LELAKI LAIN

1006 Words
Vanessa terkejut tak kalah main, kali ini dia takut sekali, pasalnya lelaki yang berada di depannya, langsung to the point, dia membuat berdebar tak menentu jantung wanita yang bernama Vanessa itu. "Apakah Tuan benar-benar serius ingin menjalin hubungan dengan saya?" tanyanya sembari menatap ke sembarang arah, guna untuk membuang rasa takut di dalam hatinya. "Jujur, saya juga tidak mengetahui sejak kapan perasaan ini kembali hadir menemani saya, saya juga tidak tahu kenapa waktu itu harus membawa anda ke rumah," jawabnya dengan jujur. Suasana di restoran itu sangatlah sejuk dan tak kalah sempurna, diiringi dengan lampu yang berwarna-warni dan juga musik yang mengalun dengan irama yang sangat bagus. "Saya bersedia," ucapnya terang-terangan dan saat itu juga Miracle menatap dengan tatapan syukur. Entah ini adalah doa dari Zee yang tadi telah meminta doa kepada Tuhan, atau malah sebaliknya, Ini adalah satu hal yang sangat buruk untuk seorang pembantu yang berada di dalam rumah yang mewah dan juga rumah yang penuh dengan harta yang berlimpah itu. Saat ini Miracle bersyukur, dia bisa mendapatkan hati dari Vanessa, dia tenang karena beberapa jam lagi dia harus memberikan sebuah keterangan kepada kedua orang tuanya,"apakah kamu sudah memiliki lelaki lain selain aku?" pertanyaan yang berada di luar logika, membuat Vanessa tersedak makanan yang berada di dalam mulutnya. Hoakk... Suara itu berasal dari tempat duduk Vanessa, dia heran kenapa lelaki itu bertanya akan hal yang tidak masuk akal kepada dirinya,"apakah saya adalah wanita penipu?" tanyanya dengan nada yang sedikit tidak sopan lagi,"dia menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan sedikit kata-kata," aku rasa wanita secantik dirimu, banyak sekali lelaki yang menyimpan dan menyampaikan isi hatinya kepada dirimu, bukankah begitu?" Miracle membuat wanita itu terjun bagai bidadari surga. Vanessa kembali lagi memerah wajahnya, dia memeganginya dan menepuk-nepuk dengan pelan, jangan sampai kali ini dirinya terlihat malu di depan elaki yang baru saja dia utarakan perasaan darinya. "Apakah saya cantik," nada menggoda kembali lagi terdengar dan terngiang-ngiang di telinga Miracle, lelaki itu tertawa kecil lesung Pipit ya sangatlah menggoda,"saya merasa anda telah jatuh dalam perangkap saya," ucap lelaki itu dan mendekat ke arah Vanessa yang masih tertawa kecil. Pergerakan dari Miracle itu otomatis membuat Vanessa terkunci, lelaki yang berada di depannya memang bukan lelaki yang istimewa yah persis seperti yang dia katakan, lelaki yang biasa mengungkapkan cinta kepadanya akan mempunyai seribu satu kejutan, namun untuk dirinya saat ini, dia hanya memberikan beberapa kalimat pelengkap bagi dirinya agar bisa tenggelam dengan sendirinya. "Apakah ini cukup," bulshit habis sudah pertahanan dari wanita yang perlahan meletakkan sendok yang tadi berada di tangannya. Pagi ini datang, dengan suasana yang tidak sabar lagi di nantikan oleh wanita dengan umur 40-an ke atas, dia dengan bangga dan juga ceria bangun dari tidurnya, kantung matanya yang tadi sempat meminta dirinya untuk tidur, kali ini telah terbuka saat dia mengetahui ini adalah hari di mana dia ingin mendengarkan jawaban dari anaknya. "Ayo bangun, apakah kamu tidak akan mendengarkan berita dari anak kita," ucap wanita itu memberikan senyum di pagi hati ini. Sepertinya akan ada berita yang sangat mengejutkan, sampai-sampai istrinya saat ini mau membangunkan dirinya, padahal dia melirik ke samping ternyata masih sangat pagi, masih pukul 8, dan istrinya sudah berkoar-koar. "Apakah kamu kira ini adalah balai desa?" "Sudahlah, saya ingin tidur kembali lagi." "Tidak boleh, cepat kamu harus bangun dan mari kita dengarkan apa yang menjadi keputusan dari anakmu," ucapnya sembari menatap ke depan dan menarik selimut tipis tadi. Sepertinya lelaki dengan usia yang sudah 40-an itu kembali menuruti perintah dari istri tercintanya, dia bangkit dan menuju kamar mandi, selang beberapa detik kemudian, dia telah keluar dengan rapi dan memakai sedikit saja minyak rambut. Kaki mereka kali ini menuruni anak tangga itu, pemandangan yang pertama mereka lihat adalah Zee, wanita dengan sekarang nasi yang berada di tangannya, itu jelas-jelas menganggu mood dari Mutiara,"apakah tidak ada wanita lain selain dia?" Mutiara tertawa kecil dan melipat kedua tangan di atas dadanya. "Apakah yang kamu maksud, apakah kalian mempunyai masalah?" Pertanyaan yang berbuntut keluar dari mulut lelaki itu, dia heran kenapa sikap istrinya tiba-tiba menjadi seperti seorang wanita yang benci dengan wanita,"tidak, hanya saja rasa ini telah kembali sirna setelah melihat dirinya," ketusnya sembari membuang pandangan. "Baiklah, apakah kamu mau pergi," benar-benar ini menguji kesabaran dari Mutiara,"untuk apa aku pergi?" dia bertanya sembari memanyunkan bibirnya,"baiklah saya kira kamu akan menyerah dengan wanita itu," dia melihat ke arah Zee yang memakai handset ketika sedang bekerja. Mulutnya bergerak mengikuti pergerakan dari lagi itu, dan sekarang ini tangannya memang sangatlah bersih serta lincah untuk mengerjakan tugas yang sudah ada pada dirinya,"apakah kamu sudah lama?" tanya wanita dengan suara yang sangat tidak enak,"dia tidak mendengarkan suara dari Mutiara,"tidakkah kamu mendengarkan suara aku tadi?" tanya mutiara sembari menarik pergelangan tangan dari Zee. Zee reflek melihat ke arah di mana dia mendapatkan perlakuan yang tidak baik itu, dan yang pastinya dia juga sedikit merintis merasakan tidak enak,"apakah saya telah berbuat salah?" dia bertanya sembari menusukkan wajahnya dengan penuh maaf. "Ya kamu sangatlah salah, bagaimana mungkin kamu tidak mendengarkan atasan kamu pada saat bekerja?" dia bertanya dan membuat wajahnya seakan ini semua ini adalah salah dari wanita itu. "Sekali lagi saya meminta maaf, Ini semua memang adalah salah saya," ucapnya saat itu dan pergi ke arah dapur. "Untungnya istri saya adalah seorang yang baik dan juga cantik, lihat saja jiwa penyabar dia yang sangat besar," puji lelaki itu dengan gerakan mata yang mengusir Zee, agar terhindar dari semua kekacauan ini. "Baiklah, saya permisi," ucap Zee dengan gelengan kepala dan juga senyum yang terpaksa dia keluarkan. Jam telah berlalu kali ini wajah dari Miracle belum juga nampak, ini membuat bingung wanita yang sudah berada di meja makan, dia menarik napas panjang dan berkata kepada suaminya. "Apakah dia sudah pergi bekerja?" Ini adalah dugaan dan hal yang sangat tidak mungkin, pasalnya saat ini suasananya masih sama, mobil masih tergeletak di depan, dan tas kerja dari anak mereka masih ada di ruang kerja,"tidak mungkin coba kamu amati saat ini barang-barang dari anak kamu masih berada di dalam rumah, bagaimana bisa dia pergi tanpa itu semua," ucap ya sembari kembali lagi mengusap layar majalah yang dia baca dengan kacamata itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD