ATASAN

1016 Words
Memang untuk saat ini satu hal yang bisa di lakukan lelaki dengan rahang yang mulai ketar-ketir itu. Malam tetap dingin, membuat suasana juga tambah dingin, di tambah Zee ingin sekali mengetahui apa maksud di balik kata atasan itu. Dia mencoba untuk berdiri, dan bertanya kepada Dokter itu, akan apa sebenarnya yang telah terjadi. "Apakah ada seseorang yang selama ini menahan aku?" "Wah, rumah sakit macam apa ini, yang Dokternya sangat tidak terbuka kepada pasiennya." "Apakah kamu mengetahui apa jawaban saya?" Dokter itu menatap dengan tajam bola mata dari dirinya, dia benar-benar tidak terima kalau rumah sakit ini ikut di turunkan. Dia terdiam, tidak menyangkan Dokter itu berkata akan hak seperti itu, bahkan saat ini dirinya sudah mulai mendadak pucat, dan kakinya sudah ketar-ketir tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, namun yang pasti mentalnya tidak boleh dia rendahkan. Dokter itu tahu bahwa dirinya telah membentak wanita yang di jaga oleh atasan, namun apakah salah jika dia membentak wanita yang seperti ini, sudah rewel tidak mau di kasih tahu, dan yang paling penting dia adalah wanita ceria yang emosian. Zee tertawa, jelas dia melihat raut wajah dari Dokter itu sedikit bingung, kakinya melangkah beberapa langkah ke arah balkon dan segera dia menodongkan salah satu jarinya ke depan serta mengarahkan pria itu untuk datang ke hadapannya. Dokter itu pun datang, tidak sedikit kata pun keluar dari mulutnya, mereka berdua saling menatap,"apakah anda adalah suruhan dari Tuan Miracle?" deg, diam seribu bahasa bola mata dari pria itu membeku. "Sepertinya tidak ada hal yang perlu kamu tahu, dan kamu juga perlu tahu bahwa tidak ada siapa-siapa yang menahan anda di tempat ini," geramnya sudah saat ini sudah kembali mengepal tangan kuat. Di seberang sana lelaki itu kembali lagi kepikiran dengan perbuatan dia kepada Dokter itu, ada sedikit rasa yang tidak terima pada hatinya karena telah memperlakukan bawahannya seperti itu. Dia memukul dinding yang berada di depannya dengan tempat rokok itu, dia juga memukul dengan tumit sepatunya tepi-tepi dari mejanya,"kenapa aku seperti ini, bahkan dia bukan siapa-siapa aku, tetapi," ucapnya terpotong air mata ikut mengaliri betapa sedihnya hatinya. Dia juga mengingat wanita yang tadi terlihat sangatlah tenang ketika tidur, dia juga melihat dengan bola mata kepalanya sendiri wanita yang dia jumpai di rumah sakit adalah benar wanita yang dia kenal beberapa tahun lalu. Yah, dirinya memang lari tadi, tetapi dari tepi sudut ruangan sana, dia mulai mengintip bagaimana bentuk wajah dari wanita yang memegang punggungnya, dia terharu ternyata ibu dari temannya masih juga hidup, dia bersyukur dan sangatlah bahagia. "Apakah Tuan ingin makan atau memerlukan sesuatu?" Maid datang sembari membuka pintu. Dia memang maid pribadi dari lelaki itu, dan yang pasti dia tidak mengetuk pintu karena saat ini wanita sudah terbiasa untuk datang dan pergi ke dalam kamar lelaki itu. Lelaki itu diam membisu, dia masih ingin menenangkan pikiran serta hatinya, dan lagi pula dia juga ingin menjauhkan segala hal yang berada di dekatnya, takutnya jika dirinya emosi nanti akan terjadi sesuatu yang sangat dia benci. "Tolong kamu pergi dari tempat ini," perintahnya sembari menoleh ke belakang,"baiklah Tuan, maafkan saya," deretan kata yang dia ucapkan bisa membuat lelaki itu menerima permintaan maaf. Mereka akhirnya kembali lagi berpisah, yah siapa lagi kalau bukan Maid serta lelaki itu, memutuskan untuk menenangkan pikiran satu sama lain, adalah hal yang sangat baik. "Apakah saat ini ada hal yang sangat kaku butuhkan?" Ibunya kali ini datang membuyarkan semua lamunan itu. Dia kembali membuka mulut, ingin mengusir ibunya namun ini adalah pilihan yang sama sekali tidak tepat, dia mengajak ibunya untuk duduk di tepi ranjang itu. "Benarkah?" tanya ibunya dengan mulut yang di tutup tidak percaya setelah mendengarkan percakapan itu,"Iya, saya juga tidak percaya ibu kalau itu benar dia, namun setelah aku mengikuti dirinya beberapa hari yang lalu, dia benar wanita yang aku cari," jujurnya dengan bola mata yang sedikit melebar dan mengengam tangan dari ibunya. Setelah mendengarkan hal penting itu, rasanya saat ini hari wanita dengan wajah yang tampak sudah tua, seketika merasa terharu dia juga ingin rasanya menemui wanita itu secepat mungkin, memeluk dan memberikan kasih sayang kepada dirinya. Di restoran dengan maid yang berada di samping kiri dan kanan dari Vanessa dan juga Miracle, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi, yah setelah pulang dari Mall yang terkenal di tempat itu, mereka makan lagi, sungguh walaupun hanya untuk duduk mereka di berikan pelayanan yang sangat baik. "Apakah Tuan dan juga Nyonya akan makan, atau memesan sesuatu?" setelah beberapa menit sampai, maid yang berada di samping Miracle datang serta bertanya dengan sopan. Dengan menundukkan kepala, kali ini mereka bergerak dengan sangat lihat, dan jangan lupa untuk saat ini Miracle yang pikirannya sudah pergi ke rumah sakit, dia sangat sedih sekali ketika menyadari bahwa dirinya sudah membuat Zee kecelakaan. "Apakah yang kamu pikirkan? sehingga tatapan yang kamu berikan tidak fokus kepadaku?" dia memegang tangan dari Miracle,"tidak," dia baru tersadar saat ini,"apakah ada hal lain atau pekerjaaan yang belum selesai?" bukannya untuk menghentikan percakapan namun Miracle melepaskan genggaman tangan itu, dia berdiri,"maaf bolehkah aku pergi sebentar ke kamar kecil?" sungguh malang nasibnya, ditinggalkan oleh lelaki itu,"ah, baiklah jangan lama-lama," satu kata yang dia lakukan untuk memberikan kepercayaan kepada Miracle. Kini hanya dirinya yang tinggal di tempat itu, dan juga dia mengepal tangan di bawah meja itu, pikirannya pasti sudah pergi ke pembantu yang tidak tahu sopan itu, dia sebenarnya tidak jahat, namun hanya karena perbuatan Zee dia menjadi seperti ini. "Kalaupun ini yang dinamakan buta oleh cinta, aku akan menerima itu aku memang pantas untuk berubah kalau laki-lakinya sudah seperti ini," guman nya dan menarik sudut bibirnya ke atas. Pagi telah datang, Zee sudah siap untuk pulang dengan pakaian yang telah rapi kali ini dia berada di kamar mandi dan menyisir rambutnya,"dia benar-benar tidak datang? baiklah?" menyerah salah satu kata yang layak untuk dirinya. "Apakah kamu sudah siap? mari kita pulang," suara ibunya datang membuyarkan semua apa yang ada di pikirannya,"ibu, selaku saja ibu yang membuat pikiran dan dunia halu ku berantakan," decaknya menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal. Sebelumnya benar-benar dirinya membuka gang pintu kamar kecil itu dia berucap dan melihat ke cermin,"ah, kamu harus bisa move on dari dia Zee," tekad yang sungguh besar sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD