Ini sungguh di luar keadaan, sepertinya akan ada bencana di tengah bencana.
Sorot mata yang penuh dengan ekspresi ingin memiliki, kali ini lebih dalam rasanya. Vanessa yang sudah menindih tubuh lelaki itu rasanya dia ingin tengelam ke dalam hutan yang dimiliki oleh Miracle.
Yah, mereka hanya membuka kemeja dan juga dress yang tadi di pakai oleh Vanessa, dengan suasana lampu yang mati serta bunyi desahan yang keluar dari mulut Vanessa.
Ini semua sungguh sangat mewah, kaki panjang yang putih mereka berdua miliki kali ini sudah saling berdesakan di dalam selimut itu, hanya mencoba untuk bermain dalam diam sembari menjelajahi setiap hutan yang mereka andalkan.
Kini sudah larut sekaligus jam atau malam, dan sekarang bola mata dari Zee sama sekali belum dapat dia pejamkan, pasalnya kali ini dia selalu memikirkan ke mana arah dari Vanessa sewaktu dia pergi untuk menyampaikan surat yang diminta oleh Mutiara.
Dia bertanya kepada salah satu pembantu dengan gaya yang terlihat seperti lelaki, dia mengetuk pintu dan meletakkan surat di depan pintu itu, tanpa melihat wajah dari Vanessa, dia langsung pergi pasalnya dia sangat tidaklah suka melihat sikap wanita yang seperti itu.
Entahlah, namun dia rasa lebih baik seperti paparazi itu memudahkan dirinya untuk bernapas dan menyelidiki setiap beluk dalam kisah percintaan wanita gila ini.
Dia memang pergi tetapi bersembunyi diantara beberapa selipan bunga yang berwarna-warni, serta saat iti dengan tatapan yang saat ini mencoba untuk melihat lebih dekat siapakah gerangan yang berada di posisi itu.
Dia mengeram kuat, kenapa selalu ada Miracle apakah tidak ada orang lain yang harus datang ke rumah Vanessa selain Miracle, sungguh dia muak sekali kalau harus melihat mereka berdua.
Selebihnya karena tidak tahan lagi, dia segera melompat untuk pergi melewati pagar besar itu, gayanya memang tidak di lihat oleh siapapun, ibaratnya dia berhasil menjalankan misi yang diberikan oleh musuhnya.
Di tengah perjalanan dia berhenti dan mengganti pakaian yang dia kenakan, berubah menjadi polos dengan pakaian culun yang dia kenakan tadi, dia tidak kepikiran dengan apa jawaban yang harus dia berikan kepada Mutiara, karena katanya surat itu haruslah sampai kepada tangan Vanessa.
"Ahk, sudahlah yang terpenting dia pasti dapat menemukan surat itu," gumamnya sembari berjalan tanpa melihat ke samping kiri.
Sesampainya di perjalanan lagi, dia kepikiran nanti kalau dirinya di pecat bagaimana? dia mundur dan maju seperti orang bodoh saja, membuat beberapa orang yang tadinya mengendarai kereta mereka, jadi ikut bolak-balik.
Zee tersadar bahwa saat ini dia harus kembali pulang ke rumah Vanessa dia takut kalau surat itu tidak sampai kepada tangan tujuan, rasa kesal seketika menjadi teman hidupnya.
Dia melihat tidak ada lagi pertanda untuk mobil Miracle yang mewah itu, dan untuk pintu rumah yang tadinya terbuka tapi sekarang ini sudah tertutup, dia ingin mengetuk tetapi naasnya dia mendengarkan salah satu percakapan isi dari karyawan yang berada di sana.
"Apakah mereka akan pergi larut malam ini?" tanyanya kepada salah satu teman yang berada di sampingnya.
"Sepertinya yang saya dengarkan mereka akan pergi ke hotel, berduaan," ucapnya sembari tersenyum malu-malu pasti otaknya sudah travelling.
Zee yang sudah mendengarkan itu hanya bisa mengengam erat gagang pintu di depannya, dia sudah mencoba untuk melupakan kenangan yang dia miliki dengan Miracle namun tetap juga tidak bisa, hatinya terasa di iris saat-saat mendengarkan ada hal yang sangat sensitif akan Miracle dan juga Vanessa.
"Yah, sepertinya aku sudah kalah sebelum memulai ini semua," gumamnya dengan tangan yang dia angkat ke atas dan berserah kepada keadaan.
Dan sekarang dia tersadar akan lamunan yang dia miliki, dengan ketukan pintu yang entah siapa masuk namun di samping itu dia sadar karena sekarang pasti kedua orang yang dia pikirkan sudah mulai bercocok tanam.
"Kenapa kamu belum tidur? apakah ada hal yang menggangu pikiran kamu?" tanyanya kepada putrinya seorang.
"Tidak ibu, tadi aku hanya bangun untuk buang air kecil," bohongnya memasang nada yang penuh dengan percaya.
"Baiklah, sekarang kamu lebih baik tidur," ibunya keluar dan menutup pintu dari putrinya.
Di balik itu dia menangis dalam diam, dia hanya bisa tertawa dalam kekecewaan dan hanya bisa menangis dalam kesenangan, dia sudah mengintip sedari tadi apa yang dikatakan oleh putrinya, dia tahu kalau sedari tadi putrinya memikirkan Miracle dan juga Vanessa yang pergi ke hotel.
Tadinya Maya akan membuka pintu, namun karena dia melihat di atas ranjang putrinya dia segera menghentikan jejak kaki sembari menahan pintu agar tidak terbuka semuanya.
Dia meneteskan tetesan air mata, dia heran mengapa kisah cinta putrinya harus rumit seperti ini, seketika dia rasa sudah lama berdiri di depan pintu dia menghapus air mata dan kembali tersenyum di depan putrinya.
Selebihnya mereka berdua tidak saling mengetahui bahwa di balik pintu itu juga mereka berdua menangis bersama dengan isi pikiran yang sama, ini membuat rasa antara anak dan juga ibu itu semakin erat.
"Apakah kamu belum tidur?" Miracle membuka nada suara.
"Sepertinya, aku sangat lelah dan sekarang aku akan tertidur, selamat malam sayang," matanya perlahan mulai tertutup dan benar saja mereka berdua kembali pada alam semesta yang diinginkan.
Tetapi bila mata dari Miracle belum sepenuhnya bisa tertutup, dia sedikit terganggu atas pandangan yang di berikan oleh Zee akhir-akhir ini, seperti tidak ada rasa yang terselip di antara beberapa kali pandangan mereka bersatu.
Dia berdiri menyelimuti badan dari Vanessa yang sudah terbuka tadinya, dia juga mengecup kening Vanessa untuk sebentar saat itu dia merasakan keanehan yang mengganjal lagi.
Sesampainya di daerah balkon, tangannya dia lipat di atas d**a, pandangan yang lurus dan pikiran yang sudah takut akan masa depannya, kenapa dia memikirkan wanita ya g bahkan tidak mungkin dia dekap? dan kenapa setiap kali melakukan hal yang sensitif selalu saja ada rasa yang tidak rela, dan perasaan yang bersalah menghantuinya.
Jujur saja, Miracle saat melakukan olahraga ranjang tadi tidak nyaman, dia tidak sama sekali bisa meredam semua rasa yang dia pendam, dia juga melihat bagaimana putih mulusnya tubuh Vanessa tetapi itu sama sekali tidak bisa membantunya untuk berpikir jernih.
"Sepertinya aku mulai menyukai gadis dengan taraf hidup tag berbeda denganku," dia pasrah akan kata hatinya.
Mungkin ini akan menjadi awal di tengah penderitaan yang sudah di alami oleh Zee selama ini, ketika Zee sudah lama mempunyai rasa kepada Miracle, tetapi Miracle dia hanya menyadari saat ini bahwa dia mempunyai rasa yang harus di ungkapkan kepada wanita pembantu itu.