SESAK

1011 Words
Satu hal yang kali ini jelas membuat Mutiara merasa sedih pasalnya sekarang anaknya benar-benar tidak berada di dalam rumah, dia mengerutuki nasibnya sendiri, dia bangun j sangat lama dan itu menjadi sebuah penyesalan bagi dirinya. "Apakah kamu puas, anak kita sudah pergi dan otomatis kita hanya menunggu jawaban untuk nanti malam,"putus Mutiara sembari mendengus napas pelan. Apakah ini yang membuat mood dari Mutiara sedari tadi tidak bagus? apakah ia ingin dan benar-benar ingin menjadikan menantunya wanita yang saat ini sedang bekerja bersama anaknya? Banyak persoalan yang di ingat oleh Ayah Miracle, karena saat ini juga dia tidak tahu kenapa begitu cepat anaknya berangkat,"apakah kamu pernah lihat anak kita pergi ke kantor jam seperti ini," dia melihat ke arah jam besar yang terpampang di depan. "Tidak juga," setelah mengamati dua menit rasanya, Mutiara baru sadar bahwa dia sekarang ini baru tahu bahwa anaknya berusaha untuk menghindari dirinya,"dan jangan bilang kamu ingin pergi menemui anaknya jam seperti ini," tatapan khawatir keluar dari mata Alexander. Yah, Alexander dia adalah ayah Miracle, yang mempunyai kedudukan besar di kantor, bisa di katakan karena ayah dari ayah Miracle lah yang mempunyai perusahaan itu, sehingga ketika mati dia memutuskan untuk memberikan alih kepada Alexander. Beberapa tahun yang lalu, memang keluarga mereka terlihat sangat dan sangatlah sehat, namun tidak semua hal itu sehat, ternyata saat ini ada seorang lelaki tua dengan batuk yang sudah panas dan juga rambut yang sedikit berwarna hitam, sedikit? Yah, sedikit karena dia sudah tua, dia bahkan sudah mempunyai anak cucu. "Kakak, apakah hal yang sedang dipikirkan oleh kakek?" anak kecil yang datang ke arah Ayah Alexander terlihat begitu familiar wajahnya. Kakek itu menoleh ke samping, tepat di mana dia mendapati anak suara kecil itu,"tidak, kakek hanya merasa lelah," ucapnya sembari saat ini mengelus rambut hitam dan mulus dari lelaki itu. Tiba-tiba saat mereka berdua berbicara, ada hal yang membuat anak kecil berumur sekitar 14 tahun itu terdiam, dia tidak tahu mengapa kakeknya mengatakan hal ini, namun hanya satu yang perlu dia lakukan, yaitu meresapi dan juga melakukan apa yang telah diperintahkan oleh kakek itu. "Apakah kamu mau mendengarkan perintah dari kakekmu?" saat itu juga anak kecil itu terdiam sembari menoleh ke arah kakeknya yang lebih besar badannya," ya," dia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil dengan deretan gigi putih yang bersinar di malam hari. "Suatu saat nanti kalau kakek telah pergi, kamu jangan melawan kepada kedua orang tua kamu," Dia menggelengkan kepala dengan keras. "Saya tidak akan pernah melawan kepada mereka." "Apakah kamu yakin?" pertanyaan itu membuat anak lelaki itu menghentikan gelengan yang sedari tadi dia buat. "Kakek hanya menginginkan satu hal, jangan pernah buat mereka mengatakan kata menyesal dalam melahirkan kamu, dan nantinya kalau kakek tidak ada lagi perusahaan akan ada pada tanganmu," kakek itu mencium kening dari cucunya dengan sangat lembut. Angin yang sepoi-sepoi kali ini ikut menyapa kakek dan anak kecil yang sedang menunjukkan ekspresi yang bingung itu, tetapi dia tetap memaksa untuk tersenyum di depan Kakek itu. Saat itu juga ternyata Alexander, telah menguping pembicaraan mereka, Alexander tadinya sempat untuk berpikiran kotor namun satu hal ya g membuat hatinya kembali lagi menciut yaitu ketika mendengarkan ayahnya mengatakan hal yang baik kepada cucunya. Dia menangis dan pergi ke dalam kamar saat merasakan ada hal yang perlu di selesaikan, yah air mata itu adalah hal yang sangat perlu untuk di selesaikan. Saat ini bayang-bayangan dari wajah ayahnya sedang terngiang-ngiang dalam pendengaran Alexander, pasalnya saat ini juga dia sedang termenung di dalam hati dan ingin meneteskan air mata, ternyata anak kecil yang saat itu masih memiliki umur jagung, sekarang ini sudah menjadi pemimpin yang sangat luar biasa, pemimpin dalam sebuah perusahaan yang sangat ternama. "Apakah kamu memikirkan sesuatu?" tanya Mutiara memiringkan sedikit saja bahunya untuk melihat wajah suaminya. "Saya rasa ia," ucapan yang sangat simpel dan dia berdiri lagi untuk meninggalkan istrinya. "Lagi-lagi dia bertindak seperti seorang yang sangat membosankan," gumamnya sembari merenggut ponsel dan pergi ke arah kamarnya. Di sisi lain kini Zee ternyata sedang pergi menemani Miracle, entah dia mau atau tidak namun ini adalah paksaan dari lelaki yang kini sudah duduk di sampingnya. Setelah sampai di kantor Zee heran kenapa dengan hal ini, kenapa dia membuatnya ke tempat yang sebenarnya bukan tempatnya,"apakah ada hal yang bisa saya bantu Tuan, sehingga saya harus tuan bawa ke sini?"!sangatlah formal kedengarannya. Miracle mengiyakan melalui gelengan itu, dan beralih untuk setiap saat yang mereka lakukan, langkah kaki itu perlahan memang pasti membuat wanita yang telah siap siaga menunggu Miracle sedikit merasa kesal. "Apakah ada wanita lain selain dia," ucap wanita itu sembari menoleh ke arah Vanessa. Setelah di amati Vanessa kembali lagi tertawa, dia menyesal karena telah berbuat yang tidak-tidak dan juga berpikiran yang kotor akan wanita tadi. Sesampainya di depan Vanessa, Miracle memberikan senyum tipis di pagi hari sebagai asupan yang sangatlah baik untuk dirinya. "Apakah ada keperluan ke sini Zee," ucapnya jelas membuat beberapa orang yang berada di sana sedikit heran, kenapa dengan Vanessa yang mengenal wanita itu. Yah, pakaiannya terlalu corak, sehingga membuat mata dari beberapa perempuan yang berada di saja segera untuk membullynya namun untuk seorang atasan, mereka bahkan tidak mampu untuk membuka satu centil saja bibirnya. "Aaa... saya lupa menjelaskan bahwa saat ini dia saya bawa untuk kita." Bila mata dari Miracle sedikit menyipit dia juga tidak tahu mengapa dirinya membawa wanita ini ke sini, hanya saja gerakan hati yang dia ikuti sehingga dia membawa wanita ini. Jantung wanita itu berdebar di satu sisi ada pertanyaaan yang mendesit di dalam hati Zee, dia sangatlah sensitif akan perkataan dari Miracle tadi. 'untuk kepentingan kita,'rasanya perut Zee ingin sekali dia pukul dan mungkin dirinya adalah wanita terbodoh yang mau di bawa untuk kepentingan orang lain. Satu sisi lagi kali ini Vanessa melakukan hal yang sama dengan Zee, jantungnya berdebar tidak kalah main, dia terlampau senang hingga sedikit pipinya memerah. "Apakah kita akan pergi ke suatu tempat, sehingga kita membutuhkan dia," dengan kata dia, hati Zee terasa sedikit di bebani, apakah dia seorang pembantu? Ohw... dan benar sekali Zee lupa akan kodrat yang dia miliki saat ini, dia juga lupa bahwa dia bukan siapa-siapa, namun apakah mereka sudah menjadi satu hal yang penting?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD