SAAT

1014 Words
Ini masih tetap sama dengan kisahku, pikiranku dan yang pasti kata hatiku yang akan beroperasi untuk semua ini. *** Malam ini terasa lebih gelisah dari malam sebelumnya, yah kenapa saya mengatakan seperti itu bagaimana tidak, saya gelisah dengan jawaban yang sebentar lagi akan keluar dari mulut ini. Apakah aku akan kembali mengingkari janji, aku selalu bergumam dalam hati kali ini pikiranku kacau, dia mengajak hati nurani untuk dapat berdusta, satu hal yang kulakukan yaitu menatap ke arah balkon dengan tatapan kosong dan juga tangan yang berada di saku celana tipis bernuansa hitam yang kukenakan. Pikiranku kembali lagi ke arah wanita yang bernama Vanessa, entah dia sedang mengingat wajahku ataupun tidak, namun pikiranku mengarah kepada dirinya. "Baiklah, aku akan berprofesi sebagai pria yang jentelemen," gumamku sembari mengaligkan pandangan mata ke arah ponsel yang sekarang ini tergeletak di atas ranjang yang aku miliki. Segera tanganku mengarah dan menyerempet dengan cepat, aku harus siap menerima apa nantinya yang akan dikatakan oleh Vanessa entah dia menerima atau tidak, tetapi yang pasti aku telah memberikan kepada dia keterangan. "Apa," jantungku berdebar ketika dia berbicara dengan cepat, itu membuat diriku tak bisa lagi berkedip. POV 3 Rasanya saat ini Vanessa tidak tahu lagi entah dia harus mengangkat sambungan itu, namun yang pasti hatinya tidak bisa berjalan dengan lurus, pikirannya sudah terlalu gembira, saat dia memutuskan untuk menerima sambungan itu, dia terkejut tidak kalah main. "Arg... dia benar-benar menghubungi diriku?" gentarnya saat itu sembari menatap ke depan dengan tatapan takjub. "Aku aka menjadi seorang putri, jika benar dia mengungkapkan rasa kepadaku, soalnya perihal mata dan semua sifat yang dia tujukan kepada diriku, menunjukkan bahwa dia menaruh hati padaku." Dia benar percaya diri, lebih dari segalanya, lebih saat dua melakukan interview, dan saat-saat dirinya mencoba untuk menerima sesuatu yang paling istimewa dalam hidupnya. "Apakah kamu sibuk saat ini?" Miracle bertanya. "Tidak, ada apa Tuan, apakah ada hal yang bisa saya bantu," reflek kali ini dia mengatakan hal yang seperti itu. "Apakah kita boleh berjumpa di restoran Maya," ucapnya dan mengigit bibir bawahnya. Sedangkan untuk Vanessa dia kaget tidak kalah main, pasalnya ini sudah jam dua belas malam tetapi kenapa tiba-tiba sekali tuan Miracle meminta dia untuk datang ke restoran, dan kalian tahu restoran Maya itu juga adalah restoran yang termahal dia kunjungi, mulai dari menunya yang sangatlah menarik dan harganya yang sangat menjual. "Apakah Tuan sedang mabuk?" dia tidak ingin segera menerima tawaran itu, dia ingin juga sedikit jual mahal,"apakah ada pria mabuk yang mengajak wanitanya pergi ke restoran?" Bulshit. Kini pikirannya melawan, hatinya bahkan bergejolak, bagaimana bisa dia baru saja mendengarkan kara wanitanya, dia benar-benar di buat mabuk asmara. Hari ini, malam ini saat dia juga berada di atas ranjang, dia tertawa setelah mengahakiri sambungan itu, dengan cepat dia menarik selimut tipis bernuansa kuda poni itu, dan digigitnya karena sangat dan sangatlah senang. "Apakah aku adalah wanita yang tidak waras, aku harus segera berganti dan menjadi wanita yang tercantik," ucapnya sembari berlari ke arah kamar mandi. Dirinya dan juga kulitnya yang terlihat sangatlah putih kali ini sudah bersih setelah selesai mandi, dan sekarang dia akan mengenakan dres yang mungkin akan memukau hati pria yang akan datang. Dia memilih satu persatu pakaian itu, satu hal yang dia tidak inginkan yaitu pakaian yang sangat terbuka, pakaian yang rasanya bisa menjual dirinya seperti orang yang berada di luaran sana, yang selalu membuka pakaian mereka dengan tujuan yang tak kalah main. Setelah seperempat jam, dia memilih dres, akhirnya blue ice menjadi warna yang mengantar dia ke restoran Maya, mungkin Tuan Miracle akan menunggu dirinya terlalu lama, kalau dia menyempatkan waktu untuk membeli, dan ini akan merusak suasana. Sekarang tangannya yang lentik, dia berusaha untuk memoleskan bedak dan juga make-up ala kadarnya, dia juga ingin terlihat cantik, dia tidak mau terlihat sangat polos di depan seorang CEO, yang mengundangnya makan malam di restoran yang sangat malam dan lebih istimewanya di malam hari yang sangatlah larut. Dia berjalan, tubuhnya yang terlihat sangatlah terarah kali ini melambai di depan restoran itu, matanya tertuju kepada lelaki dengan kemeja hitam dan juga sepatu hitam yang bermerek dia kenakan,"apakah benar itu adalah Tuan Miracle," mulutnya reflek terbuka saat Miracle meletakkan ponsel di atas meja kecil yang di hiasi bunga itu. Mata Miracle tidak bisa di ajak kompromi, kalian tahu saat ini jantungnya kembali berdegup lebih kencang saat melihat wanita yang berada di depan pintu besar kaca yang transparan itu, dengan warna dress blue ice, dan buku mata yang terlihat sangatlah lentik. Yah, kali ini mata mereka sudah menerima satu sama lain, dan yang pasti Miracle tidak terkontaminasi dia bisa mengalahkan sifat dalam hatinya,"hei, kenapa kamu berada di situ, cepat datang," ucap Miracle berdiri dengan tangannya yang bergerak menuju wanita yang datang itu. "Apakah sama sekali Tuan Miracle hanya bermain-main saja dengan kehadiranku saat ini," mata dari Vanessa berbicara, dia sepertinya mengidintimidasi pergerakan dari Miracle yang saat ini juga melihat ke arah makanan yang tertera di depannya. "Apakah ada hal yang sangat penting, sampai-sampai Tuan mengajak saya untuk makan di tempat yang brilian ini," ucapnya melebihi ekspektasi dari lelaki yang menatap bola matanya yang berwarna coklat. Di sisi lain, Zee terbangun dari bangunnya, dia bermimpi jatuh dari jurang yang sangat tinggi, keringatnya bercucuran di segala arah, mulai dari kuping dan juga keningnya yang terlalu banyak meneteskan air itu. "Apakah ada sesuatu?" mulutnya bergerak dan menatap ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah satu. Dia bergerak dan membuka balkon, udara segar segera menyapa dirinya, hati ya yang tadi merasa gerah dan tubuhnya yang mengeluarkan banyak sekali keringat, kali ini telah terbalaskan oleh angin segar di pergantian malam ini. Dia menghirup dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa bintang sedang jatuh, tepat di depan matanya dia berdoa, entah dia sadar atau tidak, namun yang pasti dia pernah membaca dari sebuah cerita atau situs, hal mengatakan bahwa jika kamu berdoa saat bintang jatuh maka harapanmu akan segera terkabul. "Aku akan berdoa," dia menutup mata dengan erat dan tangannya yang kali ini sangat berkesinambungan. "Arg.. aku beruntung bisa bangun di pagi ini, dan juga aku beruntung bisa melihat bintang jatuh, ini adalah salah satu harapan aku yang belum terkabul," gumamnya dengan bibir yang dia tautkan bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD