HOTEL

1025 Words
Mungkin untuk kata ini menjadi satu hal yang perlu dimusnahkan, pikiran yang sudah overthingking dan juga perasaan yang tidak enak akan selalu menguntai. Mereka berdua masih saling menatap, sepertinya waktu juga berpihak.kepada kedua orang itu tidak berhenti dan semua dedaunan juga tidak bergerak karena angin. Angin? yah angin juga sama sekali tidak bisa bergerak, hingga saat ini mereka hanya menjadi penonton di tengah penonton. Vanessa membuyarkan lamunannya sendiri ternyata saat ini dia sudah berada di depan lelaki yang kerap di panggil Miracle dia tidak SAR kenapa dirinya seperti ini, tapi lebih baik memutuskan semua firasat yang buruk itu dia hanya ingin berjalan bersama Miracle. "Apakah kamu lapar?" dia bertanya membuat Miracle spontan juga tersadar dari lamunan itu. "Apa?" dia bergumam pasalnya mengapa wanita ini bertanya seperti itu kepada dirinya padahal tadi ada salah satu kalimat yang dia ucapkan seperti umpatan saja. "Tidak, aku melihat bahwa kamu saat ini terlihat lelah? apakah kita batalkan saja perjalanan ini?" tanyanya dan meraih kedua tangan dari Miracle. Miracle tersenyum puas, sepertinya masalah tadi sudah sengaja di selesaikan oleh Vanessa di dalam hati, dua kembali meraih tangan dari Vanessa dan mencoba memberikan penjelasan. "Sayang, aku boleh lelaki lemah," dia mengucapkan hal itu sebagai umpan balik dari perkara Vanessa. "Tapi," mulutnya tidak sempat melanjutkan apa yang dia inginkan hanya karena dia merasakan kelembutan yang paling tulus dimiliki oleh lelaki di dunia ini. Yah, Miracle memang sosok yang sangat romantis, saking romantisnya dia bisa mengendalikan semua perasaan orang terutama untuk perempuan. Saat ini dia mengecup singkat ujung bibir dari Vanessa, dan segera menjilat bibitnya dengan lidah panjang miliknya. "Baiklah, sekarang ayo kita bawa keluar peralatan yang kamu siapkan dan kita akan pergi," Miracle lantas menjauh dari Vanessa dia juga tahu bahwa saat ini Vanessa sudah gugup ingin rasanya menghapus setiap tetesan air mata yang datang itu. "Ayolah, jangan turun air mata kenapa kamu cengeng sekali?" Vanessa benar-benar ingin menangis. Vanessa menangis? yah dia hanya ingin menangis karena kesengajaan yang di buat oleh Miracle, pasalnya dia belum memberikaj izin kepada lelaki itu tetapi dengan mudahnya dia merenggut sudut bibirnya. "Miracle," teriaknya dengan panggilan nama sembari berlari wajahnya yang tadi penasaran kali ini sudah kembali.memerah dia ingin balas dendam kepada lelakinya sendiri. Miracle yang sudah jauh beberapa langkah dari wanitanya, seketika menoleh melihat wajah Vanessa dengan sangat jelas berlari ke arahnya, badannya sedikit lari dari posisinya dan juga beberapa pembantu yang berada di sana bingung kenapa dengan sikap nyonya satu hari ini. "Jangan," duar mereka berdua kali ini menjadi tontonan bagi para pembantu yang sudah memegang kain lap dengan cara yang sangat imut, mereka hanya membayangkan kalau suatu saat nanti mereka akan merasakan apa yang mereka inginkan dan lihat selama ini. "Apa?" dan ini lebih parah, kedua buah yang selalu di jaga oleh wanita seketika sirna pada bidangnya d**a Miracle. "Apa aku bilang, jangan pernah melawan pacar, ini adalah akibatnya bukan?" tawanya seakan menyaingi kesalahan yang dibuat oleh wanita tadi. Di sisi lain kini Alexander telah berusaha dengan sebaik mungkin untuk membujuk Mutiara agar dia tertidur, kalau tidak nanti bisa bahaya ini, dia bisa melihat Mutiara menangis setiap malam tanpa jeda, itu karena trauma yang dia dapatkan ketika memutuskan berumah tangga dengan Alexander. Alexander pun bodoh, dia memang lelaki yang sukses dengan anak dan juga sukses membangun perusahaan dengan kerja kerasnya namun di balik semua itu dia pernah hancur sehingga setiap malam dia minum alkohol dan pergi untuk melakukan judi, ini hal yang tidak pernah dia lupakan. "Tolong, aku minta maaf saya g ini semua benar tidak sengaja," nada minta maafnya benar-benar terdengar sangatlah serius dan juga tulus. Mutiara hanya diam tidak bergeming, lentikan bulu mata saja bahkan bisa dilihat tidak bergerak, dan untuk napas tentu saja dia masih bernapas karena saat ini Mutiara hanyalah shock dia kaget dengan apa yang dia lihat beberapa waktu tadi. Pembantu masuk, membuat Alexander terkejut dia tidak bisa melihat pembantu itu karena rasa panik yang dia miliki telah menyebar dengan cepat pada seluruh tubuhnya, ingin membiarkan istrinya seperti ini, sungguh ini adalah pekerjaaan yang sama sekali tidak mulia. Pembantu itu sekilas membuka mulut dengan pelan, dengan kedua tangan yang masih berada di depan dengan nampan kuning, di atasnya ada gelas kosong bekas minuman dari Mutiara. "Saya pergi, Tuan," pamitnya sembari menundukkan kepala dengan sopan. Selebihnya siang biarkan lah berlalu semestinya, tidak ada yang bisa membantahnya ketik dia ingin terang, begitu juga dengan pembantu itu, mau dia cepat atau lambat pasti nanti akan berlalu saja. Vanessa menyuapi nasi putih dan juga ayam goreng yang telah dihidangkan dengan baik, cara makan Vanessa yang juga sangat bagus membuat sikap feminimnya tambah cerah lagi. Bola mata mereka saling tertaut-tautan, dan Miracle melemparkan senyum yang ceria itu, sembari berkata kepada Vanessa. "Apakah kamu memiliki ke hotel, untuk alasan yang sangat sensitif?" tanya Miracle dan membuat Vanessa terkejut, betapa kotor ya pikiran lelaki ganteng ini. Vanessa kembali lagi tertawa saat dia mendapatkan minuman dari Miracle. Dia minum dan meneguk semua air minum dalam gelas itu. Dia bergumam dengan sangat pelan sekali, dan kalian pasti tahu mengapa orang mengumpat dalam diam. "Yah, kenapa ini sangat romantis bisa-bisanya aku termakan oleh ucapan lelaki," dia bahkan tidak sadar setelah melihat wajah dari Miracle. Miracle tenang dia kembali memakan sisa makanan itu dan tersenyum, mereka akan berangkat pergi untuk ke hotel Jakarta yang terkenal karena fasilitas yang mewah dan juga pelayanan yang baik. "Mari," ucap pelayan yang memberikan kepada mereka kunci dan karena ini adalah tamu spesial, perlakuan juga dua kali lipat lebih spesial. "Tolong bawakan ini," ucap Miracle seiring dia melihat ada pegawai yang melintasi mereka. Lelaki itu benar saja turut melihat bahwa anak tunggal dari pemilik perusahaan terbesar di tempat itu datang ke hotel tempat dia bekerja. Dia dengan sigap memberikan senyum yang tidak di balas, dia tetap semangat sepertinya dia adalah karyawan baru yang ingin menjadi lebih baik kedepannya. "Baik, saya akan bawa sampai ke dalam ruangan kalian, Tuan," dia menundukkan kepala berada pada deret yang semestinya dia tempati. "Ayo sayang, lagipula ini sudah hampir larut malam," ucapnya mengengam telapak tangan dari Miracle karena melihat jam tangan yang melekat di ta fannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Satu hal yang sekarang di lakukan oleh Vanessa yaitu menatap pada tubuh kekar yang terlihat sangat berbentuk itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD