaki itu dan melihat wanita yang sedang menunduk mengambil tas Tuannya. "Bagaimana pendapat kamu, apakah kamu mau ikut?" tanyanya melihat wajah Zee. "Hmm, aku tidak tahu aku harus membantu ibu untuk memasak dan juga melakukan hal lainnya, toh juga nanti Tuan dan Nyonya akan merasa marah jika aku mengikuti kalian," sungguh miris nasibnya. Bola mata dari lelaki itu dan juga Miracle segera bertemu, mereka menarik pergelangan tangan Zee dan segera pergi ke suatu tempat yang sangat indah, mereka pamit dengan suara yang seperti tercekik rasanya. "Ah, bibi kami bawa anakmu yang mungil dan bodoh ini," ucap lelaki itu dan benar saja Mata memperhatikan punggung mereka bertiga yang lekas meninggal pintu rumah. "Jangan sampai larut malam pulang," ucapnya sembari kejinya juga membawa dia ke arah pintu. Mobilnya bergerak meninggalkan kota Jakarta, dan membelah jalanan kota Jakarta, sepertinya ini akan menjadi awal mereka untuk bermain di segala tempat, baik itu bar dan juga restoran mulai dari yang mahal sampai terendah, sampai makan nasi kucing di pinggir jalanan. "Apakah nanti tidak akan ada yang marah?" lelaki itu menatap bola mata Zee dan teman lelakinya. "Apakah kamu bertanya kepada saya? mana saya tahu itu jelas-jelas kalian yang membawa daku ke sini," dia menyenderkan punggungnya yang sudah capek ke arah kursi empuk yang dia punya. Mereka bertiga tertawa bersama, tidak seperti ada batasan, mereka memutuskan batasan itu, hanya anak orang kaya yang seharusnya berteman dengan orang kaya, namun ini berbeda siapa saja boleh berteman dengan mereka kecuali orang yang tidak mau. Flashback on. Dia segera sadar dengan lamunan dia yang semakin lama semakin melarat, dia juga tidak terlalu ingat dengan punggung itu, namun yang pasti dia segera masuk serta melihat putrinya sudah bangun. "Apakah ibu baru saja datang?" dia menggaruk sedikit tangannya yang terasa gatel karena infus. "Jangan, nanti infusnya terbuka, bisa bahaya ini," larang ibunya ketika melihat bahwa Zee menggaruk ke arah infus tadi. Mereka berdua mengobrol dari hal yang penting sampai yang tidak terpenting, dia juga tidak tahu apakah ini akan bermanfaat ataupun tidak, namun yang pasti demi kesembuhan putrinya dia rela melakukan apapun. 'Miracle sangatlah bodoh, dia sama sekali tidak datang mengunjungi diriku, apakah kenangan selama ini benar-benar tidak berharga untuk kami?' batinnya setelah di lihat bahwa ibunya telah tidur di sampingnya. Hampir saja air mata itu bergerak membuat dirinya terlihat begitu miris, namun Zee tidak memperbolehkan itu dia tidak ingin melakukan sedikit kesalahan saja di depan ibunya. "Arg, tidak boleh Zee kamu harus kuat, kamu tidak boleh seperti ini, dan juga dia sudah mempunyai pasangan yang akan menikah beberapa bulan lagi mungkin," tawanya dia paksakan dan segera menyalakan televisi yang ada di depannya. Dia menonton dan menghabiskan segala waktunya agar tidak mengingat lagi lelaki yang dia berikan pengharapan, dia tersenyum dan benar-benar tidak bisa melupakan bayang-bayang Miracle. "Arg, kenapa sangat sulit untuk melupakan dia, Tuhan tolong aku," dia merengek dan berguling-guling di atas kasur itu. Tiba-tiba saja pergerakannya terhenti saat mendengarkan ada suara Dokter yang memangil dirinya,"apakah anda mengalami gangguan lagi?" tanyanya sembari menghentikan sikap Zee. Zee segera membuka mulut dan memperbaiki posisi,"iya ada apa?" tanyanya kepada Dokter. Dokter itu tidak senyum dan tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa dia hanya mempunyai wajah yang datar,"kalian boleh pulang besok, ini adalah perintah dari atasan," ucapnya keceplosan dengan kata atasan. Saking senangnya dia mendapatkan kabar baik, dia bahkan tidak bertanya siapa atasan itu, untung saja ini bisa menyelamatkan nyawa dari Dokter itu. Dia lupa, kalau tadi lelaki itu tidak memperbolehkan dirinya untuk terlalu jujur,"baiklah, saya boleh pergi," dia pamit. "Tapi, siapa atasan itu?" hancur sudah pertahanan dari Dokter itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD