Pembantu memang pembantu, dia juga manusia tetapi kenapa kalian memperlakukan mereka seperti seorang yang hina?
Memang sekarang Zee tidak stabil, karena film yang dia tonton terlalu menguras emosi, rasanya sungguh tidak adil kalau sekarang wanita yang berperan sebagai protagonis itu harus menangis, Arg dia benar-benar frustasi sekali.
Setelah pulang berbelanja dia merasa lelah sekali, pasalnya mereka pulang jam sepuluh malam, dan sewaktu mereka pergi tidak ada makan untuk wanita yang saat ini mengerutu dan tidak ada minum, melainkan hanya untuk Vanessa dan juga Miracle.
Dia berusaha untuk menampilkan wajahnya dengan sopan, dia juga masih berusaha untuk tetap tenang di depan mereka semua, yah mereka semua siapa lagi kalau bukan supir lelaki itu dan juga Miracle serta wanita yang sekarang ini sudah bak bidadari dengan kulit yang sangat putih.
Beberapa jam yang lalu, sebelum Zee sampai di salon ketika Miracle meminta dia untuk membeli makanan,"apakah Nyonya belum selesai di rias?" pertanyaan yang sangat sulit untuk di jawab pegawai tersebut.
"Mohon maaf, Mbak ini perawatan yang sangat spesial jadi kami membutuhkan banyak sekali waktu agar tampil lebih cantik," dia menunduk dan menjawab, dan saat itu juga Vanessa membuka mulut untuk menjawab.
"Apakah kamu sudah bosan?" tanyanya,"tidak," dia benar-benar berbohong dan tentu saja ini membuat Miracle tertawa dalam hati melihat bagaiman raut ambigu yang di tampilkan oleh Zee.
Satu jam telah berlalu, kali ini Zee hampir saja kebablasan untuk tidur, tetapi segera Miracle mengetok kepalanya dan sepertinya dia benar-benar ingin menjahili wanita yang sekarang ini matanya tidak bisa dia tahan.
"Apakah kamu saya sewa untuk tidur?" tanyanya sembari menatap bola mata dari Zee yang sudah kembali segar.
"Ia, apakah ada hal yang bisa saya bantu?" tanyanya sembari berdiri merapikan rambut yang sudah amburadul.
Sakitnya hatinya ketika kalinya sosok lelaki yang sudah dia temani sejak beberapa tahun, perlahan dia meninggalkan dirinya, dan lebih sakitnya dia membuat hati Zee sedikit perih.
"Apakah kamu bisa membedakan mana yang cantik?" tanyanya sembari merangkul pinggang wanita yang bak bidadari itu.
Dia mengangguk,"sangatlah cantik Tuan," diapun terlihat sangat terpaksa mengatakan hal itu, itu bukan dari hatinya sendiri, bukan dari mulutnya, itu hanya paksaan dari pikiran dan juga hatinya yang perih.
Betapa perihnya hati wanita yang kini berdiri kuat di depan satu pasangan itu,"apakah saya boleh pergi Tuan?" bibirnya gemetaran mengatakan hal itu, Vanessa bingung kenapa dengan dirinya.
"Apakah kamu mempunyai penyakit, kenapa dengan bibirmu yang gemetaran?" kakinya melangkah dan mendekat ke arah posisi dari wanita yang telah parah hati itu.
Tetapi sebelum dekat lagi, Zee memutuskan untuk pergi dia tidak mungkin lebih merasakan pahitnya rasa ini, dia tidak mungkin berdiri di tempat ini, dan reflek matanya sedetik bertemu dengan mata lelaki yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Aku akan menunggu di depan, sepertinya udara di tempat ini membuatku gerah," sedikit celah tawa yang terlihat dari garis wajah Zee.
"Apakah kamu marah?" mereka berdua sama-sama membuka mulut tentunya itu menarik perhatian dari wanita yang sudah berlari sepuluh langkah itu.
Ini adalah waktu yang tepat untuk membuat Zee marah, kenapa? sekarang ini mereka terlihat lebih mesra, rasanya Tee ingin membunuh hidup-hidup mereka berdua dan pergi untuk sesaat menghilang dari muka bumi ini.
Kali ini mereka makan di restoran yang juga ternama, gaji dari wanita yang saat ini menatap dari luar saja satu tahun itu tidak akan bisa memenuhi keinginannya untuk makan di restoran yang sekarang ini Tuan Miracle dan juga Nyonya Vanessa makan.
Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan lamunan dari Zee,"hey, apakah ada hal yang kamu pikirkan?" tanyanya sembari bersandar pada bangku itu.
"Apakah ada hal yang membuat dirimu tertarik kepadaku? sehingga kamu menganggu ritual diriku?" tanyanya dengan nada yang tertawa.
"Bagaimana kalau kita makan nasi kucing itu, sepertinya sangatlah enak apalagi kalau makan di tengah malam," ajak lelaki itu membuka pintu dan tersenyum kepada wanita itu.
Mereka tampak bahagia, dan itu tentunya mengusik perasaan dari Miracle, entah kenapa hatinya terasa di tusuk oleh ribuan belati kalau saat ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita yang temannya selama beberapa tahun lalu, bersama dengan pria lain.
"Apakah kamu ingin tambah?" tanya Miracle ketika dia melihat dari luar bahwa Zee menatap dirinya,"tidak, aku sud__" ucapnya sembari terpotong karena mendapatkan perhatian khusus dari orang yang berada di depannya.
Yah, Miracle kali ini membuat jantung wanita yang berada di depannya berdebar tidak karuan, pasalnya kali ini Miracle membantu Vanessa untuk menyelipkan rambutnya yang turun di belakang kuping yang putih mulus dan harum itu.
Dia merasa dengan seperti ini, bisa membuat wanita yang berada di seberang sana cemburu, tetapi pasalnya memang benar.
Kali ini Zee sudah sampai di dalam kamarnya, dia juga sudah sampai di alam mimpinya, badannya terasa remuk karena semua ini, dia harus menemani orang yang belum dia temani sepanjang hari.
"Apakah sekarang aku harus kembali ke rumah?" tanya Vanessa ketika dia sudah berada di depan rumah dari Miracle.
"Apakah kamu adalah orang bodoh, aku mengajak kamu ke rumah karena ada hal penting yang ingin aku beritahu kepada kalian," Dengan mengatakan seperti itu, perasaan kentara dari Vanessa semakin menjadi-jadi.
Dia tersenyum dan sebentar merubah rautnya, dua khawatir kalau nantinya dia mengecewakan hati dari Miracle, kalau tidak bisa memuaskan dan menjawab beberapa deretan pertanyaan yang datang kepada dirinya.
"Apakah kamu yakin ingin membawa aku?" tanyanya sembari menatap ke arah bola mata dari lelaki yang sekarang ini sudah menarik pergelangan tangannya.
"Sedikit ku jelaskan, tentang rumah kami, aku mengajak kamu karena aku yakin kamu adalah masa depan ku, aku juga merasa bahwa selama ini kamu juga mencintai diriku, bukankah begitu?" tanyanya sembari menatap ke depan tepatnya bola mata dari wanita itu.
Sepertinya sebentar lagi akan ada hal yang membuat Zee menangis mungkin untuk satu hari? dia hari dan bahkan satu bulan kalau dia memang benar memiliki hati kepada majikannya.
Mereka berdua kali ini cukup mesra, dengan tangan yang di genggam satu sama lain, untuk memberikan kepercayaan hati dan juga rasa percaya diri, Miracle mencium kening dari wanita itu, dan berhasil membuat tenang Vanessa.
Sekejap Vanessa benar-benar gugup, kali ini dia sudah duduk di sofa yang lebar dan empuk itu, matanya menatap ke sekeliling dan napasnya dia coba untuk tarik dan selebihnya dia hanya berpasrah kepada Tuhan.
"Vanessa," wanita yang menuruni anak tangga itu datang memeluk Vanessa.