TERLALU

1003 Words
Ada satu hal yang membuat Zee bertahan. Mutiara di dasar laut pun tahu bahwa saat ini bukan saatnya untuk memberikan cahaya. Zee termanggung dia terlalu bodoh untuk saat ini, jangan karena dirinya adalah sosok pembantu mereka dapat mempermainkan dirinya dengan semau mereka. Kalian tahu saat ini, mereka telah membawa aku entah ke mana ini namun yang pasti aku melihat dari kaca mobil yang sekarang aku duduki, wanita yang pernah datang ke rumah tempat saya bekerja, dia sedang menyenderkan kepalanya.pada pundak Tuan Miracle. Ingin aku membunuhnya tetapi tidak mungkin, karena diriku memang tidak pantas untuk hal ini. Suasana saat itu semakin gerah saja, AC yang sama sekali tidak di nyalakan dan juga kaca mobil yang tertutup rapat-rapat dan kalian tahu? pemandangan saat ini sungguh membunuh bagi wanita yang duduk di depan dengan sopir yang sama sekali tidak mau menggubris tingkah dari Vanessa. Zee membuat Vanessa sedikit berpikir apakah saat ini dia sedikit melawan atau hanya memang benar merasa gerah. "Arggg... luar biasa, apakah mobil sebagus dan semewah ini tidak memiliki AC?" dia melihat ke arah lelaki yang sedang menyopir dengan keringat yang juga menyelundup pada keningnya. "Maaf," satu kata yang keluar dari mulut Vanessa, dan itu segera diangguki oleh Zee. "Ada yang bisa saya bantu?" Zee dengan lantangnya berkata sedemikian dia tidak tahu entah ini adalah akibat dari kegerahan yang luar biasa ini, atau memang ini adalah efektl dia sangat suka melihat Miracle bersama wanita itu. "Apakah kamu tidak bisa menyalakan sendiri, tombol AC ada di depan kamu, ini mobil mewah, kamu harus belajar menggunakan nya." Ini adalah kalimat sindiran yang sangat manis di mulut tetapi makanya sungguh luar biasa, Zee menatap dengan tatapan rajam wanita itu sehingga membuat Miracle merasa tidak senang dengan tatapan yang diberikan pembantunya. Miracle membentak Zee, membuat dirinya juga tidak sadar apakah yang membuat dirinya seperti ini, dan terutama kepada Vanessa, dari sifat lelakinya yang seperti ini dia sadar bahwa lelaki itu benar-benar mencintai dirinya. "Apakah kamu mempunyai.hak untuk semua fasilitas yang ada di dalam mobil ini?" bentaknya membuat bola mata dari Zee seketika kembali lagi sayu. Zee tidak habis pikir dua segera menatap ke depan dengan datar, jantungnya kali ini berdebar tetapi bukan karena jatuh cinta melainkan sifat dari Miracle yang sangat drastis perubahannya. "Tidak, jangan membentak dirinya, bagaimana pun juga itu adalah pembantu kamu, bukankah begitu?" Entah mereka ingin memanas-manaskan wanita yang sudah mempunyai wajah datar itu, atau tidak entahlah tetapi yang pasti saat ini dia mencoba untuk tetap tenang dan menenangkan jantungnya yang tadi. Setelah beberapa menit perjalanan tanpa suara, kini mereka telah tiba di perawatan yang sangat besar tokohnya, kalian pasti tahu bukan? ini adalah salon yang sangat mahal yang sangat mewarnai buku mata saja bisa memakan uang habis dua juta rupiah. Ini adalah gaji wanita yang berstatus sebagai pembantu itu selama satu bulan, bisa-bisanya mereka menghabiskan uang hanya untuk hal semacam ini, pikiran Zee segera terarah saat dia ingin melihat nantinya Vanessa di make-up, bisa-bisa dirinya tambah putih Langsat dan glowing. Dan benar saja, saat ini Miracle keluar dari mobil, setelah sopir itu membuka pintu untuk mereka berdua, kalau Zee dia cukup miris, dia adalah seseorang yang membuka dengan tangannya sendiri yang penuh dengan bekas luka memasak pintu itu. Terdengar suara keluar dari mulut Vanessa dan juga Miracle, saat berada di posisi depan dari Zee, karena sopir itu hanya menunggu di dalam mobil maka otomatis hanya Zee seorang nanti yang melihat bagaiman keakraban mereka. "Apakah kamu ingin bertemu dengan ayah dan juga ibu?" ucap dari Miracle dengan sangat manis sembari memeluk tubuh wanita itu. "Apakah kamu benar ingin mengajak saya bertemu dengan kedua orang tua mu?" tanyanya dengan nada yang sangat suka. "Ya," ucapnya kala itu sembari memberikan senyum yang sangat tipis. Sepertinya saat ini mereka berdua akan menjadi bahan yang panas untuk mata dari Zee, dia akan menunggu sampai wanita ini benar-benar menjadi seorang putri dari kayangan. Dan seperti yang kalian duga, Zee tidak bisa bermain ponsel di depan majukan, karena itulah salah satu aturan mereka sejak Zee merintis usaha sebagai pembantu di rumah lelaki itu. "Apakah sudah selesai?" lelaki yang tadinya adalah lelaki dengan muka datar kali ini datang ke tempat Zee duduk. "Sepertinya belum, lihat saja mereka baru me membersihkan kulit dari wanita itu," ucapnya dengan kata wanita. Mereka berdua duduk di bangku yang sama, karena mereka rasa ini sudah terlalu lama, maka dari itu mereka mengobrol. Sedangkan di sisi lain, kini Miracle merasakan ada hal yang tidak baik saat melihat dari kejauhan bahwa Zee duduk bersama dengan lelaki yang berstatus sebagai sopir pribadi dirinya. "Apakah yang mereka lakukan?"!dia bergumam dengan suara yang kecil yang tidak mampu di dengarkan oleh wanita yang sekarang sedang di make-up wajahnya yang sebenarnya sudah sangat cantik. "Apakah kamu lapar?" Pertanyaan itu segera membuat perut dark Vanessa bergeroyok dan sekali lagi dia tersenyum, pertanda bahwa benar kali ini dia lapar. Untuk membuat mereka tidak berdua-duan, saat itu juga Miracle memangil nama dari Zee, dan dengan gerakan tangannya dia meminta kepada Zee untuk datang, wanita itu berlari kecil dan meninggalkan senyum kepada sopir yang tadi dia ajak mengobrol. "Saya perlu dahulu," pamitnya dengan nada yang sangat sopan. Lelaki itu mengiyakan, tangannya yang dia lipat di atas d**a dan badannya yang sangat lekat, membuat Zee menatapnya tidak karuan. Sesampainya di dalam ruangan itu, Miracle memberikan uang lima lembar kepada dirinya, dan meminta untuk membelikan makanan bagi mereka berdua. "Cepat belikan makanan yang sehat kepada kami berdua, saya lapar," ucapnya tidak sama sekali melihat wajah Zee. Zee tidak mengeluarkan sepatah kata dia hanya bertindak seperti biasanya melakukan tugas dan menghirup udara Ada hal yang membuat risi wanita yang berasa di dalam sana,siapa lagi kalau bukan Maya,dia di landak oleh rasa cemas, pasalnya anaknya belum menunjukkan wajah sedari tadi pagi, pikirannya telah macam-macam bagaimana nanti jadinya kalau dia kabur dari rumah dan meninggalkan dirinya sendirian. Enyahlah pikiran yang seperti itu,"tidak mungkin, dia tidak mungkin berbuat hal yang seperti itu, bahkan dia juga adalah anak yang baik," ucapnya dengan penuh percaya diri. Selebihnya saat ini dia hanya berpasrah kepada yang di atas,"aku lebih baik berdoa dahulu," gumamnya sembari keluar dari dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD