RENCANA

1104 Words
Entah ini adalah sebuah malapetaka atau tidak, namun ini sangat membuat Zee terluka. Dia menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya, memikirkan apa yang di katakan oleh Mutiara kepada mereka berdua, rasanya ingin sekali keluar dari zona ini, namun mau kemana nanti mereka akan hidup? Kolong jembatan? pergi ke tempat sampah? dan satu lagi, dia segera membayangkan bahwa mereka akan menjadi gembel jalan, ah, dia benci pikiran yang seperti ini. Setibanya di ruang tengah sana, Maya memberikan apa yang telah di minta oleh Mutiara, tetapi ini adalah bagian dari rencananya, dia menumpahkan jus itu dan meminta kepada Maya agar kembali membuatnya. "Aw, apakah kamu tidak bisa bekerja dengan baik?" sinis matanya menandakan bahwa ia akan segera marah,"maaf, saya tidak sengaja Nyonya," Maya berlutut di hadapan Mutiara. Dan memang baru kali ini, Mutiara melihat Maya berlutut di depannya, jika seperti ini terus rasanya dia menjadi seorang ratu di tengah-tengah ratu,"tidak usah meminta maaf, kalian semua sama, bermuka dua, cepat buatkan untukku," perintahnya dengan tangan yang menuju ke arah dapur. Dengan cepat pula Maya membuat jus yang baru, dia tidak mau di pecat hanya karena hal ini, namun apakah kondisi dari putrinya akan baik-baik saja? dua sampai di dapur dan meneteskan air mata itu. "Ada apa?" pembantu yang satu lagi datang,"tidak, mataku hanya kelilipan saja," dia berusaha untuk menebarkan sedikit saja ekspresi senyum. "Tidak mungkin, apakah kamu baru saja di marahi oleh Nyonya?" tanyanya sudah tahu karena tadi dia mengintip semua itu,"tidak siapa yang mengatakan hal itu," dia masih berusaha untuk melerai. Secepat kilat, tarikan sudut bibir dari Vanessa semakin dekat dengan lelaki itu, mereka benar-benar terlihat sangat b*******h tetapi jantung dari lelaki yang berada di luar sana telah berdegup dua kali lebih cepat. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, namun kamu tetap menikmatinya, bukankah begitu?" terdengar suara dari dalam, dan itu benar-benar di terngiang-ngiang di pendengaran Vanessa. Vanessa tertegun, dia tidak tahu ekspresi apa yang harus dia keluarkan, entah itu menangis atau harus bahagia akan hal ini, namun yang pasti dia tidak bisa seperti ini, dia harus membantah. Ingin berdiri namun cekakan tangan dari pacarnya terlalu kuat, sehingga mengakibatkan dirinya harus kembali pada tempat semula. "Kenapa? apakah kamu menginginkan hal yang lebih dari ini?" naasnya malam belum datang?" sudah, sirna sekarang pemikiran dari Vanessa, otak nya telah traveling. Di seberang sana lelaki dengan warna kemeja hitam, telah duduk di kursi yang di sebut sebagai tahtanya, dia menatap ke depan, dan sama sekali tidak menoleh ke belakang. Yah, dia menghadap ke layar, di belakanginya pintu, tetapi saat dia sedang berargumen sendiri ada seseorang yang mengetuk pintu. "Aku rasa itu adalah dia," Tok, suara pintu yang membuat konsentrasinya seketika sirna,"masuk," kaki panjang dengan celananya yang hitam jelas membuat aura misterius keluar, benarkah ini adalah sosok pesuruh yang selalu dia minta untuk mengamati wanita yang dia jaga selama ini? "Ada berita terbaru, Tuan," dengan kata berita terbaru segera waktu itu dia memutar kursinya dan menghadap ke arah lelaki pesuruh. "Jangan buat saya penasaran, dan katakan apa itu," dengan langkah yang lambat dan juga tangan yang dia masukkan ke dalam saku, mengeluarkan aura dinginnya. Yah, bola matanya sangatlah tajam, tidak ada satupun yang bisa melihatnya ketika berbicara saat tatapan itu sudah ingin menerkam."dia benar,adalah bagian dari yang anda duga," pikirannya segera melayang bak menyerbu semua orang yang berada di tempat itu. Lelaki pesuruh itu semakin menunduk tangannya sudah ketar-ketir tak karuan, pasalnya dia takut kalau sampai terjadi sesuatu kepada Tuannya,"apakah kamu tahu, dia golongan darah apa?" wajahnya takut kalau apa yang ada dipikirannya ternyata adalah benar. "Apakah Tuan ingin benar-benar mengetahuinya?" wah, lelaki pesuruh yang mempunyai mental tinggi,"apakah kamu yakin bertanya seperti itu?" lebih padat dia mengepal tangannya,"baiklah Tuan, saya merasa bahwa dia mempunyai golongan darah A," deg, entah ini adalah sebuah kebetulan atau memang takdir, dia tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Tangannya yang tadi dia kepal kuat, kali ini telah kembali lagi pada posisi semula, bahkan tatapan tajam tadi telah berubah menjadi sendu,"Tuan," panggilnya dan segera membopong tubuh lelaki itu.. Dia hanya mengingat masa lalu, dia tidak mau kalau hal yang dia pikirkan benar terjadi, bayangan itu seolah membunuhnya perlahan, jantungnya terasa mulai mengeras, apa yang dia lakukan. Malam ini Vanessa berdandan dengan sangat rapi, dia berencana akan pergi dan menginap di rumah Miracle, hatinya sungguh berbunga-bunga, Miracle telah sampai di depan rumahnya dan akan menjemput dirinya. Lagi-lagi Miracle tidak pernah mau untuk masuk ke dalam rumah, dan menyapa kedua orang tua Vanessa, tetapi sekarang bukan itu yang penting, yang lebih penting dia harus bisa menginap dan menarik perhatian dari kedua orang tua Miracle ketika sampai di rumah mewah bak istana megah itu. "Apakah kamu sudah siap?" tanya Miracle sembari menarik sudut bibirnya ke atas,"yah, seperti yang kamu lihat," gumamnya dan merapikan rambutnya yang sempat berantakan. Mereka membelah jalanan kota Jakarta, tidak banyak pengendara mobil dan itu jelas mempercepat rencana dari Vanessa berjalan dengan mulus. Sesampainya di dalam rumah, kakinya terasa ingin masuk lebih cepat, Vanessa ingin melihat kedua calon mertuanya, tetapi melihat Miracle yang sudah berada di dalam rumah, membuatnya kesal, kenapa dia tidak mengajak sekaligus masuk wanitanya? "Hai, apakah kamu sehat, kenapa kamu datang malam-malam?" ini terdengar seperti pertanyaan yang menyindir. Vanessa terdiam sebentar, namun sedetik lagi dia tertawa kecil sembari menjawab,"ah, apakah ibu tidak suka kalau aku datang ke rumah ini?" matanya mulai mengeluarkan tatapan intimidasi. "Tidak, aku sangat suka, apakah kamu mempunyai rencana akan menginap di tempat ini?" tanya Mutiara sembari memberikan tatapan yang sangat jengkel. "Kalau kalian memberikan restu, aku akan tinggal malam ini di sini," ucap Vanessa sembari menatap ke depan dan mengaitkan kedua tangannya pada pundak wanita tua itu. "Tidak," deg apakah dia di tolak lagi? Bagaimana kalau dia di tolak? sungguh malu rasanya, dia hampir saja melepaskan tangannya namun karena ada satu hal lagi yang membuat dirinya semakin terbang saja. "Tidak bolehkah kamu berada di sini untuk waktu yang lama, ibu bahkan tidak mempunyai siapa-siapa untuk di ajak mengobrol, Miracle selaku sibuk," gumamnya dengan nada yang sedikit galau. Mendengarkan hal ini, jelas membuat hati Vanessa semakin senang. D sisi lain kini tenggorokan itu terasa lebih haus dari pada tadi saat dia menangis, saat ini dia berusaha untuk membuka engsel pintu itu dan mengambil minuman, mana mungkin dia bisa memangil ibunya yang pasti sedang sibuk. "Ah, kenapa dengan tenggorokan ku," gumamnya berjalan menuju pintu dengan langkah buang busa terbilang lambat sekali. "Aku akan minum," dan dia telah berhasil untuk membuka engsel itu, hanya untuk sekarang dia perlu untuk melewati beberapa pembantu yang berada di jalan yang akan dia lalui. Demi keselamatan yang dia inginkan, dia berjalan seolah tidak merasakan sakit apapun itu, tetapi mengarah ke arah keningnya dia merasa sangatlah sakit. Tangannya dia arahkan ke dinding demi pertahanan yang dia inginkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD