MINTA MAAF

1017 Words
Ini bukan bagian dari doaku, namun karena Tuhan seperti ini sangat dan sangat mencintai diriku, maka dari itu dia memberikan banyak persoalan. Mereka telah sampai di depan rumah, tidak ada yang menyambut sama sekali, kecuali dengan caci makian yang datang ke telinga Putri Maya yang belum sembuh total dari kecelakaan yang dia alami. "Apakah di rumah ini harus ada kalian?" deg, pertanyaan itu membuat langkah kaki mereka yang menuju ke kamar langsung berhenti. "Ada apa, Nyonya apakah kamu mempunyai kesalahan?" Maya bertanya kepalanya tertunduk dengan polos.. Langkahnya tambah lambat saja, Zee yang merasakan bahwa akan ada hal yang tidak diinginkan di tempat ini, segera mencoba untuk melakukan sandiwaranya. "Aw, kenapa dengan kepalaku ini, sangat sakit ibu," jeritnya membuat langkah Mutiara mendadak berhenti. 'Apakah benar bahwa kepalanya sakit?' untungnya masih ada jiwa kemanusiaan pada hati Mutiara,"kenapa dengan kepala kami, Nak?" tanya Maya dengan suara yang khawatir. "Apakah ini adalah bagian dari sandiwara putri kesayangan anda?" seolah ini adalah kata menyindir yang paling pahit. Maya tidak mengetahui kenapa Nyonya bersikap seperti itu belakangan ini, dia hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik namun apa boleh buat, kenyataan tak seindah yang dia harapkan. "Baiklah segera bawakan kepada saya secangkir jus," ucapnya tidak memiliki sama sekali rasa ibah,"maaf, Nyonya apakah tidak ada pembantu yang lain?" Mutiara menatap tajam ke arah. Suara itu dan kemudian tertawa dengan kekuasaannya. "Hahah, apakah kamu ingin saya pecat dari pekerjaan ini?" kejamnya menunjuk bola mata Mata,_tapu, Nyonya saya benar-benar ingin merawat putri saya, dia juga belum stabil keadaannya," mohon Mata sembari menunggu jawaban dari Mutiara. Mutiara pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun, sehingga mau tidak mau membuat Maya harus meninggalkan putrinya, untuk saja da pembantu yang selalu setia dengan mereka dan membantu Zee untuk masuk ke dalam kamar. "Ayo, saya akan antar dia ke kamar, jangan takut bibi," ucap wanita yang seperti ya terbilang masih mudah,"terima kasih, jangan lupa kasih dia obat minum, saya mohon," matanya memelas membuat Zee yang tadinya bersandiwara hanya bisa mempertahankan sandiwara yang dia miliki. Sesampainya di dalam kamar, dia meminta kepada pembantu itu untuk meninggalkan dirinya di tempat ini,"bolehkan anda keluar, rasanya aku tidak akan tenang tidur saat ada orang yang mengawasi diriku," dia dengan cepat mengantarkan wanita itu menunju pintu keluar,"tetapi ibu anda telah meminta saya untuk menjaga anda, saya harus menepati janji ini," dia sepertinya terlihat sangat tulus, dengan bola mata yang terlihat sangat polos, bisa merubah pemikiran wanita itu,"baiklah saya akan pergi, tetapi tolong makanlah obat anda," sarannya meninggalkan Zee dengan senyum yang sangatlah tipis. Zee menutup pintu, terdengar suara dari kunci yang dia putar, setelahnya dia benar menangis, di permalukan? di caci maki? di hina? rasa apa yang belum dia hianati, dii mengeluarkan air mata itu," aku bahkan tidak tahu kalau seandainya kamu adalah seorang penghianat," gumamnya menutup matanya sembari masih terus mengeluarkan air mata. Di seberang sana dia terbangun setelah mendapatkan notif dari pacarnya, yah mereka berdua terlihat seperti pasangan suami istri, mungkin memang mereka yang baru saja menjalin hubungan asmara sehingga terlalu cinta seperti ini. [Selamat pagi, jangan lupa untuk mengingat aku,] Pesan itu jelas membuat Miracle senang, dia segera mengucek matanya dan berbinar, dia segera menghubungi Vanessa. "Hai, apakah kamu selalu memikirkan aku?" tanyanya dari seberang. "Yah, sepertinya pikiranku telah di kuasai oleh bayang-bayang kamu," dia membuka kancing bajunya di depan cermin itu dan memperbesar volume dari suara ponselnya. "Wah? benarkah kalau begitu cepat datang ke kantor, kamu akan rasakan akibatnya ketika merindukan seorang tokoh terkenal," dia mulai menggoda Vanessa. "Apakah saya akan masuk dalam perangkap kamu, Sayang?" dia terlihat menyeringai di depan cermin itu.. "Yah, terlihat sekarang juga anda sudah mulai terperangkap," dia mengidintimidasi Vanessa dan segera keluar dari ranjang.. Banyak hal yang mereka lakukan, pada percakapan itu hingga dia tidak sadar bahwa sekarang sudah waktunya untuk belajar, mereka saling mematikan sambungan dan Miracle tentunya membersihkan tubuh. Di ruang makan, dia benar melihat Maya, tetapi tidak sepenuhnya untuk memperhatikan apakah benar itu Maya atau tidak, dia langsung makan dan pergi dengan pamit kepada kedua orang tuanya. Setelah sampai di dalam mobil, supir pribadinya ingin mengatakan kepulangan dari Zee, namun dilihat dari wajahnya yang sangat serius, dia sangat takut untuk memberitahukan kebenaran ini. "Apakah ada hal yang ingin kamu beritahukan?" Miracle memang memperhatikan gerak-gerik dari supirnya, Damar sedari tadi. "Tidak," gugupnya sembari menatap ke depan. Mereka kini sampai di depan kantor itu, dengan gedung yang sangat mewah ada satpam dan juga beberapa pegawai yang baru saja sampai di tempat itu. "Selamat pagi, Tuan," ucap mereka dengan kepala yang menunduk. Sesampainya di dalam kantor, bola matanya menatap bola mata dari Vanessa, ternyata dia sudah sampai lebih dulu, Vanessa hanya terdiam dan melemparkan sedikit senyum tipis yang membuat Miracle merasa gemas sekali. "Tolong panggilan Vanessa ke tempat ini," ucapnya kepada wanita yang kebetulan melintas dari depannya. "Baik, Tuan," dia pergi menuju tempat Vanessa. Vanessa tidak tahu mengapa wanita ini datang, namun dia hanya ingin melihat maksud dan tujuan dari wanita ini,"selamat pagi ibu, saya di minta oleh Tuan Miracle, untuk anda datang ke kantornya," sudut bibirnya yang tadi penasaran kali ini hatinya telah bergejolak, pasalnya dia akan bertemu dengan lelaki siluman yang baik itu. "Silahkan anda pergi, saya akan menemuinya," ucapnya melemparkan senyum. Sesampainya di dalam kantor mereka berdua saling tatap menatap, Miracle memang benar lelaki m***m, dia mengangkat pinggang wanita itu untuk duduk di atas kursi yang dia tempati,"kenapa?" tanyanya melihat bola mata dari Vanessa sedikit keluar tidak percaya,"apakah ini tidak terlalu keterlaluan, Tuan?" wah ini benar-benar akan menjadi suatu kejadian yang ingin di abadikan,"jangan panggil aku Tuan, rasanya aku muak mendengarkan itu dari mulut wanitaku sendiri," dia mulai mengeratkan tangannya pada pinggang wanita itu. Sudut bibir Vanessa mulai di tangkap oleh Miracle, mereka sudah melebihi batas, ini adalah kantor tetapi untung saja pegawai yang melihat mereka sedang melakukan hal itu, segera menutup pintu dan menutup tirai dari luar. "Aku masih terlalu cepat untuk melihat hal yang seperti itu," dia menutup matanya dengan kedua tangannya, namun sebentar dia kembali membukanya. "Ini adalah hal yang sangat jarang, aku harus melihat ini," tangisnya dengan nada yang sedikit dia cekik. Dia tidak benar, hingga memutuskan untuk melihat sekilas, dan benar saja dia trauma dengan cinta yang sampai senekat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD